psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Mar
07

Jpeg

Karena otak masih mampet untuk nulis kerjaan kantor, mari kita tetap produktif dengan menulis blog…:)

Kali ini saya mau cerita pekerjaan anyar saya yang baru saya jalani sebulan ini. Tepat tanggal 9 Februari saya mengajar di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Posisi saya masih dosen part time karena saya masih bekerja di kantor lama. Saya mengajar kelas English for Journalism dan saya kebagian mengampu 2 kelas di hari kamis.

Perjalananan saya mendapatkan pekerjaan ini cukup panjang. Selulus saya dari Australia, memang ada niatan untuk mengajar di kampus.

Saya ingin mengajar karena saya menikmati pekerjaan ini. Menurut saya, mengajar itu bukan hanya membagikan ilmu kepada orang lain, tapi juga memberikan kesempatan kepada saya untuk terus belajar.

Sepulang dari Melbourne, Australia, saya sudah mengajar di almameter saya tercinta, UGM dan universitas Atmajaya Yogyakarta. Tapi saya ingin menjalani profesi ini lebih serius, maka ketika mengetahui UMN buka lowongan dosen tetap, saya pun segera melamar.

Tapi ternyata proses sampai saya dipanggil untuk wawancara itu lama sekali. Saya sampai menelepon memastikan pihak HRD nasih lamaran saya. Mereka bilang, mereka akan memanggil begitu ada kebutuhan dari  pihak jurusan. Nah loh…saya sempat menitipkan lamaran saya pada teman yang juga bekerja disana, tapi tidak ada hasilnya pula.

Hingga suatu masa, saya mendapat email dari pihak HRD UMN yang mengatakan saya diminta untuk datang dan melakukan simulasi mengajar (micro teaching).  Tak disangka, selesai presentasi, saya pun langsung ditanyakan bisa mengajar hari apa untuk kelas English for Journalism. Aiih, senangnya…

Saya mengajar setiap hari Kamis dari jam 8 pagi sampai jam 2. Saya mengajar dua kelas. Satu kelas berisi 36 anak yang bentuk dan rupanya beraneka macam. Sejauh ini, saya menikmati diskusi di kelas saya. Anak-anaknya cukup aktif dan kritis. Melihat mereka cukup membuat semangat, mengingatkan saya waktu awal-awal menjadi wartawan.

Akalnya pun macam-macam, di kelas minggu kemarin, saya pun terpaksa mengeluarkan seorang anak karena dia main HP terus, padahal saya sudah katakan dari awal bahwa penggunaan HP dilarang di kelas, kecuali memang disuruh.

Bahasa pengantar kelas saya bahasa Inggris, itu berdasarkan saya dan murid-murid. Mereka cukup memahami bahwa kelas ini butuh menggunakan bahasa ingris secara optimal, jadi setiap pembicaraaan di kelas pun harus pakai bahasa Inggris. Meski kadang-kadang pun masih campur-campur. Tapi saya sangat menghargai murid-murid dengan keterbatasan bahasa Inggris mereka tetap mengacungkan tangannya dan mengungkapkan pendapatnya.

 

Saya selalu mendorong mereka untuk tidak sungkan melakukan kesalahan karena dari sana kita bisa belajar bukan?

Aaah…rutinitas mengajar setiap kamis ini memang cukup melelahkan. Badan rasanya rontok setiap habis mengajar langsung dua kelas. Dari segi materiil pun tidak terlalu banyak yang saya dapat, lumayan lah untuk ukuran sebuah universitas baru.  Tapi semua capek dan hal-hal material itu terbayar dengan rasa puas saya melihat anak-anak di kelas begitu semangat belajar.

Lewat pekerjaan baru ini saya diingatkan bahwa materi mungkin bukan satu-satunya yang penting dalam sebuah pekerjaan karena kepuasan dan keberadaan ruang untuk terus tumbuh dan belajar dalam sebuah pekerjaan adalah sesuatu yang tidak bisa dinilai harganya. 

 

 

Feb
06

Sebenarnya bukan resolusi saya untuk membaca lebih banyak buku tahun ini. Tapi mungkin karena di akhir tahun kemarin saya melahap beberapa buku karya Eka Kurniawan. Jadinya malah keterusan.

Semua bermula dari niatan saya untuk mengurangi waktu saya di sosial media. Saya pikir ketimbang sibuk wira-wiri ngelihat akun orang, mending melakukan hal yang lebih produktif. Dipikir-pikir, lumayan juga waktu yang dihabiskan melihat status dan kehidupan orang lain lewat sosial media. Sepuluh menit saja, jika kita melakukannya enam kali, sudah sejam waktu terbuang. Dengan semangat ingin lebih produktif, saya menghapus akun facebook saya di hp. Jadi saya hanya bisa mengaksesnya ketika membuka komputer/laptop. Saya belum cukup berani menghapus akun facebook saya, karena banyak sekali kontak teman-teman di luar Indonesia yang ada disana.

