psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Mar
24

IMG_20181221_154320

Setelah 2 hari di Ho Chi Minh, kami pun beranjak ke kota selanjutnya Phnom Penh, ibukota Kamboja. Berkat informasi dari teman saya Ngoc, kami menemukan moda transportasi yang okay dan murah dari Vietnam ke Kamboja. Awalnya mau pergi naik pesawat, tapi dihitung-hitung mahal apalagi kalau hitungannya dari sana kami mau ke Hanoi. Tapi akhirnya berkat informasi dan rekomendasi dari teman saya Ngoc, maka kami memutuskan pergi naik bus. Setelah menghitung-hitung waktu perjalanan, akhirnya kami memutuskan rute Ho Chi Minh – Phnom Penh, kemudian dilanjut Phnom Penh – Siam Reap. Rute pertama ditempuh dalam waktu 6 jam yang menurut saya masih okay lah buat anak-anak. Rute yang ke-2 kami memilih bis malam yang ada tempat tidurnya (sleeper bus). Waktunya cukup panjang tapi kami berasumsi bakal tidur semalaman (dan ternyata benar juga, anak-anak sudah tepar bahkan sebelum naik bus dan bangun ketika sudah sampai…Haleluya!) Saya sempat sangsi awalnya dengan sleeper bus ini, tapi ternyata armada bus rekomandasi Ngoc memang terbukti okay yah. Setidaknya memang terbukti terkenal di kalangan para turis mancanegara. Kedua bus yang kami tumpangi semuanya turis dari berbagai macam benua.

IMG_20181220_095852

Kami memutuskan memang hanya sebentar di Phnom Penh karena tujuan asli kami sebenarnya Angkor Wat di Siem Reap. Setelah browsing sini sana dengan lebih seksama waktu di bus, memang tidak begitu banyak yang bisa dilihat yah (ini sebaiknya jangan ditiru yah saudara-saudara).

Perjalanan dari Ho Chi Minh ke Phnom Penh lumayan lancar. Anak-anak tidak rewel dan bahkan tertidur dua kali. Kami duduk di deretan paling belakang. Sementara penumpang lain penuh di deretan depan. Begitu memasuki wilayah Kamboja, saya lalu ingat daerah di pelosok Sumatra atau Kalimantan yang masih banyak rawa, lapangan luas dan rumah-rumah panggung.

Kami sampai di Phnom Penh sore hari lalu berjalan sebentar mengunjungi kuil yang dekat pool bus. Setelah itu kami mencari tuk tuk untuk mengantar kami ke hotel.

IMG_20181220_155857

IMG_20181221_170037

Kamboja meski perekonomiannya tidak semaju Indonesia, tapi bagi turis dari negara berkembang macam kami lumayan juga. Dibanding Vietnam, Kamboja lebih mahal  karena semuanya dihitung pakai kurs dollar. Kesempatan kami mendapatkan Kamboja riel  adalah waktu mendapat  kembalian  uang kecil di supermarket.

Penginapan kami yang kedua lebih mengenaskan ketimbang yang pertama meskipun yang ini ada kolam renangnya. Saya sempat sebel sama Keliek. Tapi yah memang murah yaah dan gambar itu menipu yah saudara-saudara. Ya sudahlah. Saya hanya berharap penginapan kami setelah ini lebih okay karena perjalanan kami masih cukup panjang. Untung saja kami hanya semalam di sana.

Sesampainya di hotel, kami tidak kemana-mana. Hanya istirahat dan keluar makan malam. Daerah tempat kami memang tempat turis. Dekat sekali dengan Museum Nasional dan Istana Kerajaan.

Menu andalan kami di Kamboja adalah nasi goreng, fish amok (apa yah bahasa Indonesia, semacam ikan bumbu santan) dan sup-nya yang segar.

Esoknya kami muter-muter mulai dari Museum Nasional, yang kebetulan sedang ada acara besar yaitu perayaan adanya koleksi baru masuk ke sana. Lagi-lagi museumnya persis seperti Museum Gadjah di Monas meski bangunannya cantik ala Kamboja. Hal ini membuat saya berpikir kenapa Museum Nasional kita tidak menggunakan arsitektur gedung lokal yah? Setelah itu kami pergi ke kompleks Istana Raja yang luas sekaliii dan cantik.

IMG_20181221_132223

IMG_20181221_140122

Menjelang sore, sebelum kami menuju pool, Kelik memutuskan untuk menyewa tuktuk untuk melihat kota Phnom Penh terakhir kalinya. Oleh supir tuktuk kami dibawa ke pasar malam, lalu pinggiran pantai dan juga daerah mall yang ampun-ampun noraknya hehehe.

Sampai di pool, badan sudah capek, anak-anak sudah ngantuk dan tertidur. Begitu naik bus, anak-anak sudah tertidur. Kelik dan Mamah tampaknya juga cepat menyusul. Hanya saya saja yang beberapa kali terjaga. Sambil mengintip dari jendela, saya bertanya-tanya sampai di mana kami.

 

 

 

Advertisements
Mar
23

IMG_20181219_111559-01

Kami mendarat di Saigon atau Ho Chi Minh siang hari. Perjalanan terasa panjang, terutama bagi saya. Kami berangkat dari Jakarta subuh. Saya lihat anak-anak sih enggak ada capeknya. Lha saya?

Begitu ke luar imigrasi, saya langsung kontak teman saya, Minh yang tinggal sana. Dia sudah wanti-wanti dari awal kalau mau naik taksi sebaiknya yang mana karena dia tidak bisa menjemput. Tapi saya dan Keliek, tiba-tiba berpikir kenapa gak nge-grab saja yah. Begitu cek harganya pun lumayan banget selisihnya. Tapi tentunya kami harus punya no. lokal. Saya pun kembali tanya teman saya. Aah mungkin bisa saja kami google, tapi menurut saya tidak ada yang bisa ngalahin yang namanya local wisdom….

