psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Nov
15

IMG_20180929_154752

Akhir September lalu, saya dan genk Ingat65 mengadakan acara piknik. Sebenarnya acaranya ditujukan kepada para penulis. Ada beberapa yang berminat. Tapi begitu hari H, yang ikut yah kita-kita saja plus saya bersama suami dan anak-anak.

Kami memang berniat ikut karena sudah lama sekali tidak main ke pantai. Intinya kami sakaw pantai. Yang seru adalah kami bakal berkemah di sana. Jadinya kami membawa tenda kami yang kami terakhir pakai di Australia ituuu.

Yang paling seru adalah malam sebelum kami berangkat, gempa di Palu terjadi. Duh, saya langsung mengkeret berniat membatalkan semuanya. Tapi teman-teman yang lain kok santai. Begitu tanya pak Keliek, dia pun tetap mau berangkat. Ya sudahlah berdoa saja semua baik-baik.

Perjalanan kali ini memang berbeda ketika kami pergi ke pulau Macan beberapa waktu yang lalu. Kalau dulu berangkat lewat pelabuhan Marina Ancol, kali ini kami berangkat lewat pelabuhan Muara Angke. Semenjak jam setengah 7 kami di sana, kapal baru berangkat jam 9. Dan entah kenapa perjalanan begitu lama sampai ke Pulau Dolphin tujuan kami. Beberapa kali saya sempat mau muntah, tapi saya paksakan saja untuk tidur. Untungnya anak-anak tidak apa-apa. Sepertinya mereka lebih tahan banding ketimbang saya.

Sebelum kami menuju ke pulau Dolphin, kami singgah dulu ke pulau Harapan. Beristirahat, makan siang dan bertemu dengan penyewa kapal untuk pergi ke pulau Dolphin.

Sebenaranya perjalanan kali tidak repot, karena semua sudah diurus oleh Nida. Kami tinggal bayar dan bayar diri saja. Saya sebelumnya tidak pernah dengar Pulau Dolphin, tapi Nida yang penggemar pantai ini bilang pulaunya bagus. Ya sudahlah.

IMG_20180929_151740

Tapi sepertinya banyak sekali orang yang menawarkan jasa trip ke pulau-pulau sekitar di pulauHarapan. Kami juga bertemu dengan sekelompok Yogi yang hendak berkemah tapi di pulau lain.

Jadi paket perjalanan kami juga termasuk island hopping ke beberapa tempat snorkling yang caem sebelum ke pulau Dolphin. Saya yang sedang menstruasi pun hanya bisa gigit jari di atas kapal. Tapi senang melihat Pagi belajar snorkling.

IMG_20180929_142436

Saya berharap sih tidak banyak orang yang berkemah di pulau Dolphin. tapi harapan saya pupus, begitu sampai sana, yang jaraknya sekitar 30 menit dari pulau Harapan, sudah banyak orang-orang di sana. Katanya sih mereka hanya berkunjung saja dan tidak berkemah. . Tapi saya sudah melihat beberapa kemah berdiri di sana-sini.

IMG_20180930_060322

IMG_20180929_152830

Untungnya kami masih kebagian tempat, di pantai bagian belakang. Pulaunya sendiri cantik. Ada dua pantai yang bisa buat main, dan berenang-berenang cantik.

Kamar mandi hanya ada dua di sana dan cukup antre juga menunggunya. Untuk pipis bayar 2,000 untuk mandi Rp 5,000, jadi siap-siap bawa receh yang banyak. Oya pastikan untuk mandi minta air tawar, jangan air laut.

Setelah beberes kemah dan bermain di pantai, kami pun menyiapkan makan malam. Untung bawa Keliek. Dia memang bisa banget diandalkan. Dia juga yang punya ide bawa bricket buat masak. Dibanding kelompok kemah yang lain, kami yang paling tidak serius. Kelompok lain bawa cabe, tomat, panci, dan penggorengan, kami yah bahan makan yang hampir jadi sajah plus snack yang berkelimpahan Untungnya di sana ada warung indomie penyelamat yang bisa dihampiri> tapi toh kami tidak pergi ke sana juga.

Malam itu kami buat api unggun dan ngobrol santai di bawah bintang-bintang sambil nyemil marsmallow gosong dan jagung dan ubi bakar (banyak juga yah). Tidur pun nyenyak, cuma begitu bangun punggung kok pegal-pegal yah. Sepertinya harus beli kasur angin lain kali.

IMG_20180930_060503

Pagi sebelum memulai aktivitas saya sempat yoga, sementara anak-anak sudah nyemplung air bersama-sama tante-tantenya. dari pagi sampai menjelang siang, mereka belum belum bosan juga. Apalagi si Nyala. Senangnya bukan main. Pagi pun sudah bisa main snorkling sendiri. Senangnya bukan main dia.

Tapi saatnya pulang karena kapal sudah menjemput. Setelah membereskan semuanya kami pun berlayar kembali ke pulau Harapan sebelum naik kapal ke Jakarta.

Untuk semuanya kami hanya perlu bayar Rp 265,000 per orang. Sementara anak-anak bisa lebih murah dari itu. Beda banget kan sama yang di pulau Macan hahaha. Untuk liburan keluarga, berkemah di pulau seribu ini cukup seru dan murah bukan? Sepertinya kami bakal sering-sering deh.

