psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Oct
27

IMG_20190705_092359

 

Alasan utama pergi ke Disneyland adalah ndolani anak-anak. Punya dua anak-anak cewek yang centil-centil, eksposure terhadap putri-putri Disney tak terhindarkan ya. Mungkin ada beberapa orang tua yang bisa melakukannya. Tapi saya tidak. Disney ada di mana-mana dan susah sekali bagi saya untuk menolaknya.  Apalagi saya pun juga penggemar film-film Disney yaah.

Sebelum berangkat, kita agak ragu apakah Nyala yang berusia 3.5 tahun masih terlalu kecil. Jangan-jangan kita bawa ke sana, dan dia belum ingat apa-apa. Banyak yang bilang sebaiknya mengajak anak-anak ke Disneyland ketika mereka sudah gedean dikit agar kenangan bisa melekat dengan kuat. Ternyata tidak buat Nyala…entah kenapa anak ini masih ingat saja pengalamannya ke Disney, apalagi momen ketika dia bertemu princess favoritnya Belle. Sampai sekarang dia tak henti-hentinya meminta kita kembali ke sana.

Kami membeli tiket terusan dua hari. Alasannya selain jatuhnya lebih murah ketimbang beli tiket yang satu hari saja adalah saya dan keliek tidak yakin bisa menikmati wahana yang ada selama satu hari saja sambil membawa dua anak-anak yang masih kecil ini.

Dalam waktu 6 hari, kami sengaja tidak pergi ke Disneyland dua hari berturut-turut. Encok bangeet karena benar-benar waktu berjalan sangat cepat di sana. Datang pagi hari, pulang ketika matahari sudah terbenam.

Yang seru seharian berada di Disneyland bukan saja wahana-wahananya, tapi kesempatan bertemu dengan figur tokoh-tokoh Disney secara langsung dan ngobrol langsung dengan mereka dan menonton pertunjukkan mereka tentunya. Mungkin ini yang membedakan dengan amusement parks lainnya yah. Jadi menurut saya rugi kalau ke Disney cuma mau habis untuk naik wahana saja.

Anak-anak girang banget ketemu princess-princess Disney itu. Perburuan princess-princess kami dimulai ketika kami tak sengaja bertemu Tinkerbell.

IMG_20190705_110525

Pada hari kedua, di gerbang depan, Keliek pun langsung menanyakan jadwal sesi foto bersama princess-princess. Iya mereka punya jadwal khusus di mana dan kami kami bisa menemui mereka. Kami pengin banget Nyala ketemu Belle sih sebenarnya…aah, ternyata kesampaian dan dia senaaaang bangeet. Lihat ajah senyumnyaa…

Serunya sebelum berfoto pasti princess-princess ini ngajak ngobrol anak-anaknya. Mereka bisa ngobrol lumayan lama, ditanya macem-macem sebelum berpose cantik di depan kamera.

IMG_20190708_113007

 

Si Keliek tidak ketinggalan dengan perburuannya bersama tokoh-tokoh Star Wars juga dong.

WhatsApp Image 2019-10-27 at 9.27.59 PM

IMG_20190708_111720

Untuk wahananya, seperti biasa saya lebih nyantai naik wahana yang santai menemani Nyala, sementara ayahnya dan Pagi berburu wahana yang memicu adrenalin. Meski di hari kedua, saya pun tak kuasa menolak permintaan Pagi untuk menemaninya naik wahana yang serem-serem. Selama dua hari itu, Pagi bisa naik wahana-wahana yang menantang itu dua sampai tiga kali. Puas sekali dirinya.  Yang jelas tidak ada satupun wahana terlewatkan sepertinya selama kami di sana. Semuanya sudah dicoba. Mungkin satu pertunjukkan yang terlewat yaitu Paint the Night parade yang harus dibatalkan karena sempat hujan ketika itu.

Ketika itu Hong Kong belum menghadapi gelombang protes yang hebat. Disneyland masih penuh apalagi ketika sudah siang. Kami pikir ketika datang bukan di akhir pekan, tempatnya menjadi sepi. Ternyata sama saja saudara-saudara.

Disneyland juga menawarkan beberapa pertunjukkan live yang spektakuler. Semacam musical cuma versi pendeknya. Ada Lion King dan Moana. Tapi yang keren dan kami sampai nonton dua kali adalah Mickey and the Wondrous Book.  Benar-benar kudu ditonton. Bagian yang tidak boleh terlewatkan adalah cuplikan penampilan Tiana dengan live dance performance-nya. Kece berat.