Setelah selesai semua urusan, termasuk tukar uang. Kami pun segera keluar mencari grab. Lumayan lama juga nyarinya. Ini karena no. lokal yang dibeli hanya paket data, tapi tanpa telpon. Untung interface di Grab okay dan  akhirnya kami dapat juga.

Jarak dari bandara ke tempat kami menginap tidak begitu jauh. Sekitar hampir 15 menit, kami disuguhi pemandangan kota Saigon yang entah mengapa mengingatkan saya pada Glodok.

Jalur yang kami lewati persis kayak jalur ke arah Kota, minus bus way-nya tentunya. Udaranya pun sebelas-duabelas dengan di Jakarta.

Sesampainya di tempat penginapan. Saya sempat kaget dengan depannya, mirip kayak kontrakan di belakang Glodok. Kotor dan kumuh.  Kami harus naik tiga lantai sebelumnya akhirnya sampai ke tempat kami. Fiuh perjalanan yang tidak sia-sia, Kami mendapati kamarnya cukup bersih, rapi dan bagus. Fiuuuh.

Sesiangan itu kami hanya leyeh-leyeh di kamar. Sorenya saya sudah janjian bertemu dengan Minh untuk makan malam di salah satu restoran Pizza paling terkenal di sana tentunya sekalian di ajak jalan-jalan sekitar kota.

IMG_20181218_192727

Ternyata restorannya ada di salah satu mall paling hits di kota itu. Kami naik ke lantai paling atas dan menikmati makan malam yang menyenangkan. Minh adalah teman saya sewaktu di Melbern. Kami dua tahun bersama mengambil master jurnalisme. Dia dulunya wartawan, tapi sekarang sudah bekerja di Konsulat Amerika Serikat di Ho Chi Minh. Senang sekali bisa bertemu lagi dengannya setelah 3 tiga tahun tidak bersua.

Malamnya kami pun putar-putar kota. Kami di ajak ke alun-alun kota Ho Chi Minh yang besar dan ramai. Dan jaraknya tidak jauh dari tempat kami tinggal.

Tata kotanya benar-benar mengingatkan saya akan Jakarta. Kesenjangan ada di mana-mana. Dari tempat saya menginap yang ala kadarnya itu, ada  mall-mall mengkilat dan  juga gedung-gedung bertingkat, yang salah satunya gedung kedua tertinggi di Vietnam, Bitexco Financial Tower

Hari ke-dua, kami mulai dengan mengunjungi taman bermain kota. Yak ampuun taman bermainnya bagus. Pohonnya besar-besar. Dan taman bermain di kota ini mudah sekali ditemukan. Tidak seperti di Jakarta yah.

Dari sana kami pergi ke landmark kota Ho Chi Minh: Katedral dan Gedung Kantor Pos yang bentuknya kolonial sekali. Kami cukup lama di sana menghabiskan waktu memberi makan burung-burung di depan gereja. Tampak sederhana, tapi anak-anak begitu menikmatinya. Saya dan Keliek menunggu sambil makan rujak melihat Mamah dan anak-anak bermain dengan burung-burung.

IMG_20181219_110209

Setelah puas, kami sepakat cari makan di salah restoran Pho legendaris namanya Hoa Pasteur…Sesampai di sana restorannya memang cukup ramai. Untung kami dapat tempat. Lumayan enak dan murah juga. Setelah kenyang kami kembali ke penginapan untuk tidur siang…zzz

Sorenya kami menikmati sore terakhir kami di Ho Chi Minh dengan berkunjung dari museum ke museum. Salah satunya adalah Ho Chi Minh Museum yang mengingatkan saya pada Museum Nasional di Jakarta.

IMG_20181219_175528

Kami mengakhiri jalan-jalan di  Bitexco Financial Tower dan makan malam di sana. Asik juga makan malam dengan pemandangan kota Ho Chi Minh di sekeliling kami. Dari tempat duduk kami, kami bisa melihat gedung kosan penginapan kami malahan…hihihi

Aah Ho Chi Minh terlalu mengingatkan saya pada Jakarta. Kotanya dan udaranya.  dan makanan. Di sela-sela perjalanan kami, kami selalu menyempatkan diri untuk mampir nyicip ini dan itu. Kadang hanya untuk jajan es kopi atau pork roll pinggir jalan. Mungkin dua hari kurang cukup yah?

IMG_20181219_103709

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mar
09

 

IMG_20181223_093855

Tahun lalu, saya dan Keliek memutuskan untuk jalan-jalan sekitar Asia Tenggara setelah rencana ke Ambon gagal. Kami pun sepakat memilih Vietnam. Satu karena makanannya dan kedua, saya punya banyak teman di sana. Setidaknya ada tiga teman yang saya kontak sebelum saya pergi ke sana. Jadi jalan-jalan, sambil makan-makan dan sowan teman tampaknya rencana sempurna.

Saya yang habis pulang dari Jerman dan jalan-jalan ke beberapa negara sekaligus ingin sekali mengulangi pengalaman yang sama: pergi ke satu negara ke negara yang lain di satu benua, cuma kali ini Asia. Awalnya sih saya rada ambisius pengin ke-3 negara dalam 2 minggu (mengingat saya waktu ke Jerman, saya bisa jalan-jalan ke 3 negara hanya dalam waktu 5 hari). Tapi Asia bukan Eropa saudara-saudara. Ternyata infrastruktur antara satu negara dengan negara lainnya belum begitu terbangun dengan baik. Alat transportasinya pun masih enggak jelas. Kami yang membawa anak-anak pun masih memikirkan kenyamanan mereka. Salah satu cara bepergian yang paling ideal adalah dengan pesawat dan harganya duh bukan yang murah.

