psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Jun
26

Sudah cukup lama, saya dan suami ingin pergi liburan ke Jepang. Apalagi suami saya yang memang ngebet ke negara asal Hayao Miyazaki, sutradara favoritnya. Jadi begitu dapat tiket murah tahun lalu dari Japan Airlines, langsunglah diambil. Saya sih tidak seantusias dia. Biasa saja. Jadi untuk urusan jadwal dan kemana saja, saya sih manut pak suami saja. Pesan saya hanya satu: saya ingin benar-benar merasakan kehidupan dan budaya orang Jepang. Kalau bisa mencoba kebiasaan-kebiasaan ala orang Jepang. Niatnya sih pengin belajar budaya baru dalam waktu dua minggu.. Bisa gak yah?

Karena cukup hectic dengan kerjaan, suami saya dan saya benar-benar memastikan semua hal yang berkaitan dengan kepergian kami ke Jepang satu minggu sebelumnya. Mulai dari tiket perjalanan, visa, tempat menginap dan tukar duit Yen. Tiket penerbangan sudah kami kantungi dari setahun yang lalu. Lagi-lagi karena membawa anak kecil, selain harga murah, kami juga memikirkan kenyamanan.. Dan Japan Airlines kebetulan memberikan kedua hal itu. Maskapai penerbangan ini didaulat sebagai salah satu yang terbaik jika saya baca-baca review di Internet.

Untuk itinerari, saya rasa apa yang suami saya susun cukup unik dan juga asik. Jadwal yang dia susun cukup mengakomodasi keinginan saya. Saya pribadi merasa bahwa setiap orang seharusnya menyusun itinerarinya sendiri. Jangan nyontek, karena setiap orang punya kebutuhan dan kesukaan yang berbeda satu sama lain. Jadi sebelum menyusun itinerarinya, tentukan dulu apa yang dicari. Jika sudah, tinggal minta mbak Google membantu. Mungkin untuk tips mencari yang murah-murah boleh lah bisa saling mengintip. Serial postingan ini dan yang akan datang berniat memberikan informasi bagaimana mendapatkan liburan yang berkesan di Jepang tanpa perlu keluar duit banyak.

Selain pergi ke tempat-tempat wisata, saya pribadi ingin merasakan kehidupan di desa dan kota Jepang. Saya ingin mencoba mandi Onsen di tempat pemandian umum. Saya ingin mencoba kimono. Saya juga ingin tahu banyak tentang perkembangan teknologi Jepang yang canggih.

IMG_20170527_025844

Akhirnya kesampaian juga foto sekeluarga dengan kimono dengan harga murah. 

 

Sebagai gantinya kami pergi ke museum nasional (Tokyo National Museum) dan belajar banyak tentang Jepang disana. Salah satunya saya baru tahu ternyata inspirasi Star Wars itu datang dari Jepang. Suami saya dengan kecewa hanya bilang,” kemana aja sih kamu?” Hahaha, iya saya baru ngeh setelah melihat langsung patung samurai dengan topeng hitam terpampang di salah satu sudut museum persis seperti Darth Vader. Saya juga melihat replika-replika pedang samurai yang modelnya ditiru light saber. Yak ampun, kemana saja saya hahaha.

Museum yang tidak bisa dilewatkan adalah Miraikan (The National Museum of Emerging Science and Innovation) yang selain murah juga Jepang banget. Anak-anak pasti sukaaa. Di sana kami bertemu dengan Asimo, robot canggih yang bisa bergerak, berlari dan berbicara. Tidak hanya itu, Asimo ini bisa menyanyi dan main bola. Selain Asimo, pengunjung bisa berinteraksi dengan kecanggihan teknologi Jepang lainnya. Yang paling okay tentu berinteraksi dengan robot yang mirip dengan manusia. Planetarium di tempat ini juga yang paling canggih dan paling yahud yang pernah kami kunjungi selama ini, lebih bagus dari yang di Australia setidaknya.

 

Namun untuk masalah destinasi, kami menurut rekomendasi orang yang menyarankan sebagai firsttimer di Jepang, tiga kota yang harus kami kunjungi adalah Tokyo, Osaka dan Kyoto. Suami pun menambah satu destinasi yaitu Kawaguchiko, kota yang dekat dengan gunung Fuji. Entah kenapa dia pengin lihat gunung Fuji lebih dekat. Ya sudahlah manut, toh juga letaknya di desa, Jadi bisalah melihat kehidupan disana seperti apa.

IMG_20170517_095828

Foto wajib dengan manhole di Jepang yang terkenal unik. Ini foto dengan salah satu manhole di Osaka.