IMG_20190708_192923

Akibatnya, dampak dua hari pergi ke Disneyland Juli lalu pun masih terasa hingga sekarang. Tak bosan-bosan Nyala mengajak kami kembali ke sana lagi.

IMG_20190708_143118

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oct
27

PANO_20190704_144035

Liburan sekolah bulan Juli lalu, kami semua jalan-jalan ke Hong Kong.  Sama dengan orang tua yang punya anak kecil, misi utama saya dan Keliek ngajak anak-anak jalan-jalan ke Disneyland. Ndolani anak-anak, begitu bahasa Jawanya.

Saya perlu waktu enam hari  untuk  belajar bahwa Hong Kong lebih dari sekadar Disney.  Sebenarnya tergoda untuk tinggal lebih sebentar, toh kan hanya ke Disney dan lumayan menghemat juga dong untuk penginapan…tapi kok gak yakin dengan kondisi badan yang semakin menua kalau setiap hari digeber jalan-jalan non-stop, sama dua anak yang satu pecicilannya  gak habis-habis, yang satu lagi lagi doyan banget tantrum ketika itu.

Tapi bersyukur sekali kami memutuskan melancong agak lama, karena kami, terlebih saya bisa belajar lebih banyak tentang Hong Kong, yang ketika itu sedang mengalami gejolak politik yang sedang seru karena protes publik melawan pemerintah setempat. Kami sempat was-was ketika itu. Tapi beruntung sekali ketika itu protesnya masih belum seheboh seperti yang diberitakan kemarin ini. Meski beberapa minggu sebelumnya pendemo diberitakan menyerang gedung parlemen.

Sebenarnya ada satu peristiwa protes yang lumayan ricuh di daerah depan pelabuhan Victoria, tapi saat itu kami sedang berada di tempat lain. Atau ketika mereka sedang protes di pusat-pusat perbelanjaan di bawah hotel kami, kami sudah duduk manis di dalam hotel karena kelelahan.

Selama protes berlangsung, tidak ada satu gangguan yang kami rasakan sebagai turis ketika itu. Meski tidak pernah bertemu secara langsung,  kami sempat melewati dinding penuh stiky notes warna-warna yang ditulis oleh para pendemo dalam huruf Cina di beberapa jalan masuk ke kereta. Okay juga ini konsepnya, mirip seperti instalasi seni dan banyak sekali orang, yang mungkin kebanyakan turis, mengambil foto dan tentu saja bakal menyebarnya di media sosial dong.  What a good campaign!

Kembali ke Hong Kong.

Selain dinamika  dan sejarah politiknya yang seru (yang terakhir, saya sempat pelajari sekilas dari museum sejarahnya), Hong Kong menawarkan begitu banyak keseruan. Ini beberapa catatan saya selama enam hari di sana:

  1. Modern, kumuh, berantakan, tapi tetap menawan mata

IMG_20190703_194141

Bingung yah. Hong Kong adalah kota di antara Jakarta dan Singapura. Kacaunya tidak sepertinya Jakarta. Tapi rapi dan teraturnya belum semaniak Singapura. Ini bisa terlihat di banyak gedung-gedung bertingkat yang saya anggap semacam jenis “hibrida” di sekitar daerah Kowloon, tempat hotel kami berada. Jadi di sebuah gedung bertingkat, lantai paling bawah bisa saja pusat perbelanjaan modern dengan banyak turis lalu lalang, tapi begitu mata ini menatap ke atas, bangunan yang sama berubah bentuk menjadi rumah susun Tanah Abang. Tapi entah kenapa tetep ajah cantik, apalagi lihatnya di The Peak, dataran paling tinggi di Hong Kong.

Tapi yang buat saya penasaran, apakah perilaku masyarakatnya juga sama dengan gedung-gedung jenis hibrida ini?

 

2, Makanannya amboii.

Kami tidak banyak eksplor makanan. Tapi sejauh lidah ini jalan-jalan ke sepanjang restoran dekat hotel, cocoklah lah di lidah dan nagih, apalagi jajanan pinggir jalannya apalagi bakpau b*b*nya….sluurrp.

Sayangnya, kami ketika itu dalam perjalanan yang super ngirit yah, karena Hong Kong itu mahal yah saudara-saudara, apalagi untuk penginapannya. Jadi saya pun berinisiatif membawa rice cooker mini doong lengkap dengan beras dan sambel tentunya. Meski pada akhirnya, agenda jajan tetap jalan terus yaah. Tapi mayan lah ngirit buat beli bakpau bab*…#teteup

IMG_20190706_125813

Mungkin lain kali ketika kami kembali lagi, agenda jajannya perlu dimaksimalkan tampaknya. Kami belum mencoba jajanan angkiran pinggir jalan mereka yang kayaknya seru sekali.