Advertisements
Oct
13

IMG_20180927_122041

Tanggal 27 September lalu–iya saya ingat benar tanggalnya–saya naik angkot lagi. Entah kapan terakhir kali saya naik angkot. Seingat saya sudah lama sekali.

Waktu itu naiknya pun tidak direncanakan sama sekali. Jadi saya ingat sekali waktu itu saya sedang ada janjian di Kantor Berita Radio (KBR) di jalan HOS Cokroaminoto. Sehabis dari sana, saya dan teman-teman mampir ke mie ayam yang menurut saya lebih enak dari mie ayam Ambon yang legendaris itu. Setelah kenyang, saya pun berencana balik. Tapi bingung karena posisinya yang di tengah-tengah memungkinkan saya untuk naik apa saja dari sana. Tiba-tiba Kopaja P20 jurusan Senin-Lebak Bulus datang. Langsunglah saya spontan pamit dan naik Kopajanya.

Begitu naik, saya serasa dibawa ke lorong mesin waktu, di masa-masa muda (hihihi, iya saya memang sudah menua) masih lincah naik turun angkutan umum. Meski macet dan umpet-umpetan, saya menilai naik angkot semacam mencerahkan. Ketemu banyak orang, memperhatikan gerak-gerik mereka, menikmati lalu lintas di luar dan di dalam kendaraan:  para penjual dengan aneka rupa dagangan mereka, kemudian pengamen dengan gaya dan musik yang  jika beruntung bisa menghibur hati.

Meski bising, macet dan belum lagi asap yang ke mana-mana, naik angkot juga menenangkan buat saya. Saya masih ingat betapa bisa tertidur di bis dari Kreo sampai Monas itu adalah kemewahan yang tiada duanya. Atau tidur siang sejenak dari Kebayoran sampai Palmerah.

Tapi sesudah hamil dan punya anak, saya semakin jarang naik angkutan umum. Rasanya tidak tega membawa anak-anak kecil di tengah-tengah lautan kendaraan yang semrawut di Jakarta. Demi kenyamanan, saya pun membeli kendaraan yang akhirnya juga saya pakai hilir mudik rumah ke kantor dan ke rumah lagi.

Dua tahun di Australia dengan segala kenyamanan yang ditawarkan angkutan umum mereka, membuat saya sedikit takut mencoba gagah naik angkot lagi. Tiba-tiba hamil lagi dan punya anak kedua, hubungan saya dan angkot pun layaknya mantan yang putusnya tidak baik-baik. Kemudian ada ojek daring dan juga kereta–iya sekarang saya suka naik kereta ke mana-mana, semakin jauhlah hubungan saya dan kopaja.

Hingga kemarin itu. Saya tidak mengharapkan apa-apa. Keputusan saya saat itu sangat spontan. Saya tidak mengharapkan pencerahan atau ketenangan jiwa ketika memutuskan naik kopaja waktu itu. Saya penasaran apa yang berubah yah setelah sekian lama. Waktu itu saya naik kopaja biasa–bukan yang AC dan dijadikan pengumpan bus Transjakarta. Tidak banyak yang berubah. Masih kusam, kotor dengan kursi-kursi dan karat-karat disana-sini. Sama seperti bus Metromini 69 yang membawa saya pulang dari Bulungan ke Kreo ketika saya masih SMA. Iya, pengalaman bus pertama saya terjadi ketika saya masih SMA.

Dua puluh tujuh tahun kemudian, bohong rasanya ketika saya bilang saya merasa damai dan tenang ketika naik angkutan yang sejenis. Di kopaja itu, saya celingak-celinguk melihat keadaan sekitar sambil membawa erat bawaan saya. Perbedaan yang jelas adalah saat itu adalah penumpang lumayan sepi, padahal perjalanan terjadi di siang bolong. Ada sekitar 6 penumpang waktu saya naik. Lalu lama-kelamaan satu-persatu penumpang menghilang. Hingga hanya saya dan satu penumpang sebelum saya akhirnya turun di Poins Square Lebak Bulus. Ketika itu saya ingin membeli beberapa barang untuk kebutuhan piknik ke luar kota. Setelah selesai, saya pun saya bergegas membuka aplikasi taksi daring. Cukuplah nostalgia saya dengan kopaja hari itu.

Hingga 9 September yang lalu, saya pun mengulangi nostalgia itu. Lagi-lagi saya ada acara di KBR. Ketika hendak pulang, saya sudah berencana naik Trans Jakarta saja, mengingat pengalaman kurang berkesan kemarin itu. Tapi teman saya tiba-tiba memberi tahu kalau saya bisa naik bus pengumpn dekat dari situ yang salah satunya kopaja juga namun diberi fasilitas AC. Jadilah saya naik kopaja ber-AC melintasi jalur khusus busway. Saya tidak banyak memperhatikan sekitar meski memang lumayan penuh ketika itu. Ada bau aneh yang buat saya tidak nyaman. Aarrgh. Untungnya kurang dari satu jam saya sudah sampai di terminal Lebak Bulus. Begitu turn, ketika hendak memesan ojek daring, saya melihat ada angkot 106 ngetem. Aah, lagi-lagi saya penasaran. Lalu melompatlah saya naik ke dalam angkot yang membawa saya pulang ke rumah tercinta.