Sayangnya selama 15 hari perjalanan kami di Jepang kali ini, niatan untuk berkunjung ke studio Ghibli belum kesampaian. Waktu disana, studionya lagi direnovasi. Aah, bisa jadi alasan buat kembali ke Jepang lagi dong ­čÖé

 

 

 

 

May
14

Menulis adalah bekerja untuk keabadian, kata pak Pramoedya. Kalimat itu menjadi salah satu penyemangat saya di masa awal saya menjadi wartawan. Menghadapi garis kematian setiap hari dengan topik yang loncat dari sana ke sini dan itu-itu saja sedangkan harus mengikuti kemana pun narasumber pergi jujur saja membuat badan dan jiwa ini super capek. Selain kalimat pak Pramoedya, harapan bahwa pekerjaan ini bermanfaat buat orang lain adalah hal-hal yang tetap membuat saya semangat, terlepas itu benar atau tidak yah.

Pelarian saya ditengah-tengah ritual menulis untuk koran adalah blog ini. Ini adalah ruang bermain dan tempat sampah saya untuk mengomentari segala sesuatu. Mulai dari patah hati, kejengkelan dengan pemerintah sampai cerita-cerita gak penting lainnya. Hitung-hitung latihan untuk jadi seorang kolumnis yang merupakan salah satu cita-cita saya ketika jadi wartawan. Iyah jujur, saya terinspirasi mbak Carrie Bradshaw, salah satu tokoh di Sex and the City. Melihat hidupnya kok sepertinya enak sekali, jalan-jalan, ngobrol sama teman-temannya, lalu menulis apa saja yang dia diinginkan dan dibayar untuk itu. Siapa yang gak pengin.

Oleh karena itu, saya senang sekali ketika salah satu editor menawari saya untuk menulis di kolom parenting JPlus (majalah The Jakarta Post) yang terbit sebulan sekali di tahun 2016. Ide tulisan bebas terserah saya, tapi saya sering berdiskusi dulu dengan editor sebelum akhirnya mengeksekusi tulisannya. Wow, setiap edisi saya pasti menulisnya dengan sepenuh hati dan sebelum mengirimkan ke editor, saya pasti meminta Kelik untuk membacanya terlebih dahulu untuk mengomentarinya, meskipun hampir dipastikan dia selalu memuji tulisan saya…hehehe.

Tapi sayang karena penerbitan JPlus dihentikan, hilang deh kolom saya satu-satunya. Sebagai seorang penulis, saya merasa ruang bermain saya hilang. Duh…untungnya ada tempat-tempat lain yang lebih menantang. Yang pertama adalah kolom By The Way, sebuah kolom prestigius The Jakarta Post yang terbit di setiap Sabtu. Sewaktu saya masih wartawan culun, saya adalah penikmat By The Way setia. Semua tulisan menarik dari yang lucu, seru, berat jadi satu. Senang sekali waktu akhirnya pertama kali bisa nulis di By The Way. Saya menulis tentang curhat saya setelah mengetahui bahwa kakek saya adalah salah satu korban peristiwa 1965. Setelah tulisan itu muncul, orang-orang kantor banyak yang mengomentari ketika mereka bertemu saya. Ada yang memuji, ada yang menyatakan keprihatinan, ada yang hanya sekadar mengklarifisi kebenaran. Entah apa pun reaksinya, saya senang mengetahui, tulisan saya dibaca orang, meski hanya orang satu kantor.

Tulisan saya kedua di By The Way cukup jauh jaraknya. Disamping sibuk, saya juga sebenarnya menyiapkan topik yang tidak gampang, saya mau membahas kematian. Aargh, saya sempat berdialog dengan teman-teman terdekat sebelum akhirnya menyelesaikan tulisannya. Dan begitu lega perasaan ini ketika tulisan itu muncul.

Di tulisan saya yang ketiga, saya berbagi cerita tentang keputusan saya untuk berhenti dari Facebook. Lucunya, ketika saya menghampiri meja sekretaris redaksi keesokan seninnya, dia langung bilang bahwa dia memutuskan menghapus Facebook dari HPnya setelah membaca tulisan saya. Hahaha…saya hanya bisa tertawa.

IMG_20170512_094610

Lalu selain By The Way, ada satu lagi tempat bermain yang lebih menantang jika ingin jadi kolumnis. Namanya commentary dan view point. Itu sudah kelas berat dan biasanya ditaruh di halaman headlines. Dahulu yang mengisinya hanya editor-editor kelas kakap di The Jakarta Post. Namun karena alasan regenerasi, mereka pun mengundang editor-editor baru yang culun semacam saya untuk mengisi kolom ini. Tulisan perdana saya waktu itu masih kurang analitik dan rada baper mengomentari Jokowi yang membuat saya patah hati karena gagal memenuhi janjinya untuk menyelesaikan kasus-kasus HAM. Ternyata banyak yang suka, bahkan saya pernah diberi info kalau Martin Aleida bahkan memujinya. Aaah jadi super GR saya.