Kota yang “indah” dan juga makanan yang sedap cukuplah membuat impresi positif tentang Hong Kong buat turis yang sebenarnya tidak berharap begitu banyak. Tapi selama di sana, banyangan saya tentang Hong Kong sebagai salah satu pusat perekonomian di Asia selain Singapura dan juga tempat banyak TKW-TKW asal Indonesia mencari nafkah bubrah dengan sempurna. Apa mungkin karena saya tinggal di pulau yang salah? Tapi kedua kesan itu tidak terafirmasi  dalam kunjungan saya ketika itu.

IMG_20190704_143046-EFFECTS

 

 

 

 

Aug
25

IMG-20190322-WA0002

Selepas misi Keka Kondo selesai, saya ingin sekali mempercantik taman di depan rumah.

Aah saya sempat berkonsultasi dengan teman yang taman di rumahnya keceh beraat, karena kepikiran mencari konsultan taman gituuu…Tapi setelah ngobrol sepertinya saya tidak membutuhkannya karena waktu membangun rumah kami, Keliek sudah mempertimbangkan sedemikian rupa termasuk sumur resapan. Aah emang canggih arsitek kami ituu…hehehe.

Jadi yang saya butuhkan adalah tukang taman yang tahu tentang tanaman dan bisa ditawar tentunya. Saya sempat tanya sana-sini, akhirnya mentok ke tukang taman langganan rumah, yang hanya datang sebulan sekali.

Setelah saya ajak ngobrol dan memberi tahu apa yang saya inginkan dan butuhkan. Dia pun memberikan masukan dan tentunya perkiraan biayanya. Saya pun langsung setuju karena harganya memang jauh di bawah yang saya bayangkan.

WhatsApp Image 2019-08-25 at 7.53.12 PMWhatsApp Image 2019-08-25 at 7.53.12 PM (1)

 

Saya juga meminta dirinya untuk membangun taman kecil di belakang rumah. Satu area dekat daerah jemuran. Ini merupakan proyek tebus dosa setelah bertahun-tahun lalu kami memutuskan menebang pohon mangga yang sudah tumbuh besar di belakang. Kala itu itu keputusan diambil karena pohonnya doyong dan kami takut jatuh. Tapi setelah dipikir-pikir, saya sangat menyesal. Oleh karena itu, saya minta daerah jemuran ditanami rumput hijau pohon mangga dan juga pohon belimbing yang tumbuh di sekitar rumah.

Dengan budget yang gak bikin kantong jebol, rumahsenyumpagi jadi lebih cantik dan asri karena semakin banyak hehijauan di sekitar rumah.

Jujur saya, saya tidak begitu baik dengan tanaman. Berkebun bukan hal favorit saya. Memandangnya okay tapi mengerjakannya mmm…apalagi merawatnya yang memang butuh konsistensi luar biasa. Saya tidak sejago bapak saya yang meskipun tidak memiliki tanah kosong di rumahnya, tapi lantai duanya penuh dengan tamanan-tanaman kecil dalam pot termasuk pohon buah-buahan.

Tapi bersyukur sekali tampaknya tanah di sekitar kampung bulak ini subur sekali yah. Pohon mangga dan pohong belimbing yang saya tanam di belakang rumah itu benar-benar dari biji yang jatuh ke tanah baik di sengaja maupun tidak. Pohon mangga itu tahu-tahu tumbuh di samping rumah. Dan pohon belimbing itu tumbuh dari biji belimbing yang ditanam oleh Bude, orang yang membantu mengurusi rumah kami.

IMG_20190714_073931

Tapi Bude mungkin seperti bapak saya yang tangannya dingin ketika memegang tanaman, Semua yang dia taruh di tanah langsung tumbuh. Repotnya dia jarang bilang ke saya. Jadi tahu-tahu ada bibit pohon alpukat lalu daun ubi, kemangi , an masih banyak lainnya. Dari Bude, saya pun menyediakan satu plot tanah untuk tanaman bumbu, ada cabe, jahe, lengkuas, kunci.

Selain menata hehijauan di luar rumah, saya  pun berniat mempercantik interior rumah yang ala kadarnya dengan tanaman.