Browsing sana-browsing sini, akhirnya kami sepakat pergi ke dua negara saja yaitu Vietnam dan Kamboja. Kedua negara ini yang paling memungkinkan dengan budget dan kenyamanan kami. Setelah tanya sana, tanya sini dan bingung hingga harus merelakan tiket pesawat hangus (hiks), kami memutuskan rute yang kami lalui adalah Jakarta-Malaysia (transit)-Ho Chi Minh – Phnom Penh- Siem Reap- Hanoi- Bangkok (transit)- Jakarta. Fiuuuh lumayan juga ada 4 negara kalau dihitung dengan transit yah.

Kami mengambil rute tersebut setelah mendapat info dari teman yang baru saya kenal ketika di Jerman kemarin kalau ada bus yang fasilitasnya okay dan nyaman dari Ho Chi Minh ke Phnom Penh dan cukup murah juga. Mungkin saya akan ceritakan lagi lebih detil nanti kali yah.

Saya dan Keliek pun sepakat mengajak Mamah, ibunya Keliek, yang ternyata juga doyan jalan-jalan. Sepeninggalan Bapak, Mamah sudah jalan-jalan ke banyak negara termasuk ziarah ke Israel, Yordan dan Mesir, negara-negara yang bahkan belum kami kunjungi. Luara biasa memang.

Tapi, setiap saya cerita bahwa saya akan membawa ibu mertua saya, teman-teman saya kebanyakan berkomentar, “Hidup lo kurang tantangan apa? Udah bawa anak kecil, bawa ibu mertua juga,” Aaah, mereka belum tahu Mamah sih tampaknya hihihi.

Untungnya semua sehat dan tidak ada halangan suatu apapun selama perjalanan. Syukur kepada semesta untuk itu. Cuma memang pegel-pegel di sana-sini sehabis jalan seharian tentunya. Atau tantrum-tantrum Nyala yang bikin senewen tentunya, setidaknya tiga kali dia tantrum hebat dalam dua minggu perjalanan itu. Fiuh.

Puji Tuhan juga biaya yang keluar juga tidak wow banget, masih dalam budget yang kami memang sisihkan setiap tahunnya, bahkan itu sudah termasuk Mamah dan tiket hangus juga. Padahal kami juga gak hemat-hemat banget, hampir setiap saat makan di luar ketika menginap di tempat yang tidak ada dapurnya. Ketika Keliek membandingkan pengeluarannya dengan teman-temannya, mereka bilang biaya liburan kami cukup murah untuk dua minggu dan lima orang ke 2 negara. Kalau mau angkanya, japri saja mungkin yaaa…hihihi

Postingan kali ini menandai dimulainya seri liburan saya dan sekeluarga yang murah-meriah (karena lebih banyak orang)- dan bonyok (pegel sekali yaaah ngajak anak umur tiga tahun jalan-jalan panas-panas di Angkor Wat).

 

Feb
08

Marco Polo / Breuninger / Stuttgart (29.09.18)

photo by DAAD/Markus Guhl

Ada teman yang tanya, kalau fellowship itu ngapain ajah yah?

Mmm…iyah saya memang doyan banget pergi untuk fellowship. Bisa dibilang saya adalah fakir fellowship. Dikit-dikit fellowship, dikit-dikit fellowship.

Buat orang yang mikir seribu kali buat beli baju Rp 500,000-an, ikut fellowship itu semacam tiket emas buat jalan-jalan gratis -ehm menimba ilmu-maksudnya. Saya merasa dapat rezeki nomplok begitu dapat fellowship. Sudah dibayarin semuanya, dapat ilmu baru, dapat kesempatan jalan-jalan dan teman-teman baru dari berbagai belahan dunia.

Fellowship saya yang pertama adalah ke Jerman selama 6 minggu tahun 2008. Senang sekali waktu itu ketemu banyak teman baru dari Vietnam, Filipina, Ghana, India dan masih banyak lainnya. Kerjaan saya ngobrol-ngobrol ngalur sampai malam kalau gak jalan-jalan dan nonton konser. Seruuu.

Sehabis itu saya kecanduan. Puji Tuhan saya mendapat beberapa kali fellowship lainnya. Paling sering ke Jerman dan pernah sekali ke Inggris.

Yang paling tidak ternilai adalah kesempatan bertemu dengan teman-teman baik dari negara lain selama tinggal di negara orang. Dari beberapa fellowship yang pernah saya ikuti, tak jarang saya mendapat teman dekat baru yang sampai sekarang masih sering berhubungan. Ada Mane dari Armenia lalu Reena dan Anjali yang  dari India, Ngoc dari Vietnam, Marcela dari Argentina dan Nermie dari Mesir.

Anjali, Ngoc dan Marcela saya temui pada fellowship saya yang terakhir tahun lalu ke Jerman. Kami hanya pergi seminggu tapi kami lumayan dekat. Tak tak diduga dan disangka, pada sebuah acara lain di Jerman yang saya ikuti  saya bertemu dengan Becky, teman dari Ghana yang  saya temui lewat fellowship pertama saya tahun 2018. Senangnyaaaa bukan main. Dan herannya kami masih bisa mengenali satu sama lain, meski sudah terpaut 10 tahun.

Tahun kemarin saya juga bertemu dengan teman saya dan Becky, Luong yang tinggal di Vietnam, ketika saya jalan-jalan ke Vietnam. Teman-teman inilah yang menjadi prioritas ketika ingin menentukan agenda jalan-jalan dengan keluarga.