IMG_20181009_143654

 

 

 

 

Sep
01

IMG-20180828-WA0020

Minggu yang lalu adalah minggu yang membanggakan bagi saya. Saya bangga sebagai seorang istri dan juga ibu. Dua orang kesayangan sukses membuat dada saya berdesir dan mata berkaca-kaca.

Minggu lalu dua film layar besar karya suami kesayangan tidak direncanakan muncul berbarengan. Yang pertama adalah film anak-anak Petualangan Menangkap Petir dan yang kedua adalah film laga silat Wiro Sableng.

Di saat yang bersamaan anak pertama kami Senyum Pagi mengikuti lomba balet tingkat nasional pertamanya.

Akhir pekan yang cukup sibuk bagi saya dan keluarga kami tapi semua terbayar dengan rasa bangga dan bahagia.

Setelah berbulan-bulan, hari-hari yang ditunggu datang juga buat Keliek Wicaksono. Kerja keras melototin komputer seharian selama berbulan-bulan lalu pertemuan-pertemuan maraton yang tidak ada henti-hentinya akhirnya terbayar juga sayang.

Kami sekeluarga hadir di gala premier Petualangan Menangkap Petir bersama-sama anak. Ketika namamu muncul di kredit awal film, ada haru disana.

IMG_20180825_142147

Perasaan yang sama pun hadir ketika menemani datang ke gala premier Wiro Sableng. Senyum ini tidak pernah habis mendengar namamu disebut berkali-kali. Belum ketika diperkenalkan dengan timmu, selalu ada cerita membanggakan di sana.

Saya lupa kapan pertama kali kamu bilang bahwa mimpimu adalah membuat  efek visual yang ciamik untuk sebuah film kolosal. Tapi jelas bahwa kamu mewujudkannya malam itu dan senangnya bisa jadi salah satu saksi yang menyaksikannya.

IMG_20180827_214056

Kegigihanmu mengerjakan proyek besar ini dan ketelatenanmu mengerjakan ratusan gambar yang tidak mudah. Belum lagi kepemimpinanmu dalam mengkoordinir puluhan artis visual efek menemukan klimaksnya malam itu. Aah, penuh rasanya dada ini melihat pencapaianmu di layar besar itu.

Sehari sebelumnya, saya juga merasakan hal yang sama ketika Pagi dan teman-temannya tampil di atas panggung berkompetisi dengan 10 sanggar balet untuk kategori group balet. Nama lombanya NaDWorC atau National Dance Workshop dan Competition. Ternyata lomba yang dihelat 2 tahun sekali ini cukup bergengsi. Semua jurinya dari luar negeri, dua dari Rusia sedangkan satu dari Filipina. Pesertanya juga banyak dan berasal dari sanggar-sanggar tari terkenal di Indonesia. Lombanya bertempat di Gedung Kesenian Jakarta.

IMG_20180826_120918

Ketika kelompok Pagi dipanggil, tak kuasa air mata ini pun menetes. Terharu melihat Pagi berlenggak-lenggok di atas panggung. Saya tahu Pagi berlatih cukup keras untuk itu. Sekitar 2 minggu sebelum lomba,  gurunya pernah bertanya kenapa Pagi tampak tidak fokus dan selalu lupa gerakannya. Dan dia membuktikan kerja kerasnya. Di atas panggung, Pagi dan teman-temannya tidak melakukan kesalahan sama sekali. Flawless.

Tapi meski demikian, Pagi tidak juara. Ada kelompok lain yang lebih baik. Banyak teman-temannya yang sedih dan menangis. Tapi tidak Pagi.  ” “Upset” sih, tapi cuma dikit,” ujarnya sambil nyengir dan memamerkan dua gigi kelincinya yang besar-besar.

Ah, Pagi kamu selalu juara di mata ibumu ini.

 

 

 

 

 

 

Aug
23

Coba jika diperkenankan bertanya: berapa banyak whatsapp (WA) group yang Anda punya saat ini?

Saya bergabung dengan sekitar 10 WA grup. Setidaknya 3 group untuk urusan pekerjaan. Tapi ada juga group dengan kantor lama (tidak usah disebut yah namanya heheehe). Iya, tampaknya saya golongan orang-orang yang tidak gampang move on.

Ada beberapa group dengan teman-teman terdekat. Meski ada kalanya akhirnya mereka saling bersinggungan karena banyak di antara sahabat saya yang akhirnya berteman juga. Dunia memang kecil, saudara-saudara.

Lalu ada juga group yang tidak terelakan. Ini macam group keluarga dan juga group ibu-ibu anak-anak sekolah. Mau enggak mau, saya kudu ikutan. Apalagi kaitannya dengan sekolah anak saya. Demi anak pokoknya.

Sampai saat ini saya masih bisa menghindari beberapa whatsapp group. Entah sampai kapan saya tidak tahu yaah.  Yang jelas, saya biasanya menolak setiap orang yang memasukkan no. saya tanpa persetujuan terlebih dahulu.

Saya sebenarnya sempat heran kenapa orang senang banget bikin whatsapp group. Apakah ini hanya di Indonesia saja?

