psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Oct
02

Minggu ini saya memasuki waktu Indonesia bagian deg-degan karena anak bakal ujian tengah semester. Fiuuh, akhirnya ngerasain juga perasaan senewen ibu-ibu yang kelimpungan membantu persiapan anak-anaknya ujian. Dulu sih masih bisa petantang petenteng waktu Pagi masih di TK. Sekarang? Si mbarep sudah kelas satu dan sudah menghadapi serangkaian ulangan di semester pertama ini.

Saya sangat peduli dengan aktivitas dan kegiatan Pagi di sekolah. Itu salah satu alasan ikut WA grup ibu-ibu kelas satu-satu; biar lebih updet. Saya selalu berusaha berkomunikasi dengan gurunya dan rajin bertanya untuk menunjukkan bahwa ya saya peduli.

Masalah ujian ini, saya juga bingung kenapa saya gak bisa santai kayak si suami yah. Padahal dari pengalaman saya bersekolah, saya seharusnya bisa lebih cuek bebek. Saya dulu langganan ranking satu yang selalu belajar rajin sebelum ulangan di sekolah yang saya tahu juga gak guna-guna amat sih buat sekarang ini. Belajar dari situ, seharusnya saya bisa lebih santai. Tapi tetap gak bisa. Sewaktu jadwal ujian dikeluarkan, saya pun segera menyusun jadwal tidak masuk kantor karena mau menemani Pagi belajar. Pokoknya emaknya gak mau kalah ribet. Issh emang dasar emak-emak kompetitif kali yah saya ini.

Pagi itu cerdas. Dia cepat sekali menangkap sesuatu yang baru. Dia sudah bisa menulis dengan lancar. Tulisannya bagus sekali. Kemampuan menghitungnya juga diatas rata-rata. Kelemahannya hanya di Bahasa. Banyak kata-kata yang masih belum dia mengerti. “Ramah itu apa?” “Saling melengkapi itu apa?” dan saya pun harus menjelaskan satu-satu. Nah, salah satu tantangan kami adalah pelajaran Agama. Susah yah belajar moral itu karena tidak ada rumus baku dan ketika saya bilang okay, ternyata gurunya enggak. Contoh pertanyaan: apa yang sebaiknya pertama kali dilakukan sehabis main di luar rumah? Pagi menjawab cuci tangan dan kaki. Dan ternyata salah saudara-saudara, menurut gurunya jawaban yang benar adalah memberi salam. Jeng jeng. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan mengawang-awang. Untuk ujian agama kali ini, Pagi akan dites pengetahuannya tentang proses penciptaan di kitab Kejadian. Jiaaah…gatal rasanya pengin ngajarin dia tentang teori evolusi dan manusia purba.

Ah mungkin segala persiapan menjelang ulangan ini tidak hanya pembelajaran buat Pagi tapi buat saya juga. Saya juga harus belajar untuk memahami bahwa meski saya ingin Pagi mendapatkan hasil yang terbaik, saya juga harus menyakinkan diri saya untuk gak usah gitu-gitu amat kali, toh Pagi kan mau kuliah di jurusan seni hahahaha.

 

 

 

 

Advertisements
Sep
08

Semenjak jadi Ibu beranak dua, saya menjadi sosok yang tidak nyaman dengan perubahan. Maunya yang aman-aman saja, maunya yang pasti-pasti saja. Toh, hidup sudah cukup repot dengan dua orang anak.

Hal ini berbeda sekali dengan pribadi saya aslinya yang suka berpetualang dan mencoba hal-hal baru. Kalau dulu mungkin saya akan jabani, tapi sekarang? mmm perlu pikir sekali, dua kali.

Jika memang menginginkan perubahan, ada variabel tambahan yang meski dimasukkan dalam kalkulasi pengambilan keputusan. Variabel utama itu salah satunya yah keluarga. Jika perubahan yang ada berdampak negatif terhadap keluarga atau anak-anak saya, saya tentu akan bilang tidak.

Kali ini perubahan yang akan saya ambil sepertinya akan mempengaruhi secara fundamental apa yang terjadi di keluarga saya. Takut? Ragu? Tentu saja. Tapi saya berharap keputusan ini bisa membawa hal yang baik buat keluarga saya. Semoga. Kalaupun tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Semoga saya diberi kekuatan untuk menjalani segala konsekuensi dari keputusan yang diambil dan diberi pengertian untuk memahami bahwa perubahan yang kita inginkan belum tentu sama dengan yang kita butuhkan. Jadi kalau memang perubahan itu tidak bisa terjadi, saya bisa ikut memahaminya bahwa ini mungkin bukan saat yang tepat.

 

 

Aug
21

Senyum Pagi ulang tahun ke-6 tanggal 24 Juli. Beberapa tahun kemarin si sulung selalu minta dirayakan, apalagi semenjak masuk TK dan dia menghadiri begitu banyak perayaan ulang tahun di sekolahnya. 

Terakhir kali kami mengadakan pesta ulang tahun Pagi secara meriah waktu dia berumur satu tahun, sebelum kami hijrah ke Melbourne. Setelah itu paling pesta kecil-kecilan entah dengan keluarga atau dengan teman-teman day care-nya di Melbourne. Sebenarnya ingin sih mengadakan pesta ulang tahun lagi untuknya, tapi waktunya tak pernah pas sampai akhirnya kemarin itu.

Sebenarnya waktunya juga enggak benar-benar pas, karena Pagi baru saja masuk SD. Jadi bingung mau mengundang yang mana. Setelah ngobrol dengan anaknya, kami sepakat mengundang teman-teman TK nya saja karena dia belum begitu kenal dengan teman-teman SD barunya.

Lalu penentuan tema. Saya mengajukan gimana kalau temanya main di kampuny, jadi semua hal-hal yang berbau kampung kita siapkan, mulai dari kuenya, dekorasinya, kostumnya sampai good bags nya.