Salah satu cita-cita saya adalah ingin sekali mengunjungi teman-teman saya yang tinggal di negara lain. Semoga bisa yah. Ada Reena di India, Mane di Armenia atau mungkin Elina di Finlandia, Marcela di Argentina dan bahkan seorang teman lainnya, Ale, di Peru.

Saat saya menulis ini, saya sedang mengikuti sebuah fellowship lainnya di Belanda. Saya punya 13 teman baru dari berbagai negara. Ada yang dari Perancis, Moroko, Romania, Albania, Bolivia, Uganda dan Nigeria dan masih banyak lainnya. Tapi mungkin karena sudah menua, saya tidak begitu suka ngumpul-ngumpul dan lebih suka tidur di kamar karena udara yang dingin. Rasanya tak sabar ingin cepat pulang.

 

 

Jan
06

img_20181209_212914

Terima kasih sudah menjadi pria yang super keras kepala dalam mengejar mimpi-mimpinya.

 

 

 

 

Jan
06

img_20181124_135058

 

Jujur selama saya absen dari dunia per-blog-an, begitu banyak peristiwa menarik hadir di kehidupan saya. Ingin sekali rasanya menuliskannya semuanya. Menulis blog, itu bukan hanya sekadar rutinitas tapi semacam catatan buat diri saya sendiri atas  pencapaian, kebahagiaan dan juga kegagalan dan  keresahan. Coretan-coretan untuk refleksi juga.

Untuk cerita satu ini, saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk menuliskannya. Meskipun sudah hampir dua bulan saudara-saudara. Kisah kali ini adalah kisah tentang perayaan ulang tahun Nyala yang ketiga. Tuhan mungkin berusaha menampar saya Pagi dengan mengingatkan saya pada janji saya ketika saat kami pergi ke sekolah minggu, seorang teman Nyala yang ketika itu diundang tapi tidak bisa datang memberikan kadonya ke Nyala. Sweet bangeeet, batin saya. Baiklah, itu cue saya untuk menulis cerita perayaan ulang tahun Nyala.

Well, sumpah semuanya serba dadakan, karena sayanya juga baru balik dari Jerman dan bapaknya yang super slow itu juga gak ngapa-ngapain hingga saya datang. Jadi semua detil acara disiapkan kurang dari 2 minggu saudara-saudara.

Kebayang dong repotnya. Untungnya koordinasi saya dan keliek lumayan lah, meski saya sempat uring-uringan karena dia telat bikin undangan yang berakibat banyak orang yang tidak datang karena sudah ada acara.

whatsapp image 2019-01-06 at 9.33.00 pm

 

Dari jauh-jauh hari, Nyala sudah tahu bahwa ulang tahunnya akan dirayakan. Dia juga berlatih menyanyikan lagu ulang tahun dan juga meniup lilin. Dia pun sudah bisa menunjukkan tiga jarinya ketiga di tanya, ulang tahun yang ke berapa? Dari jauh-jauh hari, saya dan Keliek sih inginnya temanya bernuansa jepang-jepangan.  Ini sebenernya karena kami ingin memakai kimono yang kami beli di pasar loak di Jepang dengan harga murah. Kapan lagi kan bisa pakai kimono.

Tapi bapak ibu bisa berencana, anaknya tetap yang menentukan. Si Nyala tetap keukeuh pengin punya kue ulang tahun princess dooong. Waduuuh. Ya sudah lah yah…untung dia gak ribet pengin baju princess juga. Jadinya kami sekeluarga tetap dengan kostum kimono lalu dekor ala-ala Jepang, tapiii kue ulang tahunnya tetap princess Disney doong.

Dari semua barang yang dicari yang paling menantang mencari kue ulang tahun. Awalnya saya pengin cari yang foundant, tapi cek bakery sana, bakery sini kenapa mahal yah, selalu di atas satu juta. Duh..akhirnya Ayahnya menemukan satu pembuat kue rumahan yang bisa diorder dan harganya lebih masuk akal. Meski ternyata juga bukan foundant juga yaah. Tapi mengingat mata Nyala berkilat-kilat kegirangan waktu kuenya datang, hati ini ikut juga riang. Untuk mengakali agar kuenya jatuhnya lebih murah, saya pun mengikuti tips Mama teman baletnya Pagi. Beli saja polosan nanti boneka princessnya beli di online ajah. Dan beneran terbukti. Anak senang, Ibupun senang.

Kami pun menyiapkan segalanya sendiri, termasuk memilih dan membungkus merchandise. Salah satu komentah Kelik yang buat saya geli: “Ini baru ngurusin anak ulang tahun, gimana kalau rabi (menikah)” yah,”

Hari H. Acara berjalan lancar, tetangga sekitar, teman-teman sepermainan Nyala datang semua. Ada beberapa teman Pagi yang juga diundang, mengingat teman Nyala belum banyak. Saya pun mengundang beberapa teman. Tapi seingat saya hanya satu yang datang: Tante Reva beserta Om Fajar dan adek cantik mungil Aurora.  Pengorbanannya luar biasa karena datang jauh-jauh dari Bekasi…semoga sajian trancam dan tempe bacemnya bisa mengobati yah. hahaha.

Terima kasih Tuhan buat hari yang menyenangkan ini. Tiga tahun lalu tetap di tanggal 24 seorang Nyala hadir di tengah kami dan hingga sekarang sinarnya tidak pernah redup terus menerangi kehidupun kami.

 

 

 

img_20181123_085338

Dec
14

IMG_20181103_160023

 

Setelah resmi jadi ibu dua anak, agenda jalan-jalan sendiri (atau lebih dikenal dengan istilah solo travelling) bisa dihitung dengan jari. Saya dan anak-anak itu sudah jadi satu paket, ke mana saya pergi, pasti anak-anak ikut. Kecuali untuk urusan kerjaan yah, saya biasanya akan selalu bersama anak-anak. Bahkan waktu dengan Pagi dulu, saya sering bawa dia untuk urusan kantor.

