psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Jan
23

IMG_20191215_084617

Waktu saya masih kuliah, saya ingin sekali menanam pohon kamboja putih di rumah masa depan. Niatnya sih, bunganya yang gampang jatuh bisa saya pakai untuk hiasan rambut.

Demi mimpi itu, ketika membangun rumah kami sisihkan sedikit tanahnya untuk ruang hijau.

Saat ini kami sudah punya satu kamboja yang menjulang tinggi di depan rumah. Lumayan membantu untuk ngasih ancer-ancer tukang ojek online: “Rumah tingkat pintu warna merah yang depannya ada pohon kamboja yah”

Selain pohon kamboja, saya belum tahu kira-kira tanah kosong itu mau ditanam apa. Waktu itu jiwa bertanam saya belum sekuat sekarang. Untung saja ada bapak saya yang berinisiatif menanam banyak pohon buah-buahan di sekitar rumah. Ada pohon durian, pohon jambu, dan pohon mangga.

Seingat saya, pohon yang pertama kali kami tanam adalah pohon mangga. Kami waktu itu menanamnya di belakang rumah dekat garasi, tapi entah kenapa tumbuhnya sedikit doyong dan makin lama makin miring. Kami pun harus menebangnya. Hiks seharusnya jangan yah. Padahal pohon itu sudah sedemikian rindang dan sempat berbuah beberapa kali.

Untuk pohon durian dan pohon jambu, bapak saya menanamnya di depan rumah. Tidak beberapa lama, bapak saya pun menanam pohon rambutan.

Pohon-pohon ini tumbuh tanpa perawatan yang serius. Sesekali disiram. Untuk pohon durian, ada perawatan ekstra dari bude yang membantu di rumah suka menyiramkan air bekas cucian beras ke sana. “Biar manis (buahnya),” ujarnya.

Awal tahun ini, kami panen besar-besaran. Senang sekali bisa melihat bahwa pohon yang dulu kecil bisa menghasilkan buah-buah sebesar itu. Lahan yang  luasnya tidak seberapa ini bisa menghasilkan sesuatu. Jerih payah merawat dan memelihara pohon-pohon tersebut tidak sia-sia. Sepertinya ucapan seorang teman, “yang dirawat tidak khianat,” benar adanya.

In untuk kali kedua kami panen durian, untuk rambutan baru pertama kali. Rasanya senang bukan kepalang karena rumah kami akhirnya berpartisipasi dalam “pawai” musim rambutan di Kampung Bulak. Jadi menjelang Desember dan Januari, pemandangan di Kampung Bulak didominasi oleh warna-warna merah-kuning-oranye buah rambutan yang mengintip di banyak pohon. Senang sekali tahun ini, rumahsenyumpagi bisa berkontribusi memberikan pemandangan itu, meski tidak seberapa banyak.

IMG_20191218_144318

Untuk masalah rasa, kami masih suka dibikin terkejut. Saya tidak makan durian, tapi sejauh ini , kata suami dan anak-anak, hanya beberapa yang rasanya manis, selebihnya rasanya hambar. Untuk rambutan, rasanya manis, tapi kurang “ngelotok”.  Ah tapi memang beda rasanya makan dari pekarangan sendiri.

Demi mendapatkan sensasi yang sama, beberapa waktu yang lalu, saya memutuskan untuk menanam lagi pohon mangga di belakang rumah. Sebenarnya itu juga didorong oleh motivasi ingin menebus rasa bersalah saya pada pohon mangga sebelumnya. Lalu selain itu ada juga pohon belimbing dan pohon pepaya.

Ah tak sabar musim panen berikutnya.

 

 

Dec
17

IMG_20191208_112902

Satu hal yang mengasikkan menjadi seorang ibu adalah kesempatan untuk belajar hal baru. Dan membuat dada ini semakin penuh adalah kita melakukan hal tersebut demi anak-anak.

Selama 8 tahun jadi ibu, saya rasa saya menambah beberapa keahlian.

Pertama, saya mulai terbiasa melakukan dua atau tiga pekerjaan sekaligus saat ini. Saya yang biasanya sangat fokus, sekarang bisa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus dalam waktu bersamaan. Sebagai ibu yang bekerja di rumah, ini merupakan keahlian khusus, karena saya tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai deadline di tengah-tengah rengekan anak-anak yang minta ini-itu.

Lalu, saya yang tidak bisa membuat kue ini (baca: baking), jadi bisalah dikit-dikit. Kue bolu panggang, bolu kukus, cupcake, donat..sama yang paling canggih pavlova (meski ini belum bisa dianggap sukses juga siih).

Saya memang bisa memasak, tapi kalau baking itu butuh keahlian tersendiri, menurut saya, karena harus taat aturan. Beda dengan memasak yang terkadang asal cemplung saja, tapi hasilnya enak dan sesuai selera. Jurus asal itu tidak bisa dilakukan ketika baking karena dijamin kuenya bakal ambyar.

Baru saja sepertinya saya menambah keahlian saya: yaitu make up. Ini menurut saya pencapaian lho dari cewek yang gak bisa dandan, kalau pake lipstik pasti belepotan dan tidak tahu apa bedanya foundation dan sapu bedak (parah emang, saya kira itu benda yang sama yah saudara-saudara).

Keahlian ini juga tuntutan anak-anak yang les balet dan kudu memakai make up untuk pentas akhir tahun-nya. Setiap tahun, ketika guru baletnya memberi panduan make up di wa group, saya langsung mumet. Sebelumnya, saya minta tolong teman atau saudara, tapi kok kayaknya bergantung. Membayar make up artist pun tidak sejalan dengan jiwa emak-emak saya yang pelit dan medit ini.

