psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Jun
07

IMG_20190210_083546

Hanya perlu waktu kurang lebih 3 jam dari Luksemburg ke Brussel. Bus Flixbus yang saya tumpangi pun tepat waktu. Dari stasiun Gare du Nord, saya langsung berjalan ke penginapan saya. Tekad saya, saya ingin tidur nyenyak setelah semalaman tidur di bus.

Saya menginap di sebuah hostel yang jaraknya tengah-tengah antara pusat kota dan Gare du Nord dan semuanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

IMG_20190210_081241

Setelah bebenah diri dan mandi, saya pun langsung ngelayap. Browsing sana sini, nemu sebuah restoran yang rekomendasinya okay dan sudah ada sejak tahun 1893. Lokasinya pun tak jauh dari hostel saya menginap. Namanya Chez Leon. Yay!

Sampai di sana, ternyata harus mengantri. Tapi karena saya sendiri, jadi tidak menunggu terlalu lama. Tidak berapa lama kemudian datanglah pelayan saya pun segera menanyakan menu paling favorit dan segera memesannya. Untuk minumnya, saya tentu memesan bir khas restoran tersebut. Bir Belgia katanya enak-enak. Begitu saya menyeruputnya, beneran iiih..kayaknya itu adalah bir terenak yang pernah saya rasakan.  Menu yang saya pesan adalah Beurre a l’ail gratinees yang artinya adalah kerang dalam mentega, bawang putih dan rempah-rempah. Rasanya masyaaaa ampuun. Saya habis satu loyang penuh. Sepulang dari saya, saya tidur dengan pulas.

IMG_20190209_181942

Besoknya saya habiskan berjalan-jalan mengitari pusat kota Brussel. Sayangnya hujan pagi itu jadi saya tidak beruntung mendapatkan langit biru.Titik-titik yang saya kunjungi termasuk Grand Palace lalu Manneken Pis dan tokonya Tintin tentunya untuk berburu koleksi buku saya yang kurang lengkap. Saya cukup lama menunggu hujan reda di area Grand Palace. Itu sebuah daerah yang dikeliling bangunan cantik, megah dan menurut saya rada sureal yah dengan ornamen keemasan dan desain kunonya. Beda sekali dengan pemandangan yang saya temui di daerah stasiun yang kumuh dan banyak sekali orang yang tampaknya menggelandang di sana. Beberapa minggu setelahnya, kelas saya di Belanda mendatangkan pembicara dari Brussel yang bercerita bahwa meski kaya, tingkat kesenjangan antara kaya dan miskin begitu tinggi di sana. Belum lagi dengan datangnya para pengungsi dari wilayah konflik. Kota yang tampak indah tidak selalu indah ternyata.

IMG_20190210_094747

Setelah saya puas di pusat kota, saya pun langsung naik kereta membelah Brussel untuk melihat landmark kota Brussel Atomium. Selama perjalanan dua hari ini, saya baru sadar, dua negara ini berbahasa Prancis yang kemudian membuka memori saya tentang beberapa kosakata yang pernah saya pelajari dulu. Ketika saya menimpali seorang perempuan dengan Oui, dan kemudian di balas dengan serentetan kata-kata yang saya tidak pahami, saya hanya bisa tersenyum manis sekali. Hahahaha

Lagi-lagi di kompleks Atomium, saya kembali disuguhi pemandangan surealis dengan monumen berupa atom yang segede gaban. Saya hanya bisa memandangnya dari jauh karena saya ragu untuk naik sebab merasa tidak ada yang menarik dilihat dari atas karena sewaktu saya turun dari kereta, saya harus berjalan melewati jalan raya yang tidak memiliki pemandangan yang menarik.

IMG_20190210_122714

Setelah dari sana, saya pun segera balik ke Gare du Nord untuk mengejar bisa saya ke Amsterdam. Senang sekali bisa menyelesaikan solo trip saya kali ini. Tidak sabar kembali ke kamar hotel saya di Bussum, Belanda.

IMG_20190210_131844

 

Advertisements
Jun
06

IMG_20190209_084229

Setiap mendapat fellowship ke  benua Eropa, saya berusaha menyempatkan diri jalan-jalan ke negara lain dengan visa schengen yang sudah di tangan. Sayang banget kan kalau tidak dimanfaatkan.

Untuk kali ini, saya menyempatkan diri ke dua negara lain: Belgia dan Luksemburg. Lagi-lagi saya harus solo travelling karena destinasi pilihan saya kurang populer untuk teman-teman lain yang lebih memilih Paris tentunya.

Saya pun membeli tiket beberapa hari sebelum berangkat. Kebiasaan buruk yang harus saya hilangkan. Saya memutuskan pergi ke dua negara sekaligus karena saya tidak punya pilihan karena acara debat pilpres tidak memungkinkan saya untuk kelayapan ke mana-mana. Dan lagi-lagi kali ini, andalan saya adalah Flixbus yang lumayan okay service-nya dengan harganya yang sangat murah.

Setelah browsing sana-sini, saya pilih waktu yang okay dan jam yang dirasa sesuai, saya akhirnya memutuskan berangkat jam 9 malam dari Amsterdam dan tiba di Luksemburg jam 3 pagi. Ketika saya ceritakan ini pada teman saya Bidu, dia sempat khawatir dan meminta saya mengurungkan niat saya. Mmmm…saya pun jadi ragu, setelah saya double cek lagi, sepertinya tidak apa-apa yah. Saya akan berhenti di statiun pusatnya, yang saya harap pasti ada bangunan dan kursinya untuk menunggu hingga waktu agak pagi. Saya pernah merasakan pengalaman yang lebih buruk, di mana saya harus transit di sebuah kuta di negara Ceko dalam perjalanan  saya dengan Flixbus dari Slovakia ke Polandia dini hari. Waktu itu, stasiunnya di tutup dan saya harus jalan-jalan keliling kota (yang ternyata kota terbesar kedua setelah Praha di Ceko) yang ternyata seru juga.

