psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Oct
30

Bagaimana dirimu membicarakan kematian dengan seorang anak berusia 9 tahun?

Topik itu datang tidak diundang sore tadi ketika saya mendengar kabar bahwa seorang teman di SMA meninggal dunia.

Pagi langsung melontarkan rentetan pertanyaan ketika saya membagi kabar itu. “Siapa yang meninggal? karena apa meninggalnya?…”

Saya jawab semua pertanyaannya. Hingga tiba-tiba ketika kami sedang leyeh-leyeh di tempat tidur, dia bertanya:

“Keka, kira-kira Akung Bapak (kakeknya yang sudah meninggal) sekarang di mana yah?”

Sedikit kaget, saya mencoba menjawab “Mmm…di surga,” jawab saya.

Saya tidak tahu apakah Pagi menangkap ada sedikit rasa ragu dalam jawaban saya.

Banyak orang berdebat apakah kehidupan setelah kematian itu ada, apa surga itu ada. Ketika kita berbicara bukti, mungkin banyak orang masih meragukan apakah benar ada surga. Tapi untuk orang yang sangat rasional seperti saya, jawaban itu memberikan sedikit penghiburan dan pengharapan.

Membayangkan bahwa orang-orang terkasih dan tersayang berada di tempat yang menyenangkan tanpa ada rasa sakit dan air mata adalah sebuah harapan yang tak terucap dalam jawaban saya pada Pagi. Saya harap Pagi juga dapat menangkapnya.

“Kalau menurut Pagi, memang di mana?”

“Akung Bapak ada di sini bersama kita. Nanti kalau dia mau ketemu sama Akung Mamah (yang tinggal di Yogya), dia bisa pergi ke sana,”

“Jadi mmm…kayak punya super power gitu yah?”

“Iya,” jawabnya sambil tersenyum dengan mata lebarnya.

Untuk pertama kalinya, saya melihat kematian sebagai bukan sesuatu yang menakutkan.

Sep
30

Pengalaman empat bulan terakhir ini memberiku banyak kesempatan untuk belajar banyak hal baru. Salah satu yang paling tidak mudah adalah proses belajar yang memaksa aku untuk melihat ulang semua kebiasaan, prinsip, dan nilai hidup yang selama ini kuyakini.

Sampai detik ini aku pun mengalibrasi semuanya dengan apa yang kuhadapi saat ini. Ini sangat tidak mudah, apalagi pada saat yang bersamaan aku juga harus memikirkan orang lain.

Aku berharap dengan menuliskannya dapat membantu mempermudah proses ini.

Berikut adalah beberapa tantangan tersebut

  1. Pasrah

Sebagai seseorang yang mengaku murid Tuhan Yesus, bersikap pasrah seharusnya jadi hal yang mudah yah. Tapi tidak bagi saya. Bagi orang yang sangat control freak, saya merasa lebih tenang jika kendali ada di saya. Keadaan menjadi lebih baik jika saya tahu apa yang harus saya lakukan atau setidaknya antisipasi apa yang harus saya siapkan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Saya mencoba melakukannya di awal-awal ketika keliek di rumah sakit. Tapi akibatnya semua terasa berat dan saya tidak bisa tidur berhari-hari karena begitu banyak yang harus saya pikirkan sementara variabel masalah yang ada tampak tak terhingga.

Banyak juga selalu mengatakan pada saya untuk berserah saja pada yang di atas. Awalnya saya hanya mengiyakan saja tanpa benar-benar melakukannya, hingga suatu malam, ketika saya tidak kunjung juga mampu menutup mata sementara rasa capek begitu menumpuk, saya pun berucap, “Tuhan, saya serahkan semua ke dalam tanganMu saja, karena saya yakin dirimu pasti memberikan yang terbaik,” dan menutup mata hingga akhirnya bisa tertidur.

Untuk bisa dalam kondisi seperti itu adalah perjuangan tiap hari bagi saya. Saya masih belajar untuk bisa berserah.

2. Hidup untuk saat ini

Sebagai pemimpi, saya suka merencanakan banyak hal. Bukan rencana yang rigid dan pasti, tapi senang bisa rasanya bisa membayangkan apa yang saya inginkan tahun depan dan berusaha mewujudkannya tentunya.