Menyenangkan sih meski juga deg-degan karena kami mengerjakannya lumayan mepet semua. Mulai dari memesan tumpeng, kue jajanan pasar, snack jadul dan makanan besek. Belum lagi memesan janur untuk dekorasi dan goody bags yang isinya mainan jadul semua dari perahu otok-otok, kitiran sama gambaran. Seruuu…

Kami pun bikin semacam photo booth di dinding depan rumah buat para tamu berfoto. Pagi dan ayahnya pun bikin beberapa aksesoris untuk dipakai tamu yang ingin berpose.

Kostumnya pun gak kalah seru. Kami semua berpakaian ala-ala kampung, pake kain dan kebaya juga.

Sewaktu hari H, sebelum pesta dimulai, saya lumayan stress karena dekorasi belum selesai tapi keroncongan bapak saya yang di rumah saya juga belum selesai. Aiish lega rasanya begitu semua selesai dan tempat rapi begitu tamu sudah mulai berdatangan.

Acara lancar, hampir semua tamu datang, bahkan ada yang datang sampai jam 9 malam coba. Semua berkat bantuan saudara dan teman-teman tersayang. Rizka buat kado kue ulang tahunnya yang keceeh (bikin kursus baking deh Rizkaaa) dan juga pesanan kue basahnya yang top. Belum kesediaannya juga jadi MC dadakan bersama Nida yang perjuangannya melewati lembah dan mendaki gunung hingga bisa sampai ke kampung bulak. Aah..terimakasih kalian.

Lalu ada bibi ebi yang bawa hiasan pompom dari singapura sebagai sentuhan terakhir dekorasi ulang tahun.

Dan tentunya buat teman-teman Pagi dan juga Ayah dan kekanya yang menyempatkan datang dan berbagi kebahagiaan atas bertambah umurnya kesayangan kami Senyum Pagi.

Kekurangannya adalah kami tidak punya foto berempat yang okay karena mondar mandir kesana kemari. Tapi yah sudahlah, meski tanpa foto, semoga tetap jadi memori yang berkesan buat semuanya.

Sementara itu refleksi saya sebagai ibu dari Pagi: Pagi sudah besar, sudah mulai kritis dan suka bertanya banyak hal. Pribadi yang sangat menyenangkan bisa berteman dengan siapa saja dan ramah kepada siapapun. Walaupun terkadang masih malu-malu, tapi tidak pernah bertahan lama. Dalam hitungan menit, dia pasti segera berbaur dan menikmati sekelilingnya. I love youuuu, Pagii…maafkan Keka yang masih sering marah-marah ya nak. Ingat selalu, Keka selalu sayang padamu.

Jul
23

 

IMG_20170525_171231

Sejujurnya setelah resmi gagal berkunjung ke museum Ghibli, saya rada enggan ke Tokyo. Kebayang ramai dan riwehnya kota itu. Apalagi dengan bawaan dan dua anak-anak, pasti kebayang repotnya.

Tapi ya sudahlah. Pengin tahu juga rasanya tinggal di kota metropolis yang terkenal dengan penduduknya yang gila kerja. Apartemen yang kami sewa terletak lumayan di pusat kota, di daerah Nishi Nippori, sekitar 3 stop stasiun dari pusat. Kamar kami terletak di gedung yang ramping di pojok sebuah jalan. Dari jendela, kami bisa melihat lalu lalang kereta api.

IMG_20170525_181916

Hari-hari terakhir kami di Jepang kami nikmati di Tokyo. Panas dan padat itulah kesan yang saya dapat dari Tokyo. Tanah begitu berharga disini, sehingga kalau bisa taman bermain untuk anak-anak dibuat sekecil mungkin dan parkir di pinggir jalan pun dibuat 2 tingkat. Kami sekeluarga tidak begitu banyak berinteraksi dengan banyak orang lokal disini. Mereka sibuk dan jalannya cepat. Salah satu kesempatan berinteraksi dengan mereka adalah pergi ke restoran lokal. Di sana, kami melihat Jepang yang hidup dan ramai dengan para pelayan berteriak menyebutkan menu-menu yang kami tidak tahu artinya. Lucu juga sih rasanya menjadi satu-satunya orang asing yang ada di ruangan tersebut.

Sebelnya mengantri di restoran di Jepang, mereka mendahulukan orang yang datang sendirian karena lebih mudah mendapatkan satu kursi kosong ketimpang 4 kursi kosong. Sehingga banyak tuh satu meja makan diisi oleh beberapa orang asing yang tidak kenal sama sekali tapi nampaknya mereka tidak peduli. Yang penting makan…Saran saya jika sedang lapar, kalau ada satu kursi yang kosong langsung saja diambil, meski anda membawa rombongan.

Hari pertama

Mendung di Tokyo dan sedikit hujan. Aaah..padahal dari kemarin udara sudah mulai cerah. Tapi tak mengapa, ini adalah saat yang tepat untuk menggunakan payung transparan khas Jepang doong.

IMG_20170526_100157

Hari pertama kami pergi ke Miraikan Museum Tokyo. Seperti sudah saya sebutkan di post sebelumnya, kami memutuskan untuk tidak pergi ke Disneyland, Kittyland atau Museum Doraemon karena selain mahal, yang sepertinya bakal menikmati kunjungan itu tentu bapak ibunya. Anak saya yang besar belum kenal siapa itu Doraemon atau Harry Potter (idaman si Ibu kalau bisa pergi ke Disneyland Tokyo) Beda dengan museum Ghibli, sebagai anak penggemar Hayao Miyazaki, Senyum Pagi sudah hapal hampir semua karakter studio Ghibli.

IMG_20170526_163227

Tapi beneran deh, Miraikan ini keren banget selain murah yah (teteup). Jika pengin tahu perkembangan teknologi Jepang disini tempatnya. Tempatnya pun seru. Anak-anak pasti senang disana. Ada robot yang bisa diajak interaksi dan dipegang-pegang, banyak permainan-permainan interaktif juga.

Ada sesi tutorial juga sebenarnya, tapi sayangnya juga ada dalam bahasa Jepang. Meski Pagi dengan pedenya pun ikutan juga. Kami sangat menikmati kunjungan disana. Inilah untungnya punya suami yang geek. hehehehe.