Dengan adanya waktu luang, saya pun mencoba mengisinya dengan membaca. Lumayan, sampai bulan ke-dua di tahun ini, saya sudah menghabiskan tiga buku, termasuk satu buku klasik milik Ayn Rand yang tebalnya 700 halaman.

Saya biasanya membaca buku ketika berangkat kerja. Ketika banyak orang sibuk menatap layar hp mereka, nampaknya saya sendiri yang repot membuka dari satu halaman ke halaman lain di kereta yang penuh sesak. Saya juga membaca ketika ingin tidur. Bener deh, buku memang pengantar tidur yang jitu. Namun ketika saya merasa sampai pada bagian seru, kacau juga sih, karena saya tidak bisa tidur sampai buku habis.

Yang seru lainnya adalah saya sekarang punya book club. Saya diajak teman di the jakarta post Ogi yang kebetulan rumah tantenya dekat dengan saya. Terkadang, dia nebeng bareng mobil saya ketika ingin menginap di Cinangka. Ide book club ini berasal dari dia. Dia sebelumnya punya juga book club bareng teman-temannya, saya pun diajaknya. Tapi karena lokasi yang kurang strategis, saya sedikit enggan.

Nah untuk book club yang ini, saya semangat ikutan karena anggotanya semuanya tinggal di Cinangka. Anggotanya saya, Ogi dan mbak Debra Yatim (ya ampun, ternyata saya tetanggaan sama mbak Debra).

Pertemuan perdana kami, minggu kemarin dan bertempat di rumah saya. Di lantai 2, kami masing-masing bercerita tentang buku yang baru kami lahap. Saya berbagi tentang apa yang saya dapat dari novel Ayn Rand, the fountainhead, mbak Debra dari novel Elizabeth Gilbert, the Signature of All Things dan Ogi dari Hanya Yanagihara, A little life. Mbak Debra sebenarnya bukan hanya satu buku, tapi banyak sekali termasuk buku terbaru harry potter (yay!)

Dari diskusi kami, mungkin saya yang paling cemen. Mereka membaca begitu banyak buku yang judul dan penulisnya pun baru saya dengar pertama kali. Aah…jadi semangat belajar membaca buku lagi. Mbak Debra itu adalah salah satu pelatih di kelas creative writing di The Jakarta Post sedangkan Ogi itu dalam proses menulis novel pertamanya. Mendengarkan mereka ngobrol mengingatkan saya pada mimpi saya yang lain jadi penulis buku. Semoga book club ini menjadi suatu awal yang baik. Dan senang sekali mendengarkan kata-kata Cinangka  disebut berkali-kali tanpa ada nada sindiran :))

Untuk foto menyusul yah, karena saking serunya, saya sampai lupa mengabadikan momen perdana Cinangka book club.

 

 

 

Jan
19

Kemarin lumayan kaget saya ketika seorang rekan kerja yang bilang saya tidak berubah sama sekali semenjak saya memulai karir kewartawanan saya. Dia sih menyerocos bahwa yang dia maksud adalah penampilan dan gaya saya juga pembawaan saya yang tidak berubah sejak pertama kali dia mengenal saya.

Saya mengenal rekan saya itu sejak saya masih wartawan piyik yang belum tahu apa-apa. Dia dulu bekerja untuk media lain sebelum akhirnya bergabung dengan kantor dimana saya bekerja sekarang.

Mungkin itu pujian, tapi saya juga sempat sedih karena artinya saya masih ‘berantakan’ sampai saat ini.

Tidak hanya berantakan dalam bentuk fisik, namun saya masih merasa berantakan karena belum melakukan banyak hal.

Jeng jeng dan saya pun jadi baper.

Tahun baru seharusnya semuanya serba baru. Demi semangat kebaruan, saya memulai minggu pertama dengan menulis cukup produktif. Satu laporan tertunda dari london dan satu celotehan curhat di kolom by the way.

Semoga ini tidak hanya baik di awal yah, meski lewat tengah bulan rutinitas di kantor membuat badan jadi tidak bersemangat. Komentar rekan saya pun tidak membantu.

Ah jika mengambil hikmahnya, mungkin saya diingatkan kembali untuk bisa lebih baik lagi setidaknya dalam menjalani profesi ini.

Terimakasih buat sentilannya, mas.

 

 

 

 

 

 

Dec
31

Hari terakhir di tahun 2016. Tahun yang tidak mudah bagi saya. Begitu banyak kehilangan dan kesedihan.

Esok sudah hari baru, semoga saja harapan dan semangat baru bisa membuat tahun 2017 menjadi tahun yang lebih baik.

Di catatan terakhir tahun ini, izinkan saya mencatat hal-hal kecil yang mungkin remeh temeh yang tak disangka membuat beberapa hari menjelang akhir tahun ini jadi lebih hidup.

Akhirnya setelah sekian lama, saya menonton juga film bagus. It is really great to end this year with a very good movie. Setelah Rudderless, saya belum menemukan film yang bagus lagi. Ya susah juga dengan jadwal kerjaan dan rumah tangga yang membuat saya praktis jarang nonton film.