Bepergian sendirian tanpa anak-anak buat seorang ibu memang bisa jadi sebuah dilema. Apalagi hidup di masyarakat yang budaya patriarkinya sangat kuat yah. Istri seharusnya di  rumah bersama anak-anak, yang pergi yah seharusnya laki-laki. Untungnya lingkungan dekat saya tidak ada yang pernah berujar seperti itu, atau saya yang gak pedulian. Tapi untungnya punya suami yang selalu mendukung dan dengan senang hati mengurus anak-anak sementara istrinya jalan-jalan..ehm…kerja maksudnya.

Tapi mungkin yang berat meninggalkan anak-anak, adalah kebersamaan yang sudah menjadi rutinitas jadi hilang. Kesempatan untuk menyaksikan saat-saat bersejarah pencapaian anak-anak pun bisa jadi hilang. Hati rasanya mencelos dan bolong. Setiap saya bepergian sendirian, saya selalu berujar “Wah, coba Nyala dan Pagi bisa ikut dan mengalami apa yang bisa saya lihat, rasakan dan nikmati.” Sedih rasanya kalau ingat itu. Perasaan merasa “bersalah” itu pun muncul ketika harus ninggalin anak sebentar bersama ibu saya sewaktu kami liburan ke Singapura karena saya harus bertemu dengan teman.

Tapi tidak bisa dipungkiri, hati pun juga senang ketika bisa cuti sejenak jadi full time mom. Ini adalah momen buat saya untuk men-charge diri saya sepenuhnya dengan pengalaman-pengalaman baru dan pengetahuan baru-baru. Bepergian sendiri adalah salah satu me-time yang berharga bagi saya. Saya bisa menikmati sesimpel pergi ke kantor dan bekerja di kantor. Atau itu kenapa saya suka jalan-jalan pagi buat olahraga. Itu adalah me-time yang paling sederhana. Ketika me-time, saya biasanya “ngobrol” dengan diri sendiri tentang rencana-rencana saya tentang ide tulisan dan banyak hal.

Dilema itu datang belum lama ini ketika saya harus pergi tiga minggu ke Eropa. Jauh-jauh hari saya sudah bilang ke suami, dan dia okay saja. Meskipun ini adalah waktu terlama saya meninggalkan anak-anak. Catatan terlama saya pergi meninggalkan anak itu 10 hari ketika saya harus liputan ke London. Waktu itu cukup menantang juga, karena Nyala belum setahun, jadi saya harus pergi memompa ASI di sela-sela kegiatan. But I made it.

Sekarang tiga minggu. Selain kunjungan kerjaan, saya juga mengatur waktu untuk jalan-jalan dan mengunjungi teman-teman di sana. Saya pergi mengunjungi teman dan sahabat di beberapa kota dan negara. Saya sempat tinggal lama dengan Virtri, sahabat saya, dan keluarga mungilnya di Berlin. Virtri mempunyai seorang anak lucu bernama Kelana, dan sukses membuat saya beberapa kali latah memanggilnya Nyala. Mungkin itu tanda saya kangen dengan Nyala.

Waktu saya solo travelling adalah ketika mengunjungi Budapest-Slovakia dan Polandia dalam sekali jalan. Itu semua terjadi dadakan saya juga tidak menyangka bisa seperkasa itu sebenarnya. Saya berangkat dari Berlin hanya berbekal tiket pesawat Berlin-Budapest dan pesanan menginap di sebuah apartemen di Budapest. Ini mungkin bawaan sering jalan-jalan sama anak-anak yang terkadang memang tidak bisa merencanakan segala-sesuatunya amat rigid. Jadinya banyak manuvernya. Ketika sampai Krakow, Polandia, kota yang cantik itu tetap tidak bisa membuat saya betah berlama-lama, maunya balik segera ke Berlin dan pulang ke Indonesia.

Hari-hari terakhir saya di Berlin pun saya tampak setengah hati, setengahnya sudah mau balik ke Indonesia. Mungkin tiga minggu terlalu lama? Mmm…

Tapi mungkin sayanya yang terlalu lebay, orang-orang rumah bilang anak-anak manis ketika saya tinggal.  Nah lhooo…apa mesti ditinggal mulu supaya manis selalu. Atau ini berarti, akunya ajah yang gak becus ngurusin anak? abis kalau sama aku, pasti ada masalah…hahaha

Aduuh doaku sih meskipun jarak memisahkan kami, saya ingin anak saya belajar bahwa perempuan itu bisa mewujudkan dunianya sendiri tanpa harus selalu bergantung ke anak-anak dan suaminya. Jadi perempuan yang cerdas dan mandiri dan mampu meraih cita-citanya sampai ke negeri jauh. Dan satu lagi doaku, semoga di kesempatan yang lain, kami bisa jalan bersama-sama menaklukkan dunia. Amiiiin.

Nov
23

IMG-20181107-WA0024

Setelah lulus sekolah S2 di Australia, saya rencananya mau mendapatkan fellowship dulu sebelum akhirnya lanjut ke S3. Ah yak ampun, ternyata tidak semudah yang saya kiri. Mmmm..pelet saya sudah tidak berkhasiat lagi tampaknya hahaha.

Mungkin juga saya terlalu pede daftar fellowship yang keren-keren. Saya juga pengin banget melebarkan sayap ke Amerika yang katanya adalah puncak segala bentuk jurnalisme. Tapi sekarang kayaknya hal itu masih mimpi. Dari beberapa yang saya lamar, semuanya ditolak dengan sukses. Hiks.