Setelah dari Miraikan, kami ingin mampir ke Akihabara, pusat elektronik dengan lampu-lampu neon yang kece buat background foto. Iya tujuan kami kesana bukan mencari barang elektronik, tapi hanya mampir buat foto kok hehehe. Kami ke Akihabara untuk mencari toko buku bekas Book Off yang salah satu cabang terbesarnya ada disana. Seperti diduga saya langsung menggila, tapi koleksinya gak sebagus di Seta ternyata. Untungnya saya dapat dua novel Kazuo Ishiguro dengan harga super miring.

Hari kedua

Kami pergi ke Tokyo National Museum. Niatnya pengin belajar tentang sejarah Jepang dan pernak-pernik kebudayaannya. Dari patung, alat-alat perhiasan, alat masuk, senjata, baju sampai konde. Setelah itu kami pergi ke acara nonton virtual reality proses restorasi salah satu kastil disana. Aah ternyata salah duga, ternyata hanya semacam penjelasan. Jadinya ayahnya dan pagi sukses tertidur. Mungkin sebaiknya tanya dulu yah sebelum masuk.

Setelah itu kami lanjutkan jalan-jalan ke taman Ueno. Jadi disinilah tempat macam rupa museum, salah satunya Tokyo National Museum. Kelik merayu  untuk mampir ke National Museum of Western Art cuma untuk foto di depan gedungnya yang konon kabarnya dirancang oleh arsitektuk kenamaan Le Corbusier.  Tapi kami hanya benar-benar mejeng di depannya aja. Lagian kalau Western Art kayaknya mendingan ke Eropa aja sekaliaan ( amiiiin). Di depan tamannya, kami sempat bertemu si Pemikir (the thinker) karya Rodin.

IMG_20170527_131959

Setelah itu kami bingung mau kemana. Penginnya sih ke taman bermain. Tapi bingung yang mana. Tapi akhirnya kami pergi ke arah Roppongi, salah satu kawasan mewah di Jepang, mungkin seperti Menteng atau Pondok Indahnya. Di Roppongi ini katanya ada taman bermain yang disebut Robot Park. Kami memutuskan kesana karena tamannya gratis dan dari browsing-browsing mainanya lucu-lucu. Tapi setibanya disana, saya lumayan kecewa, karena tempatnya kecil sekali. Beda banget dengan yang Australia yang satu kawasan playground bisa lebih luas dari lapangan bola. Tapi yah sudah yaa..sudah jauh-jauh ke Roppongi. Yang menarik mungkin dandanan bapak ibunya yang mengantar yang dandy dan lengkap dengan make up mereka. Padahal cuma ngantar anak main yah…

IMG_20170527_164827

Hari ketiga

Sehari sebelum pulang kami memutuskan mampir ke flea market paling akbar di Tokyo, Tokyo flea market. Camberwell flea market di Melbourne yang saya sangat cintai pun tak ada bandingannya. Barangnya mulai dari yang remeh temeh sampai yang barang-barang merek mahal ada disana. Tas Prada, Gucci lengkap dengan box dan kantongnya dijual juga disana. Bagi penggemar flea market, Tokyo adalah surga dimana para pembeli bisa nawar juga.

IMG_20170528_110745

Tujuan berikutnya kami ingin menuju ke Shibuya Crossing karena jujur saya pengin ngerasain nyebrang di perempatan (atau perlimaan yah) tersibuk di dunia. Norak yah. Tapi sebelum kesana, kami mampir ke daerah Harajuku melihat orang dandan dengan kostum unik lalu lalang.  Kami lewat Takashita Street..yang yak ampuuun penuh, padat, sesak. Dan saya tidak pernah melihat manusia sebanyak itu.

Setelah itu kami mampir ke Meiji shrine di daerah dekat sana. Lumayan meredakan sih suasana di kuil tersebut. Jalan menuju kesana penuh dengan pohon-pohon. Kami beruntung karena sesampai disana kami bisa melihat satu pesta pernikahan meskipun hari sudah sore.

IMG_20170528_170132

Dari sana kami langsung menuju Shibuya dan akhirnya kesampaian juga nyebrang di Shibuya crossing. Yak ampun…ribet banget karena gak biasa jadi sempat panik karena takut lampu merah sudah berganti hijau. Norak bangeeeet tapi menyenangkan. Bahagia itu gak perlu mahal ternyata.

Malamnya kami menutup perjalanan dengan makan malam di restoran paling enak di Nishi Nippori. Aah bakal kangen ramen nya niih. Jepang merupakan satu-satunya tempat di luar negeri yang membuat saya tidak kangen masakan Indonesia.

Japan, we will be back!

 

 

Jul
21

Sewaktu suami menawarkan memasukkan Kawaguchiko ke daftar itinerari kami, saya sih cuek-cuek saja. Saya sudah cukup puas dengan Tokyo, Kyoto dan Osaka yang merupakan tujuan wajib buat orang yang baru pergi ke Jepang untuk pertama kalinya. Alasannya sih dia pengin melihat gunung Fuji lebih dekat dan Kawaguchiko adalah salah satu daerah yang pas untuk melihatnya. Well, saya tidak menolak toh 15 hari adalah waktu yang cukup panjang, jadi empat kota masih oke lah.

IMG_20170523_162231

Perjalanan dari Seta ke Kawaguchiko cukup jauh. Tapi pemandangan yang ada cukup memanjakan, mulai dari rumah-rumah khas Jepang, sawah-sawah lalu daerah industri berganti ke pemandangan yang didominasi warna hijau di sepanjang jalan sampai bertemu gunung Fuji legendaris. Kami berganti kereta beberapa kali. Dari yang bagus dan penuh ilustrasi sampai kereta tua yang mengingatkan saya pada KRL di Jakarta. Modelnya persis.