Setelah itu saya berusaha mengikuti format commentary yang sebenarnya untuk tulisan-tulisan commentary berikutnya. Saya berkomentar tentang jalannya persidangan Jessica lalu setelah itu saya berkomentar tentang hoaks. Saya kurang tahu gimana sebenarnya pendapat pembaca karena sekarang The Jakarta Post sudah memasang pay wall untuk beberapa konten premium. Tapi yang jelas, mas Endy, pemimpin redaksi menyukainya dan selalu memuji.

Lalu kemarin tiba-tiba, editor opini meminta saya menulis suatu topik. Wow, ini baru pertama kalinya saya dapat pesanan seperti ini. Setelah beberapa minggu menggodoknya, akhirnya saya menyelesaikan jumat lalu dan akan terbit senin ini. Fiuh, saya masih kurang puas dengan apa yang saya tulis sih, tapi saya harus menyerahkannya karena sudah terlalu lama. Mungkin ini akibatnya kalau idenya gak dapat dari hati sendiri.

Lalu kemudian kesempatan menulis di Kompas datang. Saya ingat pertama kali saya menulis untuk Kompas adalah untuk sebuah kolom anak muda. Saya menulis tentang tren animasi Indonesia dan saya mewawancarai calon suami saya sendiri waktu itu hehehehe. Saya pun menawarkan diri untuk menghidupkan kolom parenting saya yang tewas dan teman saya yang menawarinya pun setuju. Jadilah kolom saya tentang pengalaman nonton Coldplay di Singapura kemarin itu.  Senangnya bisa menulis dengan bahasa ibu dan mengetahui kemungkinan akan dibaca oleh banyak orang. Saya belum menulis lagi di kompas karena saya berjanji saya harus memenuhi kewajiban saya dulu di kantor sebelum menulis untuk media lain.

IMG_20170514_204213

Lewat ruang-ruang bermain ini saya mencoba menikmati sepenuhnya pekerjaan saya ini. Meski pusingnya melebihi deadline yang bertubi-tubi, tapi kenikmatan begitu melihat tulisan saya diterbitkan tak terkira menyadari bahwa buah pikir saya akan dibaca banyak orang. Aah, ini rasanya mencicipi keabadian?

Apr
25

Seingat saya, terakhir saya sakit adalah ketika saya ulang tahun akhir Desember lalu. Itu gara-gara kekonyolan ngotot datang rapat pagi, akhirnya nekat menembus hujan naik gojek. Badan basah sekujur basah, saya pun akhirnya harus melanggar kaul untuk tidak beli baju tahun itu karena saya tidak bawa ganti. Sepulangnya, saya langsung demam dan flu…Fiuh ulang tahun yang tidak menyenangkan.

Hampir empat bulan sehat bugar. Saya jatuh sakit lagi kemarin. Awalnya dari batuk-batuk. Saya bawa pergi liburan ke Singapura tidak kunjung sembuh juga. Mungkin kecapekan. Sepulangnya dari cuti, bukannya malah membaik, kondisi jadi tambah parah. Pakai demam pula, akhirnya harus pergi ke dokter dan meminum antibiotik. Saya sadar penyakit yang saya derita kali ini juga dipengaruhi beban pikiran. Setelah setahunan berpikir, saya akhirnya mengambil keputusan yang akan mengubah karir saya. Sebelumnya saya sempat gelisah bertanya apakah ini keputusan yang terbaik. Setelah saya manyakinkan diri, saya pun bisa tidur lebih tenang di malam hari dan batuk pun hilang dengan sendirinya. Saya pun mendapatkan solusi buat kebingungan saya. Aaah, Tuhan memang punya cara yang ajaib untuk mengejutkan saya.

Tetapi yang paling sedih dari sakit ini adalah saya menularkan virus/bakteri ini kedua anak-anak saya. Mereka juga batuk-batuk dan demam. Patah hati saya. Saya memang kurang berhati-hati. Tidak memakai masker waktu bersama-sama mereka. Mereka pun harus pergi ke dokter. Sakitnya pun cukup lama. Karena setelah sempat reda demamnya, mereka demam lagi. Bikin deg-degan. Untung dokternya bilang penyakitnya bukan sesuatu yang serius, hanya infeksi virus dan mungkin bakteri, karenanya mereka harus minum antibiotik juga. Hati tetap sedih. Tapi mau gimana lagi, ini semua gara-gara keteledoran saya.

Untung semuanya sudah membaik. Tinggal pengasuh Nyala yang masih batuk-batuk. Aah, luar biasa sekali memang bakteri dan virus yang menyerang kali ini.

Satu hal yang saya ambil dari semua wabah di bulan April ini, tidak ada yang lebih penting dari kesehatan dan keluarga. Dan selain hidup sehat dan makan sehat, pikiran yang sehat pun penting juga. Semoga jangan sakit lagi.