Saat ini kebiasaan merencanakan segala sesuatu jauh-jauh hari begitu menyiksa saya. Begitu banyak hal yang tidak bisa dipastikan, saya hanya bisa menunggu dan berserah saja.

Saat ini begitu banyak rencana saya terbengkalai. Rencana tahun depan, lima tahun lagi bahkan rencana minggu depan tidak ada dalam bayangan saja.

“Coba mikir apa yang terjadi 10 jam ke depan,” ujar seorang teman. Awalnya sulit, tapi itu yang membantuku untuk bisa melewati hari yah. Hidup dan nikmati apa yang ada saat ini.

3. Terbuka untuk banyak orang

Saya bukan tipe yang gampang berbagi, apalagi ketika ada masalah. Saya cenderung menutup diri ketika merasa kesulitan. Saya hanya membaginya pada orang-orang terdekat saja, itu pun saya masih sering memilih-milih.

Sewaktu pertama Keliek dirawat, untuk pertama kalinya sejak dari awal saya mencoba membagi masalah ini dengan banyak orang. Saya sadar saya tidak mampu menanggungnya sendiri. Saya juga meminta tolong beberapa pihak untuk membantu dari awal. Tapi memang tidak semua orang bisa membantu. Sedih dan kecewa memang, mungkin itu salah satu alasan mengapa saya begitu tertutup ketika ada masalah.

Ketika begitu menyadari begitu banyak teman dan sahabat yang peduli pada Keliek, saya pun haru. Tapi tetap untuk membalas pesan wa yang sekadar menanyakan kabar atau progress, butuh waktu berhari-hari untuk membalasnya. Apalagi ketika orangnya tidak kenal dekat yah. Terkadang pertanyaan itu datang pada kondisi di mana saya juga masih memproses apa yang sedang terjadi. Atau terkadang pesan itu datang ketika tidak ada kabar baik yang bisa dibagi. Menyusun pesan di wa terkadang begitu berat. Tangis saya bisa menjadi-jadi ketika hanya membalas wa.

Terkadang ketika kondisi sangat berat dan dada ini sesak, saya bisa dengan spontan menelpon pihak-pihak yang saya pikir nyaman untuk berbicara.

Saya masih berproses sampai detik ini untuk berserah, menikmati apa yang ada, dan membagi kesedihan saya dengan orang lain. Tuhan, mampukan saya.

Aug
31

Writing heals, kata banyak orang.

Banyak sekali orang yang menganjurkan untuk menulis semua yang kualami saat ini sebagai upaya untuk melawan kesedihan dan merawat kewarasan.

Tapi sampai detik ini, aku masih tidak kuasa menyusun kata-kata untuk berbagi tentang apa yang terjadi pada keluargaku tiga bulan belakangan.

Aku bisa dengan lantang mengucapkan, “Suami saya sakit leukimia,” begitu dokter atau orang asing yang bertemu di rumah sakit bertanya.

Tapi entah kenapa, saya merasa belum sanggup menuliskan lebih dari itu di kertas.

Saya suka sekali menulis, tapi entah topik ini masih membuat saya mati kutu.

Kata-kata yang saya untai dalam pesan singkat di ponsel masih sering kali membuat saya menangis. Apa lagi tulisan panjang. Pasokan emosi saya masih belum cukup untuk menghadapinya.

Entah sampai kapan saya bisa merangkai kata-kata dengan perasaan nyaman dan damai. Mungkin saya masih dengan bergumul dengan apa yang terjadi saat ini dan belum bisa dengan sepenuhnya memproses semua ini dengan rasio.  Ketika semua tidak masuk akal, bagaimana saya bisa menuliskannya.  Ataukah ini saatnya saya menanggalkan logika saya? tapi bagaimana menulis tanpa logika.

Duh, buntu lagi ini.

 

 

Jul
31

IMG-20200719-WA0113.jpg

Aku hendak bercerita tentang seorang gadis bernama Senyum Pagi.

Sembilan tahun lalu, dia hadir ke duniaku dalam bentuk bayi mungil bermata besar.

Malam pertama kita tidur bersama, aku mendekapmu dalam balutan kain pink dari rumah sakit. Kamu masih enggan menyusu dan terlelap seperti memahami ibumu yang cukup lelah setelah hampir 48 jam tidak tidur.

Melihatmu tumbuh besar menjadi pribadi yang santun dan cerdas adalah sebuah anugerah.  Entah apa yang kulakukan, hingga aku layak mendapatkanmu.