Lalu ketika melihat dua tawaran fellowship ke Jerman dalam waktu yang berdekatan. Saya pun iseng-iseng mencoba karena topiknya yang menarik. Lagian, sahabat saya Virtri baru pindah dengan keluarganya ke Berlin. Bisalah saya mampir main nantinya.

Setelah beberapa bulan, saya pun dapat kabar kalau saya terpilih untuk fellowship yang pertama. Well, pada intinya sih kunjungan liputan ke Jerman hanya saja dibuat sayembara ke seluruh wartawan sedunia. Yang proposalnya paling okay-lah yang terpilih. Senangnya hati saya karena saya terpilih dari 15 wartawan dari seluruh dunia. Dan beda dengan fellowship yang pernah saya ikuti, saya juga berkompetisi dengan wartawan dari negara-negara maju. Angkatan saya ada wartawan dari Finlandia dan Ceko juga.

Tidak beberapa lama, saya mendapat kabar bahwa saya mendapat kesempatan dari penyelenggara Fellowship yang ke-2 bahwa meskipuan mereka sudah memilih fellow tahun ini, tapi mereka merasa tertarik dengan proposal saya. Mereka bilang akan mencari dana tambahan untuk mendatangkan saya. Dan dapatlah mereka. Singkat cerita, saya akan pergi selama 3 minggu untuk menghadiri dua acara itu di Jerman. Wuhuuu.

Senang tapi juga sedih karena harus meninggalkan anak-anak selama 3 minggu. Keliek pun harus mendatangkan bala bantuan mamahnya dari Yogya untuk mengasuh anak-anak selama saya pergi. Campur aduk emosi ini saya akan tulis di tulisan yang lain saja yah. Tulisan ini akan lebih fokus pada pengalaman saya selama di Jerman dan betapa berubahnya negara ini selama kurun waktu satu dekade.

Saya pertama kali ke Jerman 10 tahun yang lalu untuk fellowship juga (sebut saja saya fakir fellowship). Tahun 2008, Saya pergi dengan wartawan Indonesia yang lain, Priska yang sekarang justru jadi sahabat dekat. Kami tinggal 6 minggu di kota Hamburg dan di antaranya kami juga mengunjungi Berlin selama seminggu. Kami pergi waktu itu ketika musim panas, yang masih dingin juga buat ukuran orang tropis seperti saya.

Kunjungan saya ke Jerman yang ke-dua terjadi tahun 2010. Saya datang untuk fellowship yang lain selama dua bulan. Saya datang bersama seorang wartawan Indonesia yang lain, termasuk bos saya di The Jakarta Post.

Kunjungan itu sangat berbeda karena kami datang waktu musim dingin. Sebelum saya mendarat di Berlin Tegel Airport, seminggu sebelumnya suhu mencapai minus 10 derajat. Busyeeet.

Kesan saya dari kunjungan-kunjungan itu kurang lebih sama. Orang Jerman itu tepat waktu sekaliii. Saya ingat bahwa sampai hitungan menit. Jadi gak masalah jika mereka bilang janji di lobby 9.34…Selain itu saya mendapati orang Jerman juga kaku-kaku. Apalagi kalau bertemu di jalan. Sedikit sekali yang bisa berbahasa Inggris. Dan kebanyakan mereka tidak bisa joget hahaha.

Lalu sepuluh tahun kemudian saya datang kembali. Perjalanan kali ini diawali dari  Frankfurt, lalu saya muter muter ke Stuttgrat, Karlshure dan Saarbrucken. Seminggu kemudian,  tibalah saya kembali ke Berlin. Baunya masih sama dan selama perjalanan bis ke apartemen Virtri, saya mencoba mengingat-ingat kembali memori saya 8 delapan tahun yang lalu. Dan saya baru sadar, ini musim gugur pertama saya di Jerman.

Selama kurang lebih dua minggu di Jerman, saya mencatat ada beberapa perubahan yang lumayan:

  1. Jerman jadi lebih ngaret yah.

Saya kaget juga dengan penemuan ini. Di dua event yang saya datangi, hampir semua acara molor. Yang saya maksud di sini bahkan dalam hitungan menit yah karena setahu saya Jerman dulu sangat tepat waktu. Apalagi waktu di Stuttgart, kami bisa molor sampai 15 menit. Ternyata hal itu biasa di Stuttgart yang lalu lintasnya padat sekali dikarenakan jumlah mobil yang banyak. Maklum kota ini tempat beberapa pabrik mobil terkenal, seperti Prosche dan Mercedes.

2. Jerman jadi lebih ramah

Lebih banyak orang ramah dan bisa berbahasa Inggris. Kesan saya ini bertahan sampai saya pulang dalam perjalanan ke airport. Saya berkenalan dengan seorang bapak-bapak yang juga dalam perjalanan ke airport. Dia orang Jerman yang anak-anaknya tinggal di luar negeri. Kami ngobrol cukup lama ketika itu. Waktu saya dan Virtri jalan-jalan pun, banyak orang-orang yang hangat menyapa. Mmmm, tapi apa ini karena faktor Kelana, anak Virtri yang juga jalan-jalan dengan kami yaa…

3. Karena kakunya orang Jerman, dulu saya jarang sekali melihat orang bermesraan di tempat publik. Beda dengan di Italia atau Paris. Tapi kemarin saya mendapati beberapa pasangat dan saya juga menemukan sepasang gay. Aah sukaaak.

Tiga minggu mungkin waktu yang sebentar, tapi tidak bagi saya. Menjelang hari-hari terakhir di Berlin, saya sudah kangen akut dengan anak-anak. Jiwa saya sudah ada di Jakarta, begitu kata Virtri. Mungkin benar juga.