Hah. Ini membawa saya dan keliek ke hobi baru: pergi ke tukang tanaman. And yes we loveee it. Kami bisa berjam-jam di sana, memilih tanaman yang lucu-lucu lalu menentukan potnya sambil tentu menawar harganya dooong.

IMG_20190526_152331

Di Sawangan sendiri banyak sekali tukang tanaman, tapi favorit kami di daerah dekat menuju Parung yang letaknya bersebelahan dengan mall yang sedang dibangun.  Di sana, ada beberapa tukang tanaman yang beroperasi, kita tinggal pilih yang mana yang paling cocok. Pengalaman ini benar-benar baru buat saya. Apa yang saya Keliek lakukan mengingatkan saya pada pasangan paruh baya yang suka beli tanaman. Iya, saya resmi jadi emak-emak yang gak santai kalau lihat tanaman bagus.

Setelah browsing-browsing sini, kami pun memilih tanaman-tanaman dalam rumah seperti monstera dan palem bali. Tidak hanya itu, Keliek punya ide untuk mengubah space tepat di kamar utama menjadi taman kering dan menanam pohon ketapang kencana di tengah-tengah. Kami sengaja memilih yang sudah jadi dan tinggi. Repot juga membawanya karena ukurannya cukup masif: 2.5 meter. Tapi setelah kami menanamnya di depan kamar, aaah semua perjuangan terbayarkan.

Satu pekerjaan rumah yang besar setelah membawa tanaman-tanaman itu adalah merawatnya. Untungnya saya dibantu oleh Bude, dia cukup rajin menyiram tanaman setiap hari. Yang saya lakukan adalah menyemprot tanaman-tanaman yang ada di atas rak buku.

Satu tips yang saya baca dalam merawat tanaman adalah dengan memperlakukan tanaman ini sebagai teman. Sayangi mereka dengan ajak mereka ngobrol. Okay, ini memang terdengar aneh. Tapi saya mencobanya dan hal ini berhasil. Hal yang pertama kali saya lakukan adalah memberi tanaman-tanaman itu nama dan untuk ini saya ajak Pagi dan Nyala untuk menciptakan nama-nama bagi mereka. Kami punya loba dan lobi (Monstera ), Spiky (untuk Palem Bali), Sira dan Siri (Daun Siri) lalu ada Aurora (Lipstik Aurora), Tala dan Tali (daun Talas), dan tentu saja Bloom (Ketapang Kencana).  Jadi ketika mereka tampak ada masalah, saya biasanya langsung menghampiri mereka, ngajak ngobrol, dan mengelus-elus mereka. Aneh yah? Tapi ini berhasil, setidaknya dua kali dalam catatan saya.

IMG_20190511_150730

Waktu itu Spiky tampak kebanyakan air, karena Bude terlalu rajin menyiramnya dan tampaknya di bagian tengahnya busuk. Saya pun berusaha menyingkirkan batang-batang yang busuk. Butuh beberapa hari hingga Spiky segar kembali. Lalu tanaman sirih kami Siri tidak sesegar saudaranya Sira. Siri tampak selalu loyo meski airnya selalu diganti. Hingga suatu ketika saya ajak ngobrol dia dan mengganti airnya sekian kali dan walaaa…dua hari kemudian dia pun segar kembali.

Mmm…misteri alam!

Di musim kemarau ini, saya punya PR berat karena tanaman jadi tampak lebih cepat layu, termasuk Bloom yang tidak sesegar sebelumnya. Makanya senang sekali hati ini ketika kemarin sempat turun hujan meski cuma sebentar.

Saya jadi ingat adegan di film Totoro ketika Satsuki dan Mei melakukan tarian khusus buat biji yang mereka tanam agar tumbuh jadi pohon. Perlukah kami melakukannya juga?

WhatsApp Image 2019-08-25 at 7.53.11 PM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jul
23

IMG-20190323-WA0002

Percaya atau tidak, saya yang penampakannya sering berantakan ini, suka bersih-bersih.

Entah kapan kegemaran ini muncul. Mungkin setelah punya rumah sendiri.

Semenjak saya punya rumah sendiri, saya memang rutin beres-beres. Jadwalnya biasanya beberapa bulan sekali. Tidak ada yang pasti tahu kapan. Jika setannya muncul, saya bisa seharian bersih-bersih rumah dan menyortir lalu menyingkirkan barang-barang yang tidak lagi terpakai. Saya bisa kalap menghabiskan waktu dari pagi hingga sore beberes semuanya.

