psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

May
31

Sejak tanggal 14 Mei lalu, Bude, orang yang biasa membantu pekerjaan rumah, pulang kampung. Kali ini kami gagal menyakinkan dirinya dan keluarganya untuk tidak mudik dulu. anaknya tiba-tiba sudah memesan travel dan menjemputnya malam itu.

Sebelumnya kami berhasil menahannya pulang waktu awal puasa setelah Jokowi menyampaikan pesan yang membingungkan itu antara mudik dan pulang kampung. Bude mengerti betapa bahayanya mudik saat itu dan akhirnya dengan legawa menunda bertemu dengan anak-anaknya di kampung. Tapi 10 hari menjelang Hari Raya, keteguhan Bude buyar karena sang anak memaksa Bude pulang, semua kekhawatiran yang sudah kami sampaikan ditepisnya jauh-jauh. Dengan berat hari kami pun harus melepasnya pergi.

Sudah hampir 3 minggu bude pergi, semua pekerjaan kami harus kerjakan sendiri. Tidak mudah, apalagi di tengah pandemi seperti ini. Kami pun tidak tahu kapan Bude akan kembali mengingat risiko ketika nantinya dia harus melakukan perjalanan ke Depok.

Saat menulis ini, saya dalam kondisi capek sekali setelah memasak dari pagi kemudian mencuci pakaian 3 hari. Badan pun rasanya langsung gak enak, ingin pijat pun tidak mungkin yaaah jadi salonpas adalah harapan satu-satunya…

Semoga keadaan membaik segera. Amiiin.

 

 

 

 

 

Apr
29

IMG_20200331_065520

 

Hari ke-42 bekerja dari rumah. Semua terasa berjalan cepat. Tahu-tahu sudah hampir satu setengah bulan berkantor dari rumah.

Tapi begitu pagi datang dan mata terbuka, seakan waktu mendadak pause. Membayangkan aktivitas yang akan terjadi satu hari ke depan, semua mendadak berjalan lambat.

Memasak. Membangunkan anak. Berolah raga. Sarapan. Mandi. Bekerja. Bermain bersama anak-anak. Meeting kantor. Mengajar. Belanja. Mendampingi anak belajar. Semua dalam mode yang berulang-ulang setiap minggunya. Blaaaagh!

Kalau tidak kreatif memang bisa mati kebosanan, bukan hanya saya tapi juga anak-anak. Jujur saja, ketika anak saya menggerutu teriak: “Bosaaan!” Kepala saya langsung cenut-cenut mencari berbagai cara untuk membangkitkan semangat mereka.

Ini adalah beberapa aktivitas yang saya coba lakukan:

  1. Saya selalu rutin mengajak anak bergerak lewat olahraga pagi di luar rumah. Mulai dari jalan, naik sepeda, main di halaman masjid dekat rumah, atau keliling kampung. Meski sekarang jadi sesering dulu, karena aturan PSBB.

IMG-20200324-WA0000

2. Beraktivitas di halaman rumah. Beruntung sekali kami punya halaman rumah, yang meski seimprit, bisalah buat melepas penat. Jika sedang jenuh, saya suka ajak anak-anak main air, main hopscotch, main karet, menanam tananam dan juga menyirami tanaman. Terkadang saya hanya mengajak anak-anak berjemur setiap pagi di depan rumah sambil mendengarkan lagu-lagu Disney.  Atau joget-joget ala tiktok. Hahaha, saat ini saya dan Pagi sedang keranjingan main tiktok. Setiap koreografi baru yang muncul langsung berusaha kami kuasai.  Saat momen Paskah kemarin, mereka diajak mencari telur di halaman dan setelah ketemu, mereka pun menghiasnya.

 

3.  Olahraga di rumah ketika cuaca tidak mendukung juga dilakukan. Tidak hanya mengajak anak-anak yoga tapi juga exercise yang penuh gerak.

IMG_20200328_100936

 

4. Semua boardgame yang kami punya sudah kami keluarkan: Mulai dari monopoli, scrabble, ular tangga, halma dan juga permainan kartu. Si kecil Nyala pun juga sudah bisa ikutan main. Entah kenapa, setiap main monopoli, si bontot itu selalu berakhir jadi juragan.

IMG_20200328_202542

 

5. Memasak. Kami coba segala menu. Bersyukur sekali ada yang namanya cookpad, ya saudara-saudara. Saya biasanya libatkan anak-anak mulai dari menyiapkan bahan. Memang prosesnya bisa sangat kacau dan berantakan, tapi mereka sangat menikmatinya.

IMG-20200418-WA0007

6. Make up time. Ini kesukaan Nyala. Beberapa kali dia minta dirias. Setelah itu memakai baju cantik dan berpose di depan kamera. Saya biasanya jadi perias saja, tapi satu kali pernah ikutan dandan, ternyata menyenangkan juga. Selain make up, terkadang saya iseng bermain dengan mengepang rambut mereka.  Setelah berapa lama didiamkan, mereka senang begitu melihat rambut mereka  berubah jadi keriting.

 

7. Art time: Pagi dan Nyala tidak bosan-bosannya menggambar dan mewarnai. Mereka lumayan indipenden untuk urusan ini. Bahkan terakhir mereka bisa melukis dengan cat acrylic sendiri. Luar biasa memang.