Beda dengan 8 delapan tahun yang lalu, ketika saya begitu berat meninggalkan Berlin. Saya ingat sekali menyempatkan diri jalan-jalan ke Alexander Platz menemukan tutup got cantik khas Berlin dan mengambil foot selfie. Setelah itu, saya jalan-jalan mengitari daerah sekitar sambil berpikir apakah saya akan kembali lagi?

Mengingat hal itu, saya kemudian berpikir ternyata bukan hanya Jerman yang berubah tapi saya pun juga berubah.

4. Jerman jadi lebih ramah lingkungan?

Ini melihat banyak sekali restoran vegan di mana-mana. Beberapa orang Jerman yang saya temui pun mengakui mereka menjadi vegan. Beda sekali dengan waktu saya datang sebelumnya di mana saya diajak ke restoran yang banyak dagingnya. Sekarang kalau ke restoran pasti di tanya mau menu vegetarian atau yang biasa. Ini juga saya perhatikan dari banyak restoran vegan berseliweran di mana-mana di Berlin. Beda dengan kota-kota lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nov
15

IMG_20180929_154752

Akhir September lalu, saya dan genk Ingat65 mengadakan acara piknik. Sebenarnya acaranya ditujukan kepada para penulis. Ada beberapa yang berminat. Tapi begitu hari H, yang ikut yah kita-kita saja plus saya bersama suami dan anak-anak.

Kami memang berniat ikut karena sudah lama sekali tidak main ke pantai. Intinya kami sakaw pantai. Yang seru adalah kami bakal berkemah di sana. Jadinya kami membawa tenda kami yang kami terakhir pakai di Australia ituuu.

Yang paling seru adalah malam sebelum kami berangkat, gempa di Palu terjadi. Duh, saya langsung mengkeret berniat membatalkan semuanya. Tapi teman-teman yang lain kok santai. Begitu tanya pak Keliek, dia pun tetap mau berangkat. Ya sudahlah berdoa saja semua baik-baik.

Perjalanan kali ini memang berbeda ketika kami pergi ke pulau Macan beberapa waktu yang lalu. Kalau dulu berangkat lewat pelabuhan Marina Ancol, kali ini kami berangkat lewat pelabuhan Muara Angke. Semenjak jam setengah 7 kami di sana, kapal baru berangkat jam 9. Dan entah kenapa perjalanan begitu lama sampai ke Pulau Dolphin tujuan kami. Beberapa kali saya sempat mau muntah, tapi saya paksakan saja untuk tidur. Untungnya anak-anak tidak apa-apa. Sepertinya mereka lebih tahan banding ketimbang saya.

Sebelum kami menuju ke pulau Dolphin, kami singgah dulu ke pulau Harapan. Beristirahat, makan siang dan bertemu dengan penyewa kapal untuk pergi ke pulau Dolphin.

Sebenaranya perjalanan kali tidak repot, karena semua sudah diurus oleh Nida. Kami tinggal bayar dan bayar diri saja. Saya sebelumnya tidak pernah dengar Pulau Dolphin, tapi Nida yang penggemar pantai ini bilang pulaunya bagus. Ya sudahlah.

IMG_20180929_151740

Tapi sepertinya banyak sekali orang yang menawarkan jasa trip ke pulau-pulau sekitar di pulauHarapan. Kami juga bertemu dengan sekelompok Yogi yang hendak berkemah tapi di pulau lain.

Jadi paket perjalanan kami juga termasuk island hopping ke beberapa tempat snorkling yang caem sebelum ke pulau Dolphin. Saya yang sedang menstruasi pun hanya bisa gigit jari di atas kapal. Tapi senang melihat Pagi belajar snorkling.

IMG_20180929_142436

Saya berharap sih tidak banyak orang yang berkemah di pulau Dolphin. tapi harapan saya pupus, begitu sampai sana, yang jaraknya sekitar 30 menit dari pulau Harapan, sudah banyak orang-orang di sana. Katanya sih mereka hanya berkunjung saja dan tidak berkemah. . Tapi saya sudah melihat beberapa kemah berdiri di sana-sini.

IMG_20180930_060322

IMG_20180929_152830

Untungnya kami masih kebagian tempat, di pantai bagian belakang. Pulaunya sendiri cantik. Ada dua pantai yang bisa buat main, dan berenang-berenang cantik.

Kamar mandi hanya ada dua di sana dan cukup antre juga menunggunya. Untuk pipis bayar 2,000 untuk mandi Rp 5,000, jadi siap-siap bawa receh yang banyak. Oya pastikan untuk mandi minta air tawar, jangan air laut.

Setelah beberes kemah dan bermain di pantai, kami pun menyiapkan makan malam. Untung bawa Keliek. Dia memang bisa banget diandalkan. Dia juga yang punya ide bawa bricket buat masak. Dibanding kelompok kemah yang lain, kami yang paling tidak serius. Kelompok lain bawa cabe, tomat, panci, dan penggorengan, kami yah bahan makan yang hampir jadi sajah plus snack yang berkelimpahan Untungnya di sana ada warung indomie penyelamat yang bisa dihampiri> tapi toh kami tidak pergi ke sana juga.

Malam itu kami buat api unggun dan ngobrol santai di bawah bintang-bintang sambil nyemil marsmallow gosong dan jagung dan ubi bakar (banyak juga yah). Tidur pun nyenyak, cuma begitu bangun punggung kok pegal-pegal yah. Sepertinya harus beli kasur angin lain kali.

IMG_20180930_060503

Pagi sebelum memulai aktivitas saya sempat yoga, sementara anak-anak sudah nyemplung air bersama-sama tante-tantenya. dari pagi sampai menjelang siang, mereka belum belum bosan juga. Apalagi si Nyala. Senangnya bukan main. Pagi pun sudah bisa main snorkling sendiri. Senangnya bukan main dia.