Ketika masih ada tenaga dan waktu, barang-barang yang saya singkirkan saya jual lagi dengan harga miring. Hasil penjualan kemudian saya sumbangkan ke kegiatan kampung. Alasannya sih karena yang beli yah orang-orang kampung juga yah. Tapi untuk kegiatan bersih-bersih kemarin, saya memutuskan langsung memberikan saja kepada para tetangga yang membutuhkan. Hemat waktu dan tetap sasaran.

Kegiatan beberes ini rutin saya lakukan. Untungnya rumah saya tidak terlalu besar dan tidak terlalu banyak pernak-pernik yah. Saya dan Keliek memang menghindari barang-barang pernak-pernik. Tidak banyak perabotan di rumah, benda pajangan pun hanya foto yah dan buku, jadi waktu untuk membersihkan rumah tidak butuh lama. Saya mungkin belajar dari ibu saya, penimbun sejati. Meskipun rumahnya lebih luas dari saya, begitu banyaknya barang di sana membuatnya terasa sumpek. Dia sulit sekali melepaskan barang-barang yang dimiliki.

Urusan melepaskan barang, ibu saya mungkin perlu belajar dari Marie Kondo. Saya lupa kapan saya pertama kali mendengarnya. Mungkin setelah membaca sebuah artikel di New York Times atau kemudian melihat bukunya dipajang di toko-toko buku di mall-mall.

Saya akhirnya kesampaian membeli bukunya waktu di Singapura. Ketika itu ada bazaar buku dan saya dapat kortingan harga cukup lumayan. Akhirnya saya beli bukunya.

Pertama kali membacanya, saya langsung berpikir, “Aneh banget sih cewek ini.” Kegiatan beberes dan bersih-bersih berubah menjadi suatu ritual yang penuh dengan hal-hal yang berbau spiritual.

Dalam ritual bersih-bersihnya, kita diminta untuk mengidentifikasi setiap benda apakah menimbulkan kebahagian untuk kita atau tidak. Jika tidak, buang saja. Tapi sebelumnya ucapkan terima kasih terlebih dahulu. Aneh kan? Belum lagi fakta bahwa dia adalah ibu dua orang anak-anak yang masih kecil. Beneran ini rumahnya gak pernah berantakan.

Keanehan ini kemudian mewujud ketika Netflix membuat serial khusus tentang Marie Kondo yang berusaha membantu orang-orang membenahi rumah mereka.

Tapi setelah mempelajari Marie Kondo sedemikian rupa, saya rasa metode cara beberes saya dan dia gak terlalu beda yah. Kalau saya suka melakukannya per ruangan, cara Marie Kondo lebih sistematis dan holistik yaitu per kategori barang. Mulai dari yang dianggap paling gampang, seperti pakaian hingga yang susah seperti barang-barang sentimentil.

Menarik. Saya ingin sekali mencobanya tapi saya pikir saya butuh waktu khusus tentunya. Akhirnya setelah menundanya beberapa lama, saya memutuskan untuk menerapkan metode Marie Kondo setelah saya balik fellowship di Belanda. Saya sudah woro-woro jauh-jauh hari sama Keliek. Sadar bahwa ini mungkin butuh waktu lebih lama untuk penyesuaian dan memastikan semua rampung.

Daan senang sekali saya akhirnya bisa membereskan rumah saya dengan menggunakan metode Marie Kondo. Memang perlu waktu yang lebih lama yaitu empat akhir pekan, yang biasanya saya bisa kebut dengan satu akhir pekan untuk membereskan semuanya. Selama proses itu, saya pun dijuluki Keka Kondo oleh Pagi dan ayahnya. hahaha.

Meski melelahkan dan terkadang konyol–apalagi waktu mencontohkan Pagi bagaimana berterima kasih pada barang-barang yang akan disingkirkan–saya menikmati proses yang ada. Tentu saja saya melakukan beberapa penyesuaian di sana sini yaah sesuai dengan kondisi rumah kami.

Alasan saya melakukan beres-beres mungkin karena rasa lega yang didapat setelah semua selesai. Beres-beres semacam terapi juga buat saya. Pikiran jadi semakin terang dan hidup terasa lebih ringan. Saya tidak berpikir sejauh ini sampai saya menyelesaikan proses beres-beres kemarin itu. Hati rasanya berbeda ketika melihat baju-baju dan buku-buku tertata dalam lemari.