IMG_20191006_115445

Akhirnya dari tahun lalu saya mulai nyicil beli-beli alat make up (menyenangkan ternyata) tentu sambil tanya-tanya ini apa fungsinya, itu apa. Yang terakhir, saya belajar pentingnya menggunakan primer sebelum menggunakan make up saudara-saudara, agar make up lebih tahan lama. Ahaaa!

IMG_20191006_115103

Untuk pentas balet kemarin, saya mendandani anak-anak untuk pentas mereka. Kalau Pagi saya hanya memberikan make up dasar, karena untuk riasannya saya masih angkat tangan.

Kalau Nyala, saya bisa total mendandaninya. Ketika sampai di tempat pentas, saya pun diminta membantu merias teman-teman Nyala  yang lain. Aah senangnya, meski hasilnya canggih-canggih amat yah.

Jadi, tidak sabar untuk belajar hal baru lainnya.

IMG_20191208_112931

 

 

 

 

 

 

 

 

Nov
30

IMG_20190707_153054

 

Selama di Hong Kong kemarin, kami juga sempat mampir ke Macau. Sebenarnya saya yang pengin sih. Kapan lagi kan?

Cuma sedikit menyesal yah. Negaranya tidak semenarik yang saya kira. Penuh sekali saat itu. Mungkin karena kami datang saat akhir pekan, semua orang di Hong Kong dan dataran Cina datang ke sana sepertinya.

Kami menyeberang dengan feri. Tiket bisa langsung dibeli di pelabuhan. Cuma harus perhatikan juga ke mana mereka berlabuh di Macau karena beda kapal, beda pelabuhannya. Kami sempat kecele waktu mendarat dan bingung mencari bus ke kota karena bus tersebut tidak ada di pelabuhan tempat kami mendarat.

Perjalanan menuju kota, saya merasa seperti perjalanan ke kota wisata Cibubur atau Kota Bunga di Puncak.

Begitu sampai ke pusat kota, saya melihat gedung aneh sekali, seperti tusuk konde emas. Bangunan-bangunan sekitarnya pun sama tidak menariknya.

IMG_20190707_162256

IMG_20190707_162113

 

Dari sana kami berjalan ke arah wisata tujuan semua umat di Macau: reruntuhan St. Paul. Kami melewati deretan-deretan toko seperti yang kami juga lihat di Hong Kong hanya saja minus gedung-gedung apartemen lusuh di atasnya. Hingga kami sampai ke  Largo de Senado, komplek penuh dengan bangunan-bangunan tua kolonial dan jalan-jalan bebatuan seperti di Eropa. Cuma itu yah rasanya semua palsu…Dari sana kami bersama ribuan turis lainnya menuju St. Paul.

IMG_20190707_143043

 

Sesampainya di sana tempatnya sudah penuh sekali. Kami sempat kesulitan mengambil foto termasuk mengambil foto ciri khas tampak belakang yang memang sulit sekali. Setelah mengambil foto seadanya, kami pun naik ke atas, menuju museum kecil reruntuhan St. Paul.

IMG_20190707_134315

Beberapa petunjuk menjelaskan  beberapa cerita sedih di balik terbakarnya gereja St Paul. Salah satu cerita tentang resistensi dari penduduk lokal terhadap pengajar-pengajar St. Paul. Tapi anehnya ketika saya coba googling cerita ini di Internet, kenapa tidak saya temukan. Yang ada hanya cerita, bahwa gedung itu terbakar. Cuma terbakar karena apa tidak dijelaskan. Mmmm.

Begitu banyak pertanyaan ketika saya ada di sana dan sampai saat ini pun masih. Mungkin seharusnya kami tinggal lebih lama lagi untuk tahu lebih banyak tentang Macau, lebih dari pie tart legendarisnya.

IMG_20190707_141942

 

 

 

 

 

 

 

Oct
27

IMG_20190705_092359

 

Alasan utama pergi ke Disneyland adalah ndolani anak-anak. Punya dua anak-anak cewek yang centil-centil, eksposure terhadap putri-putri Disney tak terhindarkan ya. Mungkin ada beberapa orang tua yang bisa melakukannya. Tapi saya tidak. Disney ada di mana-mana dan susah sekali bagi saya untuk menolaknya.  Apalagi saya pun juga penggemar film-film Disney yaah.

Sebelum berangkat, kita agak ragu apakah Nyala yang berusia 3.5 tahun masih terlalu kecil. Jangan-jangan kita bawa ke sana, dan dia belum ingat apa-apa. Banyak yang bilang sebaiknya mengajak anak-anak ke Disneyland ketika mereka sudah gedean dikit agar kenangan bisa melekat dengan kuat. Ternyata tidak buat Nyala…entah kenapa anak ini masih ingat saja pengalamannya ke Disney, apalagi momen ketika dia bertemu princess favoritnya Belle. Sampai sekarang dia tak henti-hentinya meminta kita kembali ke sana.

Kami membeli tiket terusan dua hari. Alasannya selain jatuhnya lebih murah ketimbang beli tiket yang satu hari saja adalah saya dan keliek tidak yakin bisa menikmati wahana yang ada selama satu hari saja sambil membawa dua anak-anak yang masih kecil ini.

Dalam waktu 6 hari, kami sengaja tidak pergi ke Disneyland dua hari berturut-turut. Encok bangeet karena benar-benar waktu berjalan sangat cepat di sana. Datang pagi hari, pulang ketika matahari sudah terbenam.

Yang seru seharian berada di Disneyland bukan saja wahana-wahananya, tapi kesempatan bertemu dengan figur tokoh-tokoh Disney secara langsung dan ngobrol langsung dengan mereka dan menonton pertunjukkan mereka tentunya. Mungkin ini yang membedakan dengan amusement parks lainnya yah. Jadi menurut saya rugi kalau ke Disney cuma mau habis untuk naik wahana saja.

Anak-anak girang banget ketemu princess-princess Disney itu. Perburuan princess-princess kami dimulai ketika kami tak sengaja bertemu Tinkerbell.