Tapi saatnya pulang karena kapal sudah menjemput. Setelah membereskan semuanya kami pun berlayar kembali ke pulau Harapan sebelum naik kapal ke Jakarta.

Untuk semuanya kami hanya perlu bayar Rp 265,000 per orang. Sementara anak-anak bisa lebih murah dari itu. Beda banget kan sama yang di pulau Macan hahaha. Untuk liburan keluarga, berkemah di pulau seribu ini cukup seru dan murah bukan? Sepertinya kami bakal sering-sering deh.

Oct
13

IMG_20180927_122041

Tanggal 27 September lalu–iya saya ingat benar tanggalnya–saya naik angkot lagi. Entah kapan terakhir kali saya naik angkot. Seingat saya sudah lama sekali.

Waktu itu naiknya pun tidak direncanakan sama sekali. Jadi saya ingat sekali waktu itu saya sedang ada janjian di Kantor Berita Radio (KBR) di jalan HOS Cokroaminoto. Sehabis dari sana, saya dan teman-teman mampir ke mie ayam yang menurut saya lebih enak dari mie ayam Ambon yang legendaris itu. Setelah kenyang, saya pun berencana balik. Tapi bingung karena posisinya yang di tengah-tengah memungkinkan saya untuk naik apa saja dari sana. Tiba-tiba Kopaja P20 jurusan Senin-Lebak Bulus datang. Langsunglah saya spontan pamit dan naik Kopajanya.

Begitu naik, saya serasa dibawa ke lorong mesin waktu, di masa-masa muda (hihihi, iya saya memang sudah menua) masih lincah naik turun angkutan umum. Meski macet dan umpet-umpetan, saya menilai naik angkot semacam mencerahkan. Ketemu banyak orang, memperhatikan gerak-gerik mereka, menikmati lalu lintas di luar dan di dalam kendaraan:  para penjual dengan aneka rupa dagangan mereka, kemudian pengamen dengan gaya dan musik yang  jika beruntung bisa menghibur hati.

Meski bising, macet dan belum lagi asap yang ke mana-mana, naik angkot juga menenangkan buat saya. Saya masih ingat betapa bisa tertidur di bis dari Kreo sampai Monas itu adalah kemewahan yang tiada duanya. Atau tidur siang sejenak dari Kebayoran sampai Palmerah.

Tapi sesudah hamil dan punya anak, saya semakin jarang naik angkutan umum. Rasanya tidak tega membawa anak-anak kecil di tengah-tengah lautan kendaraan yang semrawut di Jakarta. Demi kenyamanan, saya pun membeli kendaraan yang akhirnya juga saya pakai hilir mudik rumah ke kantor dan ke rumah lagi.

Dua tahun di Australia dengan segala kenyamanan yang ditawarkan angkutan umum mereka, membuat saya sedikit takut mencoba gagah naik angkot lagi. Tiba-tiba hamil lagi dan punya anak kedua, hubungan saya dan angkot pun layaknya mantan yang putusnya tidak baik-baik. Kemudian ada ojek daring dan juga kereta–iya sekarang saya suka naik kereta ke mana-mana, semakin jauhlah hubungan saya dan kopaja.

Hingga kemarin itu. Saya tidak mengharapkan apa-apa. Keputusan saya saat itu sangat spontan. Saya tidak mengharapkan pencerahan atau ketenangan jiwa ketika memutuskan naik kopaja waktu itu. Saya penasaran apa yang berubah yah setelah sekian lama. Waktu itu saya naik kopaja biasa–bukan yang AC dan dijadikan pengumpan bus Transjakarta. Tidak banyak yang berubah. Masih kusam, kotor dengan kursi-kursi dan karat-karat disana-sini. Sama seperti bus Metromini 69 yang membawa saya pulang dari Bulungan ke Kreo ketika saya masih SMA. Iya, pengalaman bus pertama saya terjadi ketika saya masih SMA.

Dua puluh tujuh tahun kemudian, bohong rasanya ketika saya bilang saya merasa damai dan tenang ketika naik angkutan yang sejenis. Di kopaja itu, saya celingak-celinguk melihat keadaan sekitar sambil membawa erat bawaan saya. Perbedaan yang jelas adalah saat itu adalah penumpang lumayan sepi, padahal perjalanan terjadi di siang bolong. Ada sekitar 6 penumpang waktu saya naik. Lalu lama-kelamaan satu-persatu penumpang menghilang. Hingga hanya saya dan satu penumpang sebelum saya akhirnya turun di Poins Square Lebak Bulus. Ketika itu saya ingin membeli beberapa barang untuk kebutuhan piknik ke luar kota. Setelah selesai, saya pun saya bergegas membuka aplikasi taksi daring. Cukuplah nostalgia saya dengan kopaja hari itu.

Hingga 9 September yang lalu, saya pun mengulangi nostalgia itu. Lagi-lagi saya ada acara di KBR. Ketika hendak pulang, saya sudah berencana naik Trans Jakarta saja, mengingat pengalaman kurang berkesan kemarin itu. Tapi teman saya tiba-tiba memberi tahu kalau saya bisa naik bus pengumpn dekat dari situ yang salah satunya kopaja juga namun diberi fasilitas AC. Jadilah saya naik kopaja ber-AC melintasi jalur khusus busway. Saya tidak banyak memperhatikan sekitar meski memang lumayan penuh ketika itu. Ada bau aneh yang buat saya tidak nyaman. Aarrgh. Untungnya kurang dari satu jam saya sudah sampai di terminal Lebak Bulus. Begitu turn, ketika hendak memesan ojek daring, saya melihat ada angkot 106 ngetem. Aah, lagi-lagi saya penasaran. Lalu melompatlah saya naik ke dalam angkot yang membawa saya pulang ke rumah tercinta.

IMG_20181009_143654