Mar
07

Jpeg

Karena otak masih mampet untuk nulis kerjaan kantor, mari kita tetap produktif dengan menulis blog…:)

Kali ini saya mau cerita pekerjaan anyar saya yang baru saya jalani sebulan ini. Tepat tanggal 9 Februari saya mengajar di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Posisi saya masih dosen part time karena saya masih bekerja di kantor lama. Saya mengajar kelas English for Journalism dan saya kebagian mengampu 2 kelas di hari kamis.

Perjalananan saya mendapatkan pekerjaan ini cukup panjang. Selulus saya dari Australia, memang ada niatan untuk mengajar di kampus.

Saya ingin mengajar karena saya menikmati pekerjaan ini. Menurut saya, mengajar itu bukan hanya membagikan ilmu kepada orang lain, tapi juga memberikan kesempatan kepada saya untuk terus belajar.

Sepulang dari Melbourne, Australia, saya sudah mengajar di almameter saya tercinta, UGM dan universitas Atmajaya Yogyakarta. Tapi saya ingin menjalani profesi ini lebih serius, maka ketika mengetahui UMN buka lowongan dosen tetap, saya pun segera melamar.

Tapi ternyata proses sampai saya dipanggil untuk wawancara itu lama sekali. Saya sampai menelepon memastikan pihak HRD nasih lamaran saya. Mereka bilang, mereka akan memanggil begitu ada kebutuhan dari  pihak jurusan. Nah loh…saya sempat menitipkan lamaran saya pada teman yang juga bekerja disana, tapi tidak ada hasilnya pula.

Hingga suatu masa, saya mendapat email dari pihak HRD UMN yang mengatakan saya diminta untuk datang dan melakukan simulasi mengajar (micro teaching).  Tak disangka, selesai presentasi, saya pun langsung ditanyakan bisa mengajar hari apa untuk kelas English for Journalism. Aiih, senangnya…

Saya mengajar setiap hari Kamis dari jam 8 pagi sampai jam 2. Saya mengajar dua kelas. Satu kelas berisi 36 anak yang bentuk dan rupanya beraneka macam. Sejauh ini, saya menikmati diskusi di kelas saya. Anak-anaknya cukup aktif dan kritis. Melihat mereka cukup membuat semangat, mengingatkan saya waktu awal-awal menjadi wartawan.

Akalnya pun macam-macam, di kelas minggu kemarin, saya pun terpaksa mengeluarkan seorang anak karena dia main HP terus, padahal saya sudah katakan dari awal bahwa penggunaan HP dilarang di kelas, kecuali memang disuruh.

Bahasa pengantar kelas saya bahasa Inggris, itu berdasarkan saya dan murid-murid. Mereka cukup memahami bahwa kelas ini butuh menggunakan bahasa ingris secara optimal, jadi setiap pembicaraaan di kelas pun harus pakai bahasa Inggris. Meski kadang-kadang pun masih campur-campur. Tapi saya sangat menghargai murid-murid dengan keterbatasan bahasa Inggris mereka tetap mengacungkan tangannya dan mengungkapkan pendapatnya.

 

Saya selalu mendorong mereka untuk tidak sungkan melakukan kesalahan karena dari sana kita bisa belajar bukan?

Aaah…rutinitas mengajar setiap kamis ini memang cukup melelahkan. Badan rasanya rontok setiap habis mengajar langsung dua kelas. Dari segi materiil pun tidak terlalu banyak yang saya dapat, lumayan lah untuk ukuran sebuah universitas baru.  Tapi semua capek dan hal-hal material itu terbayar dengan rasa puas saya melihat anak-anak di kelas begitu semangat belajar.

Lewat pekerjaan baru ini saya diingatkan bahwa materi mungkin bukan satu-satunya yang penting dalam sebuah pekerjaan karena kepuasan dan keberadaan ruang untuk terus tumbuh dan belajar dalam sebuah pekerjaan adalah sesuatu yang tidak bisa dinilai harganya. 

 

 

Feb
06

Sebenarnya bukan resolusi saya untuk membaca lebih banyak buku tahun ini. Tapi mungkin karena di akhir tahun kemarin saya melahap beberapa buku karya Eka Kurniawan. Jadinya malah keterusan.

Semua bermula dari niatan saya untuk mengurangi waktu saya di sosial media. Saya pikir ketimbang sibuk wira-wiri ngelihat akun orang, mending melakukan hal yang lebih produktif. Dipikir-pikir, lumayan juga waktu yang dihabiskan melihat status dan kehidupan orang lain lewat sosial media. Sepuluh menit saja, jika kita melakukannya enam kali, sudah sejam waktu terbuang. Dengan semangat ingin lebih produktif, saya menghapus akun facebook saya di hp. Jadi saya hanya bisa mengaksesnya ketika membuka komputer/laptop. Saya belum cukup berani menghapus akun facebook saya, karena banyak sekali kontak teman-teman di luar Indonesia yang ada disana.

Dengan adanya waktu luang, saya pun mencoba mengisinya dengan membaca. Lumayan, sampai bulan ke-dua di tahun ini, saya sudah menghabiskan tiga buku, termasuk satu buku klasik milik Ayn Rand yang tebalnya 700 halaman.