IMG_20190705_110525

Pada hari kedua, di gerbang depan, Keliek pun langsung menanyakan jadwal sesi foto bersama princess-princess. Iya mereka punya jadwal khusus di mana dan kami kami bisa menemui mereka. Kami pengin banget Nyala ketemu Belle sih sebenarnya…aah, ternyata kesampaian dan dia senaaaang bangeet. Lihat ajah senyumnyaa…

Serunya sebelum berfoto pasti princess-princess ini ngajak ngobrol anak-anaknya. Mereka bisa ngobrol lumayan lama, ditanya macem-macem sebelum berpose cantik di depan kamera.

IMG_20190708_113007

 

Si Keliek tidak ketinggalan dengan perburuannya bersama tokoh-tokoh Star Wars juga dong.

WhatsApp Image 2019-10-27 at 9.27.59 PM

IMG_20190708_111720

Untuk wahananya, seperti biasa saya lebih nyantai naik wahana yang santai menemani Nyala, sementara ayahnya dan Pagi berburu wahana yang memicu adrenalin. Meski di hari kedua, saya pun tak kuasa menolak permintaan Pagi untuk menemaninya naik wahana yang serem-serem. Selama dua hari itu, Pagi bisa naik wahana-wahana yang menantang itu dua sampai tiga kali. Puas sekali dirinya.  Yang jelas tidak ada satupun wahana terlewatkan sepertinya selama kami di sana. Semuanya sudah dicoba. Mungkin satu pertunjukkan yang terlewat yaitu Paint the Night parade yang harus dibatalkan karena sempat hujan ketika itu.

Ketika itu Hong Kong belum menghadapi gelombang protes yang hebat. Disneyland masih penuh apalagi ketika sudah siang. Kami pikir ketika datang bukan di akhir pekan, tempatnya menjadi sepi. Ternyata sama saja saudara-saudara.

Disneyland juga menawarkan beberapa pertunjukkan live yang spektakuler. Semacam musical cuma versi pendeknya. Ada Lion King dan Moana. Tapi yang keren dan kami sampai nonton dua kali adalah Mickey and the Wondrous Book.  Benar-benar kudu ditonton. Bagian yang tidak boleh terlewatkan adalah cuplikan penampilan Tiana dengan live dance performance-nya. Kece berat.

IMG_20190708_192923

Akibatnya, dampak dua hari pergi ke Disneyland Juli lalu pun masih terasa hingga sekarang. Tak bosan-bosan Nyala mengajak kami kembali ke sana lagi.

IMG_20190708_143118

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oct
27

PANO_20190704_144035

Liburan sekolah bulan Juli lalu, kami semua jalan-jalan ke Hong Kong.  Sama dengan orang tua yang punya anak kecil, misi utama saya dan Keliek ngajak anak-anak jalan-jalan ke Disneyland. Ndolani anak-anak, begitu bahasa Jawanya.

Saya perlu waktu enam hari  untuk  belajar bahwa Hong Kong lebih dari sekadar Disney.  Sebenarnya tergoda untuk tinggal lebih sebentar, toh kan hanya ke Disney dan lumayan menghemat juga dong untuk penginapan…tapi kok gak yakin dengan kondisi badan yang semakin menua kalau setiap hari digeber jalan-jalan non-stop, sama dua anak yang satu pecicilannya  gak habis-habis, yang satu lagi lagi doyan banget tantrum ketika itu.

Tapi bersyukur sekali kami memutuskan melancong agak lama, karena kami, terlebih saya bisa belajar lebih banyak tentang Hong Kong, yang ketika itu sedang mengalami gejolak politik yang sedang seru karena protes publik melawan pemerintah setempat. Kami sempat was-was ketika itu. Tapi beruntung sekali ketika itu protesnya masih belum seheboh seperti yang diberitakan kemarin ini. Meski beberapa minggu sebelumnya pendemo diberitakan menyerang gedung parlemen.

Sebenarnya ada satu peristiwa protes yang lumayan ricuh di daerah depan pelabuhan Victoria, tapi saat itu kami sedang berada di tempat lain. Atau ketika mereka sedang protes di pusat-pusat perbelanjaan di bawah hotel kami, kami sudah duduk manis di dalam hotel karena kelelahan.

Selama protes berlangsung, tidak ada satu gangguan yang kami rasakan sebagai turis ketika itu. Meski tidak pernah bertemu secara langsung,  kami sempat melewati dinding penuh stiky notes warna-warna yang ditulis oleh para pendemo dalam huruf Cina di beberapa jalan masuk ke kereta. Okay juga ini konsepnya, mirip seperti instalasi seni dan banyak sekali orang, yang mungkin kebanyakan turis, mengambil foto dan tentu saja bakal menyebarnya di media sosial dong.  What a good campaign!

Kembali ke Hong Kong.

Selain dinamika  dan sejarah politiknya yang seru (yang terakhir, saya sempat pelajari sekilas dari museum sejarahnya), Hong Kong menawarkan begitu banyak keseruan. Ini beberapa catatan saya selama enam hari di sana:

  1. Modern, kumuh, berantakan, tapi tetap menawan mata

IMG_20190703_194141

Bingung yah. Hong Kong adalah kota di antara Jakarta dan Singapura. Kacaunya tidak sepertinya Jakarta. Tapi rapi dan teraturnya belum semaniak Singapura. Ini bisa terlihat di banyak gedung-gedung bertingkat yang saya anggap semacam jenis “hibrida” di sekitar daerah Kowloon, tempat hotel kami berada. Jadi di sebuah gedung bertingkat, lantai paling bawah bisa saja pusat perbelanjaan modern dengan banyak turis lalu lalang, tapi begitu mata ini menatap ke atas, bangunan yang sama berubah bentuk menjadi rumah susun Tanah Abang. Tapi entah kenapa tetep ajah cantik, apalagi lihatnya di The Peak, dataran paling tinggi di Hong Kong.