Anyway, akhirnya saya berangkat jam 9 malam. Bis agak telat, tapi entah kenapa tiba tepat waktu di Luksemburg. Aah senang sekali stasiun memang dibuka dan ada bangku di sana-sini untuk menunggu. Apalagi saat itu hujan besar sekali turun. Tidak ada toko yang buka. Ada beberapa polisi yang berjaga. Amanlah.

Cuma ada suatu kejadian yang bikin deg-degan, ketika ada seorang pria yang menawari saya pergi ke restoran dekat sana. Iih saya pun langsung menolak dengan halus dengan alasan hujan masih deras. Lagian mana ada restoran buka jam segini. Memang sebagai pelancong perempuan yang bepergian sendirian, hal minimal yang bisa kita lakukan adalah menggunakan insting kita dan selalu mawas diri.

Tidak lama kemudian, saya menemukan orang yang seingat saya duduk di sebelah saya. Saya tidur sepanjang perjalanan jadi gak tidak terlalu ngeh. Setelah saya tanya, ternyata memang benar. Namanya Brhane, dia adalah seorang pengungsi dari Eritrea. Dia sudah bertahun-tahun bekerja di Belanda dan saat ini sedang mengunjungi temannya di sana. Pembicaraan kami tidak begitu lancar, karena bahasa Inggrisnya masih terbatas. Untung ada google translate saudara-saudara. Lumayanlah ngobrol dengan Brhane sambil menunggu matahari muncul.

Lewat jam 6, teman Brhane datang menjemput. Saya pun menunggu sendirian lagi sambil mikir apakah sebaiknya mulai jalan atau tidak. Kenapa matahari gak muncul-muncul yah. Aah winter yah…

Setelah saya pikir rada ramai mulailah saya menuju ke pusat kota yang jaraknya cuma 1.5 km dari stasiun. Saya berjalan pelan-pelan membelah kota Luksemburg yang dingin.

IMG_20190209_111117

Saya browsing-browsing memang tidak begitu banyak yang bisa dilihat di kota ini. Dan kota ini memang terkenal mahalnya. Saya hanya ke beberapa titik yang memang direkomendasikan oleh internet tentunya.

Tapi yang paling memukau adalah pemandangan deretan rumah-rumah cantik dari bukit dengan gereja bisa saya temukan di sini. Ini adalah pemandangan yang selalu saya cari. Saya pernah mendapatkannya ketika road trip dengan bis di beberapa fellowship saya sebelumnya, cuma karena naik bus, jadi tidak bisa maksimal. Senangnya saya bisa menemukan pemandangan ini di daerah yang disebut dengan Grund di Luksemburg.

IMG_20190209_084741

Saya pun menemukan Saturday market di sana. Lumayan menghibur hati ketika banyak toko-toko yang tutup. Tongkrongan favorit saya dalam perjalanan ini adalah Exki, semacam restoran McD versi sehat yah. Saya di sana bisa lumayan lama sambil menikmati wifi tentunya dan menyeruput coklat hangat.

Jam-jam terakhir di Luxemburg saya muter-muter ke daerah yang sama. Ternyata memang tidak terlalu besar. Ingin sekali ke sebuah museum seni tapi meskipun gedungnya terlihat di sebelah bukit, waktu tidak memungkinkan. Saya pun berjalan kembali menuju stasiun untuk naik bus ke Brussel.

IMG_20190209_125100

 

 

 

 

May
24

IMG_20190216_110719

Akhirnya ke Belanda lagi.

Pertama kali saya ke Belanda tahun 2010. Ketika itu saya hanya berkunjung ke Amsterdam selama akhir pekan waktu saya mendapatkan fellowship di Jerman.

Senang sekali saya mendapat kesempatan sekali lagi untuk berkunjung ke Belanda untuk waktu yang lebih lama, yaitu 3 minggu. Gratis pula, Kali ini saya mendapatkan fellowship dari Radio Netherland Training Centre. Lokasinya ada di Hilversum sekitar 20 menit naik kereta dari Amsterdam. Hilversum ini terkenal sebagai kota media di Belanda.

Saya datang saat Eropa sedang dingin-dinginnya, yaitu bulan Februari. Tapi pengalaman mengikuti beberapa fellowship membuat saya lebih mempersiapkan diri tentang apa saja yang harus dibawa.

Saya bertemu 14 orang teman baru dari 10 negara yang berbeda kali ini. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda-beda. Tidak semuanya wartawan. Tapi saya merasa selama training ini, kami semua ditarik keluar dari zona nyaman kami untuk belajar hal-hal baru yang terkadang berlawanan dengan apa yang kami yakini. Setidaknya itu yang saya rasakan. Awalnya ada rasa resistensi dari diri ini, tapi lama kelamaan saya melihat hal-hal baru menarik yang bermanfaat dalam pekerjaan saya.

IMG-20190214-WA0031

Selama tiga minggu di kelas, kami di suruh membuat sebuah kampanye untuk melawan radikalisme. Awalnya begitu sulit bagi saya, tapi saya belajar begitu banyak dari proses yang ada. Sebagai syarat kelulusan kami semua diminta membuat video sebagai salah satu alat kampanye. Menantang sekali karena terakhir kali saya bikin video yah zaman kuliah di Melbourne. Tapi bukan sembarang bikin video karena kami dituntut untuk menciptakan pesan yang pas untuk target kami. Itu membutuhkan strategi komunikasi yang tepat dan persuasif. Sangat sulit bagi saya yang biasa bekerja dan data-data dan fakta-fakta saja.

IMG-20190221-WA0003

Tapi senang rasanya bisa mempraktikkan semua teori yang diberikan dan membuat video beserta aktor asli. Hahaha berasa kursus singkat jadi sutradara saya. Saya pun girang begitu semuanya menyukai video yang saya buat, termasuk para mentor. Mereka bilang: I nailed it! Yay!

 

Itu mungkin cerita singkat saya dari kursus tiga minggu.