Saya biasanya membaca buku ketika berangkat kerja. Ketika banyak orang sibuk menatap layar hp mereka, nampaknya saya sendiri yang repot membuka dari satu halaman ke halaman lain di kereta yang penuh sesak. Saya juga membaca ketika ingin tidur. Bener deh, buku memang pengantar tidur yang jitu. Namun ketika saya merasa sampai pada bagian seru, kacau juga sih, karena saya tidak bisa tidur sampai buku habis.

Yang seru lainnya adalah saya sekarang punya book club. Saya diajak teman di the jakarta post Ogi yang kebetulan rumah tantenya dekat dengan saya. Terkadang, dia nebeng bareng mobil saya ketika ingin menginap di Cinangka. Ide book club ini berasal dari dia. Dia sebelumnya punya juga book club bareng teman-temannya, saya pun diajaknya. Tapi karena lokasi yang kurang strategis, saya sedikit enggan.

Nah untuk book club yang ini, saya semangat ikutan karena anggotanya semuanya tinggal di Cinangka. Anggotanya saya, Ogi dan mbak Debra Yatim (ya ampun, ternyata saya tetanggaan sama mbak Debra).

Pertemuan perdana kami, minggu kemarin dan bertempat di rumah saya. Di lantai 2, kami masing-masing bercerita tentang buku yang baru kami lahap. Saya berbagi tentang apa yang saya dapat dari novel Ayn Rand, the fountainhead, mbak Debra dari novel Elizabeth Gilbert, the Signature of All Things dan Ogi dari Hanya Yanagihara, A little life. Mbak Debra sebenarnya bukan hanya satu buku, tapi banyak sekali termasuk buku terbaru harry potter (yay!)

Dari diskusi kami, mungkin saya yang paling cemen. Mereka membaca begitu banyak buku yang judul dan penulisnya pun baru saya dengar pertama kali. Aah…jadi semangat belajar membaca buku lagi. Mbak Debra itu adalah salah satu pelatih di kelas creative writing di The Jakarta Post sedangkan Ogi itu dalam proses menulis novel pertamanya. Mendengarkan mereka ngobrol mengingatkan saya pada mimpi saya yang lain jadi penulis buku. Semoga book club ini menjadi suatu awal yang baik. Dan senang sekali mendengarkan kata-kata Cinangka ┬ádisebut berkali-kali tanpa ada nada sindiran :))

Untuk foto menyusul yah, karena saking serunya, saya sampai lupa mengabadikan momen perdana Cinangka book club.

 

 

 

Jan
19

Kemarin lumayan kaget saya ketika seorang rekan kerja yang bilang saya tidak berubah sama sekali semenjak saya memulai karir kewartawanan saya. Dia sih menyerocos bahwa yang dia maksud adalah penampilan dan gaya saya juga pembawaan saya yang tidak berubah sejak pertama kali dia mengenal saya.

Saya mengenal rekan saya itu sejak saya masih wartawan piyik yang belum tahu apa-apa. Dia dulu bekerja untuk media lain sebelum akhirnya bergabung dengan kantor dimana saya bekerja sekarang.

Mungkin itu pujian, tapi saya juga sempat sedih karena artinya saya masih ‘berantakan’ sampai saat ini.

Tidak hanya berantakan dalam bentuk fisik, namun saya masih merasa berantakan karena belum melakukan banyak hal.

Jeng jeng dan saya pun jadi baper.

Tahun baru seharusnya semuanya serba baru. Demi semangat kebaruan, saya memulai minggu pertama dengan menulis cukup produktif. Satu laporan tertunda dari london dan satu celotehan curhat di kolom by the way.

Semoga ini tidak hanya baik di awal yah, meski lewat tengah bulan rutinitas di kantor membuat badan jadi tidak bersemangat. Komentar rekan saya pun tidak membantu.

Ah jika mengambil hikmahnya, mungkin saya diingatkan kembali untuk bisa lebih baik lagi setidaknya dalam menjalani profesi ini.

Terimakasih buat sentilannya, mas.

 

 

 

 

 

 

Dec
31

Hari terakhir di tahun 2016. Tahun yang tidak mudah bagi saya. Begitu banyak kehilangan dan kesedihan.

Esok sudah hari baru, semoga saja harapan dan semangat baru bisa membuat tahun 2017 menjadi tahun yang lebih baik.

Di catatan terakhir tahun ini, izinkan saya mencatat hal-hal kecil yang mungkin remeh temeh yang tak disangka membuat beberapa hari menjelang akhir tahun ini jadi lebih hidup.

Akhirnya setelah sekian lama, saya menonton juga film bagus. It is really great to end this year with a very good movie. Setelah Rudderless, saya belum menemukan film yang bagus lagi. Ya susah juga dengan jadwal kerjaan dan rumah tangga yang membuat saya praktis jarang nonton film.