Tapi yang buat saya penasaran, apakah perilaku masyarakatnya juga sama dengan gedung-gedung jenis hibrida ini?

 

2, Makanannya amboii.

Kami tidak banyak eksplor makanan. Tapi sejauh lidah ini jalan-jalan ke sepanjang restoran dekat hotel, cocoklah lah di lidah dan nagih, apalagi jajanan pinggir jalannya apalagi bakpau b*b*nya….sluurrp.

Sayangnya, kami ketika itu dalam perjalanan yang super ngirit yah, karena Hong Kong itu mahal yah saudara-saudara, apalagi untuk penginapannya. Jadi saya pun berinisiatif membawa rice cooker mini doong lengkap dengan beras dan sambel tentunya. Meski pada akhirnya, agenda jajan tetap jalan terus yaah. Tapi mayan lah ngirit buat beli bakpau bab*…#teteup

IMG_20190706_125813

Mungkin lain kali ketika kami kembali lagi, agenda jajannya perlu dimaksimalkan tampaknya. Kami belum mencoba jajanan angkiran pinggir jalan mereka yang kayaknya seru sekali.

Kota yang “indah” dan juga makanan yang sedap cukuplah membuat impresi positif tentang Hong Kong buat turis yang sebenarnya tidak berharap begitu banyak. Tapi selama di sana, banyangan saya tentang Hong Kong sebagai salah satu pusat perekonomian di Asia selain Singapura dan juga tempat banyak TKW-TKW asal Indonesia mencari nafkah bubrah dengan sempurna. Apa mungkin karena saya tinggal di pulau yang salah? Tapi kedua kesan itu tidak terafirmasi  dalam kunjungan saya ketika itu.

IMG_20190704_143046-EFFECTS

 

 

 

 

Aug
25

IMG-20190322-WA0002

Selepas misi Keka Kondo selesai, saya ingin sekali mempercantik taman di depan rumah.

Aah saya sempat berkonsultasi dengan teman yang taman di rumahnya keceh beraat, karena kepikiran mencari konsultan taman gituuu…Tapi setelah ngobrol sepertinya saya tidak membutuhkannya karena waktu membangun rumah kami, Keliek sudah mempertimbangkan sedemikian rupa termasuk sumur resapan. Aah emang canggih arsitek kami ituu…hehehe.

Jadi yang saya butuhkan adalah tukang taman yang tahu tentang tanaman dan bisa ditawar tentunya. Saya sempat tanya sana-sini, akhirnya mentok ke tukang taman langganan rumah, yang hanya datang sebulan sekali.

Setelah saya ajak ngobrol dan memberi tahu apa yang saya inginkan dan butuhkan. Dia pun memberikan masukan dan tentunya perkiraan biayanya. Saya pun langsung setuju karena harganya memang jauh di bawah yang saya bayangkan.

WhatsApp Image 2019-08-25 at 7.53.12 PMWhatsApp Image 2019-08-25 at 7.53.12 PM (1)

 

Saya juga meminta dirinya untuk membangun taman kecil di belakang rumah. Satu area dekat daerah jemuran. Ini merupakan proyek tebus dosa setelah bertahun-tahun lalu kami memutuskan menebang pohon mangga yang sudah tumbuh besar di belakang. Kala itu itu keputusan diambil karena pohonnya doyong dan kami takut jatuh. Tapi setelah dipikir-pikir, saya sangat menyesal. Oleh karena itu, saya minta daerah jemuran ditanami rumput hijau pohon mangga dan juga pohon belimbing yang tumbuh di sekitar rumah.

Dengan budget yang gak bikin kantong jebol, rumahsenyumpagi jadi lebih cantik dan asri karena semakin banyak hehijauan di sekitar rumah.

Jujur saya, saya tidak begitu baik dengan tanaman. Berkebun bukan hal favorit saya. Memandangnya okay tapi mengerjakannya mmm…apalagi merawatnya yang memang butuh konsistensi luar biasa. Saya tidak sejago bapak saya yang meskipun tidak memiliki tanah kosong di rumahnya, tapi lantai duanya penuh dengan tamanan-tanaman kecil dalam pot termasuk pohon buah-buahan.

Tapi bersyukur sekali tampaknya tanah di sekitar kampung bulak ini subur sekali yah. Pohon mangga dan pohong belimbing yang saya tanam di belakang rumah itu benar-benar dari biji yang jatuh ke tanah baik di sengaja maupun tidak. Pohon mangga itu tahu-tahu tumbuh di samping rumah. Dan pohon belimbing itu tumbuh dari biji belimbing yang ditanam oleh Bude, orang yang membantu mengurusi rumah kami.

IMG_20190714_073931

Tapi Bude mungkin seperti bapak saya yang tangannya dingin ketika memegang tanaman, Semua yang dia taruh di tanah langsung tumbuh. Repotnya dia jarang bilang ke saya. Jadi tahu-tahu ada bibit pohon alpukat lalu daun ubi, kemangi , an masih banyak lainnya. Dari Bude, saya pun menyediakan satu plot tanah untuk tanaman bumbu, ada cabe, jahe, lengkuas, kunci.

Selain menata hehijauan di luar rumah, saya  pun berniat mempercantik interior rumah yang ala kadarnya dengan tanaman.

Hah. Ini membawa saya dan keliek ke hobi baru: pergi ke tukang tanaman. And yes we loveee it. Kami bisa berjam-jam di sana, memilih tanaman yang lucu-lucu lalu menentukan potnya sambil tentu menawar harganya dooong.