 

Buat mereka yang punya anak,  saat karantina ini memang tidak mudah. Karena selain harus bekerja, juga harus ngurusin anak-anak. Tapi alih-alih menjadi beban, mungkin kita bisa melihatnya sebagai upaya menjaga kewarasan di masa yang serba tidak menentu ini, karena begitu mendengar tertawa, sensasi rasa yang hadir memang tidak ada duanya.  Tetap semangat dan kreatif, ibu-ibu!

 

 

 

 

Mar
31

IMG_20200331_154727.jpg

Semenjak pandemi COVID-19, konsep bekerja dari rumah atau kerennya work from home langsung populer. Hampir semua orang saat ini melakukannya.

Saya beruntung sudah dua tahun ini saya adalah pekerja rumahan. Saya hanya ke kantor hari Senin saja untuk rapat mingguan, selebihnya saya kerja dari rumah atau sesekali ke kota jika dibutuhkan.

Bisa bekerja dari rumah memang sebuah kemewahan.

Banyak orang sontak bilang: “Wah enaknyaa!” begitu saya cerita tentang bagaimana saya bekerja saat ini.

Buat ibu muda seperti saya ini, bekerja dari rumah itu artinya punya waktu lebih banyak bercengkrama dengan anak-anak. Tentu hal tersebut merupakan sesuatu yang tak ternilai harganya. Bisa bercengkrama dengan si kecil sebelum berangkat ke kantor (baca: naik ke lantai dua rumah yang disulap sebagai kantor) atau menyambut si sulung dari sekolah merupakan kebahagiaan sendiri. Terkadang, saya pun masih bisa mengikuti kegiatan sekolah si sulung. Terdengar menyenangkan bukan?

Tapi tidak semuanya cerita bahagia kok.

Tantangan tentu ada. Di sela-sela deadline, si kecil tiba-tiba merengek minta diajak main. Atau ketika ada conference call penting, tiba-tiba anak nongol bertanya tanpa rasa bersalah mainanya tadi disimpan di mana, dududududu.

Untung suami saya juga pekerja rumahan, bahkan dia lebih master dari saya. Sudah dari dulu, semenjak pindah kerja ke Jakarta mengikuti pujaan hatinya, dirinya menjadi pekerja rumahan. Berubah status hanya ketika kami pindah ke Australia karena kebetulan dapat kerjaan di salah perusahaan yang sesuai dengan bidangnya.

Dengan status yang sama-sama pekerja rumahan, akhirnya kita bisa saling bergantian meladeni anak. Bahkan ketika anak sakit, salah satu dari kami harus rela tidak bekerja demi sang anak, atau ketika tidak bisa yah kami harus merelakan jam kerja yang lebih panjang.

Salah satu konsekuensi kurang menyenangkan dari work from home adalah jam kerja yang sepertinya tidak habis-habis. Dari pagi hingga malam, hampir tidak berhenti, apalagi jika memang disambi ini-itu. Ini yang saya lihat terjadi pada suami saya. Untuk itu biasanya saya lumayan disiplin dengan jam kerja. Jam 9 mulai dan selesai jam 5 sore.

Tapi bekerja di rumah ketika anak juga harus sekolah dari rumah di kala pandemi seperti ini  merupakan bentuk tantangan sendiri. Juggling antara mengerjakan tugas kantor dan juga membantu anak menyelesaikan tugasnya itu….mmmm bukan main yaah. Lagi-lagi saya dan Keliek pun harus tandeman. Untungnya Keliek sekarang rada selo jadi lumayan lah bisa gantian.

Tantangan lainnya adalah membuat anak tidak bosan. Setiap hari, saya harus berpikir cara bagaimana caranya agar anak-anak tidak kebosanan ketika harus dikurung di rumah. Segala jurus sudah dikerahkan. Semua permainan sudah dikeluarkan: puzzle, monopoli dan terakhir scrabble pun juga sudah. Tapi ketika tiba-tiba anak-anak berteriak: “Bosaaan,” mendadak pusing kepala ini. Lebih pusing dari pada deadline kerjaan. Jadi setiap saat, otak ini harus berputar mencari cara untuk membuat mereka semangat.

Kerja dari rumah memang penuh dengan suka, tapi duka belum tentu tidak ada.

Tapi ketika saya harus memilih sekarang, maka saya pun terus memilih bekerja dari rumah. Makanya ketika kemarin sempat ada tawaran pekerjaan, hal yang pertama kali saya pastikan adalah apakah pekerjaan ini memungkinkan untuk bekerja dari rumah.

Dan saya berharap bahwa dengan semakin banyak orang yang familiar dengan konsep ini, maka banyak perusahan yang mempertimbangkan kebijakan bisa bekerja dari rumah bagi karyawannya terutama yang mempunyai anak-anak yang masih kecil. Karena karyawan bahagia adalah aset perusahaan yang paling penting, bukan?

 

 

Feb
29

IMG-20191214-WA0005

Saya mengamini seorang teman yang pernah bilang bahwa ketika orang tua memutuskan anaknya untuk les maka hal yang penting lainnya adalah komitmen orang tua untuk mendukung anaknya. Ini bukan hanya perkara uang tapi juga waktu, perhatian dan perasaan.