Hingga minggu kemarin saya menonton Captain Fantastic.

captain-fantastic-1021x580

Dari posternya saya pikir gayanya mirip film-film Wes Anderson, tapi saya salah besar. Film ini cukup membumi dan realistis dengan tema keluarga yang diangkatnya. Film ini bercerita tentang seorang ayah yang berjuang membesarkan enam orangnya dengan cara yang tidak biasa. Mereka hidup di hutan. Anak-anak belajar lewat latihan fisik ala militer setiap hari, diskusi menjelang makan malam, mereka juga membaca buku, bermain musik dan juga berburu.

Keluarga ini seperti tinggal dalam gelembung realita sendiri dan jauh dari pola pengasukan mainstream yang lain. Hingga suatu ketika mereka mendengar kabar ibunya yang sakit dan dirawat di kota akhirnya meninggal, si ayah akhirnya membawa anak-anaknya ke dunia luar untuk menjalanan misi melaksanakan pesan terakhir si ibu.

Film ini dikemas secara lucu dan menggemaskan dari awal sampai akhir. Saya sangat menikmatinya. Celetukan-celetukan lugu sang anak yang tidak pernah terpapar kebudayaan populer begitu menghibur.

Yang paling membekas adalah upacara penghormatan terakhir buat si ibunda. Saya dulu pernah berpikir mungkin pemakaman memang ditujukan buat orang yang masih hidup seperti yang disampaikan di film The Fault in Our Stars, tapi film ini meruntuhkan teori itu, pemakaman memang dibuat untuk orang terkasih yang telah meninggalkan kita.

Selain film, saya juga senang sekali akhirnya bisa menutup tahun dengan ini dengan novel yang luar bisa. Lelaki Harimau yang ditulis oleh Eka Kurniawan. Saya mengenal Eka dulu lewat Cantik Itu Luka yang menurut saya proyek yang cukup ambisius.

lelaki-harimau

Lelaki Harimau ini jauh lebih sederhana. Premisnya jelas terpampang dimuka dan Eka dengan setia mengungkap satu demi satu alurnya dengan cukup apik dan rapi hingga sampai kalimat terakhir.

Film dan buku yang bagus di akhir tahun cukup menghibur diri ini setelah tahun yang cukup berantakan.

 

 

 

 

 

 

 

Dec
27

Empat hari tahun 2016 akan berakhir. Tahun yang cukup berat buat saya, begitu banyak kehilangan dan juga keresahan. Saya hanya berharap semoga tahun yang mendatang akan lebih baik buat saya dan juga orang-orang di sekeliling saya.

Di penghujung tahun ini, izinkan saya membuat catatan kecil tentang apa yang saya sudah capai dan apa yang saya rencanakan di tahun depan. Semoga dari catatan ini saya bisa menarik pelajaran dan berbuat lebih baik di tahun 2017.

Resolusi saya untuk tidak sama sekali tidak belanja tahun ini tidak sepenuhnya bisa saya penuhi ternyata. Bulan ini saya terpaksa harus belanja baju darurat karena baju yang saya kenakan basah kehujanan. Saya akhirnya membeli baju yang dijual sekretaris di kantor dan sayangnya setelah itu saya demam. Aaah…semoga bukan gara-gara baju baru yah :))

Melanjutkan resolusi tahun ini, saya ingin mencoba menerapkan hidup minimalist yang lagi gandrung di Jepang. Saya melihat hidup yang lebih sederhana dan tidak kompleks dengan menerapkan pola hidup yang seperti itu. Berkecukupan dan tidak berlebihan. Tidak macam-macam.

Saya menyadari bahwa semua yang saya lakukan di tahun ini sedikit egois. Semua berpusat pada saya, atau setidaknya pada keluarga saya, dalam hal ini tentunya kedua anak saya. Saya berharap di tahun 2017 nanti, saya bisa melakukan sedikit buat orang lain dan orang sekitarnya. Apa itu? saya belum tahu. Semoga ada pencerahan nantinya karena niat itu sudah ada.

Saya baru saja meng-uninstall Facebook di hp saya. Saya pikir kehadirannya sudah cukup mengganggu. Saya berpikir untuk membatasi kehadiran saya di media sosial. Mungkin tidak se-hardcore orang-orang karena sayangnya media sosial adalah alat komunikasi saya dengan banyak sekali teman-teman saya yang ada di belahan bumi lain. Dan sebagai wartawan, saya sadar bahwa informasi adalah kunci sementara banyak informasi yang saya dapat melalui media sosial. Yah, kita lihat saja apakah ini akan berhasil.

Saya juga menyadari banyak yang saya lakukan fokusnya ke hal-hal yang materialistis dan fisik sementara. Tidak belanja, olahraga rutin, makan sehat. Semua itu saya lakukan di tahun ini tapi saya juga ingin di tahun yang baru saya juga lebih bisa menata emosi, bisa lebih sabar, tidak terburu-buru, lebih santai dan bisa lebih bijaksana.