Sesampainya di stasiun, aura daerah turis begitu kuat. Begitu keluar, kami disambut oleh gunung Fuji yang megah yang seakan-akan selalu menggoda mengajak ingin berfoto setiap saat. Di luar stasiun, bus-bus pariwisata berseliweran menaikkan dan menurunkan penumpang. Kami memutuskan jalan kaki saja ke arah penginapan sekalian melihat-lihat pemandangan.

IMG_20170523_164746

IMG_20170524_113021

Penginapan kami cukup istimewa. Ini rumah asli Jepang. Rumahnya besar sekali dan sedikit menyeramkan karena kami hanya berempat sementara ruangannya berlapis-lapis khas orang Jepang. Kerennya kamar kami tepat berhadapan dengan gunung Fuji.

 

Esoknya kami jalan-jalan ke daerah kampung Jepang yang masih mempertahankan rumah aslinya. Kami dapat info disana juga ada tempat sewa kimono yang murah. Kalau di Kyoto, sewanya bisa mencapai 3000-5000 yen, nah disini hanya 1000 yen saja. Setelah ke kampung Jepang, kami pun pergi ke public onsen, yaitu tempat pemandian air hangat khas Jepang dimana para pengunjungnya harus telanjang. Katanya kalau ke Jepang, kudu harus wajib merasakan ini. Seru dan deg-deg sih, karena saya harus menggandeng dua anak, sementara ayahnya pergi sendiri. Ini dikarenakan pemandiannya memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Setelah berendam, kami pun makan malam. Yang disayangkan di daerah ini adalah makanannya kurang begitu enak. Selain itu jam bukanya juga aneh. Pokoknya mereka buka hanya jam makan siang dan malam, selain itu tutup.

Esoknya kami pulang. Tapi kami mampir kami ke taman bermain Fuji-Q Highland Park yang baru dibuka. Karena kami tidak ada agenda ke Disney, ya sudahlah bermain ke taman ini dan cukup memuaskan kok.

Jujur dari rangkaian perjalanan kami di Jepang, saya menikmati sekali trip ke Kawaguchiko yang semula saya anggap remeh. Alasannya di tempat tersebut saya merasakan semua hal yang khas Jepang: tidur di atas tatami, mencoba kimono, mandi onsen dan pergi ke theme park. Seruuuu pokoknya.

 

 

Jul
20

Kami menetap di rumah teman di Seta dari Selasa Sore sampai Selasa Pagi minggu depannya. Jadi Seta menjadi semacam tempat pemberhentian acara melancong kami. Dari Seta kami pergi ke Osaka, dari Seta kami pergi ke Himeji Castle yang kabarnya kastil paling megah di Jepang, dari Seta, kami juga jalan-jalan ke Kyoto.

Seta adalah kota kecil yang seru. Banyak perumahan modern khas Jepang. Kami tinggal di daerah pemukiman yang mirip dihuni Nobita dkk. Aah jalan-jalan ke Jepang itu membuat imaji masa kecil saya menjadi nyata. Kami sempat menghabiskan satu hari menyelusuri Seta. Kami naik sepeda ke taman terdekat, main di gorong-gorong air sampai berburu barang bekas dan sushi murah. Seruu deh pokoknya. Jadi liburan ke Jepang gak harus mahal-malah menurut saya, melihat dan mencecap kehidupan sehari-hari orang Jepang menurut saya adalah pengalaman berharga. Tentu semuanya ini tidak terlepas dari panduan mbak Shinta dan mas Bayu, tuan rumah kami yang selalu memberikan info seru buat acara jalan-jalan kami.

  1. Osaka Aquarium

Hari pertama, kami berkunjung ke Osaka Aquarium yang katanya salah satu yang terbesar di dunia. Kami kesana sebenarnya untuk Nyala yang gandrung sama ikan. Dia begitu semangat setiap kali melihat ikan. Yah dari pada menghabiskan tiket mahal di Disney Sea, Osaka Aquarium merupakan alternatif lainnya yang gak kalah kece. Koleksinya lumayan banyak lhoo. Di setiap ruangan, kita bisa menjumpai meja yang diatasnya disediakan stempel dan ca. Jadi setelah melihat-lihat setiap pengunjung bisa mendapatkan cap sesuai dengan tema ruangan. Misalnya ketika masuk ke koleksi hiu, stempelnya berupa hiu. Pencarian stempel bisa jadi permainan seru buat anak-anak. Dan belakangan saya tahu, hampir di setiap tempat wisata di Jepang, pasti disediakan  stempel dan cap yang seolah-olah berfungsi sebagai penanda  bahwa kita pernah kesana. Seru sekali yah…

IMG_20170517_141252_HDR

IMG_20170517_160133

 

Setelah puas bermain di akuarium, kami berencana mencari makan, eh tapi malah nyasar. Tapi pada akhirnya kami menemukan restoran ramen yang enak bangeeeet dan murah.

2. Osaka kids plaza

Hari kedua, kami menuju  Kids Plaza Osaka, semacam taman bermain. tapi uniknya ini berada di dalam gedung. Jadi satu gedung itu isinya taman bermain saja. Cakep dan megah. Saya baru tahu bahwa Jepang tidak seperti negara maju lainnya yang menyediakan taman bermain gratis buat penduduknya. Taman bermain yang bagus di Jepang berarti kita harus membayar. Salah satunya adalah Osaka Kids Plaza ini. Tapi menurut saya pribadi harga yang ditawarkan setimpal dengan kepuasan yang didapat anak-anak.

IMG_20170518_142227

IMG_20170518_162457

3. Hari berikutnya kami ke kastil Himeji. Letaknya lumayan jauh jadi kami harus kesana naik Shinkansen lagi.

IMG_20170519_114932_HDR

Sebenarnya bisa saja kami ke Kastil Osaka, tapi katanya Himeji lebih legendaris. Akhirnya kami pergi kesana. Sampai di stasiun Himeji, kami sudah disambut dengan banyak atribut yang dikhususkan untuk para wisatawan. Uniknya letak stasiunnya langsung berhadapan dengan kastil Himeji. Melihat trotoar lebar dan nyaman, kami pun memutuskan untuk berjalan kaki ke arah kastil. Waah, hari itu lumayan panas. Sebelum sampai di pintu masuk.