Karena pertimbangan itulah, saya selalu berpikir panjang sebelum mengikutkan anak les. Bukan hanya masalah biaya tapi juga komitmen saya dan suami, setidaknya untuk bisa mendedikasikan waktu kami untuk menemani mereka les, atau mengantar jemput mereka.

Kami tetap memberikan hak suara penuh kepada anak-anak untuk memilih les apa yang mereka suka tentunya, tapi lagi-lagi kami perlu mengukur kemampuan kami dalam memegang komitmen kami itu.

IMG-20191209-WA0003

Dengan pertimbangan ini itu saja, hari-hari kami dalam seminggu sudah dipenuhi dengan jadwal antar jemput les anak-anak. Senin: les balet Pagi, Rabu: les piano Pagi, Kamis: les balet Pagi, Jumat: les renang Nyala dan Pagi, Sabtu: les balet Nyala. Hanya Selasa dan Minggu waktu lowong yang kami punya.

IMG-20191208-WA0053

Semua inisiatif datang dari anak. Makanya sampai sekarang kegiatan les ini masih awet. Pagi yang mulai les balet dari umur 4 tahun, sampai sekarang masih semangat. Begitu juga dengan renangnya. Hanya saja untuk piano memang ada sedikit paksaan dari ayahnya. Akibatnya, saya melihat Pagi dengan les pianonya tidak seantuas ketika dia les renang atau balet. Untuk Nyala, sejauh ini dia hanya meniru yang kakaknya lakukan. Sebelum mulai les balet, dia sudah sering kali diajak menemani Pagi les balet. Saya pun harus berpikir keras untuk akhirnya mengiyakan Nyala ikut les balet, karena saya ragu saya punya waktu dari yang tadinya hanya 2x seminggu ke tempat les balet menjadi 3x. Dudududu. Tapi ketika anaknya sudah merengek, apa daya kami untuk menolak.

Bukan hanya waktu, orang tua juga harus urun semangat dan perhatian juga perasaan. Ketika ujian les balet, saya pun harus memastikan Pagi siap dan tahu apa yang harus dilakukan ketika ujian. Ketika ujian piano kemarin juga begitu, Pagi memang sudah lancar memainkan lagu yang diujiankan, tapi untuk masalah mendengarkan nada dia masih belum menguasai. Dan tentu saja pas ujian tidak bisa. Dia pun menangis. Saya pun mencoba menjelaskan bahwa itu tidak apa-apa dan wajar, lha wong dia gak pernah latihan hearing hanya latihan saja. Jadi untuk urusan deg-degan seperti itu, orang tua juga harus siap.

IMG-20191027-WA0000

Belum lagi ketika ikut lomba.

Untuk renang, kebetulan Pagi mewakili sekolahnya untuk lomba antar kecamatan. Waduuuh antara bangga dan cemas saya dibuatnya. Waktu seleksi tingkat kelurahan, dia sempat berhenti di tengah ketika lomba gaya bebas. Ketika itu, saya memang menemaninya, tapi harus meninggalkannya sebelum lomba gaya kupu-kupu dimulai karena saya harus pergi ke kantor. Duh. Nah untuk lomba tingkat kecamatan, saya sudah menjelaskan kenapa Pagi bahwa menang itu tidak penting, yang penting berusaha semampumu. Tapi ternyata pada hari H, anaknya nangis lagi pada lomba awal gaya kupu-kupu (hah emang cengeng seperti mboknya). Waktu itu saya belum datang karena harus mengajar terlebih dahulu. Untungnya di nomor gaya lainnya, dia bisa sampai garis finish dengan lancar, meski tidak jadi juara. Tidak heran karena lawannya adalah anak-anak yang sudah masuk klub renang yang latihannya setiap hari, sedangkan Pagi hanya latihan seminggu sekali saja. Dan anaknya ketika ditawari ptidak mau ikut klub, syukurlah, ibunya pun tidak sanggup untuk mengantar setiap hari hehehe.

IMG_20200227_150827

Jadi sebelum meleskan anak, setidaknya ada 2 yang harus dipastikan:

  1. Apakah itu memang kemauan anak?
  2. Apakah orang tua siap untuk menyediakan waktu, tenaga dan perasaaan untuk mendukung anak?

Kalau iya, tidak ada salahnya membiarkan mereka mengembangkan bakat mereka di luar sekolah dengan les.

 

 

 

 

 

Jan
23

IMG_20191215_084617

Waktu saya masih kuliah, saya ingin sekali menanam pohon kamboja putih di rumah masa depan. Niatnya sih, bunganya yang gampang jatuh bisa saya pakai untuk hiasan rambut.

Demi mimpi itu, ketika membangun rumah kami sisihkan sedikit tanahnya untuk ruang hijau.

Saat ini kami sudah punya satu kamboja yang menjulang tinggi di depan rumah. Lumayan membantu untuk ngasih ancer-ancer tukang ojek online: “Rumah tingkat pintu warna merah yang depannya ada pohon kamboja yah”

Selain pohon kamboja, saya belum tahu kira-kira tanah kosong itu mau ditanam apa. Waktu itu jiwa bertanam saya belum sekuat sekarang. Untung saja ada bapak saya yang berinisiatif menanam banyak pohon buah-buahan di sekitar rumah. Ada pohon durian, pohon jambu, dan pohon mangga.