Selebihnya tentu cerita jalan-jalan , bertemu dengan teman lama kami Roxan dan Yuri yang sekarang sudah punya dua anak. Saya pertama kali bertemu mereka tahun 2009 waktu bulan madu saya dan Keliek ke Bali dan Lombok.  Senang rasanya bisa balik mengunjungi mereka di kota mereka yang saya suka sekali, Hertogenbosch.

IMG-20190203-WA0011

Bercengkrama dengan teman-teman baru dengan kepribadian yang berbeda-beda. Menyenangkan tapi ternyata juga menantang juga yah buat orang seumuran saya. Kebanyakan dari mereka masih muda. Anehnya, saya dikira seumuran dengan mereka. Padahal, dalam benak saya selalu mikirin anak di rumah hehehe.

Kebanyakan mereka ingin sekali berkunjung ke Indonesia, eh Bali. Ada Bidu dari Romania, Katia dari Georgia dan Liana dari Armenia. Saya pun hanya bisa mengatakan bahwa saya pun ingin sekali mengunjungi negara mereka suatu hari.

Selain belajar di kelas, bertemu dan menghabiskan waktu dengan teman baik lama maupun baru. Saya sempatkan diri berziarah ke museum Van Gogh, yang pertama kali saya kunjungi tahun 2010. Dan girangnya saya, dalam perjalanan ke sana, saya bertemu dengan Banksy, yang saya gagal temui waktu ke Jerman tahun lalu.

Selain itu, saya juga berkunjung ke Utrecht kemudian menyusuri hutan di sekitar Hilversum dengan daerah hutannya yang juga mempesona.

IMG-20190217-WA0015

IMG_20190215_175721

 

 

 

Apr
28

IMG_20181231_113351

Awalnya, kami sempat berpikir untuk menambahkan Thailand dalam wisata Asia kami kali ini. Tapi setelah menghitung biaya dan tenaga, akhirnya kami sepakat untuk melewatinya. Sebenarnya yang ngebet pengin ke Thailand yah Keliek karena dia belum pernah ke sana dan ada temannya yang tinggal di sana.

Makanya cukup girang hati kami, ternyata tiket yang kami beli dari Hanoi ke Jakarta sempat transit di Thailand. Tadinya kami pikir bakal singgah di Kuala Lumpur seperti ketika kami berangkat. Ternyata tidak. Kami dijadwalkan transit di Don Mueang, Bangkok selama 6 jam sebelum penerbangan kami ke Jakarta. Langsung saja, Keliek mengontak temannya, mas Sigit, untuk janjian ketemuan

Setibanya di Don Mueang, kami langsung diajak makan ke restoran Beer Hima. Kata mas Sigit, restoran ini dapat Michelin Star. Dan yak ampun, semua makanan dipesan ternyata hingga perut kami super penuh. Setelah itu kami diajak jalan-jalan ke semacam pasar modern yang ada taman dan danaunya karena takutnya tidak cukup waktu untuk mengejar pesawat. Kami diajak ke kuil demi dapat foto khas Thailand. Kuilnya itu pun tepat dipinggir sungai.

WhatsApp Image 2019-04-28 at 11.09.24 PM

IMG_20181231_141015

IMG_20181231_135117IMG_20181231_151415

WhatsApp Image 2019-04-28 at 11.11.51 PM

WhatsApp Image 2019-04-28 at 11.11.55 PM

Meski singkat, persinggahan di Thailand ini cukup menawan. Sepertinya seru juga kalau wisata Asia berikutnya dimulai dari sana.

IMG_20181231_152842

 

Apr
26

IMG_20181227_141553-01

Ha Long Bay memang sudah jadi inceran kami begitu memutuskan ke Hanoi. Awalnya siih berencana ingin main bermalam di sana sambil melihat-lihat pantai yang lain. Tapi rencana tinggal rencana, ya saudara-saudara.

Salahnya saya dan Keliek adalah kami tidak benar-benar riset sebelum berangkat tentang acara jalan-jalan ke Ha Long Bay. Gimana bisa riset, lha wong urusan penginapan di Hanoi baru dibooking pas di Kamboja. Ini jangan ditiru yah saudara-saudara.

Awalnya sih kami cari-cari penginapan di daerah Ha Long Bay. Ada sih beberapa yang sudah jadi inceran. Tapi kemudian ketika kami cari tahu bagaimana kami bisa ke sana, kok kayaknya mentok yah: semuanya merekomendasikan ke satu agen travel yang namanya Sinh Tourist. Konspirasi macam apa ini?

Tiga teman saya orang Vietnam aslih yang tidak mengenal satu sama lain merekomendasikan nama itu. Ada sih satu teman yang merekomendasikan untuk naik boat cruise yang tarifnya busyeeet dah.

Untuk memesan paket tournya, teman saya, Ngoc, pun merekomendasikan untuk datang ke kantornya langsung karena begitu cari namanya di google…semuanya mengaku Sinh Tourist. Nah lho!

Akhirnya Kelik pergi pagi-pagi naik Grab (andalan kami bersama) untuk ke satu alamat. Dan, menurut ceritanya, dia tidak jadi memesan di kantor itu karena setelah dia pergi untuk ambil uang di ATM, dia menemukan kantor Sinh yang lain dengan paket yang lebih menarik meski lebih mahal. Oh well.

Besoknya pagi kami sudah siap-siap. Kami dijemput bus besar yang penumpangnya datang dari berbagai negara. Mmm…semoga ini pertanda kami tidak salah pilih yah.

Selama 3-jam perjalanan  kami dihibur oleh pemandunya yang lucu.

Sebelum naik kapal, kami digiring ke gedung tempat menjual tiket untuk paket wisata Ha Long Bay. Untuk paket kami, kami mendapat kesempatan berkunjung ke goa, naik kayak dan main di pantai.