Aku dan Ayahmu selalu menyebutmu Anak Baik karena dirimu selalu turut apa kata orang tuamu dan tak pernah sedikitpun menyusahkan kami.

Banyak sikap dan ucapanmu yang sering sekali buat aku sebagai orang yang membesarkanmu terkesima.

Bahkan ketika Ayahmu jatuh sakit, kamu membuktikan dirimu tetap jadi Anak Baik.

Saat diriku kuatir dirimu akan merasa terdampak dengan sakitnya Ayahmu, kamu justru mengingatkanku banyak hal positif yang bisa kita harapkan dan syukuri. Di situlah aku terhenyak bahwa anak gadisku lebih kuat dan lebih dewasa dalam menghadapi semua ini. Kamu tetap ceria dan bermain dengan adikmu

Satu momen, saya bertanya padanya: “Pagi, bagaimana sih caranya untuk bisa tetap ceria?”

“Keka, tetap yakin Ayah pasti sembuh dan pulang. Tunggu ajah,” begitu jawabnya.

Ah. Anak Baikku.

Dia pun sering memelukku ketika aku menangis karena mendengar kabar tidak mengenakkan dari rumah sakit. Aku selalu berusaha untuk tetap tegar dan kuat di depan anak-anak, tapi ada saat di mana semuanya tak tertahankan lagi.

Saya tahu bahwa dalam hatinya, Pagi juga sedih. Dia bilang padaku bahwa melihatnya Ayahku kurus dan tidak bisa bermain dengannya dan Nyala sangat membuat hatinya hancur.

Kami pernah menangis bersama membagi kesedihan ini. Kami saling berpelukan dan sesenggukan menyadari ketidakberdayaan kami dalam menghadapi semua ini. Saya pun berbisik padanya,” Tidak apa-apa Pagi untuk merasa sedih. Pagi bisa kasih tahu Keka, biar kita saling membantu.”

Anakku Senyum Pagi, terima kasih sudah menjadi anak yang baik dan begitu pengertian. Kamu sudah tumbuh dari bayi bermata besar menjadi anak gadis yang beranjak dewasa dan menjadi teman bagi Ibumu yang masih tertatih-tatih menghadapi semua ini.

Terima kasih, Sayang.

 

 

 

Jun
30

Dalam waktu sebulan, hidup saya berubah drastis. Saya benar-benar tidak pernah membayangkan ini terjadi pada keluarga kami. Saya juga belum mampu mengutarakan semuanya lewat kata-kata untuk kemudian merunut logika dan menata perasaan demi mencoba memahami apa yang terjadi.

Semua masih terasa berat. Sangat berat, sehingga saya yang biasa menutup diri ketika menghadapi masalah akhirnya tak kuasa dan mencoba membaginya dengan dengan keluarga teman-teman terdekat. Saya bersyukur sekali punya banyak teman, rekan dan saudara yang begitu sayang dan peduli terhadap kami. Dukungan dan doa dari merekalah yang selama ini membantu saya tegak berdiri untuk melalui semua hal ini.

 

 

May
31

Sejak tanggal 14 Mei lalu, Bude, orang yang biasa membantu pekerjaan rumah, pulang kampung. Kali ini kami gagal menyakinkan dirinya dan keluarganya untuk tidak mudik dulu. anaknya tiba-tiba sudah memesan travel dan menjemputnya malam itu.

Sebelumnya kami berhasil menahannya pulang waktu awal puasa setelah Jokowi menyampaikan pesan yang membingungkan itu antara mudik dan pulang kampung. Bude mengerti betapa bahayanya mudik saat itu dan akhirnya dengan legawa menunda bertemu dengan anak-anaknya di kampung. Tapi 10 hari menjelang Hari Raya, keteguhan Bude buyar karena sang anak memaksa Bude pulang, semua kekhawatiran yang sudah kami sampaikan ditepisnya jauh-jauh. Dengan berat hari kami pun harus melepasnya pergi.

Sudah hampir 3 minggu bude pergi, semua pekerjaan kami harus kerjakan sendiri. Tidak mudah, apalagi di tengah pandemi seperti ini. Kami pun tidak tahu kapan Bude akan kembali mengingat risiko ketika nantinya dia harus melakukan perjalanan ke Depok.