Seingat saya, pohon yang pertama kali kami tanam adalah pohon mangga. Kami waktu itu menanamnya di belakang rumah dekat garasi, tapi entah kenapa tumbuhnya sedikit doyong dan makin lama makin miring. Kami pun harus menebangnya. Hiks seharusnya jangan yah. Padahal pohon itu sudah sedemikian rindang dan sempat berbuah beberapa kali.

Untuk pohon durian dan pohon jambu, bapak saya menanamnya di depan rumah. Tidak beberapa lama, bapak saya pun menanam pohon rambutan.

Pohon-pohon ini tumbuh tanpa perawatan yang serius. Sesekali disiram. Untuk pohon durian, ada perawatan ekstra dari bude yang membantu di rumah suka menyiramkan air bekas cucian beras ke sana. “Biar manis (buahnya),” ujarnya.

Awal tahun ini, kami panen besar-besaran. Senang sekali bisa melihat bahwa pohon yang dulu kecil bisa menghasilkan buah-buah sebesar itu. Lahan yang  luasnya tidak seberapa ini bisa menghasilkan sesuatu. Jerih payah merawat dan memelihara pohon-pohon tersebut tidak sia-sia. Sepertinya ucapan seorang teman, “yang dirawat tidak khianat,” benar adanya.

In untuk kali kedua kami panen durian, untuk rambutan baru pertama kali. Rasanya senang bukan kepalang karena rumah kami akhirnya berpartisipasi dalam “pawai” musim rambutan di Kampung Bulak. Jadi menjelang Desember dan Januari, pemandangan di Kampung Bulak didominasi oleh warna-warna merah-kuning-oranye buah rambutan yang mengintip di banyak pohon. Senang sekali tahun ini, rumahsenyumpagi bisa berkontribusi memberikan pemandangan itu, meski tidak seberapa banyak.

IMG_20191218_144318

Untuk masalah rasa, kami masih suka dibikin terkejut. Saya tidak makan durian, tapi sejauh ini , kata suami dan anak-anak, hanya beberapa yang rasanya manis, selebihnya rasanya hambar. Untuk rambutan, rasanya manis, tapi kurang “ngelotok”.  Ah tapi memang beda rasanya makan dari pekarangan sendiri.

Demi mendapatkan sensasi yang sama, beberapa waktu yang lalu, saya memutuskan untuk menanam lagi pohon mangga di belakang rumah. Sebenarnya itu juga didorong oleh motivasi ingin menebus rasa bersalah saya pada pohon mangga sebelumnya. Lalu selain itu ada juga pohon belimbing dan pohon pepaya.

Ah tak sabar musim panen berikutnya.

 

 

Dec
17

IMG_20191208_112902

Satu hal yang mengasikkan menjadi seorang ibu adalah kesempatan untuk belajar hal baru. Dan membuat dada ini semakin penuh adalah kita melakukan hal tersebut demi anak-anak.

Selama 8 tahun jadi ibu, saya rasa saya menambah beberapa keahlian.

Pertama, saya mulai terbiasa melakukan dua atau tiga pekerjaan sekaligus saat ini. Saya yang biasanya sangat fokus, sekarang bisa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus dalam waktu bersamaan. Sebagai ibu yang bekerja di rumah, ini merupakan keahlian khusus, karena saya tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai deadline di tengah-tengah rengekan anak-anak yang minta ini-itu.

Lalu, saya yang tidak bisa membuat kue ini (baca: baking), jadi bisalah dikit-dikit. Kue bolu panggang, bolu kukus, cupcake, donat..sama yang paling canggih pavlova (meski ini belum bisa dianggap sukses juga siih).

Saya memang bisa memasak, tapi kalau baking itu butuh keahlian tersendiri, menurut saya, karena harus taat aturan. Beda dengan memasak yang terkadang asal cemplung saja, tapi hasilnya enak dan sesuai selera. Jurus asal itu tidak bisa dilakukan ketika baking karena dijamin kuenya bakal ambyar.

Baru saja sepertinya saya menambah keahlian saya: yaitu make up. Ini menurut saya pencapaian lho dari cewek yang gak bisa dandan, kalau pake lipstik pasti belepotan dan tidak tahu apa bedanya foundation dan sapu bedak (parah emang, saya kira itu benda yang sama yah saudara-saudara).

Keahlian ini juga tuntutan anak-anak yang les balet dan kudu memakai make up untuk pentas akhir tahun-nya. Setiap tahun, ketika guru baletnya memberi panduan make up di wa group, saya langsung mumet. Sebelumnya, saya minta tolong teman atau saudara, tapi kok kayaknya bergantung. Membayar make up artist pun tidak sejalan dengan jiwa emak-emak saya yang pelit dan medit ini.

IMG_20191006_115445

Akhirnya dari tahun lalu saya mulai nyicil beli-beli alat make up (menyenangkan ternyata) tentu sambil tanya-tanya ini apa fungsinya, itu apa. Yang terakhir, saya belajar pentingnya menggunakan primer sebelum menggunakan make up saudara-saudara, agar make up lebih tahan lama. Ahaaa!