Saya pernah suatu ketika agak gusar dengan relasi yang ada dibentuk di sana, semacam jadi formal dan basa-basi demi pengakuan. Busuk lah. Saya kangen dengan pembicaraan yang personal, intim dan memikat hati

Terkadang saya merasa betapa  WA ini begitu menyita waktu kita. Kalau dulu kita bisa tidak balas sms atau tidak angkat telpon. Tapi pesan whatsapp? mmm…

Pernah pengin sekali punya Hp jadul yang tidak bisa buat WA. Tapi adanya saya malah menyusahkan orang-orang yang ingin menghubungi saya, apalagi masalah pekerjaan yah.

Entah kesurupan apa, saya pun pernah mengatakan rencana saya untuk undur diri dari beberapa WA group. Reaksinya beragam. Tapi yang paling epic adalah rekan saya sendiri, Odit, yang bilang saya: sombong banget sih kamu.

Langsung saya ngakak deh. Emang gaya banget nih Ika.

Meski saya mengeluh, saya mengakui tidak bisa lepas dari WA. Apalagi kalau urusan koordinasi pekerjaan atau mengucapkan hari raya, yang tentu jauh lebih efisien jika kita mengucapkannya di group.

Semoga ada hidayah turun yang bisa memandu saya langkah mana yang benar. Atau mungkin tutorialnya?

 

 

 

 

 

 

 

Jul
09

IMG_20180707_072711

Salah satu jagoan dalam kehidupan saya berulang tahun yang ke-40. Seorang suami, ayah dan teman. Whoooa, apa rasanya menjadi 40 tahun. Tua sekali rasanya. Dia pun mengakuinya. Untuk menghiburnya, saya bilang bahwa sudah banyak temannya yang menginjak 40 tahun. So, no drama, please

Semakin kita tua, perayaan ulang tahun jadi kurang menjadi semakin tidak menyenangkan. Ulang tahun menjadi suatu pengingat bahwa waktu seseorang di dunia ini berkurang satu tahun lagi. Saya dulu tidak memahami pemikiran seorang kakak kelas di kampus yang tidak suka dengan ulang tahun, berbeda dengan saya yang bahagia maksimal. Lama-lama,  saya semakin paham apa yang dia maksud. Usia semakin bertambah, waktu semakit sementara mimpi belum banyak yang tercapai, sementara ada keinginan untuk terus bersama-sama dengan orang-orang yang tersayang. Ada ketakutan dan kekhawatiran di sana.

Tapi mari kita buang rasa takut itu, di usia yang ke-40 ini, banyak sekali yang dirimu rayakan. Salah satunya adalah satu mimpi yang tercapai yaitu menjadi visual effect artist di sebuah film laga yang cukup ternama (tidak mau sebut nama, tidak mau repot nanti kena pasal non disclosure agreement sayah). Bahkan di proyek ini, dirimu tidak hanya sebagai artist tapi juga sebagai koordinatornya. Tugasmu mengkoordinasi tugas pesulap-pesulap audio visual untuk menghasilkan gambar yang ciamik di layar. Istri mana sih yang tidak bangga?

Saya ingat sekali salah satu proyek perdana buat karirmu sebagai visual effect artist adalah di film indie Bejo Van Derlaak buatan Fourcolours Films, film yang juga mempertemukan kita di lapangan. Saya bantu-bantu make up artist dan dirimu bantu bikin efek bom di proses editing. Pengalaman yang menyenangkan

 

Prestasi lainnya yang kamu ukir dalam karirmu sebagai visual effect artist adalah film Ambilkan Bulan. Kamu bahkan memenangkan penghargaan Piala Maya untuk film dengan efek terbaik tahun 2012, tetap sebelum kita berangkat ke Australia.

Yang saya bisa belajar darimu adalah bagaimana dirimu sangat gigih memegang dan memelihara mimpi-mimpimu. Peduli setan dengan orang lain. Orang yang saya kenal paling lembut ini, ternyata untuk urusan mimpi dia tidak mau ditawar-tawar. Ketika dia tahu apa yang dia ingin, dia akan berusaha mewujudkan. Pelan-pelan, sedikit-sedikit namun pasti.

Hal lain yang saya belajar darimu adalah bagaimana bekerja dengan menggunakan hati. Saya tahu benar  pekerjaan di film ini tidak mudah. Meeting sana, meeting sini, ketemu tim ini, ketemu tim itu, supervisi sana, supervisi sini. Sibuknya melebihi senior officer ASEAN (eh). Ah, tapi selama hatimu di sana, seperti tidak akan apa-apa.

Selamat ulang tahun ke-40, Keliek Wicaksono. Selamat terus berkarya dengan hatimu.

 

 

 

 

Jun
20

IMG_20180613_170928

Liburan sekolah akhirnya tibaaa. Anaknya boleh gembira. Emak emak yang biasanya deg-degan karena bakal kerempongan harus meladeni anak-anak di rumah. Saya yang ngantor Senin Kamis ini biasanya suka mati gaya.

Perlu diketahui liburan sekolah tahun ini panjang sekali karena dirapel dengan liburan puasa dan lebaran. Pagi praktis sudah libur dari akhir Mei dan akan kembali masuk tanggal 16 Juli. Luar biasa.

Untuk mencegah Pagi jenuh tingkat akut dan emaknya senewen, saya akhirnya mengajak anak-anak pergi mengunjungi bibinya yang tinggal di Singapura. Cukup 15 hari karena tiket ke sana lumayan mahal juga yah di bulan Juni. Salah sendiri juga sih beli tiket mepet-mepet. Tapi punya anak-anak masih piyik emang bikin agenda tak tertebak hingga last minute.