Hingga minggu kemarin saya menonton Captain Fantastic.

captain-fantastic-1021x580

Dari posternya saya pikir gayanya mirip film-film Wes Anderson, tapi saya salah besar. Film ini cukup membumi dan realistis dengan tema keluarga yang diangkatnya. Film ini bercerita tentang seorang ayah yang berjuang membesarkan enam orangnya dengan cara yang tidak biasa. Mereka hidup di hutan. Anak-anak belajar lewat latihan fisik ala militer setiap hari, diskusi menjelang makan malam, mereka juga membaca buku, bermain musik dan juga berburu.

Keluarga ini seperti tinggal dalam gelembung realita sendiri dan jauh dari pola pengasukan mainstream yang lain. Hingga suatu ketika mereka mendengar kabar ibunya yang sakit dan dirawat di kota akhirnya meninggal, si ayah akhirnya membawa anak-anaknya ke dunia luar untuk menjalanan misi melaksanakan pesan terakhir si ibu.

Film ini dikemas secara lucu dan menggemaskan dari awal sampai akhir. Saya sangat menikmatinya. Celetukan-celetukan lugu sang anak yang tidak pernah terpapar kebudayaan populer begitu menghibur.

Yang paling membekas adalah upacara penghormatan terakhir buat si ibunda. Saya dulu pernah berpikir mungkin pemakaman memang ditujukan buat orang yang masih hidup seperti yang disampaikan di film The Fault in Our Stars, tapi film ini meruntuhkan teori itu, pemakaman memang dibuat untuk orang terkasih yang telah meninggalkan kita.

Selain film, saya juga senang sekali akhirnya bisa menutup tahun dengan ini dengan novel yang luar bisa. Lelaki Harimau yang ditulis oleh Eka Kurniawan. Saya mengenal Eka dulu lewat Cantik Itu Luka yang menurut saya proyek yang cukup ambisius.

lelaki-harimau

Lelaki Harimau ini jauh lebih sederhana. Premisnya jelas terpampang dimuka dan Eka dengan setia mengungkap satu demi satu alurnya dengan cukup apik dan rapi hingga sampai kalimat terakhir.

Film dan buku yang bagus di akhir tahun cukup menghibur diri ini setelah tahun yang cukup berantakan.

 

 

 

 

 

 

 

Dec
27

Empat hari tahun 2016 akan berakhir. Tahun yang cukup berat buat saya, begitu banyak kehilangan dan juga keresahan. Saya hanya berharap semoga tahun yang mendatang akan lebih baik buat saya dan juga orang-orang di sekeliling saya.

Di penghujung tahun ini, izinkan saya membuat catatan kecil tentang apa yang saya sudah capai dan apa yang saya rencanakan di tahun depan. Semoga dari catatan ini saya bisa menarik pelajaran dan berbuat lebih baik di tahun 2017.

Resolusi saya untuk tidak sama sekali tidak belanja tahun ini tidak sepenuhnya bisa saya penuhi ternyata. Bulan ini saya terpaksa harus belanja baju darurat karena baju yang saya kenakan basah kehujanan. Saya akhirnya membeli baju yang dijual sekretaris di kantor dan sayangnya setelah itu saya demam. Aaah…semoga bukan gara-gara baju baru yah :))

Melanjutkan resolusi tahun ini, saya ingin mencoba menerapkan hidup minimalist yang lagi gandrung di Jepang. Saya melihat hidup yang lebih sederhana dan tidak kompleks dengan menerapkan pola hidup yang seperti itu. Berkecukupan dan tidak berlebihan. Tidak macam-macam.

Saya menyadari bahwa semua yang saya lakukan di tahun ini sedikit egois. Semua berpusat pada saya, atau setidaknya pada keluarga saya, dalam hal ini tentunya kedua anak saya. Saya berharap di tahun 2017 nanti, saya bisa melakukan sedikit buat orang lain dan orang sekitarnya. Apa itu? saya belum tahu. Semoga ada pencerahan nantinya karena niat itu sudah ada.

Saya baru saja meng-uninstall Facebook di hp saya. Saya pikir kehadirannya sudah cukup mengganggu. Saya berpikir untuk membatasi kehadiran saya di media sosial. Mungkin tidak se-hardcore orang-orang karena sayangnya media sosial adalah alat komunikasi saya dengan banyak sekali teman-teman saya yang ada di belahan bumi lain. Dan sebagai wartawan, saya sadar bahwa informasi adalah kunci sementara banyak informasi yang saya dapat melalui media sosial. Yah, kita lihat saja apakah ini akan berhasil.

Saya juga menyadari banyak yang saya lakukan fokusnya ke hal-hal yang materialistis dan fisik sementara. Tidak belanja, olahraga rutin, makan sehat. Semua itu saya lakukan di tahun ini tapi saya juga ingin di tahun yang baru saya juga lebih bisa menata emosi, bisa lebih sabar, tidak terburu-buru, lebih santai dan bisa lebih bijaksana.