IMG_20191006_115103

Untuk pentas balet kemarin, saya mendandani anak-anak untuk pentas mereka. Kalau Pagi saya hanya memberikan make up dasar, karena untuk riasannya saya masih angkat tangan.

Kalau Nyala, saya bisa total mendandaninya. Ketika sampai di tempat pentas, saya pun diminta membantu merias teman-teman Nyala  yang lain. Aah senangnya, meski hasilnya canggih-canggih amat yah.

Jadi, tidak sabar untuk belajar hal baru lainnya.

IMG_20191208_112931

 

 

 

 

 

 

 

 

Nov
30

IMG_20190707_153054

 

Selama di Hong Kong kemarin, kami juga sempat mampir ke Macau. Sebenarnya saya yang pengin sih. Kapan lagi kan?

Cuma sedikit menyesal yah. Negaranya tidak semenarik yang saya kira. Penuh sekali saat itu. Mungkin karena kami datang saat akhir pekan, semua orang di Hong Kong dan dataran Cina datang ke sana sepertinya.

Kami menyeberang dengan feri. Tiket bisa langsung dibeli di pelabuhan. Cuma harus perhatikan juga ke mana mereka berlabuh di Macau karena beda kapal, beda pelabuhannya. Kami sempat kecele waktu mendarat dan bingung mencari bus ke kota karena bus tersebut tidak ada di pelabuhan tempat kami mendarat.

Perjalanan menuju kota, saya merasa seperti perjalanan ke kota wisata Cibubur atau Kota Bunga di Puncak.

Begitu sampai ke pusat kota, saya melihat gedung aneh sekali, seperti tusuk konde emas. Bangunan-bangunan sekitarnya pun sama tidak menariknya.

IMG_20190707_162256

IMG_20190707_162113

 

Dari sana kami berjalan ke arah wisata tujuan semua umat di Macau: reruntuhan St. Paul. Kami melewati deretan-deretan toko seperti yang kami juga lihat di Hong Kong hanya saja minus gedung-gedung apartemen lusuh di atasnya. Hingga kami sampai ke  Largo de Senado, komplek penuh dengan bangunan-bangunan tua kolonial dan jalan-jalan bebatuan seperti di Eropa. Cuma itu yah rasanya semua palsu…Dari sana kami bersama ribuan turis lainnya menuju St. Paul.

IMG_20190707_143043

 

Sesampainya di sana tempatnya sudah penuh sekali. Kami sempat kesulitan mengambil foto termasuk mengambil foto ciri khas tampak belakang yang memang sulit sekali. Setelah mengambil foto seadanya, kami pun naik ke atas, menuju museum kecil reruntuhan St. Paul.

IMG_20190707_134315

Beberapa petunjuk menjelaskan  beberapa cerita sedih di balik terbakarnya gereja St Paul. Salah satu cerita tentang resistensi dari penduduk lokal terhadap pengajar-pengajar St. Paul. Tapi anehnya ketika saya coba googling cerita ini di Internet, kenapa tidak saya temukan. Yang ada hanya cerita, bahwa gedung itu terbakar. Cuma terbakar karena apa tidak dijelaskan. Mmmm.

Begitu banyak pertanyaan ketika saya ada di sana dan sampai saat ini pun masih. Mungkin seharusnya kami tinggal lebih lama lagi untuk tahu lebih banyak tentang Macau, lebih dari pie tart legendarisnya.

IMG_20190707_141942

 

 

 

 

 

 

 

Oct
27

IMG_20190705_092359

 

Alasan utama pergi ke Disneyland adalah ndolani anak-anak. Punya dua anak-anak cewek yang centil-centil, eksposure terhadap putri-putri Disney tak terhindarkan ya. Mungkin ada beberapa orang tua yang bisa melakukannya. Tapi saya tidak. Disney ada di mana-mana dan susah sekali bagi saya untuk menolaknya.  Apalagi saya pun juga penggemar film-film Disney yaah.

Sebelum berangkat, kita agak ragu apakah Nyala yang berusia 3.5 tahun masih terlalu kecil. Jangan-jangan kita bawa ke sana, dan dia belum ingat apa-apa. Banyak yang bilang sebaiknya mengajak anak-anak ke Disneyland ketika mereka sudah gedean dikit agar kenangan bisa melekat dengan kuat. Ternyata tidak buat Nyala…entah kenapa anak ini masih ingat saja pengalamannya ke Disney, apalagi momen ketika dia bertemu princess favoritnya Belle. Sampai sekarang dia tak henti-hentinya meminta kita kembali ke sana.

Kami membeli tiket terusan dua hari. Alasannya selain jatuhnya lebih murah ketimbang beli tiket yang satu hari saja adalah saya dan keliek tidak yakin bisa menikmati wahana yang ada selama satu hari saja sambil membawa dua anak-anak yang masih kecil ini.

Dalam waktu 6 hari, kami sengaja tidak pergi ke Disneyland dua hari berturut-turut. Encok bangeet karena benar-benar waktu berjalan sangat cepat di sana. Datang pagi hari, pulang ketika matahari sudah terbenam.