IMG_20190526_152331

Di Sawangan sendiri banyak sekali tukang tanaman, tapi favorit kami di daerah dekat menuju Parung yang letaknya bersebelahan dengan mall yang sedang dibangun.  Di sana, ada beberapa tukang tanaman yang beroperasi, kita tinggal pilih yang mana yang paling cocok. Pengalaman ini benar-benar baru buat saya. Apa yang saya Keliek lakukan mengingatkan saya pada pasangan paruh baya yang suka beli tanaman. Iya, saya resmi jadi emak-emak yang gak santai kalau lihat tanaman bagus.

Setelah browsing-browsing sini, kami pun memilih tanaman-tanaman dalam rumah seperti monstera dan palem bali. Tidak hanya itu, Keliek punya ide untuk mengubah space tepat di kamar utama menjadi taman kering dan menanam pohon ketapang kencana di tengah-tengah. Kami sengaja memilih yang sudah jadi dan tinggi. Repot juga membawanya karena ukurannya cukup masif: 2.5 meter. Tapi setelah kami menanamnya di depan kamar, aaah semua perjuangan terbayarkan.

Satu pekerjaan rumah yang besar setelah membawa tanaman-tanaman itu adalah merawatnya. Untungnya saya dibantu oleh Bude, dia cukup rajin menyiram tanaman setiap hari. Yang saya lakukan adalah menyemprot tanaman-tanaman yang ada di atas rak buku.

Satu tips yang saya baca dalam merawat tanaman adalah dengan memperlakukan tanaman ini sebagai teman. Sayangi mereka dengan ajak mereka ngobrol. Okay, ini memang terdengar aneh. Tapi saya mencobanya dan hal ini berhasil. Hal yang pertama kali saya lakukan adalah memberi tanaman-tanaman itu nama dan untuk ini saya ajak Pagi dan Nyala untuk menciptakan nama-nama bagi mereka. Kami punya loba dan lobi (Monstera ), Spiky (untuk Palem Bali), Sira dan Siri (Daun Siri) lalu ada Aurora (Lipstik Aurora), Tala dan Tali (daun Talas), dan tentu saja Bloom (Ketapang Kencana).  Jadi ketika mereka tampak ada masalah, saya biasanya langsung menghampiri mereka, ngajak ngobrol, dan mengelus-elus mereka. Aneh yah? Tapi ini berhasil, setidaknya dua kali dalam catatan saya.

IMG_20190511_150730

Waktu itu Spiky tampak kebanyakan air, karena Bude terlalu rajin menyiramnya dan tampaknya di bagian tengahnya busuk. Saya pun berusaha menyingkirkan batang-batang yang busuk. Butuh beberapa hari hingga Spiky segar kembali. Lalu tanaman sirih kami Siri tidak sesegar saudaranya Sira. Siri tampak selalu loyo meski airnya selalu diganti. Hingga suatu ketika saya ajak ngobrol dia dan mengganti airnya sekian kali dan walaaa…dua hari kemudian dia pun segar kembali.

Mmm…misteri alam!

Di musim kemarau ini, saya punya PR berat karena tanaman jadi tampak lebih cepat layu, termasuk Bloom yang tidak sesegar sebelumnya. Makanya senang sekali hati ini ketika kemarin sempat turun hujan meski cuma sebentar.

Saya jadi ingat adegan di film Totoro ketika Satsuki dan Mei melakukan tarian khusus buat biji yang mereka tanam agar tumbuh jadi pohon. Perlukah kami melakukannya juga?

WhatsApp Image 2019-08-25 at 7.53.11 PM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jul
23

IMG-20190323-WA0002

Percaya atau tidak, saya yang penampakannya sering berantakan ini, suka bersih-bersih.

Entah kapan kegemaran ini muncul. Mungkin setelah punya rumah sendiri.

Semenjak saya punya rumah sendiri, saya memang rutin beres-beres. Jadwalnya biasanya beberapa bulan sekali. Tidak ada yang pasti tahu kapan. Jika setannya muncul, saya bisa seharian bersih-bersih rumah dan menyortir lalu menyingkirkan barang-barang yang tidak lagi terpakai. Saya bisa kalap menghabiskan waktu dari pagi hingga sore beberes semuanya.

Ketika masih ada tenaga dan waktu, barang-barang yang saya singkirkan saya jual lagi dengan harga miring. Hasil penjualan kemudian saya sumbangkan ke kegiatan kampung. Alasannya sih karena yang beli yah orang-orang kampung juga yah. Tapi untuk kegiatan bersih-bersih kemarin, saya memutuskan langsung memberikan saja kepada para tetangga yang membutuhkan. Hemat waktu dan tetap sasaran.

Kegiatan beberes ini rutin saya lakukan. Untungnya rumah saya tidak terlalu besar dan tidak terlalu banyak pernak-pernik yah. Saya dan Keliek memang menghindari barang-barang pernak-pernik. Tidak banyak perabotan di rumah, benda pajangan pun hanya foto yah dan buku, jadi waktu untuk membersihkan rumah tidak butuh lama. Saya mungkin belajar dari ibu saya, penimbun sejati. Meskipun rumahnya lebih luas dari saya, begitu banyaknya barang di sana membuatnya terasa sumpek. Dia sulit sekali melepaskan barang-barang yang dimiliki.

Urusan melepaskan barang, ibu saya mungkin perlu belajar dari Marie Kondo. Saya lupa kapan saya pertama kali mendengarnya. Mungkin setelah membaca sebuah artikel di New York Times atau kemudian melihat bukunya dipajang di toko-toko buku di mall-mall.

Saya akhirnya kesampaian membeli bukunya waktu di Singapura. Ketika itu ada bazaar buku dan saya dapat kortingan harga cukup lumayan. Akhirnya saya beli bukunya.

Pertama kali membacanya, saya langsung berpikir, “Aneh banget sih cewek ini.” Kegiatan beberes dan bersih-bersih berubah menjadi suatu ritual yang penuh dengan hal-hal yang berbau spiritual.