Tahun baru nanti saya juga memulai profesi baru, sebagai seorang pengajar. Semoga ini bisa satu jalan untuk menentukan apa yang saya cari dan inginkan kedepannya.

Semoga saya juga bisa menulis lebih sering juga tidak hanya duduk di belakang meja dan mengedit, mengedit dan mengedit.

Terakhir, saya ingin jadi ibu yang lebih baik buat anak-anak saya. Saya masih belajar, belajar dan belajar. Semoga saya bisa.

 

2017, bring it on!

Nov
25

Perjalanan ke Inggris kali ini lebih bikin saya deg-degan ketimbang delapan tahun yang lalu. Kali ini saya membawa misi yang tidak mudah sebagai seorang ibu yang masih menyusui. Tulisan kali ini berusaha membagi suka duka perjuangan ibu menyusui yang terpisah lebih dari 10,000 km dari anaknya.

Sebelum saya mengiyakan tawaran tugas ini, saya berkonsultasi dengan suami saya, mengingat status saya yang masih menyusui Nyala. Untung sang suami sangat mendukung dan menganjurkan saya menerima tawaran tersebut.

Langkah saya selanjutnya adalah, saya langsung memberi tahu pihak pengundang kondisi saya dan meminta mereka untuk memberi fasilitas yang dibutuhkan karena saya butuh waktu, alat dan tempat untuk memastikan saya bisa tetap memompa. Untungnya mereka bisa memahami itu dan mengatakan sudah berkoordinasi dengan hotel dan penyelenggara acara untuk mengakomodir kebutuhan saya.

Saya akan pergi selama 9 hari, termasuk 2 hari perjalanan. Saya akan mengunjungi 2 kota Birmingham dan London dan tinggal di 2 hotel yang berbeda di kedua kota tersebut. Menurut jadwal, saya akan hadir di sebuah acara seminar di Birmingham, sebelum akhirnya nanti pergi London untuk menghadiri fellowship dan kunjungan ke beberapa tempat.

Sebelum berangkat, saya sudah menyiapkan beberapa hal seperti pompa, tas pompa, plastik penyimpan, cover sehingga bisa memompa dimana saja dan kapan saja, ice cooler, dan juga banyak ice gel pack.

Anak saya hampir berusia satu tahun sebelum saya berangkat, dan produksi asi saya tidak sebanyak sebelumnya. Jadi saya harus terus memompa supaya menjaga produksi ASI tetap banyak.

Setelah alat dan urusan hotel beres, kekuatiran selanjutnya adalah membawa asi-asi yang sudah saya perah kembali ke Indonesia. Fiuuuh…ini lumayan PR sih.

Dari awal, saya sudah merencanakan bahwa saya hanya akan menyimpan asi di hari ke-3 saya pergi mengingat wadah ice cooler yang terbatas. Jadi waktu berangkat, saya menerapkan sistem pump and dump. Hari ke-3, saya mulai menyetok ASI. Sayangnya,  kulkas di hotel di Birmingham tidak cukup dingin. Akhirnya saya harus membuang satu bungkus asi karena sudah bau. Selanjutnya, saya meminta pihak resepsionis untuk menyimpan asi di kulkas mereka di dapur yang mereka punya.

Hari ke-4, kami pindah ke London. Karena belum banyak kantong asi yang didapat, saya belum menggunakan ice cooler. Saya bawa saja mereka di tas pompa yang saya punya plus ice gel pack nya. Meski seharian bepergian, sesampainya di London, asi masih dingin dan aman.

Berbeda dengan yang di Birmingham, di hotel yang di London, saya dikirim kulkas langsung ke kamar saya. Wow, senang banget karena artinya saya bisa leluasa menyimpan asi-asi saya tanpa perlu mondar-mondir ke resepsionis.

Selama mondar-mandir kesana-kemari, menghadiri seminar dan tempat-tempat yang berbeda-beda, saya usahakan setiap 4 jam sekali untuk memompa. Teratur memompa penting sekali untuk menjaga produksi ASI tetap lancar. Tantangannya memang saya harus berhadapan dengan bermacam kondisi yang  mengharuskan saya memompa dimana saja dan kapan saja. Untung ada alat penutup yang menolong saya, ketika ruangan khusus yang saya minta terkadang tidak saya jumpai, apalagi kalau dalam perjalanan. Cuek bebek adalah senjata saya. My baby must get her milk! Jadi saya memompa di dalam bis, di bangku paling belakang di seminar, di meja ruang tunggu pameran, dan lain-lain.

Tantangan selanjutnya adalah membawa perahan ASI itu kembali ke Indonesia. Untuk itu,  ada beberapa hal yang diperlukan. Pertama, pastikan peraturan maskapai penerbangan dan kedua peraturan keamanan bandara.