Saat menulis ini, saya dalam kondisi capek sekali setelah memasak dari pagi kemudian mencuci pakaian 3 hari. Badan pun rasanya langsung gak enak, ingin pijat pun tidak mungkin yaaah jadi salonpas adalah harapan satu-satunya…

Semoga keadaan membaik segera. Amiiin.

 

 

 

 

 

Apr
29

IMG_20200331_065520

 

Hari ke-42 bekerja dari rumah. Semua terasa berjalan cepat. Tahu-tahu sudah hampir satu setengah bulan berkantor dari rumah.

Tapi begitu pagi datang dan mata terbuka, seakan waktu mendadak pause. Membayangkan aktivitas yang akan terjadi satu hari ke depan, semua mendadak berjalan lambat.

Memasak. Membangunkan anak. Berolah raga. Sarapan. Mandi. Bekerja. Bermain bersama anak-anak. Meeting kantor. Mengajar. Belanja. Mendampingi anak belajar. Semua dalam mode yang berulang-ulang setiap minggunya. Blaaaagh!

Kalau tidak kreatif memang bisa mati kebosanan, bukan hanya saya tapi juga anak-anak. Jujur saja, ketika anak saya menggerutu teriak: “Bosaaan!” Kepala saya langsung cenut-cenut mencari berbagai cara untuk membangkitkan semangat mereka.

Ini adalah beberapa aktivitas yang saya coba lakukan:

  1. Saya selalu rutin mengajak anak bergerak lewat olahraga pagi di luar rumah. Mulai dari jalan, naik sepeda, main di halaman masjid dekat rumah, atau keliling kampung. Meski sekarang jadi sesering dulu, karena aturan PSBB.

IMG-20200324-WA0000

2. Beraktivitas di halaman rumah. Beruntung sekali kami punya halaman rumah, yang meski seimprit, bisalah buat melepas penat. Jika sedang jenuh, saya suka ajak anak-anak main air, main hopscotch, main karet, menanam tananam dan juga menyirami tanaman. Terkadang saya hanya mengajak anak-anak berjemur setiap pagi di depan rumah sambil mendengarkan lagu-lagu Disney.  Atau joget-joget ala tiktok. Hahaha, saat ini saya dan Pagi sedang keranjingan main tiktok. Setiap koreografi baru yang muncul langsung berusaha kami kuasai.  Saat momen Paskah kemarin, mereka diajak mencari telur di halaman dan setelah ketemu, mereka pun menghiasnya.

 

3.  Olahraga di rumah ketika cuaca tidak mendukung juga dilakukan. Tidak hanya mengajak anak-anak yoga tapi juga exercise yang penuh gerak.

IMG_20200328_100936

 

4. Semua boardgame yang kami punya sudah kami keluarkan: Mulai dari monopoli, scrabble, ular tangga, halma dan juga permainan kartu. Si kecil Nyala pun juga sudah bisa ikutan main. Entah kenapa, setiap main monopoli, si bontot itu selalu berakhir jadi juragan.

IMG_20200328_202542

 

5. Memasak. Kami coba segala menu. Bersyukur sekali ada yang namanya cookpad, ya saudara-saudara. Saya biasanya libatkan anak-anak mulai dari menyiapkan bahan. Memang prosesnya bisa sangat kacau dan berantakan, tapi mereka sangat menikmatinya.

IMG-20200418-WA0007

6. Make up time. Ini kesukaan Nyala. Beberapa kali dia minta dirias. Setelah itu memakai baju cantik dan berpose di depan kamera. Saya biasanya jadi perias saja, tapi satu kali pernah ikutan dandan, ternyata menyenangkan juga. Selain make up, terkadang saya iseng bermain dengan mengepang rambut mereka.  Setelah berapa lama didiamkan, mereka senang begitu melihat rambut mereka  berubah jadi keriting.

 

7. Art time: Pagi dan Nyala tidak bosan-bosannya menggambar dan mewarnai. Mereka lumayan indipenden untuk urusan ini. Bahkan terakhir mereka bisa melukis dengan cat acrylic sendiri. Luar biasa memang.

 

Buat mereka yang punya anak,  saat karantina ini memang tidak mudah. Karena selain harus bekerja, juga harus ngurusin anak-anak. Tapi alih-alih menjadi beban, mungkin kita bisa melihatnya sebagai upaya menjaga kewarasan di masa yang serba tidak menentu ini, karena begitu mendengar tertawa, sensasi rasa yang hadir memang tidak ada duanya.  Tetap semangat dan kreatif, ibu-ibu!