Kami pun memutuskan beristirahat, menghabiskan bekal sementara Nyala dan Pagi sibuk kejar-kejaran dengan burung-burung. Sampai di lokasinya, terjadi halaman kastil ini luas sekali saudara-saudara. Setelah puas potret sana, potret sini, kami menuju bangunan utama.

IMG_20170519_143848

Dan untuk menuju puncak, kami harus naik beberapa anak tangga. Saya yang harus menggendong Nyala cukup ngos-ngosan begitu sampai di atas. Sebenarnya di atas hanya ada kuil kecil tempat orang berdoa dan jendela-jendela yang dipakai pengunjung melihat kota dari ketinggian. Pulang dari sana, kami menemukan toko yang menjual kimono super murah. Aah kami pun kalap.

 

4. Esoknya, kami bersama keluarga mas Bayu dan mbak Shinta pergi ke Nara, kota tua yang banyak taman berisi kijang-kijang yang dilepas. Hari itu hari Sabtu dan kota Nara penuh sekaliii. Saya sendiri kurang bisa menikmatinya. Apalagi udara panas. Kami pergi ke beberapa kuil, tapi padatnya pengunjung membuat saya kurang bisa puas melihat-lihat. Kami pun memutuskan untuk langsung kembali ke Kyoto. Nah perjalanan dari Nara ke Kyoto nih yang seru. Kami menyasarkan diri ke gang-gang kecil penuh dengan toko-toko lucu. Sampai di Kyoto stasiun, kami langsung naik ke mall di atasnya untuk makan. Menuju kesana, kami melihat tangga dengan lampu warna-warni lampu yang bisa dimainkan. Seruuu…restorannya canggih banget, ngantri plus pesannya harus pake mesin.

IMG_20170520_131026_HDR

 

IMG_20170520_140309_HDR

IMG_20170520_184742_HDR

 

5. Hari minggu, kami memutuskan istirahat di rumah saja, menyusuri Seta dan sekitarnya. Kami naik sepeda ke taman terdekat. Jepang juga salah satu kota sepeda, jadi tidak ada salahnya merasakan naik sepeda.

IMG_20170521_103738

Setelah itu kami main air di selokan dekat rumah. Beda dengan di Indonesia, selokannnya bersih dan apik.

IMG_20170521_154707 (1)Sorenya, kami diajak makan sushi murah. Lagi-lagi restorannya serba canggih, kami pesan lewat sebuah mesin di setiap meja dan voila…tak berapa lama makanan pun tiba.

IMG_20170521_204950Setelah itu kami diajak toko second hand store di Seta. Yak ampuuun langsung kalap mendadak. Haduh haduh, koleksi banyak banget dan bagus-bagus. Aaah..ini bisa agenda tambahan nih selama di Jepang: berburu barang bekas. Ditelusuri ternyata keberadaan toko-toko ini didukung oleh kebiasaaan masyarakat Jepang yang selalu memberi yang terbaik buat orang lain. Sepatu-sepatu adidas stan smith aja ada yang masih lumayan kinclong..widiih.

6. Di hari terakhir kami di Kyoto, agenda kami adalah pergi ke tempat-tempat para turis. Agenda kami hari itu lumayan padat: Fushimi Inari, Gion Kyoto, semacam kota tuanya dan Nishiki Market. Dan karena lokasinya berdekatan, kami menyelesaikan semuanya lumayan cepat, padahal kami berangkat gak pagi-pagi amat. Akhirnya kami memutuskan mampir ke Arashiyama Bamboo Forest juga. Tips dari saya kalau mau datang ke tempat-tempat turis ini sebaiknya datang pagi sekali atau sore sekali karena akan lebih sepi dan kesempatan foto-foto jadi lebih banyak tanpa perlu ada photo bomb dimana-mana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jul
01

Narita

Rombongan odong-odong berangkat pagi hari dari Jakarta dan sampai sore di bandara Narita. Narita itu sekitar 1.5 jam dari Tokyo. Semua lancar, cuma Nyala saja yang menangis tanpa henti selama kurang lebih 30 menit (yes mommy is counting) ketika ingin mendarat. Ah untung penumpang yang lain pengertian.

Sesampainya disana, saya dan anak-anak menunggu Kelik melakukan banyak hal. Mengaktifkan sim card pake data yang dibeli di Indonesia (ketimbang menyewa pocket wifi, ini lebih recommended untuk dipakai. Meski banyak wifi, kami tetap menggunakan ini untuk memastikan semua perjalanan lancar meski mblusuk2 dan tidak nyasar mengingat repotnya bawa anak-anak), lalu menukar JR Pass (kami memutuskan membeli ini karena menurut kami ini moda transportasi yang nyaman dan murah untuk perjalanan kami kali ini) lalu menukar recehan dollar ke yen.

IMG_20170515_173749

Akhirnya sampai. Pagi dan Nyala pun senang, apalagi bapak ibunya 

Setelah semua selesai, kami pun menghubungi pak Osamu tuan rumah yang akan kami kunjungi. Dia janji akan menjemput kami. Kami memutuskan untuk menginap di Narita saja untuk beristirahat setelah seharian dalam pesawat.

IMG_20170515_185351

Rumah nyaman di Narita

IMG_20170516_095911

tempat tinggal kami semalam

Kelik memilih rumah pak Osamu karena cantik dan unik. Rumahnya terbuat dari balok kayu dan dia ternyata seorang arsitek. Tempat tinggalnya mengingatnya seperti daerah pinggiran Melbourne. Sepi dan rumahnya cantik-cantik. Yang saya perhatikan bangunan rumah di Jepang itu desainnya sangat presisi. Semuanya simetris dan rapi. Enak dilihat pokoknya.