Saya kebetulan naik Singapore Airlines. Dari website, seharusnya tidak apa-apa membawa asi didalam kabin dan bahkan bisa menitipkan jika dan hanya jika ruangnya memungkinkan. Tapi saran saya, telpon saja pihak maskapainya untuk memastikan. Sayangnya, ketika ditelpon staff kurang membantu. Intinya, semua peraturan di website entah kenapa dipatahkan oleh mas-mas yang saya hubungi.

Akhirnya saya konsultasi ke teman yang pernah mengalami hal yang sama. Ketika dipesawat, dia menyarankan untuk meminta ice cubes saja ke pramugarinya untuk menjaga asi yang kita pompa tetap dingin. Saya hanya menyiapkan plastik-plastik kecil untuk wadah ice cubes saja,

Masalah lainnya adalah, kedua bandara yang saya kunjungi cukup ketat masalah cairan. Aturan maksimal 100 ml cairan benar-benar tidak bisa ditawar baik di Heatrow, London dan Changi, Singapore. Untuk ASI bisa lebih, jika ada anak yang dibawa. Tapi saya kan tidak membawa anak saya.

Dalam perjalanan kembali ke Indonesia, saya memang belum membawa ASI. Semua stock ASI yang sudah saya hasilkan selama perjalanan sudah saya simpan di bagasi saya di dalam ice cooler karena aturan cairan yang ketat itu. Sebelum memasukkan ke koper,  saya masukkan ice cooler nya ke dalam plastik hitam besar supaya tidak basah. Saya bismillah saja semoga, semuanya bisa dalam kondisi prima setelah 17 jam perjalanan.

Tantangan berikutnya adalah membawa ASI yang saya hasilkan dari pesawat yang membawa saya dari Heatrow ke Singapore ke pesawat berikut yang membawa saya dari Singapore ke Jakarta.

Well, karena satu orang hanya dijatah 100 ml. Saya pun sudah bersiap-siap meminta rekan satu pesawat untuk membawakan kantong lainnya. Tapi ternyata pihak keamanan cukup pengertian, ketika saya menunjukkan kantong-kantong ASI, mereka hanya meminta saya menyerahkan tas asi saya dan memeriksanya lebih teliti lagi karena tidak melalui xray.

Aah sampe juga di Jakarta. Deg-degan selanjutnya adalah melihat reaksi Nyala setelah tidak melihat ibunya 9 hari. Teman saya punya pengalaman anaknya mendadak mogok nenen sehabis ditinggal tugas keluar selama beberapa hari. Fiuuh, saya pun ikutan cemas.

Begitu melihat Nyala, saya pun langsung menggendongnya. Nampaknya dia sedikit lupa buktinya dia menghindari tatap muka ketika saya menggendongnya. Tak lama, saya cari tempat duduk dan mencoba menyusuinya, dan puji Tuhan dia langsung mau..

Senangnya lagi, ketika koper dibuka dirumah. Stock asi aman. Selama perjalanan saya hanya membawa 2 plastik dalam kondisi beku sedangkan lainnya masih cair. Nah, hanya satu dari dua yang beku itu yang benar-benar sudah mencair, dan artinya harus segera dikonsumsi. Sedangkan yang lainnya aman dan bisa langsung masuk freezer.

Puji Tuhan..misi ASI yang sukses.

 

 

 

 

 

 

 

 

Oct
31

Para suatu masa, saya pernah berencana untuk mengundurkan diri ketika anak kedua lahir. Rencana tinggal rencana, sampai anak kedua berumur hampir setahun, saya belum juga minggat dari kantor.

Saya memang sangat mencintai profesi saya ini, tapi selain itu saya juga menyadari bahwa saya bukan ibu rumah tangga yang baik. 

Saya pernah mencoba simulasi untuk mencoba apakah saya bisa mengabdikan diri ini sepenuhnya kepada anak-anak, dekat dengan mereka selama 24 jam?

Untuk simulasi ini, saya mengambil cuti 10 hari untuk total mengasuh anak sendirian tanpa dibantu teteh.Dan hasilnya? gagal total. Saya tidak bisa menikmatinya (atau belum bisa yah). Saya merasa kelelahan, padahal ada si suami yang membantu. Rasa capek yang saya derita, beda dengan yang saya rasa ketika kerja sampai larut malam atau lari 10 km. Capek yang saya rasa terasa hampa, tidak ada kemenangan disana.

Aaah, saya memang bukan ibu yang baik, yang lebih menikmati kerja kantoran daripada bersama anak-anak meski seringkali rasa bersalah menyusup tiba-tiba ketika terlalu sibuk bekerja.

Aah, menjadi ibu itu berat, dan mengalaminya kedua kalinya bukan jaminan kita jadi ahlinya.

Satu hal yang pasti, saya mungkin bukan ibu yang baik tapi saya yakin saya mencintai anak-anak saya sepenuh hati