 

 

 

 

Mar
31

IMG_20200331_154727.jpg

Semenjak pandemi COVID-19, konsep bekerja dari rumah atau kerennya work from home langsung populer. Hampir semua orang saat ini melakukannya.

Saya beruntung sudah dua tahun ini saya adalah pekerja rumahan. Saya hanya ke kantor hari Senin saja untuk rapat mingguan, selebihnya saya kerja dari rumah atau sesekali ke kota jika dibutuhkan.

Bisa bekerja dari rumah memang sebuah kemewahan.

Banyak orang sontak bilang: “Wah enaknyaa!” begitu saya cerita tentang bagaimana saya bekerja saat ini.

Buat ibu muda seperti saya ini, bekerja dari rumah itu artinya punya waktu lebih banyak bercengkrama dengan anak-anak. Tentu hal tersebut merupakan sesuatu yang tak ternilai harganya. Bisa bercengkrama dengan si kecil sebelum berangkat ke kantor (baca: naik ke lantai dua rumah yang disulap sebagai kantor) atau menyambut si sulung dari sekolah merupakan kebahagiaan sendiri. Terkadang, saya pun masih bisa mengikuti kegiatan sekolah si sulung. Terdengar menyenangkan bukan?

Tapi tidak semuanya cerita bahagia kok.

Tantangan tentu ada. Di sela-sela deadline, si kecil tiba-tiba merengek minta diajak main. Atau ketika ada conference call penting, tiba-tiba anak nongol bertanya tanpa rasa bersalah mainanya tadi disimpan di mana, dududududu.

Untung suami saya juga pekerja rumahan, bahkan dia lebih master dari saya. Sudah dari dulu, semenjak pindah kerja ke Jakarta mengikuti pujaan hatinya, dirinya menjadi pekerja rumahan. Berubah status hanya ketika kami pindah ke Australia karena kebetulan dapat kerjaan di salah perusahaan yang sesuai dengan bidangnya.

Dengan status yang sama-sama pekerja rumahan, akhirnya kita bisa saling bergantian meladeni anak. Bahkan ketika anak sakit, salah satu dari kami harus rela tidak bekerja demi sang anak, atau ketika tidak bisa yah kami harus merelakan jam kerja yang lebih panjang.

Salah satu konsekuensi kurang menyenangkan dari work from home adalah jam kerja yang sepertinya tidak habis-habis. Dari pagi hingga malam, hampir tidak berhenti, apalagi jika memang disambi ini-itu. Ini yang saya lihat terjadi pada suami saya. Untuk itu biasanya saya lumayan disiplin dengan jam kerja. Jam 9 mulai dan selesai jam 5 sore.

Tapi bekerja di rumah ketika anak juga harus sekolah dari rumah di kala pandemi seperti ini  merupakan bentuk tantangan sendiri. Juggling antara mengerjakan tugas kantor dan juga membantu anak menyelesaikan tugasnya itu….mmmm bukan main yaah. Lagi-lagi saya dan Keliek pun harus tandeman. Untungnya Keliek sekarang rada selo jadi lumayan lah bisa gantian.

Tantangan lainnya adalah membuat anak tidak bosan. Setiap hari, saya harus berpikir cara bagaimana caranya agar anak-anak tidak kebosanan ketika harus dikurung di rumah. Segala jurus sudah dikerahkan. Semua permainan sudah dikeluarkan: puzzle, monopoli dan terakhir scrabble pun juga sudah. Tapi ketika tiba-tiba anak-anak berteriak: “Bosaaan,” mendadak pusing kepala ini. Lebih pusing dari pada deadline kerjaan. Jadi setiap saat, otak ini harus berputar mencari cara untuk membuat mereka semangat.

Kerja dari rumah memang penuh dengan suka, tapi duka belum tentu tidak ada.

Tapi ketika saya harus memilih sekarang, maka saya pun terus memilih bekerja dari rumah. Makanya ketika kemarin sempat ada tawaran pekerjaan, hal yang pertama kali saya pastikan adalah apakah pekerjaan ini memungkinkan untuk bekerja dari rumah.