Agenda di sana pun tidak aneh-aneh. Saya hanya ingin mengajak anak-anak main ke playground yang seru-seru di Singapura. Anak girang, Ibunya apalagi karena gak perlu keluar duit. Beberapa kali ke Singapura, saya memang selalu mengajak anak-anak main ke playground mengulangi masa-masa indah di Australia yang tak kalah seru playgroundnya.

Kunjungan kali ini saya memutuskan untuk membawa anak-anak mencoba beberapa water playground. Iyaaah…di Singapura water playgroundnya seru-seru dan tidak hanya di taman tapi di mall. Kalau negara empat musim mungkin water playgroundnya kurang maksimal karena beroperasi pada musim panas dan semi saja. Tapi kalau di Singapura, setiap hari nampaknya kalau sedang tidak hujan.

Jika diperhatikan playground di Singapura itu berlimpah ruah. Di kompleks apartemen adik saya ada tiga biji dan semua bagus-bagus. Perbandingannya dengan Australia jauh lebih baik karena setahu saya di Melbourne, playground ada di setiap RW. Fasilitasnya pun gak main-main. Pernah saya dan anak-anak nyasar dan tiba-tiba kami menemukan playground keren di dekat stasiun MRT Marymount. Di playground yang juga terletak di sebuah komplek apartemen ini  masak ada trampolin dan flying fox. Apa-apaan iniih?? Saya yang deg-degan abis nyasar pun tak kuasa untuk rehat sebentar sambil membiarkan anak-anak bermain di playground yang sayang jika dilewatkan.

IMG_20180609_183522

IMG-20180610-WA0001

Di beberapa lokasi playground di apartmen bahkan ada alat-alat fitnesnya juga. Jadi anak-anak main, bapak-ibunya bisa berolahraga. Salut buat pemerintahan Singapura yang benar-benar memperhatikan kebutuhan warganya dari yang kecil sampai dewasa untuk bermain dan hidup sehat.

IMG_20180602_150142 (1)

Jadi kalau ngobrol dengan adik ipar yang bekerja jadi arsitek di Singapur. Disain playground itu ada dua. Ada yang seragam biasanya dibuat komplek-komplek hunian apartemen. Ada juga yang custom made. Ini biasanya ada di taman-taman dan ruang publik. Biro arsitek adik ipar saya kebetulan yang mendisain Bishan Park yang ternyata memenangkan beberapa penghargaan.

Jadi kalau pergi ke Singapura dan bawa anak-anak, tidak usahlah keluar duit banyak-banyak untuk mereka bermain. Ajak menginap di air bnb. Puas-puasin main di playground yang bagus-bagus di komplek apartemen. Kalau menginap di condominium, bahkan ada kolam renangnya juga. Ajak jalan-jalan ke taman dan mall dan temukan playground yang seru-seru.

Berikut ini beberapa daftar tempat playground yang seru yang pernah kami kunjungi

Far East Organization Children’s Garden 

DSCF0820

Lokasinya ada di Gardens by the Bay. Selain jalan-jalan sekitar taman, janganlah lewatkan Children’s Garden. Seru banget water playgroundnya. Setahu saya paling heboh muncratnya. Saya pikir daripada mengunjungi Flower Dome dan Cloud Forest yang tiketnya gak murah itu dan gak worth it juga. Lebih seru mungkin jalan-jalan di hutan beneran, yang Indonesia pasti lebih kaya. Jadi, lebih baik mampir ke Children’s Garden deeh…sehabis basah-basahan kita bisa mampir makan di Satay by the Bay, yang okaylah satenya di tingkat Singapura.

Admiralty Park

IMG-20180603-WA0008

Kata adik saya playground ini lumayan anyar dan disainnya bagus banget. Eh ternyata bener lho. Bagus banget dan seruuu. Yang tua-tua ajah banyak yang ikutan. Kompleksnya mengingatkan saya pada playground seru di daerah Brisbane. Saya lupa namanya tapi ada juga perosotan yang tinggi bangeet.

WhatsApp Image 2018-06-04 at 00.32.20

Eh eh disini saya juga melihat ada teknologi perosotan terbaru dari pipa. Jadi kejadian nyangkut di tengah-tengah perosotan gak mungkin terjadi. Adanya yah meluncur, meluncur dan meluncur.

WhatsApp Image 2018-06-04 at 00.32.19

Di kompleks ini dibagi dua playground. Pertama buat yang anak kecil yang kedua buat anak yang lebih besar. Tapi sama-sama serunya. Kalau mau mencari keringat di sinilah tempatnya. Kita bisa lari-larian bersama anak-anak sambil menjajal aneka rupa perosotan.

Bishan Park atau Ang Mo Kio Park

IMG_20180609_154759

Akhirnya kesempatan juga berkunjung ke Bishan Park. Meski nyasar, saya kalau disuruh balik lagi pasti mau. Tamannya bagus dan luas dan ada tiga lokasi playground. Yang pertama, wahana main pasir. Yang kedua, wahana main air. Yang ketiga, adventure park yang memang menantang tempatnya karena anak-anak harus manjat disana-sini.