Tahun baru nanti saya juga memulai profesi baru, sebagai seorang pengajar. Semoga ini bisa satu jalan untuk menentukan apa yang saya cari dan inginkan kedepannya.

Semoga saya juga bisa menulis lebih sering juga tidak hanya duduk di belakang meja dan mengedit, mengedit dan mengedit.

Terakhir, saya ingin jadi ibu yang lebih baik buat anak-anak saya. Saya masih belajar, belajar dan belajar. Semoga saya bisa.

 

2017, bring it on!

Nov
25

Perjalanan ke Inggris kali ini lebih bikin saya deg-degan ketimbang delapan tahun yang lalu. Kali ini saya membawa misi yang tidak mudah sebagai seorang ibu yang masih menyusui. Tulisan kali ini berusaha membagi suka duka perjuangan ibu menyusui yang terpisah lebih dari 10,000 km dari anaknya.

Sebelum saya mengiyakan tawaran tugas ini, saya berkonsultasi dengan suami saya, mengingat status saya yang masih menyusui Nyala. Untung sang suami sangat mendukung dan menganjurkan saya menerima tawaran tersebut.

Langkah saya selanjutnya adalah, saya langsung memberi tahu pihak pengundang kondisi saya dan meminta mereka untuk memberi fasilitas yang dibutuhkan karena saya butuh waktu, alat dan tempat untuk memastikan saya bisa tetap memompa. Untungnya mereka bisa memahami itu dan mengatakan sudah berkoordinasi dengan hotel dan penyelenggara acara untuk mengakomodir kebutuhan saya.

Saya akan pergi selama 9 hari, termasuk 2 hari perjalanan. Saya akan mengunjungi 2 kota Birmingham dan London dan tinggal di 2 hotel yang berbeda di kedua kota tersebut. Menurut jadwal, saya akan hadir di sebuah acara seminar di Birmingham, sebelum akhirnya nanti pergi London untuk menghadiri fellowship dan kunjungan ke beberapa tempat.

Sebelum berangkat, saya sudah menyiapkan beberapa hal seperti pompa, tas pompa, plastik penyimpan, cover sehingga bisa memompa dimana saja dan kapan saja, ice cooler, dan juga banyak ice gel pack.

Anak saya hampir berusia satu tahun sebelum saya berangkat, dan produksi asi saya tidak sebanyak sebelumnya. Jadi saya harus terus memompa supaya menjaga produksi ASI tetap banyak.

Setelah alat dan urusan hotel beres, kekuatiran selanjutnya adalah membawa asi-asi yang sudah saya perah kembali ke Indonesia. Fiuuuh…ini lumayan PR sih.

Dari awal, saya sudah merencanakan bahwa saya hanya akan menyimpan asi di hari ke-3 saya pergi mengingat wadah ice cooler yang terbatas. Jadi waktu berangkat, saya menerapkan sistem pump and dump. Hari ke-3, saya mulai menyetok ASI. Sayangnya,  kulkas di hotel di Birmingham tidak cukup dingin. Akhirnya saya harus membuang satu bungkus asi karena sudah bau. Selanjutnya, saya meminta pihak resepsionis untuk menyimpan asi di kulkas mereka di dapur yang mereka punya.

Hari ke-4, kami pindah ke London. Karena belum banyak kantong asi yang didapat, saya belum menggunakan ice cooler. Saya bawa saja mereka di tas pompa yang saya punya plus ice gel pack nya. Meski seharian bepergian, sesampainya di London, asi masih dingin dan aman.

Berbeda dengan yang di Birmingham, di hotel yang di London, saya dikirim kulkas langsung ke kamar saya. Wow, senang banget karena artinya saya bisa leluasa menyimpan asi-asi saya tanpa perlu mondar-mondir ke resepsionis.

Selama mondar-mandir kesana-kemari, menghadiri seminar dan tempat-tempat yang berbeda-beda, saya usahakan setiap 4 jam sekali untuk memompa. Teratur memompa penting sekali untuk menjaga produksi ASI tetap lancar. Tantangannya memang saya harus berhadapan dengan bermacam kondisi yang  mengharuskan saya memompa dimana saja dan kapan saja. Untung ada alat penutup yang menolong saya, ketika ruangan khusus yang saya minta terkadang tidak saya jumpai, apalagi kalau dalam perjalanan. Cuek bebek adalah senjata saya. My baby must get her milk! Jadi saya memompa di dalam bis, di bangku paling belakang di seminar, di meja ruang tunggu pameran, dan lain-lain.

Tantangan selanjutnya adalah membawa perahan ASI itu kembali ke Indonesia. Untuk itu,  ada beberapa hal yang diperlukan. Pertama, pastikan peraturan maskapai penerbangan dan kedua peraturan keamanan bandara.