Dan saya berharap bahwa dengan semakin banyak orang yang familiar dengan konsep ini, maka banyak perusahan yang mempertimbangkan kebijakan bisa bekerja dari rumah bagi karyawannya terutama yang mempunyai anak-anak yang masih kecil. Karena karyawan bahagia adalah aset perusahaan yang paling penting, bukan?

 

 

Feb
29

IMG-20191214-WA0005

Saya mengamini seorang teman yang pernah bilang bahwa ketika orang tua memutuskan anaknya untuk les maka hal yang penting lainnya adalah komitmen orang tua untuk mendukung anaknya. Ini bukan hanya perkara uang tapi juga waktu, perhatian dan perasaan.

Karena pertimbangan itulah, saya selalu berpikir panjang sebelum mengikutkan anak les. Bukan hanya masalah biaya tapi juga komitmen saya dan suami, setidaknya untuk bisa mendedikasikan waktu kami untuk menemani mereka les, atau mengantar jemput mereka.

Kami tetap memberikan hak suara penuh kepada anak-anak untuk memilih les apa yang mereka suka tentunya, tapi lagi-lagi kami perlu mengukur kemampuan kami dalam memegang komitmen kami itu.

IMG-20191209-WA0003

Dengan pertimbangan ini itu saja, hari-hari kami dalam seminggu sudah dipenuhi dengan jadwal antar jemput les anak-anak. Senin: les balet Pagi, Rabu: les piano Pagi, Kamis: les balet Pagi, Jumat: les renang Nyala dan Pagi, Sabtu: les balet Nyala. Hanya Selasa dan Minggu waktu lowong yang kami punya.

IMG-20191208-WA0053

Semua inisiatif datang dari anak. Makanya sampai sekarang kegiatan les ini masih awet. Pagi yang mulai les balet dari umur 4 tahun, sampai sekarang masih semangat. Begitu juga dengan renangnya. Hanya saja untuk piano memang ada sedikit paksaan dari ayahnya. Akibatnya, saya melihat Pagi dengan les pianonya tidak seantuas ketika dia les renang atau balet. Untuk Nyala, sejauh ini dia hanya meniru yang kakaknya lakukan. Sebelum mulai les balet, dia sudah sering kali diajak menemani Pagi les balet. Saya pun harus berpikir keras untuk akhirnya mengiyakan Nyala ikut les balet, karena saya ragu saya punya waktu dari yang tadinya hanya 2x seminggu ke tempat les balet menjadi 3x. Dudududu. Tapi ketika anaknya sudah merengek, apa daya kami untuk menolak.

Bukan hanya waktu, orang tua juga harus urun semangat dan perhatian juga perasaan. Ketika ujian les balet, saya pun harus memastikan Pagi siap dan tahu apa yang harus dilakukan ketika ujian. Ketika ujian piano kemarin juga begitu, Pagi memang sudah lancar memainkan lagu yang diujiankan, tapi untuk masalah mendengarkan nada dia masih belum menguasai. Dan tentu saja pas ujian tidak bisa. Dia pun menangis. Saya pun mencoba menjelaskan bahwa itu tidak apa-apa dan wajar, lha wong dia gak pernah latihan hearing hanya latihan saja. Jadi untuk urusan deg-degan seperti itu, orang tua juga harus siap.

IMG-20191027-WA0000

Belum lagi ketika ikut lomba.

Untuk renang, kebetulan Pagi mewakili sekolahnya untuk lomba antar kecamatan. Waduuuh antara bangga dan cemas saya dibuatnya. Waktu seleksi tingkat kelurahan, dia sempat berhenti di tengah ketika lomba gaya bebas. Ketika itu, saya memang menemaninya, tapi harus meninggalkannya sebelum lomba gaya kupu-kupu dimulai karena saya harus pergi ke kantor. Duh. Nah untuk lomba tingkat kecamatan, saya sudah menjelaskan kenapa Pagi bahwa menang itu tidak penting, yang penting berusaha semampumu. Tapi ternyata pada hari H, anaknya nangis lagi pada lomba awal gaya kupu-kupu (hah emang cengeng seperti mboknya). Waktu itu saya belum datang karena harus mengajar terlebih dahulu. Untungnya di nomor gaya lainnya, dia bisa sampai garis finish dengan lancar, meski tidak jadi juara. Tidak heran karena lawannya adalah anak-anak yang sudah masuk klub renang yang latihannya setiap hari, sedangkan Pagi hanya latihan seminggu sekali saja. Dan anaknya ketika ditawari ptidak mau ikut klub, syukurlah, ibunya pun tidak sanggup untuk mengantar setiap hari hehehe.