IMG_20180609_175018

IMG_20180609_175843

Jacob Ballas Children’s Garden

IMG_20180610_154401

Singapura memang tidak cukup buat satu taman buat anak-anak, mereka ternyata perlu punya dua. Ini baru banget tempatnya. April tahun lalu ketika kami ke sana, belum dibuka tamannya. Tempatnya dan arena permainannya hampir mirip dengan The Ian Potter Foundation Children’s Garden yang di Melbourne. Lokasinya juga sama-sama di Kebun Raya setempat. Tapi saya rasa yang di Singapura lebih luas. Sayangnya belum semua jadi dan masih tutup. Oiya yang masuk ke sini kudu bawa anak, kalau enggak, gak boleh masuk.

IMG_20180610_155259

Yang seru tentu wahana water playgroundnya tapi sayangnya mungkin hanya pas untuk anak-anak di bawah 5 tahun. Tapi jangan kuatir, untuk anak-anak besar ada dua wahana tree house yang cukup seruu, saya ikutan mencoba dan cukup bikin keringetan saudara-saudara.

IMG_20180610_155559

Water playground

IMG_20180608_152919

Saran saya ketika pergi ke mall, coba cek apakah mall tersebut punya water playground. Ada beberapa mall yang menyediakan water playground nya dan gratis pula lhooo. Jadi sementara anak-anak sibuk main air, para orang tua bisa gantian jaga/hunting barang-barang belanjaan.

Sejauh ini saya dan anak-anak hanya menjajal water playground di mall dekat rumah saja. Itu saja sudah bahagia minta ampun mereka. Satu di Waterway point di dekat stasiun Punggol dan NEX di dekat stasiun Serangoon. Yang di Nex, lebih besar dan seru. Beberapa orang tua bahkan ada yang ikutan. Oiya jika beruntung, ibu-ibu muda bisa melihat bapak-bapak muda bertelanjang dada dan sebaliknya tentu saja hehehe.

IMG-20180617-WA0004

 

Untuk yang di taman, selain di Garden by the Bay, saya juga menemukan water playground seru dekat rumah adek saya di Punggol Waterway park. Enak tempatnya dan di bawahnya ada wahana pasir juga. Di Bishan Park, tipe water playgroundnya beda dengan yang biasanya muncrat-muncrat. Di sana water playgroundnya mengalir karena katanya menggunakan air resapan.

IMG_20180612_170545

Nah, petualangan hemat kali ini cukup sampai di sini saja. Sebenarnya masih pengin main di banyak tempat seperti di Tiong Bahru atau water playground yang seru di Sentosa Island dan Marina Barrage. Tapi kita simpan buat kunjungan berikutnya saja.

IMG_20180613_163212

 

 

 

 

 

 

 

 

Jun
13

WhatsApp Image 2018-06-11 at 19.48.54

Senyum Pagi.

Masih teringat suara tangis serakmu begitu keluar dari kandunganku, Pagi, karena terlalu lama di sana. Sekarang dirimu sudah hampir tujuh tahun. Sampai detik ini juga, kamu buat hidupku jungkir balik. Sekarang hampir jam 11 malam waktu Singapura, kamu sudah terlelap di sampingku dan aku sibuk merangkai kata-kata untuk mengingatkanku begitu diri ini bersyukur atas kehadiranmu.

Banyak bilang kamu anak baik. Tidak hanya gurumu, teman-temanmu, keluarga besar, bahkan orang yang baru mengenalmu. Bangga sekali rasanya ketika kamu ikut retreat menginap untuk pertama kalinya. Deg-degan Ayah dan aku melepasmu karena dirimu baru kelas satu. Seingatku, aku baru diijinkan menginap di luar rumah kelas tiga. Ketika kami menjengukmu tidak hanya satu-dua yang memujimu. “Pagi, dia disiplin sekali,” “Pagi, dia cepat sekali dan cekatan” “Pagi, anak yang rajin,” Aah, I must have done something right.

Tapi semua itu bisa luntur begitu ingat betapa susahnya mengatur dirimu. Setiap hal yang aku suruh, harus diulangi berkali-kali, sampai akhirnya kamu melakukan apa yang disuruh. Belum lagi kalau bersama dengan adiknya. Entah sudah berapa kali aku bilang untuk tidak mengganggu adikknya dan tidak membuatnya menangis, tapi tetap saja dilakukannya. Seperti sore ini, di acara jalan-jalan kami, tak henti-hentinya dia mengganggu adiknya dan membuatnya menangis.  Arrgh.  I must have done something wrong.

Aku merasa terkadang diri ini terlalu keras. Istilah sekarang tigermom. Iya apalagi kalau urusan pelajaran, saya bisa sangat tegas. Setiap ujian, saya merasa lebih stres ketimbang anaknya. Diri ini merasa menyiapkan anak menjelang ujian adalah wajib hukumnya. Dan anehnya anak ini selalu minta belajar dengan ibunya ketimbang ayahnya yang lebih santai.  Dibanding ayahnya, saya sangatlah galak, terkadang saking tidak sabarnya, saya pun main tangan, duh entah itu menyentil,  menyubit atau memukul. Saya tahu seharusnya saya tidak melakukan itu dan betapa menyesalnya saya setelah melakukannya dan meminta maaf. Saya bukan ibu yang sempurna, yang masih belajar sabar dan memahami anak.