Dalam ritual bersih-bersihnya, kita diminta untuk mengidentifikasi setiap benda apakah menimbulkan kebahagian untuk kita atau tidak. Jika tidak, buang saja. Tapi sebelumnya ucapkan terima kasih terlebih dahulu. Aneh kan? Belum lagi fakta bahwa dia adalah ibu dua orang anak-anak yang masih kecil. Beneran ini rumahnya gak pernah berantakan.

Keanehan ini kemudian mewujud ketika Netflix membuat serial khusus tentang Marie Kondo yang berusaha membantu orang-orang membenahi rumah mereka.

Tapi setelah mempelajari Marie Kondo sedemikian rupa, saya rasa metode cara beberes saya dan dia gak terlalu beda yah. Kalau saya suka melakukannya per ruangan, cara Marie Kondo lebih sistematis dan holistik yaitu per kategori barang. Mulai dari yang dianggap paling gampang, seperti pakaian hingga yang susah seperti barang-barang sentimentil.

Menarik. Saya ingin sekali mencobanya tapi saya pikir saya butuh waktu khusus tentunya. Akhirnya setelah menundanya beberapa lama, saya memutuskan untuk menerapkan metode Marie Kondo setelah saya balik fellowship di Belanda. Saya sudah woro-woro jauh-jauh hari sama Keliek. Sadar bahwa ini mungkin butuh waktu lebih lama untuk penyesuaian dan memastikan semua rampung.

Daan senang sekali saya akhirnya bisa membereskan rumah saya dengan menggunakan metode Marie Kondo. Memang perlu waktu yang lebih lama yaitu empat akhir pekan, yang biasanya saya bisa kebut dengan satu akhir pekan untuk membereskan semuanya. Selama proses itu, saya pun dijuluki Keka Kondo oleh Pagi dan ayahnya. hahaha.

Meski melelahkan dan terkadang konyol–apalagi waktu mencontohkan Pagi bagaimana berterima kasih pada barang-barang yang akan disingkirkan–saya menikmati proses yang ada. Tentu saja saya melakukan beberapa penyesuaian di sana sini yaah sesuai dengan kondisi rumah kami.

Alasan saya melakukan beres-beres mungkin karena rasa lega yang didapat setelah semua selesai. Beres-beres semacam terapi juga buat saya. Pikiran jadi semakin terang dan hidup terasa lebih ringan. Saya tidak berpikir sejauh ini sampai saya menyelesaikan proses beres-beres kemarin itu. Hati rasanya berbeda ketika melihat baju-baju dan buku-buku tertata dalam lemari.

Saya berusaha mencatat hal-hal apa saja yang membuat proses beres-beres kemarin itu yang meskipun melelahkan menjadi menyenangkan

  1. Atur waktumu sendiri. Jangan paksa harus selasai jika memang sudah lelah. Jeda bisa memberikan waktu untuk berpikir kira-kira mana barang yang harus disingkirkan atau tidak.
  2. Libatkan semua anggota keluarga. Proyek beres-beres ini bukan hanya proyek saya pribadi. Saya berusaha libatkan anak-anak dan suami dalam semua prosesnya. Saya beri tanggung jawab anak untuk menyortir mainanya dan pakaiannya. Kemudian untuk sang Ayah untuk alat bekerja dan kantornya. Memang tidak, tapi setidaknya kita harus mencoba.
  3. Lakukan penyesuaian sesuai dengan kondisi rumah. Saya tidak mengikuti semua metodenya yang dilakukan Marie Kondo karena saya yakin kebutuhan saya dan dia berbeda.
  4. Jangan terlalu ambisius. Saya yang punya dua anak ini harus menerima bahwa punya dua anak membuat rumah sering berantakan. Hal ini tak terhindarkan.
  5. Saat ini ketika saya rasa perlu, saya sering mengadakan bersih bersih dadakan untuk memastika semua bentu terorganisir pada tempatnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jun
07

IMG_20190210_083546

Hanya perlu waktu kurang lebih 3 jam dari Luksemburg ke Brussel. Bus Flixbus yang saya tumpangi pun tepat waktu. Dari stasiun Gare du Nord, saya langsung berjalan ke penginapan saya. Tekad saya, saya ingin tidur nyenyak setelah semalaman tidur di bus.

Saya menginap di sebuah hostel yang jaraknya tengah-tengah antara pusat kota dan Gare du Nord dan semuanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

IMG_20190210_081241

Setelah bebenah diri dan mandi, saya pun langsung ngelayap. Browsing sana sini, nemu sebuah restoran yang rekomendasinya okay dan sudah ada sejak tahun 1893. Lokasinya pun tak jauh dari hostel saya menginap. Namanya Chez Leon. Yay!

Sampai di sana, ternyata harus mengantri. Tapi karena saya sendiri, jadi tidak menunggu terlalu lama. Tidak berapa lama kemudian datanglah pelayan saya pun segera menanyakan menu paling favorit dan segera memesannya. Untuk minumnya, saya tentu memesan bir khas restoran tersebut. Bir Belgia katanya enak-enak. Begitu saya menyeruputnya, beneran iiih..kayaknya itu adalah bir terenak yang pernah saya rasakan.  Menu yang saya pesan adalah Beurre a l’ail gratinees yang artinya adalah kerang dalam mentega, bawang putih dan rempah-rempah. Rasanya masyaaaa ampuun. Saya habis satu loyang penuh. Sepulang dari saya, saya tidur dengan pulas.