IMG_20200227_150827

Jadi sebelum meleskan anak, setidaknya ada 2 yang harus dipastikan:

  1. Apakah itu memang kemauan anak?
  2. Apakah orang tua siap untuk menyediakan waktu, tenaga dan perasaaan untuk mendukung anak?

Kalau iya, tidak ada salahnya membiarkan mereka mengembangkan bakat mereka di luar sekolah dengan les.

 

 

 

 

 

Jan
23

IMG_20191215_084617

Waktu saya masih kuliah, saya ingin sekali menanam pohon kamboja putih di rumah masa depan. Niatnya sih, bunganya yang gampang jatuh bisa saya pakai untuk hiasan rambut.

Demi mimpi itu, ketika membangun rumah kami sisihkan sedikit tanahnya untuk ruang hijau.

Saat ini kami sudah punya satu kamboja yang menjulang tinggi di depan rumah. Lumayan membantu untuk ngasih ancer-ancer tukang ojek online: “Rumah tingkat pintu warna merah yang depannya ada pohon kamboja yah”

Selain pohon kamboja, saya belum tahu kira-kira tanah kosong itu mau ditanam apa. Waktu itu jiwa bertanam saya belum sekuat sekarang. Untung saja ada bapak saya yang berinisiatif menanam banyak pohon buah-buahan di sekitar rumah. Ada pohon durian, pohon jambu, dan pohon mangga.

Seingat saya, pohon yang pertama kali kami tanam adalah pohon mangga. Kami waktu itu menanamnya di belakang rumah dekat garasi, tapi entah kenapa tumbuhnya sedikit doyong dan makin lama makin miring. Kami pun harus menebangnya. Hiks seharusnya jangan yah. Padahal pohon itu sudah sedemikian rindang dan sempat berbuah beberapa kali.

Untuk pohon durian dan pohon jambu, bapak saya menanamnya di depan rumah. Tidak beberapa lama, bapak saya pun menanam pohon rambutan.

Pohon-pohon ini tumbuh tanpa perawatan yang serius. Sesekali disiram. Untuk pohon durian, ada perawatan ekstra dari bude yang membantu di rumah suka menyiramkan air bekas cucian beras ke sana. “Biar manis (buahnya),” ujarnya.

Awal tahun ini, kami panen besar-besaran. Senang sekali bisa melihat bahwa pohon yang dulu kecil bisa menghasilkan buah-buah sebesar itu. Lahan yang  luasnya tidak seberapa ini bisa menghasilkan sesuatu. Jerih payah merawat dan memelihara pohon-pohon tersebut tidak sia-sia. Sepertinya ucapan seorang teman, “yang dirawat tidak khianat,” benar adanya.

In untuk kali kedua kami panen durian, untuk rambutan baru pertama kali. Rasanya senang bukan kepalang karena rumah kami akhirnya berpartisipasi dalam “pawai” musim rambutan di Kampung Bulak. Jadi menjelang Desember dan Januari, pemandangan di Kampung Bulak didominasi oleh warna-warna merah-kuning-oranye buah rambutan yang mengintip di banyak pohon. Senang sekali tahun ini, rumahsenyumpagi bisa berkontribusi memberikan pemandangan itu, meski tidak seberapa banyak.

IMG_20191218_144318

Untuk masalah rasa, kami masih suka dibikin terkejut. Saya tidak makan durian, tapi sejauh ini , kata suami dan anak-anak, hanya beberapa yang rasanya manis, selebihnya rasanya hambar. Untuk rambutan, rasanya manis, tapi kurang “ngelotok”.  Ah tapi memang beda rasanya makan dari pekarangan sendiri.

Demi mendapatkan sensasi yang sama, beberapa waktu yang lalu, saya memutuskan untuk menanam lagi pohon mangga di belakang rumah. Sebenarnya itu juga didorong oleh motivasi ingin menebus rasa bersalah saya pada pohon mangga sebelumnya. Lalu selain itu ada juga pohon belimbing dan pohon pepaya.

Ah tak sabar musim panen berikutnya.