Saya kebetulan naik Singapore Airlines. Dari website, seharusnya tidak apa-apa membawa asi didalam kabin dan bahkan bisa menitipkan jika dan hanya jika ruangnya memungkinkan. Tapi saran saya, telpon saja pihak maskapainya untuk memastikan. Sayangnya, ketika ditelpon staff kurang membantu. Intinya, semua peraturan di website entah kenapa dipatahkan oleh mas-mas yang saya hubungi.

Akhirnya saya konsultasi ke teman yang pernah mengalami hal yang sama. Ketika dipesawat, dia menyarankan untuk meminta ice cubes saja ke pramugarinya untuk menjaga asi yang kita pompa tetap dingin. Saya hanya menyiapkan plastik-plastik kecil untuk wadah ice cubes saja,

Masalah lainnya adalah, kedua bandara yang saya kunjungi cukup ketat masalah cairan. Aturan maksimal 100 ml cairan benar-benar tidak bisa ditawar baik di Heatrow, London dan Changi, Singapore. Untuk ASI bisa lebih, jika ada anak yang dibawa. Tapi saya kan tidak membawa anak saya.

Dalam perjalanan kembali ke Indonesia, saya memang belum membawa ASI. Semua stock ASI yang sudah saya hasilkan selama perjalanan sudah saya simpan di bagasi saya di dalam ice cooler karena aturan cairan yang ketat itu. Sebelum memasukkan ke koper,  saya masukkan ice cooler nya ke dalam plastik hitam besar supaya tidak basah. Saya bismillah saja semoga, semuanya bisa dalam kondisi prima setelah 17 jam perjalanan.

Tantangan berikutnya adalah membawa ASI yang saya hasilkan dari pesawat yang membawa saya dari Heatrow ke Singapore ke pesawat berikut yang membawa saya dari Singapore ke Jakarta.

Well, karena satu orang hanya dijatah 100 ml. Saya pun sudah bersiap-siap meminta rekan satu pesawat untuk membawakan kantong lainnya. Tapi ternyata pihak keamanan cukup pengertian, ketika saya menunjukkan kantong-kantong ASI, mereka hanya meminta saya menyerahkan tas asi saya dan memeriksanya lebih teliti lagi karena tidak melalui xray.

Aah sampe juga di Jakarta. Deg-degan selanjutnya adalah melihat reaksi Nyala setelah tidak melihat ibunya 9 hari. Teman saya punya pengalaman anaknya mendadak mogok nenen sehabis ditinggal tugas keluar selama beberapa hari. Fiuuh, saya pun ikutan cemas.

Begitu melihat Nyala, saya pun langsung menggendongnya. Nampaknya dia sedikit lupa buktinya dia menghindari tatap muka ketika saya menggendongnya. Tak lama, saya cari tempat duduk dan mencoba menyusuinya, dan puji Tuhan dia langsung mau..

Senangnya lagi, ketika koper dibuka dirumah. Stock asi aman. Selama perjalanan saya hanya membawa 2 plastik dalam kondisi beku sedangkan lainnya masih cair. Nah, hanya satu dari dua yang beku itu yang benar-benar sudah mencair, dan artinya harus segera dikonsumsi. Sedangkan yang lainnya aman dan bisa langsung masuk freezer.

Puji Tuhan..misi ASI yang sukses.

 

 

 

 

 

 

 

 

Oct
31

Para suatu masa, saya pernah berencana untuk mengundurkan diri ketika anak kedua lahir. Rencana tinggal rencana, sampai anak kedua berumur hampir setahun, saya belum juga minggat dari kantor.

Saya memang sangat mencintai profesi saya ini, tapi selain itu saya juga menyadari bahwa saya bukan ibu rumah tangga yang baik. 

Saya pernah mencoba simulasi untuk mencoba apakah saya bisa mengabdikan diri ini sepenuhnya kepada anak-anak, dekat dengan mereka selama 24 jam?

Untuk simulasi ini, saya mengambil cuti 10 hari untuk total mengasuh anak sendirian tanpa dibantu teteh.Dan hasilnya? gagal total. Saya tidak bisa menikmatinya (atau belum bisa yah). Saya merasa kelelahan, padahal ada si suami yang membantu. Rasa capek yang saya derita, beda dengan yang saya rasa ketika kerja sampai larut malam atau lari 10 km. Capek yang saya rasa terasa hampa, tidak ada kemenangan disana.

Aaah, saya memang bukan ibu yang baik, yang lebih menikmati kerja kantoran daripada bersama anak-anak meski seringkali rasa bersalah menyusup tiba-tiba ketika terlalu sibuk bekerja.

Aah, menjadi ibu itu berat, dan mengalaminya kedua kalinya bukan jaminan kita jadi ahlinya.

Satu hal yang pasti, saya mungkin bukan ibu yang baik tapi saya yakin saya mencintai anak-anak saya sepenuh hati

Sep
23

img_20160727_103302_hdr

Yay, setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya dan kelik sepakat mengajak anak-anak pergi ke Legoland ketimbang mengunjungi Universal Studio (lagi). Kami pun menyadari bahwa ini keputusan tepat karena wahana yang ada tepat buat anak seumuran Pagi. Sewaktu kami ke Universal Studio di Singapore dan Dreamworld, Gold Coast, kami menyadari Pagi masih terlalu kecil karena tidak semua wahana bisa dia naiki.