IMG_20190209_181942

Besoknya saya habiskan berjalan-jalan mengitari pusat kota Brussel. Sayangnya hujan pagi itu jadi saya tidak beruntung mendapatkan langit biru.Titik-titik yang saya kunjungi termasuk Grand Palace lalu Manneken Pis dan tokonya Tintin tentunya untuk berburu koleksi buku saya yang kurang lengkap. Saya cukup lama menunggu hujan reda di area Grand Palace. Itu sebuah daerah yang dikeliling bangunan cantik, megah dan menurut saya rada sureal yah dengan ornamen keemasan dan desain kunonya. Beda sekali dengan pemandangan yang saya temui di daerah stasiun yang kumuh dan banyak sekali orang yang tampaknya menggelandang di sana. Beberapa minggu setelahnya, kelas saya di Belanda mendatangkan pembicara dari Brussel yang bercerita bahwa meski kaya, tingkat kesenjangan antara kaya dan miskin begitu tinggi di sana. Belum lagi dengan datangnya para pengungsi dari wilayah konflik. Kota yang tampak indah tidak selalu indah ternyata.

IMG_20190210_094747

Setelah saya puas di pusat kota, saya pun langsung naik kereta membelah Brussel untuk melihat landmark kota Brussel Atomium. Selama perjalanan dua hari ini, saya baru sadar, dua negara ini berbahasa Prancis yang kemudian membuka memori saya tentang beberapa kosakata yang pernah saya pelajari dulu. Ketika saya menimpali seorang perempuan dengan Oui, dan kemudian di balas dengan serentetan kata-kata yang saya tidak pahami, saya hanya bisa tersenyum manis sekali. Hahahaha

Lagi-lagi di kompleks Atomium, saya kembali disuguhi pemandangan surealis dengan monumen berupa atom yang segede gaban. Saya hanya bisa memandangnya dari jauh karena saya ragu untuk naik sebab merasa tidak ada yang menarik dilihat dari atas karena sewaktu saya turun dari kereta, saya harus berjalan melewati jalan raya yang tidak memiliki pemandangan yang menarik.

IMG_20190210_122714

Setelah dari sana, saya pun segera balik ke Gare du Nord untuk mengejar bisa saya ke Amsterdam. Senang sekali bisa menyelesaikan solo trip saya kali ini. Tidak sabar kembali ke kamar hotel saya di Bussum, Belanda.

IMG_20190210_131844

 

Jun
06

IMG_20190209_084229

Setiap mendapat fellowship ke  benua Eropa, saya berusaha menyempatkan diri jalan-jalan ke negara lain dengan visa schengen yang sudah di tangan. Sayang banget kan kalau tidak dimanfaatkan.

Untuk kali ini, saya menyempatkan diri ke dua negara lain: Belgia dan Luksemburg. Lagi-lagi saya harus solo travelling karena destinasi pilihan saya kurang populer untuk teman-teman lain yang lebih memilih Paris tentunya.

Saya pun membeli tiket beberapa hari sebelum berangkat. Kebiasaan buruk yang harus saya hilangkan. Saya memutuskan pergi ke dua negara sekaligus karena saya tidak punya pilihan karena acara debat pilpres tidak memungkinkan saya untuk kelayapan ke mana-mana. Dan lagi-lagi kali ini, andalan saya adalah Flixbus yang lumayan okay service-nya dengan harganya yang sangat murah.

Setelah browsing sana-sini, saya pilih waktu yang okay dan jam yang dirasa sesuai, saya akhirnya memutuskan berangkat jam 9 malam dari Amsterdam dan tiba di Luksemburg jam 3 pagi. Ketika saya ceritakan ini pada teman saya Bidu, dia sempat khawatir dan meminta saya mengurungkan niat saya. Mmmm…saya pun jadi ragu, setelah saya double cek lagi, sepertinya tidak apa-apa yah. Saya akan berhenti di statiun pusatnya, yang saya harap pasti ada bangunan dan kursinya untuk menunggu hingga waktu agak pagi. Saya pernah merasakan pengalaman yang lebih buruk, di mana saya harus transit di sebuah kuta di negara Ceko dalam perjalanan  saya dengan Flixbus dari Slovakia ke Polandia dini hari. Waktu itu, stasiunnya di tutup dan saya harus jalan-jalan keliling kota (yang ternyata kota terbesar kedua setelah Praha di Ceko) yang ternyata seru juga.

Anyway, akhirnya saya berangkat jam 9 malam. Bis agak telat, tapi entah kenapa tiba tepat waktu di Luksemburg. Aah senang sekali stasiun memang dibuka dan ada bangku di sana-sini untuk menunggu. Apalagi saat itu hujan besar sekali turun. Tidak ada toko yang buka. Ada beberapa polisi yang berjaga. Amanlah.

Cuma ada suatu kejadian yang bikin deg-degan, ketika ada seorang pria yang menawari saya pergi ke restoran dekat sana. Iih saya pun langsung menolak dengan halus dengan alasan hujan masih deras. Lagian mana ada restoran buka jam segini. Memang sebagai pelancong perempuan yang bepergian sendirian, hal minimal yang bisa kita lakukan adalah menggunakan insting kita dan selalu mawas diri.

Tidak lama kemudian, saya menemukan orang yang seingat saya duduk di sebelah saya. Saya tidur sepanjang perjalanan jadi gak tidak terlalu ngeh. Setelah saya tanya, ternyata memang benar. Namanya Brhane, dia adalah seorang pengungsi dari Eritrea. Dia sudah bertahun-tahun bekerja di Belanda dan saat ini sedang mengunjungi temannya di sana. Pembicaraan kami tidak begitu lancar, karena bahasa Inggrisnya masih terbatas. Untung ada google translate saudara-saudara. Lumayanlah ngobrol dengan Brhane sambil menunggu matahari muncul.

Lewat jam 6, teman Brhane datang menjemput. Saya pun menunggu sendirian lagi sambil mikir apakah sebaiknya mulai jalan atau tidak. Kenapa matahari gak muncul-muncul yah. Aah winter yah…

Setelah saya pikir rada ramai mulailah saya menuju ke pusat kota yang jaraknya cuma 1.5 km dari stasiun. Saya berjalan pelan-pelan membelah kota Luksemburg yang dingin.