Gedung itu penuh, parkirannya juga penuh sesak dengan bus. Aah pertanda bakal ramai dan tidak nyaman nih. Kebanyakan turis ini datang rombongan dan saya perhatikan banyak dari mereka datang dari Cina. Anehnya, banyak sekali turis ini meminta foto dengan Pagi dan Nyala..Selama kami di sana, lebih dari 5 kali Pagi dan Nyala mendapat ajakan untuk berfoto bersama. Hihihihi

Setelah itu kami digiring ke kapal yang akan membawa kami mengitari Ha Long Bay. Kapalnya cukup baru dan nyaman. Tak lama makanan siang pun hadir. Kami pun menyantap makanan yang disediakan dengan lahap. Kami satu meja dengan turis dari Korea Selatan yang lucunya punya ritual untuk memotret makanannya sebelum makan. Kalau kami mah boro-boro yah saudara-saudara.

IMG_20181227_122344

IMG_20181227_131129

Spot pertama adalah Sung Sot Cave, gua penuh stalakmit dan stalaktit yang penuh dengan bumbu cerita-cerita legenda dari si pemandu. Saya tidak begitu memperhatikan sayangnya karena si Nyala kebetulan rewel dan minta digendong sepanjang perjalanan doong. Padahal itu naik-turun tangganya lumayan deeh.

IMG_20181227_140647IMG_20181227_141441

Setelah itu giliran bersenang-senang main kayak. Saya, Nyala dan Uti memutuskan naik perahu rombongan, sedangkan Pagi dan Ayah naik kayak yang dikayuk berdua. Saya baru menyadari betapa penuhnya Ha Long Bay ketika itu begitu melihat banyaknya turis yang mengantre untuk naik kayak. Saking penuhnya, bahkan ada yang berantem juga.

IMG_20181227_145701

Setelah itu perhentian terakhir kami adalah sebuah pulau yang punya dua atraksi pilihan: main di pantai atau naik ke puncak. Kami yang merasa sudah capek  naik tangga, apalagi saya yang naik sambil membawa beban, memilih main di pantai saja.

Tapi saya juga tidak bisa begitu menikmatinya. Pulaunya terlalu penuh orang. Tidak ada indah-indahnya. Di tempat inilah, Pagi dan Nyala kebanjiran request foto bersama dari turis-turis lainnya. hahahaha.

IMG_20181227_162912

Bukit-bukit Ha Long Bay mengingatkan saya pada Raja Ampat di Indonesia, yang sayangnya belum saya kunjungi. Kalau perjalanan cruise-nya mengingatkan saya pada perjalanan di Milford Sound di Selandia Baru. Melihat penuhnya Ha Long Bay saat itu, saya bersyukur memilih untuk tidak menginap di sana. Tempatnya terlalu penuh dan membuat kunjungan tidak nyaman. Apa mungkin karena akhir tahun? Aah, mungkin.

But for now, bye Ha Long Bay.

IMG_20181227_155832

 

 

Apr
24

IMG_20181229_110605

Dalam edisi jalan-jalan kali ini, kami memutuskan untuk tinggal lebih lama di Hanoi. Sewaktu memutuskan tujuan ke Vietnam, saya  ingin mengunjungi baik Ho Chi Minh maupun Ha Noi karena kebetulan teman-teman saya tinggal di kedua kota ini. Tapi saya meminta Keliek untuk tinggal lebih lama Hanoi karena berdasarkan rekomendasi teman-teman saya, Ha Noi lebih asik kotanya.

Lima hari rombongan kami tinggal di ibu kota Vietnam ini.

Kalau saya membayangkan kota ini seperti Jakarta tapi nuansanya Yogya yah. Suhu di kota ini berbeda sekali dengan Ho Chi Minh yang panas dan gerah. Suhu kota Hanoi sama seperti Lembang tapi lebih dingin lagi. Dari awal, teman-teman saya sudah mengingatkan untuk membawa jaket tebal untuk mengantisipasi cuaca dingin di Hanoi. Kebayang dong repotnya, bawa dua anak dan tanpa bagasi pula hahahaha. But somehow we managed. Tidak ada yang masuk angin hingga kami pulang.

Selama singgah di sana, kami disambut oleh udara hangat awalnya, namun menjelang kepulangan kami, kami dihantam udara cukup dingin. Jadi jaket yang kami bawa pun tidak sia-sia kami bawa. Namun hujan yang enggan berhenti membuat kami lumayan betah berlama-lama di kamar hotel.

Selama di sana, kami tinggal di dua penginapan yang berbeda.  Kalau di awal-awal, kami cukup nelangsa dengan pilihan hotel yang tidak sebaik yang kami kira, di Hanoi kami lumayan bisa berleha-leha.

Penginapan pertama kami pilih karena desainnya yang sangat Vietnam. Jadi rumah di sana dibangun memanjang ke belakang lalu dibuat bertingkat untuk memastikan semua anggota keluarga dapat akses yang adil ke jalan besar.  Anggota keluarga yang  paling tua tinggal di lantai paling bawah.

 

IMG_20181225_162822

Penginapan pertama kali terletak di dekat jalan kereta (train street) Ha Noi yang terkenal itu, makanya disebut The Rails. Kami tidur di lantai 2, sedangkan dapur dan ruang makan ada di lantai paling atas. Interiornya jadul ala-ala kolonial Prancis.

Dekat sana ada Danau Hoan Kiem dan Kota Tua, jadi lumayan strategis. Selama di sana kami pergi jalan-jalan menjelajahi daerah sekitar. Tentu saja dengan teman saya Ngoc sebagai guide lokal kami.

IMG_20181225_134018

IMG_20181225_151124

Kami mengunjungi Water Puppet Show yang legendaris di Vietnam. Bukan cuma anak-anak yang senang, orang dewasa pun juga girang menontonnya. Pertama kali ke sana, tiketnya terjual habis. Jadinya kami memesan untuk pertunjukan esok harinya yang ternyata juga penuh. Padahal pertunjukannya disampaikan dalam bahasa Vietnam yang tidak ada terjemahannya. Mmm hal ini membuat saya bertanya-tanya kenapa pertunjukan wayang orang atau seni daerah di Indonesia tidak bisa semenarik ini yaa.