Lalu tiba-tiba, saya dapat kabar dari orang tua murid yang lain, kalau dirimu ranking satu di kelas. Apa-apaan ini. Sekolah Pagi kebetulan tidak ada sistem ranking. Tapi dalam pembicaraan santai dengan ketua wali murid di kelas Pagi, tiba-tiba dia bilang: “Selamat yah Pagi rangking satu,” Sampai disebut juga nilai-nilai keunggulan Pagi dibanding teman-teman yang lain. Pagi memang belum terima rapot, karena keburu keluar kota. Well…

Di sini saya belajar bahwa bukan saya saja yang belajar jadi ibu yang baik, tapi Pagi pun juga belajar menjadi anak yang baik. Sejauh ini mungkin proses dia lebih baik dibanding saya. Tapi kita sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik.

Nyala Cakrawala.

Dia bukan anak yang mudah. Dia lebih keras kepala dibanding kakaknya. Jika dia memiliki keinginan dia harus mendapatkanya. Sering kali dia tidak mau mendengar. Dia bisa tantrum sampai satu jam dan tidak ada yang bisa menenangkannya sampai dia sendiri ingin diam.

Fiuuh…tantangan yang benar-benar berbeda. Saya sering kali harus dibuat bebal. Tidak punya pilihan lain kecuali mendengarkan apa maunya.

Sampai kemudian saya mengerti bahwa Nyala punya caranya sendiri untuk mendengarkan orang lain. Saya bisa melihat ini dari dua hal yang berhasil dilakukannya.

Nyala berhasil melakukan toilet training lebih dini dibanding Pagi. Bahasa yang digunakan adalah “Eek” itu bisa berarti buang air besar ataupun kecil yang penting harus cepat-cepat ke WC. Nyala sudah jarang sekali pake popok, terkadang dia menolaknya. Meski yah kadang-kadang masih kecolongan, tapi rata rata suksesnya masih lebih besar. Dia melakukannya sebelum menginjak 2.5 tahun.

Menyapih. Sampai hari ini Nyala sudah tidak menyusui selama 2 minggu. Saya rasa program penyapihan saya dengan Nyala lumayan mulus. Meski lebih lambat dari Pagi yang berhenti ASI 2 tahun 1 bulan, Nyala sangatlah lancar. Nyala berhenti menyusui tepat 2.5 tahun. Beda dengan Pagi yang memaksa saya harus  berbohong kalau saya sakit, nenennya sakit untuk membutanya berhenti ASI. Saya hanya bilang padanya Nyala sudah besar, Nyala sudah tidak boleh nenen, karena sudah mau masuk sekolah, nanti ditanyain gurunya gimana. Saya tahu jika saya memaksanya, dia tidak akan mendengaraannya karena sikapnya yang keras kepala. Dan kali ini  dia mendengarkannya.  Dia mengerti. Sampai sekarang, ketika saya sodori, dia selalu menolak. Sedih juga. Tapi ini pilihannya dan saya harus menghormatinya.

Saya mencoba memahami sekali lagi, saya sedang belajar, Pagi sedang belajar dan Nyala sedang belajar juga agar menjadi lebih baik. We are a good team. Love you, kiddos.

 

WhatsApp Image 2018-06-13 at 21.18.34

 

 

 

 

 

 

 

 

May
22

Suatu ketika saya menanyakan teman saya yang ahli bahasa Indonesia. “Passion itu padanan bahasa Indonesianya apa sih?” Tak berapa lama dia menjawab, “Renjana yang artinya rasa hati yang kuat,” Issh bagus benar dan girang rasanya hati ini menemukan kosakata yang cantik dan punya arti yang dalam.

Pekerjaan saya yang sekarang menemukan saya kembali kepada renjana saya. Beberapa waktu yang lalu, saya meng-update blog saya yang sudah terbengkalai beberapa lama. Blog ini berisi tulisan-tulisan saya selama bekerja sebagai wartawan.

Senang akhirnya bisa melihat tulisan-tulisan yang saya tulis dengan hati tersusun satu demi satu. Senang rasanya renjana itu bisa mewujud…

Sila kunjungi kumpulan tulisan saya di krismantari.blogspot.co.id

 

Apr
24

Bulan April sudah hampir usai, saya belum juga  menulis blog. Untung ada editan yang bikin mumet, jadi saya butuh jeda dan distraksi.

Dari kemarin saya kepikiran menuliskan sesuatu yang mengganggu pikiran sekitar sebulanan ini semenjak bergabung di kantor baru. Saat ini saya bekerja untuk The Conversation Indonesia, sebuah platform bagi akademisi dan peneliti untuk menulis analisa dan penelitian mereka dengan gaya populer.

Pekerjaan saya mengharuskan saya berhubungan dengan banyak akademisi lintas provinsi dan benua. Kami berdiskusi masalah ide tulisan, fokusnya dan juga bagaimana penyusunan tulisannya. Banyak dari mereka sudah PhD dan berbincang dengan mereka mengingatkan saya pada niatan saya untuk sekolah lagi.

Meski ingin sekali, sampai sekarang saya belum memiliki niat untuk bersekolah. Keinginan itu sempat membuncah ketika berhasil menyelesaikan thesis di Monash. Saya pikir kalau thesis bisa, disertasi bisa juga lah. Tapi kayaknya gak gitu juga yah. Waktu itu penulisan thesis hanya setahun, sedangkan disertasi itu bisa tiga tahun, empat tahun, lima tahun bahkan tujuh tahun, tergantung di negara mana mengerjakannya. Ibaratnya thesis itu lomba lari cepat, maka PhD itu lari marathon. Dan saya tidak yakin sanggup.