IMG_20190209_111117

Saya browsing-browsing memang tidak begitu banyak yang bisa dilihat di kota ini. Dan kota ini memang terkenal mahalnya. Saya hanya ke beberapa titik yang memang direkomendasikan oleh internet tentunya.

Tapi yang paling memukau adalah pemandangan deretan rumah-rumah cantik dari bukit dengan gereja bisa saya temukan di sini. Ini adalah pemandangan yang selalu saya cari. Saya pernah mendapatkannya ketika road trip dengan bis di beberapa fellowship saya sebelumnya, cuma karena naik bus, jadi tidak bisa maksimal. Senangnya saya bisa menemukan pemandangan ini di daerah yang disebut dengan Grund di Luksemburg.

IMG_20190209_084741

Saya pun menemukan Saturday market di sana. Lumayan menghibur hati ketika banyak toko-toko yang tutup. Tongkrongan favorit saya dalam perjalanan ini adalah Exki, semacam restoran McD versi sehat yah. Saya di sana bisa lumayan lama sambil menikmati wifi tentunya dan menyeruput coklat hangat.

Jam-jam terakhir di Luxemburg saya muter-muter ke daerah yang sama. Ternyata memang tidak terlalu besar. Ingin sekali ke sebuah museum seni tapi meskipun gedungnya terlihat di sebelah bukit, waktu tidak memungkinkan. Saya pun berjalan kembali menuju stasiun untuk naik bus ke Brussel.

IMG_20190209_125100

 

 

 

 

May
24

IMG_20190216_110719

Akhirnya ke Belanda lagi.

Pertama kali saya ke Belanda tahun 2010. Ketika itu saya hanya berkunjung ke Amsterdam selama akhir pekan waktu saya mendapatkan fellowship di Jerman.

Senang sekali saya mendapat kesempatan sekali lagi untuk berkunjung ke Belanda untuk waktu yang lebih lama, yaitu 3 minggu. Gratis pula, Kali ini saya mendapatkan fellowship dari Radio Netherland Training Centre. Lokasinya ada di Hilversum sekitar 20 menit naik kereta dari Amsterdam. Hilversum ini terkenal sebagai kota media di Belanda.

Saya datang saat Eropa sedang dingin-dinginnya, yaitu bulan Februari. Tapi pengalaman mengikuti beberapa fellowship membuat saya lebih mempersiapkan diri tentang apa saja yang harus dibawa.

Saya bertemu 14 orang teman baru dari 10 negara yang berbeda kali ini. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda-beda. Tidak semuanya wartawan. Tapi saya merasa selama training ini, kami semua ditarik keluar dari zona nyaman kami untuk belajar hal-hal baru yang terkadang berlawanan dengan apa yang kami yakini. Setidaknya itu yang saya rasakan. Awalnya ada rasa resistensi dari diri ini, tapi lama kelamaan saya melihat hal-hal baru menarik yang bermanfaat dalam pekerjaan saya.

IMG-20190214-WA0031

Selama tiga minggu di kelas, kami di suruh membuat sebuah kampanye untuk melawan radikalisme. Awalnya begitu sulit bagi saya, tapi saya belajar begitu banyak dari proses yang ada. Sebagai syarat kelulusan kami semua diminta membuat video sebagai salah satu alat kampanye. Menantang sekali karena terakhir kali saya bikin video yah zaman kuliah di Melbourne. Tapi bukan sembarang bikin video karena kami dituntut untuk menciptakan pesan yang pas untuk target kami. Itu membutuhkan strategi komunikasi yang tepat dan persuasif. Sangat sulit bagi saya yang biasa bekerja dan data-data dan fakta-fakta saja.

IMG-20190221-WA0003

Tapi senang rasanya bisa mempraktikkan semua teori yang diberikan dan membuat video beserta aktor asli. Hahaha berasa kursus singkat jadi sutradara saya. Saya pun girang begitu semuanya menyukai video yang saya buat, termasuk para mentor. Mereka bilang: I nailed it! Yay!

 

Itu mungkin cerita singkat saya dari kursus tiga minggu.

Selebihnya tentu cerita jalan-jalan , bertemu dengan teman lama kami Roxan dan Yuri yang sekarang sudah punya dua anak. Saya pertama kali bertemu mereka tahun 2009 waktu bulan madu saya dan Keliek ke Bali dan Lombok.  Senang rasanya bisa balik mengunjungi mereka di kota mereka yang saya suka sekali, Hertogenbosch.

IMG-20190203-WA0011

Bercengkrama dengan teman-teman baru dengan kepribadian yang berbeda-beda. Menyenangkan tapi ternyata juga menantang juga yah buat orang seumuran saya. Kebanyakan dari mereka masih muda. Anehnya, saya dikira seumuran dengan mereka. Padahal, dalam benak saya selalu mikirin anak di rumah hehehe.

Kebanyakan mereka ingin sekali berkunjung ke Indonesia, eh Bali. Ada Bidu dari Romania, Katia dari Georgia dan Liana dari Armenia. Saya pun hanya bisa mengatakan bahwa saya pun ingin sekali mengunjungi negara mereka suatu hari.

Selain belajar di kelas, bertemu dan menghabiskan waktu dengan teman baik lama maupun baru. Saya sempatkan diri berziarah ke museum Van Gogh, yang pertama kali saya kunjungi tahun 2010. Dan girangnya saya, dalam perjalanan ke sana, saya bertemu dengan Banksy, yang saya gagal temui waktu ke Jerman tahun lalu.

Selain itu, saya juga berkunjung ke Utrecht kemudian menyusuri hutan di sekitar Hilversum dengan daerah hutannya yang juga mempesona.

IMG-20190217-WA0015

IMG_20190215_175721