IMG_20181226_154911

Kami juga sempat mengunjungi Museum yang menurut saya menarik sekali. Belajar dari pengalaman kami di Ho Chi Minh, saya akhirnya meminta info dari teman saya tentang museum yang sedikit interaktif buat anak-anak. Teman saya, Ngoc, kemudian menyarankan mengunjungi Museum Perempuan Vietnam. Apa? Museum Perempuan? di negara yang dulunya komunis? Hahaha…saya lumayan kagum.

Browsing sana-sini, ternyata ini adalah salah satu museum yang wajib dikunjungi bagi para feminis. Aah seru juga bawa anak-anak gadis saya ke sini. Barang-barang koleksinya tidak begitu memukau, tapi memantik beberapa diskusi menarik antara saya dan Pagi tentang kesetaraan, kesehatan perempuan dan pahlawan perempuan. Semuanya itu membawa saya bertanya-tanya mengapa Vietnam bisa begitu menghargai perempuan, sampe dibikin museum coba. Namun, jawaban Ngoc memupuskan harapan saya. Dia bilang semuanya ini hanyalah retorika pemerintah saja. Well, at least you are one step ahead  us, saya bilang ke dia yang menolak untuk berhenti berharap.

IMG_20181226_115107

Sebelum pindah ke penginapan yang ke-dua yang terletak di dekat West Lake, danau besar lainnya, kami pergi ke Ha Long Bay yang wajib dikunjungi katanya kalau ke Vietnam sebagai salah satu keajaiban dunia.

Penginapan kami yang terakhir paling mewah. Di apartemen yang bergaya modern ini, semua perabotan dan perkakas  masih baru. Di apartemen terakhir ini, kami benar-benar leyeh-leyeh di kamar saja. Kami hanya jalan-jalan ke Pagoda dekat penginapan dan pergi mengunjungi monumen Mausoleum yang terkenal itu. Selebihnya, kami hanya tinggal di hotel. Kebetulan cuaca hujan terus, jadi cocok mendukung agenda kami bermalas-malas di kamar.

IMG_20181228_120035

Di apartemen yang terakhir ini, saya kedatangan teman-teman lama dan baru yang tinggal di Hanoi. Teman pertama adalah Luong, yang saya temui pertama kali 10 tahun yang lalu di Jerman dalam sebuah fellowship. Dia sudah beberapa kali pergi ke Indonesia, tapi untuk pertama kalinya saya ketemu dia di Vietnam.

IMG-20181230-WA0005

Teman saya yang kedua adalah Nam Huong. Dia adalah teman baru saya waktu saya  bekerja di ASEAN Secretariat. Kami bertemu pertama kali pada hari pertama kami bekerja di sana.

Setelah lama tak bertemu, kami tak sengaja bertemu di sebuah kafe di dekat gereja yang disebut Notre Dame-nya Hanoi. Ketika itu saya sedang  memesan kopi dengan Ngoc ketika saya melihat Nam Huong lewat. Saya pun sontak memanggilnya dan reuni di antara kami tak terhindarkan.

IMG-20181225-WA0032

Pada malam terakhir kami tinggal di Hanoi, Nam Huong mengajak kami makan malam di restoran cantik bersama anaknya yang sudah hampir remaja, Mai. Kami sangat menikmati makanan dengan semua kehangatan yang ditawarkan meski saat itu hujan belum juga berhenti.

IMG_20181230_182830

Sama seperti ketika di Ho Chi Minh, agenda makan-makan tidak pernah absen.

IMG_20181225_123542

IMG_20181225_130215

Kenangan di Hanoi beserta teman-teman tercinta membekas hangat di memori saya hingga kini, tentu saja tak ketinggalan makanannya.

 

 

 

Apr
23

 

IMG_20181223_152927

Kami sampai di Siem Reap jam 6 pagi hari. Busnya ternyata tepat waktu. Anak-anak masih tertidur, begitu juga dengan Keliek dan Mamah. Tampaknya hanya saya yang terjaga. Perlahan-lahan saya bangunkan mereka satu-persatu.

Begitu busnya berhenti.  Kami segera bergegas turun. Di luar supir tuk-tuk sudah berbaris menunggu calon pelanggan. Keliek mendapatkan satu. Sebut saja namanya Domino. Setelah tawar-menawar, kami pun segera diantar ke hotel kami yang jaraknya tidak begitu jauh dari pool bus.

Ternyata hotel kami, lumayan jauh dari jalan besar. Jadinya kami minta Domino untuk jadi jemputan setiap kami ketika kami akan bepergian, termasuk ke candi besoknya.

Untuk di Siem Reap ini, agendanya cukup 2 saja. Nonton sirkus dan lihat candi. Nonton sirkus itupun dadakan karena bingung juga mau ngapain. Saya dan keliek memang sepakat hanya melihat Candi cukup satu hari penuh, itu pun tidak banyak-banyak mengingat keterbatasan tenaga dan rombongan yang kami bawa. Jadi tidaklah terlalu macam-macam.

Nonton sirkus itu kami putuskan setelah browsing sana-browsing sini. Banyak yang merekomendasikan grup sirkus Phare yang sangat terkenal. Yah daripada hari pertama hanya di hotel saja, kami pun memutuskan menonton sirkus sore harinya.

Sesampainya di sana, ternyata tempatnya lumayan rame dan tiket untuk pertunjukan yang kami tonton tampaknya terjual habis, karena studio pertunjukannya penuh.