Malam itu kami beristirahat. Makan malamnya kami order dari restoran terdekat yang rasanya lumayan tapi gak cukup nendang. Malam itu kami tidur nyenyak. Esoknya, kami sarapan super mewah di rumah dan pak Osamu sendiri yang menyiapkannya. Luar biasa. Setelah itu kami berjalan-jalan di sekitar taman sampai saatnya check out. Kami sempat mampir ke playground terdekat, tapi saya kaget karena tidak begitu terawat yah. Dan tidak senyaman, playground yang saya temui di Australia. Dan ternyata memang susah mencari playground yang okay di Jepang, kalaupun ada dan bagus, itu harus bayar.

IMG_20170516_085939

IMG_20170516_092908

IMG_20170516_092345

IMG_20170516_093351

 

Setelah puas, kami pun kembali ke rumah dan siap melanjutkan perjalanan berikutnya.

Kyoto

Pertama kali kami menggunakan JR Pass. Cukup membingungkan. Setelah tanya sana sini akhirnya kami tahu untuk shinkansen, kami tetap harus antri untuk mendapatkan tiket, meskipun tidak harus bayar. Sedangkan untuk kereta metro, kami hanya perlu menunjukkan JR Pass kami ke petugas yang jaga.

IMG_20170516_102848.jpg

Bingung di stasiun kereta 

Untuk perjalanan pertama kami, saya membeli bento yang bisa kami makan dalam kereta karena perjalanan lumayan lama sekitar 4 jam untuk sampai Kyoto. Bentuknya cantik dan rasanya lumayan okay.

Naik kereta api cepat, saya sih merasa biasa saja. Namun Kelik bilang rasanya beda merujuk pada pemandangan dari jendela yang bergerak lebih cepat.  Saya sih mengangguk-angguk saja. Habis didalamnya, saya merasa enggak ada yang beda yah.

IMG_20170516_122609_HDR

IMG_20170516_131517_HDR

JR Pass kami hanya dua, karena Pagi masih gratis. Tapi jadinya empet-empetan juga yah karena Pagi sudah besar. Jadi kami berusaha mencari kursi yang tidak ditempati sehingga bisa tetap leluasa. Kondekturnya bilang kami boleh bebas duduk tapi jika ada pemilik kursi datang, kami harus pindah. Ya okay lah demi penghematan.

IMG_20170516_152456_HDR

Sesampainya di Kyoto kami harus melanjutkan kereta lagi ke Seta, tujuan akhir kami. Jaraknya lima stasiun dari Kyoto. Seta adalah kota tempat teman kuliah Kelik, mbak Sinta dan keluarganya tinggal. Sebenarnya cara paling hemat jalan-jalan yah numpang rumah teman, tentunya jika temannya tidak berkeberatan. Mbak Sinta dan suaminya, mas Bayu baik hati mau menjadi tuan rumah kami selama 8 hari. Rencananya selama tinggal disana, kami akan jalan-jalan ke Kyoto dan Osaka. Ini kenapa JR Pass adalah pilihan paling murah bagi kami karena paling efektif digunakan bagi mereka yang travelling antar kota setiap hari.

Tapi sebagai tamu yang baik, kami pun membawakan segala macam oleh-oleh buat mbak Sinta dan keluarga. Mulai dari Gudeg, rendang dan banyak lainnya. Kami tahu rasanya tinggal lama di luar negeri dan rasa kangen dengan masakan dalam negeri karena pernah juga mengalaminya. Jadi senang banget jika ada teman yang menginap membawakan oleh-oleh segala rupa yang tidak bisa didapati di perantauan. Untungnya imigrasi Jepang tidak begitu ribet, kami bisa langsung melenggang dengan bawaan kami keluar airport. Upeti semacam ini menurut saya sih penting, meski mereka tidak meminta tapi kita sebagai tamu yang merepotkan sebaiknya tahu diri lah 🙂

IMG_20170516_171543_HDR

Untuk postingan berikutnya, saya akan menceritakan tempat-tempat yang kami kunjungi di Osaka dan Kyoto.

 

 

 

Jun
26

Sudah cukup lama, saya dan suami ingin pergi liburan ke Jepang. Apalagi suami saya yang memang ngebet ke negara asal Hayao Miyazaki, sutradara favoritnya. Jadi begitu dapat tiket murah tahun lalu dari Japan Airlines, langsunglah diambil. Saya sih tidak seantusias dia. Biasa saja. Jadi untuk urusan jadwal dan kemana saja, saya sih manut pak suami saja. Pesan saya hanya satu: saya ingin benar-benar merasakan kehidupan dan budaya orang Jepang. Kalau bisa mencoba kebiasaan-kebiasaan ala orang Jepang. Niatnya sih pengin belajar budaya baru dalam waktu dua minggu.. Bisa gak yah?

Karena cukup hectic dengan kerjaan, suami saya dan saya benar-benar memastikan semua hal yang berkaitan dengan kepergian kami ke Jepang satu minggu sebelumnya. Mulai dari tiket perjalanan, visa, tempat menginap dan tukar duit Yen. Tiket penerbangan sudah kami kantungi dari setahun yang lalu. Lagi-lagi karena membawa anak kecil, selain harga murah, kami juga memikirkan kenyamanan.. Dan Japan Airlines kebetulan memberikan kedua hal itu. Maskapai penerbangan ini didaulat sebagai salah satu yang terbaik jika saya baca-baca review di Internet.

Untuk itinerari, saya rasa apa yang suami saya susun cukup unik dan juga asik. Jadwal yang dia susun cukup mengakomodasi keinginan saya. Saya pribadi merasa bahwa setiap orang seharusnya menyusun itinerarinya sendiri. Jangan nyontek, karena setiap orang punya kebutuhan dan kesukaan yang berbeda satu sama lain. Jadi sebelum menyusun itinerarinya, tentukan dulu apa yang dicari. Jika sudah, tinggal minta mbak Google membantu. Mungkin untuk tips mencari yang murah-murah boleh lah bisa saling mengintip. Serial postingan ini dan yang akan datang berniat memberikan informasi bagaimana mendapatkan liburan yang berkesan di Jepang tanpa perlu keluar duit banyak.