Tapi keinginan itu lama-lama pudar. Pertama, karena penginnya sih dapat fellowship kemana dulu gitu, baru fokus cari beasiswa untuk PhD. Tapi dari beberapa aplikasi yang dikirim kok belum dapat-dapat juga. Apa mungkin langsung nyari beasiswa sajakah?Kedua, saya juga lumayan malas memulai prosesnya dari mencari tema, pembimbing yang tertarik kemudian beasiswanya. Kalau dulu sih ngelamar beasiswa saja dan beres, tapi ini. Ketiga, selalu ada distraksi. Mulai dari pekerjaan dan anak-anak.

Tapi nampaknya saya harus mulai serius nampaknya. Ngobrol dengan seorang teman dari Melbourne dan kakak kelas yang kebetulan jadi narasumber saya mengingatkan saya akan beberapa hal tentang alasan lain kenapa saya bersekolah lagi.

Mengejar PhD di luar negeri bukan tentang saya saja. Saya ingin bersekolah lagi karena ingin membawa keluarga saya berpetualang lagi. Mendapatkan beasiswa untuk Phd buat saya adalah memberi kesempatan tidak hanya bagi anak-anak saya untuk bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik tapi juga bapaknya anak-anak, supaya bisa mendapat kesempatan pekerjaan yang lebih luas.

Saya merasakan kedua manfaat itu ketika bersekolah dua tahun di Melbourne. Senyum Pagi bisa mendapatkan kesempatan bersekolah di sana sementara Ayahnya punya kesempatan untuk berkarir di sana juga. Lalu saya? datang ke kelas, menulis tugas, mencari referensi, menulis tesis 18,000 kata dan mencoba menikmati semuanya sambil terus-terusan bersyukur melihat keluarga saya diberi kesempatan yang luar biasa untuk bisa berkembang.

Ah, semoga kesempatan itu datang lagi.

 

 

 

 

 

 

 

Mar
23

Mulai pertengahan Maret lalu, saya menyandang predikat baru, yaitu Ibu pekerja di rumah (work-at/from-home mommy).  Bukan pilihan mudah setelah sebelumnya menyandang status pekerja penuh waktu di sebuah institusi bergengsi di tingkat regional. Saya sampai detik ini masih berusaha menyakinkan diri saya sendiri bahwa ini adalah keputusan yang benar. Setidaknya benar buat anak-anak saya.

Di pekerjaan saya yang baru ini, saya tidak perlu ke kantor tiap hari. Saya bisa melakukan pekerjaan di mana saja, asal ada laptop dan internet. Saya hanya ke kantor untuk rapat mingguan atau urusan insidental yang memerlukan tatap muka. Selebihnya saya bekerja di rumah ditemani atau diganggu tepatnya oleh anak-anak saya.

Di Minggu pertama, saya lumayan kerepotan dengan tingkah Nyala yang selalu minta perhatian. Tapi ini pembelajaran buat kami berdua. Nyala harus mengerti bahwa meski saya di rumah, saya harus bekerja. Di lain pihak, saya harus bekerja sangat efektif, sehingga ketika gangguan datang, pekerjaan bisa tetap selesai.

Saya beruntung sekali memiliki Pagi yang sudah sangat mengerti keadaan saya. Dia senang sekali saya punya banyak waktu di rumah dan menemaninya belajar dan selalu di rumah sebelum matahari terbenam. Pagi adalah partner saya. Ketika dia ada, dia selalu mengajak main Nyala, sehingga distraksi pekerjaan jadi minimal.

WhatsApp Image 2018-03-22 at 14.22.06

Lucunya kemarin, ketika hasil ujian tengah semester dibagikan, saya mendapati jawaban Pagi tentang tugas Ayah membantu Ibu menjaga anak-anak disalahkan gurunya. Padahal, itu adalah kondisi yang dia dapati sehari-hari ketika saya masih bekerja kantoran. Pertama kali membaca jawabannya, saya tertawa terbahak-bahak sampai membuat Pagi bingung. Tapi kemudian, saya menulis surat kepada gurunya untuk menjelaskan duduk perkara di balik jawaban Pagi.

Lucu sekali mencerna jawaban-jawaban Pagi mengenai profesi saya dan Kelik. Dari dulu, Pagi sudah tahu saya adalah wartawan. Dia sempat protes ketika saya pindah kerja. Sampai sekarang, dia juga belum ngerti saya pindah kemana waktu itu dan jadi apa. Saat ini bisa dikatakan, saya kembali ke selera asal: jurnalisme, sesuatu yang membuat anak saya itu girang bukan kepalang.

Status ibu bekerja dari rumah ini memang nanggung yah. Kelihatannya seperti kemewahan, tapi kalau tidak disiasati bisa merepotkan karena jam kerja yang tidak jelas. Saya bisa saja kalau tidak pintar mengatur waktu bisa kerja seharian. Untuk itu, manajemen waktu penting sekali.

Saya mengetik ini setelah menutup laptop kerja saya dua jam yang lalu. Saat ini, anak-anak masih bangun dan sibuk menggambar. Sebuah kebahagiaan kecil yang tak ternilai.

Terimakasih semesta untuk itu.