Cuma yang PR adalah ternyata tema yang dipertontonkan saat itu mengusung tema LGBT. Cukup subtle sih, cuma bikin saya lumayan panik karena saya dan Pagi belum banyak ngobrol tentang hal ini. Sejauh kalau berkaitan hal itu, kami selalu jelaskan ke dia. “Ada cowok yang memang suka dengan cowok, dan cewek yang suka dengan cewek, itu tidak apa-apa yang penting kan cinta.”Dan benar saja, tak lama setelah itu Pagi pun bertanya tak habis-habisnya. Anehnya, sirkus ini tidak mencantumkan apa-apa tentang batasan umur penontonnya, mungkin sengaja kali yah, biar diskusi orang tua dan anak terpancing.  Tapi terlepas dari isunya, pertunjukannya sendiri bagi saya tidak begitu spesial baik dari plot maupun keterampilan aktornya. Tapi bagi yang berkunjung ke Siem Reap  dan mencari hiburan non candi, mungkin nonton sirkus bisa jadi alternatif.

Esoknya kami berangkat pagi ke Angkor Wat. Dari puluhan candi yang ada, kami hanya memilih 3 yang terkenal: Angkor Wat, Bayon dan Ta Prohm (yang terkenal karena Tomb Rider).  Jadi sebelum masuk ke kompleks candi, kami dibawa ke counter tiket besar yang halaman parkirnya luas. Di sana, turis berderet-deret. Jadi ada tiga jenis tiket yang bisa dibeli: $37 untuk 1 hari, $62 untuk 3 hari dan $72 untuk seminggu. Kami beli tiket satu hari.

Kami mengunjungi Angkor Wat pertama kali. Luasnya yak ampun saudara-saudara. Bangeeeeet!. Bikin kapok hahahaha. Bayangkan Nyala dari yang awalnya semangat, capek, minta digendong terus, sampe terakhirnya minta difoto di depan candi itu tidak sebentar saudara-saudara.

IMG_20181223_105030

IMG_20181223_103838

Kami berkunjung ke Bayon setelah itu. The temple of many faces. Tidak begitu besar dan cukup adem.

Setelah itu kami pergi makan di restoran yang tak jauh dari sana.

Kunjungan terakhir kami ke Ta Prohm yang populer itu. Kompleks candi ini sedikit luas, Pemandangan yang paling spektakuler adalah adanya akar-akar pohon yang tumbuh seperti menggagahi candi-candi tua tersebut. Tapi senang melihat para turis yang antre menunggu giliran mereka mengabadikan momen mereka di sana. Meski ada beberapa yang reseh, tapi jumlahnya tidak bikin keki.

IMG_20181223_160506

Ibadah candi kami selesai sekitar jam 5 sore. Molor dari dugaan kami. Tapi bersyukur sepertinya kami mengambil keputusan yang tepat hanya satu hari. Karena kalau lanjut lagi besok, saya tidak sanggup hehehe.

Esoknya kami leyeh-leyeh di hotel menunggu pesawat kami sore hari. Kami pun makan lagi di restoran dekat hotel yang oke banget menunya: fusion antara Cambodian and Western menu. Menutup episode kami di Siem Reap, Nyala tantrum hampir sejam di hotel. Epic pokoknya.

Kami janjian lagi dengan Domino untuk pergi ke bandara. Sebelumnya kami diantar ke pasar tradisional, semacam Beringhardjo-nya Siam Reap. Di sana kami beli oleh-oleh buat diri kami sendiri, kenang-kenangan dari Siem Reap karena kami tidak beli bagasi.

Sesampainya di bandara, kami pun berpisah dengan Domino dan bergegas masuk bandara yang lumayan cantik untuk ukuran kota kecil seperti itu.

IMG_20181224_163711

Sampai jumpa Siem Read. Halo Hanoi.

 

Mar
24

IMG_20181221_154320

Setelah 2 hari di Ho Chi Minh, kami pun beranjak ke kota selanjutnya Phnom Penh, ibukota Kamboja. Berkat informasi dari teman saya Ngoc, kami menemukan moda transportasi yang okay dan murah dari Vietnam ke Kamboja. Awalnya mau pergi naik pesawat, tapi dihitung-hitung mahal apalagi kalau hitungannya dari sana kami mau ke Hanoi. Tapi akhirnya berkat informasi dan rekomendasi dari teman saya Ngoc, maka kami memutuskan pergi naik bus. Setelah menghitung-hitung waktu perjalanan, akhirnya kami memutuskan rute Ho Chi Minh – Phnom Penh, kemudian dilanjut Phnom Penh – Siam Reap. Rute pertama ditempuh dalam waktu 6 jam yang menurut saya masih okay lah buat anak-anak. Rute yang ke-2 kami memilih bis malam yang ada tempat tidurnya (sleeper bus). Waktunya cukup panjang tapi kami berasumsi bakal tidur semalaman (dan ternyata benar juga, anak-anak sudah tepar bahkan sebelum naik bus dan bangun ketika sudah sampai…Haleluya!) Saya sempat sangsi awalnya dengan sleeper bus ini, tapi ternyata armada bus rekomandasi Ngoc memang terbukti okay yah. Setidaknya memang terbukti terkenal di kalangan para turis mancanegara. Kedua bus yang kami tumpangi semuanya turis dari berbagai macam benua.

IMG_20181220_095852

Kami memutuskan memang hanya sebentar di Phnom Penh karena tujuan asli kami sebenarnya Angkor Wat di Siem Reap. Setelah browsing sini sana dengan lebih seksama waktu di bus, memang tidak begitu banyak yang bisa dilihat yah (ini sebaiknya jangan ditiru yah saudara-saudara).

Perjalanan dari Ho Chi Minh ke Phnom Penh lumayan lancar. Anak-anak tidak rewel dan bahkan tertidur dua kali. Kami duduk di deretan paling belakang. Sementara penumpang lain penuh di deretan depan. Begitu memasuki wilayah Kamboja, saya lalu ingat daerah di pelosok Sumatra atau Kalimantan yang masih banyak rawa, lapangan luas dan rumah-rumah panggung.

Kami sampai di Phnom Penh sore hari lalu berjalan sebentar mengunjungi kuil yang dekat pool bus. Setelah itu kami mencari tuk tuk untuk mengantar kami ke hotel.