Selain pergi ke tempat-tempat wisata, saya pribadi ingin merasakan kehidupan di desa dan kota Jepang. Saya ingin mencoba mandi Onsen di tempat pemandian umum. Saya ingin mencoba kimono. Saya juga ingin tahu banyak tentang perkembangan teknologi Jepang yang canggih.

IMG_20170527_025844

Akhirnya kesampaian juga foto sekeluarga dengan kimono dengan harga murah. 

 

Sebagai gantinya kami pergi ke museum nasional (Tokyo National Museum) dan belajar banyak tentang Jepang disana. Salah satunya saya baru tahu ternyata inspirasi Star Wars itu datang dari Jepang. Suami saya dengan kecewa hanya bilang,” kemana aja sih kamu?” Hahaha, iya saya baru ngeh setelah melihat langsung patung samurai dengan topeng hitam terpampang di salah satu sudut museum persis seperti Darth Vader. Saya juga melihat replika-replika pedang samurai yang modelnya ditiru light saber. Yak ampun, kemana saja saya hahaha.

Museum yang tidak bisa dilewatkan adalah Miraikan (The National Museum of Emerging Science and Innovation) yang selain murah juga Jepang banget. Anak-anak pasti sukaaa. Di sana kami bertemu dengan Asimo, robot canggih yang bisa bergerak, berlari dan berbicara. Tidak hanya itu, Asimo ini bisa menyanyi dan main bola. Selain Asimo, pengunjung bisa berinteraksi dengan kecanggihan teknologi Jepang lainnya. Yang paling okay tentu berinteraksi dengan robot yang mirip dengan manusia. Planetarium di tempat ini juga yang paling canggih dan paling yahud yang pernah kami kunjungi selama ini, lebih bagus dari yang di Australia setidaknya.

 

Namun untuk masalah destinasi, kami menurut rekomendasi orang yang menyarankan sebagai firsttimer di Jepang, tiga kota yang harus kami kunjungi adalah Tokyo, Osaka dan Kyoto. Suami pun menambah satu destinasi yaitu Kawaguchiko, kota yang dekat dengan gunung Fuji. Entah kenapa dia pengin lihat gunung Fuji lebih dekat. Ya sudahlah manut, toh juga letaknya di desa, Jadi bisalah melihat kehidupan disana seperti apa.

IMG_20170517_095828

Foto wajib dengan manhole di Jepang yang terkenal unik. Ini foto dengan salah satu manhole di Osaka.

Sayangnya selama 15 hari perjalanan kami di Jepang kali ini, niatan untuk berkunjung ke studio Ghibli belum kesampaian. Waktu disana, studionya lagi direnovasi. Aah, bisa jadi alasan buat kembali ke Jepang lagi dong 🙂

 

 

 

 

May
14

Menulis adalah bekerja untuk keabadian, kata pak Pramoedya. Kalimat itu menjadi salah satu penyemangat saya di masa awal saya menjadi wartawan. Menghadapi garis kematian setiap hari dengan topik yang loncat dari sana ke sini dan itu-itu saja sedangkan harus mengikuti kemana pun narasumber pergi jujur saja membuat badan dan jiwa ini super capek. Selain kalimat pak Pramoedya, harapan bahwa pekerjaan ini bermanfaat buat orang lain adalah hal-hal yang tetap membuat saya semangat, terlepas itu benar atau tidak yah.

Pelarian saya ditengah-tengah ritual menulis untuk koran adalah blog ini. Ini adalah ruang bermain dan tempat sampah saya untuk mengomentari segala sesuatu. Mulai dari patah hati, kejengkelan dengan pemerintah sampai cerita-cerita gak penting lainnya. Hitung-hitung latihan untuk jadi seorang kolumnis yang merupakan salah satu cita-cita saya ketika jadi wartawan. Iyah jujur, saya terinspirasi mbak Carrie Bradshaw, salah satu tokoh di Sex and the City. Melihat hidupnya kok sepertinya enak sekali, jalan-jalan, ngobrol sama teman-temannya, lalu menulis apa saja yang dia diinginkan dan dibayar untuk itu. Siapa yang gak pengin.

Oleh karena itu, saya senang sekali ketika salah satu editor menawari saya untuk menulis di kolom parenting JPlus (majalah The Jakarta Post) yang terbit sebulan sekali di tahun 2016. Ide tulisan bebas terserah saya, tapi saya sering berdiskusi dulu dengan editor sebelum akhirnya mengeksekusi tulisannya. Wow, setiap edisi saya pasti menulisnya dengan sepenuh hati dan sebelum mengirimkan ke editor, saya pasti meminta Kelik untuk membacanya terlebih dahulu untuk mengomentarinya, meskipun hampir dipastikan dia selalu memuji tulisan saya…hehehe.

Tapi sayang karena penerbitan JPlus dihentikan, hilang deh kolom saya satu-satunya. Sebagai seorang penulis, saya merasa ruang bermain saya hilang. Duh…untungnya ada tempat-tempat lain yang lebih menantang. Yang pertama adalah kolom By The Way, sebuah kolom prestigius The Jakarta Post yang terbit di setiap Sabtu. Sewaktu saya masih wartawan culun, saya adalah penikmat By The Way setia. Semua tulisan menarik dari yang lucu, seru, berat jadi satu. Senang sekali waktu akhirnya pertama kali bisa nulis di By The Way. Saya menulis tentang curhat saya setelah mengetahui bahwa kakek saya adalah salah satu korban peristiwa 1965. Setelah tulisan itu muncul, orang-orang kantor banyak yang mengomentari ketika mereka bertemu saya. Ada yang memuji, ada yang menyatakan keprihatinan, ada yang hanya sekadar mengklarifisi kebenaran. Entah apa pun reaksinya, saya senang mengetahui, tulisan saya dibaca orang, meski hanya orang satu kantor.

Tulisan saya kedua di By The Way cukup jauh jaraknya. Disamping sibuk, saya juga sebenarnya menyiapkan topik yang tidak gampang, saya mau membahas kematian. Aargh, saya sempat berdialog dengan teman-teman terdekat sebelum akhirnya menyelesaikan tulisannya. Dan begitu lega perasaan ini ketika tulisan itu muncul.