Yang seru seharian berada di Disneyland bukan saja wahana-wahananya, tapi kesempatan bertemu dengan figur tokoh-tokoh Disney secara langsung dan ngobrol langsung dengan mereka dan menonton pertunjukkan mereka tentunya. Mungkin ini yang membedakan dengan amusement parks lainnya yah. Jadi menurut saya rugi kalau ke Disney cuma mau habis untuk naik wahana saja.

Anak-anak girang banget ketemu princess-princess Disney itu. Perburuan princess-princess kami dimulai ketika kami tak sengaja bertemu Tinkerbell.

IMG_20190705_110525

Pada hari kedua, di gerbang depan, Keliek pun langsung menanyakan jadwal sesi foto bersama princess-princess. Iya mereka punya jadwal khusus di mana dan kami kami bisa menemui mereka. Kami pengin banget Nyala ketemu Belle sih sebenarnya…aah, ternyata kesampaian dan dia senaaaang bangeet. Lihat ajah senyumnyaa…

Serunya sebelum berfoto pasti princess-princess ini ngajak ngobrol anak-anaknya. Mereka bisa ngobrol lumayan lama, ditanya macem-macem sebelum berpose cantik di depan kamera.

IMG_20190708_113007

 

Si Keliek tidak ketinggalan dengan perburuannya bersama tokoh-tokoh Star Wars juga dong.

WhatsApp Image 2019-10-27 at 9.27.59 PM

IMG_20190708_111720

Untuk wahananya, seperti biasa saya lebih nyantai naik wahana yang santai menemani Nyala, sementara ayahnya dan Pagi berburu wahana yang memicu adrenalin. Meski di hari kedua, saya pun tak kuasa menolak permintaan Pagi untuk menemaninya naik wahana yang serem-serem. Selama dua hari itu, Pagi bisa naik wahana-wahana yang menantang itu dua sampai tiga kali. Puas sekali dirinya.  Yang jelas tidak ada satupun wahana terlewatkan sepertinya selama kami di sana. Semuanya sudah dicoba. Mungkin satu pertunjukkan yang terlewat yaitu Paint the Night parade yang harus dibatalkan karena sempat hujan ketika itu.

Ketika itu Hong Kong belum menghadapi gelombang protes yang hebat. Disneyland masih penuh apalagi ketika sudah siang. Kami pikir ketika datang bukan di akhir pekan, tempatnya menjadi sepi. Ternyata sama saja saudara-saudara.

Disneyland juga menawarkan beberapa pertunjukkan live yang spektakuler. Semacam musical cuma versi pendeknya. Ada Lion King dan Moana. Tapi yang keren dan kami sampai nonton dua kali adalah Mickey and the Wondrous Book.  Benar-benar kudu ditonton. Bagian yang tidak boleh terlewatkan adalah cuplikan penampilan Tiana dengan live dance performance-nya. Kece berat.

IMG_20190708_192923

Akibatnya, dampak dua hari pergi ke Disneyland Juli lalu pun masih terasa hingga sekarang. Tak bosan-bosan Nyala mengajak kami kembali ke sana lagi.

IMG_20190708_143118

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oct
27

PANO_20190704_144035

Liburan sekolah bulan Juli lalu, kami semua jalan-jalan ke Hong Kong.  Sama dengan orang tua yang punya anak kecil, misi utama saya dan Keliek ngajak anak-anak jalan-jalan ke Disneyland. Ndolani anak-anak, begitu bahasa Jawanya.

Saya perlu waktu enam hari  untuk  belajar bahwa Hong Kong lebih dari sekadar Disney.  Sebenarnya tergoda untuk tinggal lebih sebentar, toh kan hanya ke Disney dan lumayan menghemat juga dong untuk penginapan…tapi kok gak yakin dengan kondisi badan yang semakin menua kalau setiap hari digeber jalan-jalan non-stop, sama dua anak yang satu pecicilannya  gak habis-habis, yang satu lagi lagi doyan banget tantrum ketika itu.

Tapi bersyukur sekali kami memutuskan melancong agak lama, karena kami, terlebih saya bisa belajar lebih banyak tentang Hong Kong, yang ketika itu sedang mengalami gejolak politik yang sedang seru karena protes publik melawan pemerintah setempat. Kami sempat was-was ketika itu. Tapi beruntung sekali ketika itu protesnya masih belum seheboh seperti yang diberitakan kemarin ini. Meski beberapa minggu sebelumnya pendemo diberitakan menyerang gedung parlemen.

Sebenarnya ada satu peristiwa protes yang lumayan ricuh di daerah depan pelabuhan Victoria, tapi saat itu kami sedang berada di tempat lain. Atau ketika mereka sedang protes di pusat-pusat perbelanjaan di bawah hotel kami, kami sudah duduk manis di dalam hotel karena kelelahan.

Selama protes berlangsung, tidak ada satu gangguan yang kami rasakan sebagai turis ketika itu. Meski tidak pernah bertemu secara langsung,  kami sempat melewati dinding penuh stiky notes warna-warna yang ditulis oleh para pendemo dalam huruf Cina di beberapa jalan masuk ke kereta. Okay juga ini konsepnya, mirip seperti instalasi seni dan banyak sekali orang, yang mungkin kebanyakan turis, mengambil foto dan tentu saja bakal menyebarnya di media sosial dong.  What a good campaign!