IMG_20181220_155857

IMG_20181221_170037

Kamboja meski perekonomiannya tidak semaju Indonesia, tapi bagi turis dari negara berkembang macam kami lumayan juga. Dibanding Vietnam, Kamboja lebih mahal  karena semuanya dihitung pakai kurs dollar. Kesempatan kami mendapatkan Kamboja riel  adalah waktu mendapat  kembalian  uang kecil di supermarket.

Penginapan kami yang kedua lebih mengenaskan ketimbang yang pertama meskipun yang ini ada kolam renangnya. Saya sempat sebel sama Keliek. Tapi yah memang murah yaah dan gambar itu menipu yah saudara-saudara. Ya sudahlah. Saya hanya berharap penginapan kami setelah ini lebih okay karena perjalanan kami masih cukup panjang. Untung saja kami hanya semalam di sana.

Sesampainya di hotel, kami tidak kemana-mana. Hanya istirahat dan keluar makan malam. Daerah tempat kami memang tempat turis. Dekat sekali dengan Museum Nasional dan Istana Kerajaan.

Menu andalan kami di Kamboja adalah nasi goreng, fish amok (apa yah bahasa Indonesia, semacam ikan bumbu santan) dan sup-nya yang segar.

Esoknya kami muter-muter mulai dari Museum Nasional, yang kebetulan sedang ada acara besar yaitu perayaan adanya koleksi baru masuk ke sana. Lagi-lagi museumnya persis seperti Museum Gadjah di Monas meski bangunannya cantik ala Kamboja. Hal ini membuat saya berpikir kenapa Museum Nasional kita tidak menggunakan arsitektur gedung lokal yah? Setelah itu kami pergi ke kompleks Istana Raja yang luas sekaliii dan cantik.

IMG_20181221_132223

IMG_20181221_140122

Menjelang sore, sebelum kami menuju pool, Kelik memutuskan untuk menyewa tuktuk untuk melihat kota Phnom Penh terakhir kalinya. Oleh supir tuktuk kami dibawa ke pasar malam, lalu pinggiran pantai dan juga daerah mall yang ampun-ampun noraknya hehehe.

Sampai di pool, badan sudah capek, anak-anak sudah ngantuk dan tertidur. Begitu naik bus, anak-anak sudah tertidur. Kelik dan Mamah tampaknya juga cepat menyusul. Hanya saya saja yang beberapa kali terjaga. Sambil mengintip dari jendela, saya bertanya-tanya sampai di mana kami.

 

 

 

Mar
23

IMG_20181219_111559-01

Kami mendarat di Saigon atau Ho Chi Minh siang hari. Perjalanan terasa panjang, terutama bagi saya. Kami berangkat dari Jakarta subuh. Saya lihat anak-anak sih enggak ada capeknya. Lha saya?

Begitu ke luar imigrasi, saya langsung kontak teman saya, Minh yang tinggal sana. Dia sudah wanti-wanti dari awal kalau mau naik taksi sebaiknya yang mana karena dia tidak bisa menjemput. Tapi saya dan Keliek, tiba-tiba berpikir kenapa gak nge-grab saja yah. Begitu cek harganya pun lumayan banget selisihnya. Tapi tentunya kami harus punya no. lokal. Saya pun kembali tanya teman saya. Aah mungkin bisa saja kami google, tapi menurut saya tidak ada yang bisa ngalahin yang namanya local wisdom….

Setelah selesai semua urusan, termasuk tukar uang. Kami pun segera keluar mencari grab. Lumayan lama juga nyarinya. Ini karena no. lokal yang dibeli hanya paket data, tapi tanpa telpon. Untung interface di Grab okay dan  akhirnya kami dapat juga.

Jarak dari bandara ke tempat kami menginap tidak begitu jauh. Sekitar hampir 15 menit, kami disuguhi pemandangan kota Saigon yang entah mengapa mengingatkan saya pada Glodok.

Jalur yang kami lewati persis kayak jalur ke arah Kota, minus bus way-nya tentunya. Udaranya pun sebelas-duabelas dengan di Jakarta.

Sesampainya di tempat penginapan. Saya sempat kaget dengan depannya, mirip kayak kontrakan di belakang Glodok. Kotor dan kumuh.  Kami harus naik tiga lantai sebelumnya akhirnya sampai ke tempat kami. Fiuh perjalanan yang tidak sia-sia, Kami mendapati kamarnya cukup bersih, rapi dan bagus. Fiuuuh.

Sesiangan itu kami hanya leyeh-leyeh di kamar. Sorenya saya sudah janjian bertemu dengan Minh untuk makan malam di salah satu restoran Pizza paling terkenal di sana tentunya sekalian di ajak jalan-jalan sekitar kota.

IMG_20181218_192727

Ternyata restorannya ada di salah satu mall paling hits di kota itu. Kami naik ke lantai paling atas dan menikmati makan malam yang menyenangkan. Minh adalah teman saya sewaktu di Melbern. Kami dua tahun bersama mengambil master jurnalisme. Dia dulunya wartawan, tapi sekarang sudah bekerja di Konsulat Amerika Serikat di Ho Chi Minh. Senang sekali bisa bertemu lagi dengannya setelah 3 tiga tahun tidak bersua.

Malamnya kami pun putar-putar kota. Kami di ajak ke alun-alun kota Ho Chi Minh yang besar dan ramai. Dan jaraknya tidak jauh dari tempat kami tinggal.

Tata kotanya benar-benar mengingatkan saya akan Jakarta. Kesenjangan ada di mana-mana. Dari tempat saya menginap yang ala kadarnya itu, ada  mall-mall mengkilat dan  juga gedung-gedung bertingkat, yang salah satunya gedung kedua tertinggi di Vietnam, Bitexco Financial Tower

Hari ke-dua, kami mulai dengan mengunjungi taman bermain kota. Yak ampuun taman bermainnya bagus. Pohonnya besar-besar. Dan taman bermain di kota ini mudah sekali ditemukan. Tidak seperti di Jakarta yah.