Saya berusaha mencatat hal-hal apa saja yang membuat proses beres-beres kemarin itu yang meskipun melelahkan menjadi menyenangkan

  1. Atur waktumu sendiri. Jangan paksa harus selasai jika memang sudah lelah. Jeda bisa memberikan waktu untuk berpikir kira-kira mana barang yang harus disingkirkan atau tidak.
  2. Libatkan semua anggota keluarga. Proyek beres-beres ini bukan hanya proyek saya pribadi. Saya berusaha libatkan anak-anak dan suami dalam semua prosesnya. Saya beri tanggung jawab anak untuk menyortir mainanya dan pakaiannya. Kemudian untuk sang Ayah untuk alat bekerja dan kantornya. Memang tidak, tapi setidaknya kita harus mencoba.
  3. Lakukan penyesuaian sesuai dengan kondisi rumah. Saya tidak mengikuti semua metodenya yang dilakukan Marie Kondo karena saya yakin kebutuhan saya dan dia berbeda.
  4. Jangan terlalu ambisius. Saya yang punya dua anak ini harus menerima bahwa punya dua anak membuat rumah sering berantakan. Hal ini tak terhindarkan.
  5. Saat ini ketika saya rasa perlu, saya sering mengadakan bersih bersih dadakan untuk memastika semua bentu terorganisir pada tempatnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jun
07

IMG_20190210_083546

Hanya perlu waktu kurang lebih 3 jam dari Luksemburg ke Brussel. Bus Flixbus yang saya tumpangi pun tepat waktu. Dari stasiun Gare du Nord, saya langsung berjalan ke penginapan saya. Tekad saya, saya ingin tidur nyenyak setelah semalaman tidur di bus.

Saya menginap di sebuah hostel yang jaraknya tengah-tengah antara pusat kota dan Gare du Nord dan semuanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

IMG_20190210_081241

Setelah bebenah diri dan mandi, saya pun langsung ngelayap. Browsing sana sini, nemu sebuah restoran yang rekomendasinya okay dan sudah ada sejak tahun 1893. Lokasinya pun tak jauh dari hostel saya menginap. Namanya Chez Leon. Yay!

Sampai di sana, ternyata harus mengantri. Tapi karena saya sendiri, jadi tidak menunggu terlalu lama. Tidak berapa lama kemudian datanglah pelayan saya pun segera menanyakan menu paling favorit dan segera memesannya. Untuk minumnya, saya tentu memesan bir khas restoran tersebut. Bir Belgia katanya enak-enak. Begitu saya menyeruputnya, beneran iiih..kayaknya itu adalah bir terenak yang pernah saya rasakan.  Menu yang saya pesan adalah Beurre a l’ail gratinees yang artinya adalah kerang dalam mentega, bawang putih dan rempah-rempah. Rasanya masyaaaa ampuun. Saya habis satu loyang penuh. Sepulang dari saya, saya tidur dengan pulas.

IMG_20190209_181942

Besoknya saya habiskan berjalan-jalan mengitari pusat kota Brussel. Sayangnya hujan pagi itu jadi saya tidak beruntung mendapatkan langit biru.Titik-titik yang saya kunjungi termasuk Grand Palace lalu Manneken Pis dan tokonya Tintin tentunya untuk berburu koleksi buku saya yang kurang lengkap. Saya cukup lama menunggu hujan reda di area Grand Palace. Itu sebuah daerah yang dikeliling bangunan cantik, megah dan menurut saya rada sureal yah dengan ornamen keemasan dan desain kunonya. Beda sekali dengan pemandangan yang saya temui di daerah stasiun yang kumuh dan banyak sekali orang yang tampaknya menggelandang di sana. Beberapa minggu setelahnya, kelas saya di Belanda mendatangkan pembicara dari Brussel yang bercerita bahwa meski kaya, tingkat kesenjangan antara kaya dan miskin begitu tinggi di sana. Belum lagi dengan datangnya para pengungsi dari wilayah konflik. Kota yang tampak indah tidak selalu indah ternyata.

IMG_20190210_094747

Setelah saya puas di pusat kota, saya pun langsung naik kereta membelah Brussel untuk melihat landmark kota Brussel Atomium. Selama perjalanan dua hari ini, saya baru sadar, dua negara ini berbahasa Prancis yang kemudian membuka memori saya tentang beberapa kosakata yang pernah saya pelajari dulu. Ketika saya menimpali seorang perempuan dengan Oui, dan kemudian di balas dengan serentetan kata-kata yang saya tidak pahami, saya hanya bisa tersenyum manis sekali. Hahahaha

Lagi-lagi di kompleks Atomium, saya kembali disuguhi pemandangan surealis dengan monumen berupa atom yang segede gaban. Saya hanya bisa memandangnya dari jauh karena saya ragu untuk naik sebab merasa tidak ada yang menarik dilihat dari atas karena sewaktu saya turun dari kereta, saya harus berjalan melewati jalan raya yang tidak memiliki pemandangan yang menarik.