Kembali ke Hong Kong.

Selain dinamika  dan sejarah politiknya yang seru (yang terakhir, saya sempat pelajari sekilas dari museum sejarahnya), Hong Kong menawarkan begitu banyak keseruan. Ini beberapa catatan saya selama enam hari di sana:

  1. Modern, kumuh, berantakan, tapi tetap menawan mata

IMG_20190703_194141

Bingung yah. Hong Kong adalah kota di antara Jakarta dan Singapura. Kacaunya tidak sepertinya Jakarta. Tapi rapi dan teraturnya belum semaniak Singapura. Ini bisa terlihat di banyak gedung-gedung bertingkat yang saya anggap semacam jenis “hibrida” di sekitar daerah Kowloon, tempat hotel kami berada. Jadi di sebuah gedung bertingkat, lantai paling bawah bisa saja pusat perbelanjaan modern dengan banyak turis lalu lalang, tapi begitu mata ini menatap ke atas, bangunan yang sama berubah bentuk menjadi rumah susun Tanah Abang. Tapi entah kenapa tetep ajah cantik, apalagi lihatnya di The Peak, dataran paling tinggi di Hong Kong.

Tapi yang buat saya penasaran, apakah perilaku masyarakatnya juga sama dengan gedung-gedung jenis hibrida ini?

 

2, Makanannya amboii.

Kami tidak banyak eksplor makanan. Tapi sejauh lidah ini jalan-jalan ke sepanjang restoran dekat hotel, cocoklah lah di lidah dan nagih, apalagi jajanan pinggir jalannya apalagi bakpau b*b*nya….sluurrp.

Sayangnya, kami ketika itu dalam perjalanan yang super ngirit yah, karena Hong Kong itu mahal yah saudara-saudara, apalagi untuk penginapannya. Jadi saya pun berinisiatif membawa rice cooker mini doong lengkap dengan beras dan sambel tentunya. Meski pada akhirnya, agenda jajan tetap jalan terus yaah. Tapi mayan lah ngirit buat beli bakpau bab*…#teteup

IMG_20190706_125813

Mungkin lain kali ketika kami kembali lagi, agenda jajannya perlu dimaksimalkan tampaknya. Kami belum mencoba jajanan angkiran pinggir jalan mereka yang kayaknya seru sekali.

Kota yang “indah” dan juga makanan yang sedap cukuplah membuat impresi positif tentang Hong Kong buat turis yang sebenarnya tidak berharap begitu banyak. Tapi selama di sana, banyangan saya tentang Hong Kong sebagai salah satu pusat perekonomian di Asia selain Singapura dan juga tempat banyak TKW-TKW asal Indonesia mencari nafkah bubrah dengan sempurna. Apa mungkin karena saya tinggal di pulau yang salah? Tapi kedua kesan itu tidak terafirmasi  dalam kunjungan saya ketika itu.

IMG_20190704_143046-EFFECTS

 

 

 

 

Aug
25

IMG-20190322-WA0002

Selepas misi Keka Kondo selesai, saya ingin sekali mempercantik taman di depan rumah.

Aah saya sempat berkonsultasi dengan teman yang taman di rumahnya keceh beraat, karena kepikiran mencari konsultan taman gituuu…Tapi setelah ngobrol sepertinya saya tidak membutuhkannya karena waktu membangun rumah kami, Keliek sudah mempertimbangkan sedemikian rupa termasuk sumur resapan. Aah emang canggih arsitek kami ituu…hehehe.

Jadi yang saya butuhkan adalah tukang taman yang tahu tentang tanaman dan bisa ditawar tentunya. Saya sempat tanya sana-sini, akhirnya mentok ke tukang taman langganan rumah, yang hanya datang sebulan sekali.

Setelah saya ajak ngobrol dan memberi tahu apa yang saya inginkan dan butuhkan. Dia pun memberikan masukan dan tentunya perkiraan biayanya. Saya pun langsung setuju karena harganya memang jauh di bawah yang saya bayangkan.

WhatsApp Image 2019-08-25 at 7.53.12 PMWhatsApp Image 2019-08-25 at 7.53.12 PM (1)

 

Saya juga meminta dirinya untuk membangun taman kecil di belakang rumah. Satu area dekat daerah jemuran. Ini merupakan proyek tebus dosa setelah bertahun-tahun lalu kami memutuskan menebang pohon mangga yang sudah tumbuh besar di belakang. Kala itu itu keputusan diambil karena pohonnya doyong dan kami takut jatuh. Tapi setelah dipikir-pikir, saya sangat menyesal. Oleh karena itu, saya minta daerah jemuran ditanami rumput hijau pohon mangga dan juga pohon belimbing yang tumbuh di sekitar rumah.

Dengan budget yang gak bikin kantong jebol, rumahsenyumpagi jadi lebih cantik dan asri karena semakin banyak hehijauan di sekitar rumah.