Di tulisan saya yang ketiga, saya berbagi cerita tentang keputusan saya untuk berhenti dari Facebook. Lucunya, ketika saya menghampiri meja sekretaris redaksi keesokan seninnya, dia langung bilang bahwa dia memutuskan menghapus Facebook dari HPnya setelah membaca tulisan saya. Hahaha…saya hanya bisa tertawa.

IMG_20170512_094610

Lalu selain By The Way, ada satu lagi tempat bermain yang lebih menantang jika ingin jadi kolumnis. Namanya commentary dan view point. Itu sudah kelas berat dan biasanya ditaruh di halaman headlines. Dahulu yang mengisinya hanya editor-editor kelas kakap di The Jakarta Post. Namun karena alasan regenerasi, mereka pun mengundang editor-editor baru yang culun semacam saya untuk mengisi kolom ini. Tulisan perdana saya waktu itu masih kurang analitik dan rada baper mengomentari Jokowi yang membuat saya patah hati karena gagal memenuhi janjinya untuk menyelesaikan kasus-kasus HAM. Ternyata banyak yang suka, bahkan saya pernah diberi info kalau Martin Aleida bahkan memujinya. Aaah jadi super GR saya.

Setelah itu saya berusaha mengikuti format commentary yang sebenarnya untuk tulisan-tulisan commentary berikutnya. Saya berkomentar tentang jalannya persidangan Jessica lalu setelah itu saya berkomentar tentang hoaks. Saya kurang tahu gimana sebenarnya pendapat pembaca karena sekarang The Jakarta Post sudah memasang pay wall untuk beberapa konten premium. Tapi yang jelas, mas Endy, pemimpin redaksi menyukainya dan selalu memuji.

Lalu kemarin tiba-tiba, editor opini meminta saya menulis suatu topik. Wow, ini baru pertama kalinya saya dapat pesanan seperti ini. Setelah beberapa minggu menggodoknya, akhirnya saya menyelesaikan jumat lalu dan akan terbit senin ini. Fiuh, saya masih kurang puas dengan apa yang saya tulis sih, tapi saya harus menyerahkannya karena sudah terlalu lama. Mungkin ini akibatnya kalau idenya gak dapat dari hati sendiri.

Lalu kemudian kesempatan menulis di Kompas datang. Saya ingat pertama kali saya menulis untuk Kompas adalah untuk sebuah kolom anak muda. Saya menulis tentang tren animasi Indonesia dan saya mewawancarai calon suami saya sendiri waktu itu hehehehe. Saya pun menawarkan diri untuk menghidupkan kolom parenting saya yang tewas dan teman saya yang menawarinya pun setuju. Jadilah kolom saya tentang pengalaman nonton Coldplay di Singapura kemarin itu.  Senangnya bisa menulis dengan bahasa ibu dan mengetahui kemungkinan akan dibaca oleh banyak orang. Saya belum menulis lagi di kompas karena saya berjanji saya harus memenuhi kewajiban saya dulu di kantor sebelum menulis untuk media lain.

IMG_20170514_204213

Lewat ruang-ruang bermain ini saya mencoba menikmati sepenuhnya pekerjaan saya ini. Meski pusingnya melebihi deadline yang bertubi-tubi, tapi kenikmatan begitu melihat tulisan saya diterbitkan tak terkira menyadari bahwa buah pikir saya akan dibaca banyak orang. Aah, ini rasanya mencicipi keabadian?

Apr
25

Seingat saya, terakhir saya sakit adalah ketika saya ulang tahun akhir Desember lalu. Itu gara-gara kekonyolan ngotot datang rapat pagi, akhirnya nekat menembus hujan naik gojek. Badan basah sekujur basah, saya pun akhirnya harus melanggar kaul untuk tidak beli baju tahun itu karena saya tidak bawa ganti. Sepulangnya, saya langsung demam dan flu…Fiuh ulang tahun yang tidak menyenangkan.

Hampir empat bulan sehat bugar. Saya jatuh sakit lagi kemarin. Awalnya dari batuk-batuk. Saya bawa pergi liburan ke Singapura tidak kunjung sembuh juga. Mungkin kecapekan. Sepulangnya dari cuti, bukannya malah membaik, kondisi jadi tambah parah. Pakai demam pula, akhirnya harus pergi ke dokter dan meminum antibiotik. Saya sadar penyakit yang saya derita kali ini juga dipengaruhi beban pikiran. Setelah setahunan berpikir, saya akhirnya mengambil keputusan yang akan mengubah karir saya. Sebelumnya saya sempat gelisah bertanya apakah ini keputusan yang terbaik. Setelah saya manyakinkan diri, saya pun bisa tidur lebih tenang di malam hari dan batuk pun hilang dengan sendirinya. Saya pun mendapatkan solusi buat kebingungan saya. Aaah, Tuhan memang punya cara yang ajaib untuk mengejutkan saya.

Tetapi yang paling sedih dari sakit ini adalah saya menularkan virus/bakteri ini kedua anak-anak saya. Mereka juga batuk-batuk dan demam. Patah hati saya. Saya memang kurang berhati-hati. Tidak memakai masker waktu bersama-sama mereka. Mereka pun harus pergi ke dokter. Sakitnya pun cukup lama. Karena setelah sempat reda demamnya, mereka demam lagi. Bikin deg-degan. Untung dokternya bilang penyakitnya bukan sesuatu yang serius, hanya infeksi virus dan mungkin bakteri, karenanya mereka harus minum antibiotik juga. Hati tetap sedih. Tapi mau gimana lagi, ini semua gara-gara keteledoran saya.

Untung semuanya sudah membaik. Tinggal pengasuh Nyala yang masih batuk-batuk. Aah, luar biasa sekali memang bakteri dan virus yang menyerang kali ini.

Satu hal yang saya ambil dari semua wabah di bulan April ini, tidak ada yang lebih penting dari kesehatan dan keluarga. Dan selain hidup sehat dan makan sehat, pikiran yang sehat pun penting juga. Semoga jangan sakit lagi.