Dari sana kami pergi ke landmark kota Ho Chi Minh: Katedral dan Gedung Kantor Pos yang bentuknya kolonial sekali. Kami cukup lama di sana menghabiskan waktu memberi makan burung-burung di depan gereja. Tampak sederhana, tapi anak-anak begitu menikmatinya. Saya dan Keliek menunggu sambil makan rujak melihat Mamah dan anak-anak bermain dengan burung-burung.

IMG_20181219_110209

Setelah puas, kami sepakat cari makan di salah restoran Pho legendaris namanya Hoa Pasteur…Sesampai di sana restorannya memang cukup ramai. Untung kami dapat tempat. Lumayan enak dan murah juga. Setelah kenyang kami kembali ke penginapan untuk tidur siang…zzz

Sorenya kami menikmati sore terakhir kami di Ho Chi Minh dengan berkunjung dari museum ke museum. Salah satunya adalah Ho Chi Minh Museum yang mengingatkan saya pada Museum Nasional di Jakarta.

IMG_20181219_175528

Kami mengakhiri jalan-jalan di  Bitexco Financial Tower dan makan malam di sana. Asik juga makan malam dengan pemandangan kota Ho Chi Minh di sekeliling kami. Dari tempat duduk kami, kami bisa melihat gedung kosan penginapan kami malahan…hihihi

Aah Ho Chi Minh terlalu mengingatkan saya pada Jakarta. Kotanya dan udaranya.  dan makanan. Di sela-sela perjalanan kami, kami selalu menyempatkan diri untuk mampir nyicip ini dan itu. Kadang hanya untuk jajan es kopi atau pork roll pinggir jalan. Mungkin dua hari kurang cukup yah?

IMG_20181219_103709

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mar
09

 

IMG_20181223_093855

Tahun lalu, saya dan Keliek memutuskan untuk jalan-jalan sekitar Asia Tenggara setelah rencana ke Ambon gagal. Kami pun sepakat memilih Vietnam. Satu karena makanannya dan kedua, saya punya banyak teman di sana. Setidaknya ada tiga teman yang saya kontak sebelum saya pergi ke sana. Jadi jalan-jalan, sambil makan-makan dan sowan teman tampaknya rencana sempurna.

Saya yang habis pulang dari Jerman dan jalan-jalan ke beberapa negara sekaligus ingin sekali mengulangi pengalaman yang sama: pergi ke satu negara ke negara yang lain di satu benua, cuma kali ini Asia. Awalnya sih saya rada ambisius pengin ke-3 negara dalam 2 minggu (mengingat saya waktu ke Jerman, saya bisa jalan-jalan ke 3 negara hanya dalam waktu 5 hari). Tapi Asia bukan Eropa saudara-saudara. Ternyata infrastruktur antara satu negara dengan negara lainnya belum begitu terbangun dengan baik. Alat transportasinya pun masih enggak jelas. Kami yang membawa anak-anak pun masih memikirkan kenyamanan mereka. Salah satu cara bepergian yang paling ideal adalah dengan pesawat dan harganya duh bukan yang murah.

Browsing sana-browsing sini, akhirnya kami sepakat pergi ke dua negara saja yaitu Vietnam dan Kamboja. Kedua negara ini yang paling memungkinkan dengan budget dan kenyamanan kami. Setelah tanya sana, tanya sini dan bingung hingga harus merelakan tiket pesawat hangus (hiks), kami memutuskan rute yang kami lalui adalah Jakarta-Malaysia (transit)-Ho Chi Minh – Phnom Penh- Siem Reap- Hanoi- Bangkok (transit)- Jakarta. Fiuuuh lumayan juga ada 4 negara kalau dihitung dengan transit yah.

Kami mengambil rute tersebut setelah mendapat info dari teman yang baru saya kenal ketika di Jerman kemarin kalau ada bus yang fasilitasnya okay dan nyaman dari Ho Chi Minh ke Phnom Penh dan cukup murah juga. Mungkin saya akan ceritakan lagi lebih detil nanti kali yah.

Saya dan Keliek pun sepakat mengajak Mamah, ibunya Keliek, yang ternyata juga doyan jalan-jalan. Sepeninggalan Bapak, Mamah sudah jalan-jalan ke banyak negara termasuk ziarah ke Israel, Yordan dan Mesir, negara-negara yang bahkan belum kami kunjungi. Luara biasa memang.

Tapi, setiap saya cerita bahwa saya akan membawa ibu mertua saya, teman-teman saya kebanyakan berkomentar, “Hidup lo kurang tantangan apa? Udah bawa anak kecil, bawa ibu mertua juga,” Aaah, mereka belum tahu Mamah sih tampaknya hihihi.

Untungnya semua sehat dan tidak ada halangan suatu apapun selama perjalanan. Syukur kepada semesta untuk itu. Cuma memang pegel-pegel di sana-sini sehabis jalan seharian tentunya. Atau tantrum-tantrum Nyala yang bikin senewen tentunya, setidaknya tiga kali dia tantrum hebat dalam dua minggu perjalanan itu. Fiuh.

Puji Tuhan juga biaya yang keluar juga tidak wow banget, masih dalam budget yang kami memang sisihkan setiap tahunnya, bahkan itu sudah termasuk Mamah dan tiket hangus juga. Padahal kami juga gak hemat-hemat banget, hampir setiap saat makan di luar ketika menginap di tempat yang tidak ada dapurnya. Ketika Keliek membandingkan pengeluarannya dengan teman-temannya, mereka bilang biaya liburan kami cukup murah untuk dua minggu dan lima orang ke 2 negara. Kalau mau angkanya, japri saja mungkin yaaa…hihihi

Postingan kali ini menandai dimulainya seri liburan saya dan sekeluarga yang murah-meriah (karena lebih banyak orang)- dan bonyok (pegel sekali yaaah ngajak anak umur tiga tahun jalan-jalan panas-panas di Angkor Wat).