Dan berangkatlah kami dari Singapura ke Legoland yang berada di Johor Baru, Malaysia. Sebenarnya tidak terlalu jauh, cuma cukup ribet. Kami hanya perlu naik bis saja dan itu hanya butuh kurang dari satu jam dari perbatasan untuk sampai ke Johor Baru. Namun ribet karena di sela-sela naik bis itu, kami harus turun untuk ke immigration check point dan sehabis itu melanjutkan perjalanan dengan ngebis lagi.

Waktu berangkat kami naik bis 950 dari terminal woodlands, cukup bayar $2 dollar saja. Namun waktu pulang, kami naik bis lain, karena bis 950 yang kami tunggu tidak datang-datang, sepertinya baru kali itu kami tahu bahwa sistem transportasi di negara maju seperti Singapura bisa lelet juga. Sebenarnya bisa naik bis lain dari lain, tapi selain jaraknya cukup jauh dari tempat kami tinggal, harganya jauh lebih mahal. Jadi bis 950 adalah pilihan kami yang terbaik sebelum akhirnya kami ditelantarkan.

Jadi untuk ke Legoland ada dua wahana besar, satu kolam renang satunya lagi wahana bermain. Karena kami sadar bahwa kami orang tua biasa, saya pun memutuskan menginap saja untuk bisa menikmati semua wahana bermain. Tadinya pengin sih ngerasain nginap di hotel Legoland yang lucu sekali itu, tapi setelah dilihat-lihat kembali harganya terlalu mahal dan kamarnya terlalu luas untuk rombongan kecil kami. Mungkin lain kali, ketika Nyala sudah sedikit besar.

Dari Johor Baru, kami naik taksi untuk menuju Legoland yang ada di Kumbahan.  Bisa saja naik bis, tapi taksi sepertinya pilihan tepat untuk yang ingin cepat sampai, lagian harganya gak terlalu mahal kok.

Setelah menaruh barang di hotel, Pagi dan Ayahnya langsung menuju kolam renang, sementara saya dan Nyala tinggal di hotel sambil leyeh leyeh.

img_20160726_173753_hdr

Kali ini, Pagi dan ayahnya membeli tiket langsungan untuk  dua hari untuk dua wahana, sedangkan saya hanya satu hari untuk di taman bermainnya saja.

Hotel yang kami tinggali, Somerset Medini, cukup bagus dan fasilitasnya lumayan lengkap ada tempat fitness dan kolam renang juga. Jaraknya pun tidak jauh dari Legoland sekitar 1 km.

img_20160726_133334_hdr

Di dekat Legoland ada mall kecil dimana banyak restoran untuk para pengunjung yang kelaparan. Cuma jangan dibandingkan dengan PIM atau PS yah, mall ini cukup minim.

Esok harinya, kami pun bermain di taman bermain Legoland. Cuaca lumayan panas, padahal di perkirakan hujan hari ini. Seperti Tuhan mendengar doa kami. Hampir semua wahana Pagi naik, dia semangat sekali mengisi kertas yang diberi di pintu masuk. Untuk setiap wahana yang dia naiki, Pagi mendapat stempel dari penjaganya.

img_20160727_144923_hdrimg_20160727_130514_hdrimg_20160727_131507_hdr

Bukan cuma Pagi yang senang, Bapaknya ikut girang, apalagi begitu masuk wahana Star Wars. Sedangkan saya? cuma bisa ngelus ngelus boyok sambil kipas-kipas karena kegerahan, sambil tersenyum manis jika diminta berpose 🙂

img_20160727_142250_hdrimg_20160727_141553_hdr

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aug
28

IMG-20160731-WA0018

Mempunyai dua anak benar-benar memberi nuansa baru pada kegiatan plesir saya. Akhirnya setelah belasan purnama, saya pun piknik mengunakan paspor bersama suami dan anak-anak. Gak jauh sih, cuma main ke seberang, ke Singapura mengunjungi adik saya dan suaminya yang baru saja pindah ke apartemen barunya yang kece. Awalnya sih ingin pergi waktu saya masih cuti lahir, tapi apa daya paspor Nyala belum bisa diurus karena akta kelahirannya belum jadi. Ya sudah, jadinya kami pergi sekitar dua minggu setelah liburan lebaran.

IMG_20160729_172113_HDRUntuk liburan kali ini, saya dan suami benar-benar gak bikin itinerari sama sekali, mengingat bahwa membawa anak-anak, situasi bisa benar-benar berubah dalam sekejap. Jadi setiap rencana jalan-jalan kami putuskan satu atau dua hari sebelumnya, setelah browsing-browsing di malam harinya. Misalnya ketika kami ingin pergi ke Legoland, booking hotel dan lain-lain kami lakukan sehari sebelum berangkat.