Jujur saya, saya tidak begitu baik dengan tanaman. Berkebun bukan hal favorit saya. Memandangnya okay tapi mengerjakannya mmm…apalagi merawatnya yang memang butuh konsistensi luar biasa. Saya tidak sejago bapak saya yang meskipun tidak memiliki tanah kosong di rumahnya, tapi lantai duanya penuh dengan tamanan-tanaman kecil dalam pot termasuk pohon buah-buahan.

Tapi bersyukur sekali tampaknya tanah di sekitar kampung bulak ini subur sekali yah. Pohon mangga dan pohong belimbing yang saya tanam di belakang rumah itu benar-benar dari biji yang jatuh ke tanah baik di sengaja maupun tidak. Pohon mangga itu tahu-tahu tumbuh di samping rumah. Dan pohon belimbing itu tumbuh dari biji belimbing yang ditanam oleh Bude, orang yang membantu mengurusi rumah kami.

IMG_20190714_073931

Tapi Bude mungkin seperti bapak saya yang tangannya dingin ketika memegang tanaman, Semua yang dia taruh di tanah langsung tumbuh. Repotnya dia jarang bilang ke saya. Jadi tahu-tahu ada bibit pohon alpukat lalu daun ubi, kemangi , an masih banyak lainnya. Dari Bude, saya pun menyediakan satu plot tanah untuk tanaman bumbu, ada cabe, jahe, lengkuas, kunci.

Selain menata hehijauan di luar rumah, saya  pun berniat mempercantik interior rumah yang ala kadarnya dengan tanaman.

Hah. Ini membawa saya dan keliek ke hobi baru: pergi ke tukang tanaman. And yes we loveee it. Kami bisa berjam-jam di sana, memilih tanaman yang lucu-lucu lalu menentukan potnya sambil tentu menawar harganya dooong.

IMG_20190526_152331

Di Sawangan sendiri banyak sekali tukang tanaman, tapi favorit kami di daerah dekat menuju Parung yang letaknya bersebelahan dengan mall yang sedang dibangun.  Di sana, ada beberapa tukang tanaman yang beroperasi, kita tinggal pilih yang mana yang paling cocok. Pengalaman ini benar-benar baru buat saya. Apa yang saya Keliek lakukan mengingatkan saya pada pasangan paruh baya yang suka beli tanaman. Iya, saya resmi jadi emak-emak yang gak santai kalau lihat tanaman bagus.

Setelah browsing-browsing sini, kami pun memilih tanaman-tanaman dalam rumah seperti monstera dan palem bali. Tidak hanya itu, Keliek punya ide untuk mengubah space tepat di kamar utama menjadi taman kering dan menanam pohon ketapang kencana di tengah-tengah. Kami sengaja memilih yang sudah jadi dan tinggi. Repot juga membawanya karena ukurannya cukup masif: 2.5 meter. Tapi setelah kami menanamnya di depan kamar, aaah semua perjuangan terbayarkan.

Satu pekerjaan rumah yang besar setelah membawa tanaman-tanaman itu adalah merawatnya. Untungnya saya dibantu oleh Bude, dia cukup rajin menyiram tanaman setiap hari. Yang saya lakukan adalah menyemprot tanaman-tanaman yang ada di atas rak buku.

Satu tips yang saya baca dalam merawat tanaman adalah dengan memperlakukan tanaman ini sebagai teman. Sayangi mereka dengan ajak mereka ngobrol. Okay, ini memang terdengar aneh. Tapi saya mencobanya dan hal ini berhasil. Hal yang pertama kali saya lakukan adalah memberi tanaman-tanaman itu nama dan untuk ini saya ajak Pagi dan Nyala untuk menciptakan nama-nama bagi mereka. Kami punya loba dan lobi (Monstera ), Spiky (untuk Palem Bali), Sira dan Siri (Daun Siri) lalu ada Aurora (Lipstik Aurora), Tala dan Tali (daun Talas), dan tentu saja Bloom (Ketapang Kencana).  Jadi ketika mereka tampak ada masalah, saya biasanya langsung menghampiri mereka, ngajak ngobrol, dan mengelus-elus mereka. Aneh yah? Tapi ini berhasil, setidaknya dua kali dalam catatan saya.

IMG_20190511_150730

Waktu itu Spiky tampak kebanyakan air, karena Bude terlalu rajin menyiramnya dan tampaknya di bagian tengahnya busuk. Saya pun berusaha menyingkirkan batang-batang yang busuk. Butuh beberapa hari hingga Spiky segar kembali. Lalu tanaman sirih kami Siri tidak sesegar saudaranya Sira. Siri tampak selalu loyo meski airnya selalu diganti. Hingga suatu ketika saya ajak ngobrol dia dan mengganti airnya sekian kali dan walaaa…dua hari kemudian dia pun segar kembali.

Mmm…misteri alam!

Di musim kemarau ini, saya punya PR berat karena tanaman jadi tampak lebih cepat layu, termasuk Bloom yang tidak sesegar sebelumnya. Makanya senang sekali hati ini ketika kemarin sempat turun hujan meski cuma sebentar.

Saya jadi ingat adegan di film Totoro ketika Satsuki dan Mei melakukan tarian khusus buat biji yang mereka tanam agar tumbuh jadi pohon. Perlukah kami melakukannya juga?

WhatsApp Image 2019-08-25 at 7.53.11 PM