IMG_20190210_122714

Setelah dari sana, saya pun segera balik ke Gare du Nord untuk mengejar bisa saya ke Amsterdam. Senang sekali bisa menyelesaikan solo trip saya kali ini. Tidak sabar kembali ke kamar hotel saya di Bussum, Belanda.

IMG_20190210_131844

 

Jun
06

IMG_20190209_084229

Setiap mendapat fellowship ke  benua Eropa, saya berusaha menyempatkan diri jalan-jalan ke negara lain dengan visa schengen yang sudah di tangan. Sayang banget kan kalau tidak dimanfaatkan.

Untuk kali ini, saya menyempatkan diri ke dua negara lain: Belgia dan Luksemburg. Lagi-lagi saya harus solo travelling karena destinasi pilihan saya kurang populer untuk teman-teman lain yang lebih memilih Paris tentunya.

Saya pun membeli tiket beberapa hari sebelum berangkat. Kebiasaan buruk yang harus saya hilangkan. Saya memutuskan pergi ke dua negara sekaligus karena saya tidak punya pilihan karena acara debat pilpres tidak memungkinkan saya untuk kelayapan ke mana-mana. Dan lagi-lagi kali ini, andalan saya adalah Flixbus yang lumayan okay service-nya dengan harganya yang sangat murah.

Setelah browsing sana-sini, saya pilih waktu yang okay dan jam yang dirasa sesuai, saya akhirnya memutuskan berangkat jam 9 malam dari Amsterdam dan tiba di Luksemburg jam 3 pagi. Ketika saya ceritakan ini pada teman saya Bidu, dia sempat khawatir dan meminta saya mengurungkan niat saya. Mmmm…saya pun jadi ragu, setelah saya double cek lagi, sepertinya tidak apa-apa yah. Saya akan berhenti di statiun pusatnya, yang saya harap pasti ada bangunan dan kursinya untuk menunggu hingga waktu agak pagi. Saya pernah merasakan pengalaman yang lebih buruk, di mana saya harus transit di sebuah kuta di negara Ceko dalam perjalanan  saya dengan Flixbus dari Slovakia ke Polandia dini hari. Waktu itu, stasiunnya di tutup dan saya harus jalan-jalan keliling kota (yang ternyata kota terbesar kedua setelah Praha di Ceko) yang ternyata seru juga.

Anyway, akhirnya saya berangkat jam 9 malam. Bis agak telat, tapi entah kenapa tiba tepat waktu di Luksemburg. Aah senang sekali stasiun memang dibuka dan ada bangku di sana-sini untuk menunggu. Apalagi saat itu hujan besar sekali turun. Tidak ada toko yang buka. Ada beberapa polisi yang berjaga. Amanlah.

Cuma ada suatu kejadian yang bikin deg-degan, ketika ada seorang pria yang menawari saya pergi ke restoran dekat sana. Iih saya pun langsung menolak dengan halus dengan alasan hujan masih deras. Lagian mana ada restoran buka jam segini. Memang sebagai pelancong perempuan yang bepergian sendirian, hal minimal yang bisa kita lakukan adalah menggunakan insting kita dan selalu mawas diri.

Tidak lama kemudian, saya menemukan orang yang seingat saya duduk di sebelah saya. Saya tidur sepanjang perjalanan jadi gak tidak terlalu ngeh. Setelah saya tanya, ternyata memang benar. Namanya Brhane, dia adalah seorang pengungsi dari Eritrea. Dia sudah bertahun-tahun bekerja di Belanda dan saat ini sedang mengunjungi temannya di sana. Pembicaraan kami tidak begitu lancar, karena bahasa Inggrisnya masih terbatas. Untung ada google translate saudara-saudara. Lumayanlah ngobrol dengan Brhane sambil menunggu matahari muncul.

Lewat jam 6, teman Brhane datang menjemput. Saya pun menunggu sendirian lagi sambil mikir apakah sebaiknya mulai jalan atau tidak. Kenapa matahari gak muncul-muncul yah. Aah winter yah…

Setelah saya pikir rada ramai mulailah saya menuju ke pusat kota yang jaraknya cuma 1.5 km dari stasiun. Saya berjalan pelan-pelan membelah kota Luksemburg yang dingin.