IMG_20160729_111317_HDR

IMG_20160723_142559_AO_HDRJangan tanya bawaan kami, kami bawa dua kopor saudara-saudara. Sebenarnya bisa saja satu kopor, mengingat satu kopor awalnya dibawa  untuk membawa titipan adiknya, tapi ketika pulang, ternyata kopornya kepake juga. well, saya masih harus belajar packing saudara-saudara. Tapi memang susah, ketika membawa bayi, semua hal merasa harus dibawa untuk berjaga-jaga: yah obat-obatan, peralatan makan, dan lain-lain. Untuk itu, saya menyebut rombongan piknik kali ini, rombongan piknik odong-odong, karena heboh, riweh dan repot.

IMG_20160723_213540_HDRPergi tanpa itinerari bukan berarti kami pergi tidak dengan agenda sama sekali. Tujuan kami sih jelas: pengin jalan-jalan ke museum, leyeh-leyeh di taman, dan pergi ke taman bermain, entah Universal Studio atau Legoland (meski akhirnya kami memutuskan pergi ke Legoland)

 

IMG_20160729_175620_HDR

IMG_20160729_191139_HDR

Kami akhirnya pergi ke beberapa museum, Singapore Art Museum, Art and Science Museum yang menurut saya keren banget dan saat ini berada berada di urutan pertama daftar museum terbaik saya, mengalahkan museum-museum yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Lalu National Gallery of Singapore yang baru dibuka tahun lalu.

IMG_20160729_123325_HDR

IMG_20160729_150848_HDR

Belajar lewat pengalaman kami pergi ke museum dengan Pagi di Australia, kami tahu bawah pergi ke museum adalah hal yang menyenangkan buat anak-anak. Terlebih beberapa negara tahu bagaimana memanjakan pengunjung anak-anak. Mereka tahu bahwa menyenangkan hati anak-anak, juga menyenangkan hati orang tuanya. Andai paradigma yang sama juga dipakai di Indonesia. Di ketiga museum yang saya kunjungi, semuanya punya area bermain buat anak-anak, bahkan ada beberapa eksibisi yang mengundang partisipasi anak-anak. Meski jatuhnya orang dewasa juga ikutan karena saking serunya. Acungan jempol saya berikan buat Art and Science Museum yang program interaktifnya keren bangeeeet. Anak-anak bisa gambar dan mewarnai dan melihat hasil karya mereka hidup di dinding. Tapi yang keren tentu National Gallery yang punya Keppel Centre for Art Education yang memang ditujukan untuk anak-anak.

IMG_20160729_194547_HDR

IMG_20160729_201010_HDR

Kegiatan jalan-jalan kami pun cukup selow, bahkan selow banget. Kami biasanya baru berangkat setelah jam makan siang. Makan pagi dan makan siang kami habiskan dirumah, mengingat ritual Nyala yang baru belajar makan cukup merepotkan. Terkadang kami pun tidak pergi kemana-mana seharian kalau habis jalan-jalan cukup melelahkan hari sebelumnya. Biasanya habis jalan-jalan heboh, esoknya kami hanya di apartemen dan menemani Pagi main di playground terdekat.

IMG_20160722_101929

IMG_20160723_161540_AO_HDR

IMG_20160730_171551_HDRUntungnya kami punya waktu yang cukup lama di Singapura, sekitar 10 hari, jadi tidak masalah dengan jadwal jalan-jalan yang on-off semacam itu. Saya berpikir bahwa liburan ini juga harus memperhatikan kondisi anak-anak, jika mereka kelelahan, orang tua pun pasti akan kerepotan dan liburan tidak lagi menyenangkan.

Berikut ini adalah beberapa tips yang saya catat dari perjalanan 10-hari kami ke Singapura dan Malaysia (Johor Baru)

  1. Menurut saya, memesan tiket pesawat anak-anak jangan terlalu jauh dari hari keberangkatan, dua minggu atau sebulan paling mentok karena kita gak tahu kondisi anak-anak. Dua minggu sebelum berangkat, saya dibikin deg2an karena Nyala demam tinggi. Untungnya sembuh dan semua kondisi anak fit ketika pergi. Apa jadinya jika masih sakit. Jadi pesan tiket dekat-dekat hari atau ambil yang ada refund policy jika ingin pesan dari jauh-jauh hari supaya kalau ada apa-apa, tiket gak batal.
  2. Budget flight atau tidak. Kami awalnya pergi naik Garuda pulang dengan Air Asia (karena untuk pulang Garuda tidak ada yang langsung ke Jakarta). Kami memilih Garuda karena mengira lebih nyaman dan enak buat anak-anak. Tapi tidak juga, mungkin karena ribet dengan banyaknya fasilitas yang ada (makan, tontonan TV) waktu 2 jam jadi terasa cepat, karena tiba-tiba sudah landing padahal kami belum mengisi surat kedatangan untuk imigrasi. Ketika pulang, saya merasa lebih rileks, kami sempat beli makan di pesawat juga dan sisanya tidur. Jadi mungkin untuk 2 jam perjalanan budget flight gak apa2 yah. Kalau lebih dari itu mungkin bisa ambil premium class yang menawarkan lebih banyak kenyamanan. Dan satu lagi, jika bepergian dengan anak-anak, kalau bisa lebih baik hindari transit, karena itu butuh energi lagi. Saya pernah mengalaminya ketika terbang dari Melbourne ke Jakarta, kami memilih tiket pesawat murah tapi transit 5 jam di Bandar Sri Begawan, ketika berangkat naik pesawat tujuan akhir, Pagi yang sudah kecapekan ngamuk sejadi-jadinya ketika pesawat akan lepas landas. So, no transit if you bring toddlers and babies with you.
  3. Bikin jadwal yang fleksibel. Pokoknya anak-anak gak boleh capek. Saya ingat ketika teman saya yang dari Oman membawa kedua anaknya yang kecil-kecil ke Indonesia. Suatu ketika mereka memaksakan diri pergi ketika anak-anak kelelahan. Yang ada, anak-anak rewel dan crancky, orang tua juga jadinya kerepotan dan kelelahan, perjalanan akhirnya jadi tidak menyenangkan.
  4. IMG_20160723_153258_AO_HDR Untuk di Singapura, saya sarankan untuk jalan-jalan ketika hari kerja karena less crowded. Saya baru tahu bahwa di akhir pekan, semua tujuan tamasya di Singapura itu penuhnya minta ampun. Kami pergi ke Garden by The Bays di hari Sabtu dan jujur saya sama sekali tidak menikmatinya. Terlalu penuh, padahal tamannya bagus…Setelah itu kami memilih pergi di hari kerja untuk jalan-jalan.
  5. Rajin-rajin cek website museum untuk tawaran menarik. Di Singapore Art Museum, pengunjung bisa masuk gratis di hari kamis setelah jam 6 sore, untuk Art and Science Museum ada tawaran menarik untuk keluarga setiap Jumat.
  6. Universal Studio atau Legoland? saran saya jika punya anak usia dibawah 5 tahun ajak ke Legoland saja, mereka lebih bisa menikmati. Universal okay untuk anak-anak diatas 5 tahun. Kami pernah membawa Pagi ke Universal Studio waktu dia masih bayi sekali, meski gratis dia tidak bisa menikmati apapun. Beda sekali ketika kami ke Legoland kemarin. Dia senang sekali, dia cobai semua wahana satu persatu, bahkan dia lebih berani dari saya yang takut mencoba wahana yang cukup ekstrem 🙂 Legoland di Johor Baru, Malaysia itu cukup accessible dari Singapura. Jadi jika mampir ke Singapura, bisalah dijadikan agenda berkunjung. Untuk info lebih lanjut mungkin saya akan tulis di post berikutnya.

Intinya bawa anak-anak memang lebih capek dan lebih mahal, tapi buat perjalanan yang dilakukan sepadan dengan pengorbanan yang sudah dilakukan. Next trip? well, ngaso dulu kali yaah…:))

IMG_20160723_183244_HDR

 

 

 

 

Jul
26

Jpeg

Kemarin sewaktu beres-beres, saya ingat koleksi kaset saya yang sudah tidak pernah saya tengok. Ya gimana, ribet banget sekarang kalau mau mendengarkan kaset sekarang ini, karena pastinya butuh radio, sementara music streaming atau download lebih gampang diakses.

Lalu ketika saya iseng-iseng bongkar koleksi saya kemarin, saya ingat bahwa alasan saya dulu membelinya karena cover kasetnya. Desainnya yang menarik, ada foto sang artis dan jika beruntung saya dapat lirik lagunya yang biasanya jadi teman asik buat sesi karaoke privat.

Saya ingat sekali saya punya album alanis yang pertama Jagged Little Pill, yang semua lagu di dalamnya saya suka. Cover kaset itu bagai sebuah mantra ajaib yang saya pegang ketika menyetel kasetnya, soalnya pasti dipakai untuk nyanyi karena semua liriknya ada disana.

 

Koleksi kaset saya ini saya kumpulkan waktu saya kuliah. Saya menyisihkan uang saku yang diberikan orang tua untuk membeli kaset-kaset itu. Saya membelinya sehabis pulang kuliah. Biasanya saya mampir ke toko kaset di Galeria mall dan membelinya disana. Beberapa dari koleksi saya milik adik saya yang juga kuliah di Yogya.

Saya rasa apresiasi saya terhadap musik mulai tumbuh disana. Tapi memang pengetahuan saya masih terbatas, belum ada banyak band-band indie, karena kaset-kaset yang dijual hanya dari major label.

Selain mengumpulkan album-album para artis, saya juga mengumpulkan lagu-lagu soundtrack tentu dari film-film yang saya suka, seperti Dawson’s Creek dan yang paling suka film Reality Bites. Sharoooonaaaaa…lagu yang saya suka banget dari album soundtracknya.