IMG_20190209_111117

Saya browsing-browsing memang tidak begitu banyak yang bisa dilihat di kota ini. Dan kota ini memang terkenal mahalnya. Saya hanya ke beberapa titik yang memang direkomendasikan oleh internet tentunya.

Tapi yang paling memukau adalah pemandangan deretan rumah-rumah cantik dari bukit dengan gereja bisa saya temukan di sini. Ini adalah pemandangan yang selalu saya cari. Saya pernah mendapatkannya ketika road trip dengan bis di beberapa fellowship saya sebelumnya, cuma karena naik bus, jadi tidak bisa maksimal. Senangnya saya bisa menemukan pemandangan ini di daerah yang disebut dengan Grund di Luksemburg.

IMG_20190209_084741

Saya pun menemukan Saturday market di sana. Lumayan menghibur hati ketika banyak toko-toko yang tutup. Tongkrongan favorit saya dalam perjalanan ini adalah Exki, semacam restoran McD versi sehat yah. Saya di sana bisa lumayan lama sambil menikmati wifi tentunya dan menyeruput coklat hangat.

Jam-jam terakhir di Luxemburg saya muter-muter ke daerah yang sama. Ternyata memang tidak terlalu besar. Ingin sekali ke sebuah museum seni tapi meskipun gedungnya terlihat di sebelah bukit, waktu tidak memungkinkan. Saya pun berjalan kembali menuju stasiun untuk naik bus ke Brussel.

IMG_20190209_125100

 

 

 

 

May
24

IMG_20190216_110719

Akhirnya ke Belanda lagi.

Pertama kali saya ke Belanda tahun 2010. Ketika itu saya hanya berkunjung ke Amsterdam selama akhir pekan waktu saya mendapatkan fellowship di Jerman.

Senang sekali saya mendapat kesempatan sekali lagi untuk berkunjung ke Belanda untuk waktu yang lebih lama, yaitu 3 minggu. Gratis pula, Kali ini saya mendapatkan fellowship dari Radio Netherland Training Centre. Lokasinya ada di Hilversum sekitar 20 menit naik kereta dari Amsterdam. Hilversum ini terkenal sebagai kota media di Belanda.

Saya datang saat Eropa sedang dingin-dinginnya, yaitu bulan Februari. Tapi pengalaman mengikuti beberapa fellowship membuat saya lebih mempersiapkan diri tentang apa saja yang harus dibawa.

Saya bertemu 14 orang teman baru dari 10 negara yang berbeda kali ini. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda-beda. Tidak semuanya wartawan. Tapi saya merasa selama training ini, kami semua ditarik keluar dari zona nyaman kami untuk belajar hal-hal baru yang terkadang berlawanan dengan apa yang kami yakini. Setidaknya itu yang saya rasakan. Awalnya ada rasa resistensi dari diri ini, tapi lama kelamaan saya melihat hal-hal baru menarik yang bermanfaat dalam pekerjaan saya.

IMG-20190214-WA0031

Selama tiga minggu di kelas, kami di suruh membuat sebuah kampanye untuk melawan radikalisme. Awalnya begitu sulit bagi saya, tapi saya belajar begitu banyak dari proses yang ada. Sebagai syarat kelulusan kami semua diminta membuat video sebagai salah satu alat kampanye. Menantang sekali karena terakhir kali saya bikin video yah zaman kuliah di Melbourne. Tapi bukan sembarang bikin video karena kami dituntut untuk menciptakan pesan yang pas untuk target kami. Itu membutuhkan strategi komunikasi yang tepat dan persuasif. Sangat sulit bagi saya yang biasa bekerja dan data-data dan fakta-fakta saja.

IMG-20190221-WA0003

Tapi senang rasanya bisa mempraktikkan semua teori yang diberikan dan membuat video beserta aktor asli. Hahaha berasa kursus singkat jadi sutradara saya. Saya pun girang begitu semuanya menyukai video yang saya buat, termasuk para mentor. Mereka bilang: I nailed it! Yay!

 

Itu mungkin cerita singkat saya dari kursus tiga minggu.

Selebihnya tentu cerita jalan-jalan , bertemu dengan teman lama kami Roxan dan Yuri yang sekarang sudah punya dua anak. Saya pertama kali bertemu mereka tahun 2009 waktu bulan madu saya dan Keliek ke Bali dan Lombok.  Senang rasanya bisa balik mengunjungi mereka di kota mereka yang saya suka sekali, Hertogenbosch.

IMG-20190203-WA0011

Bercengkrama dengan teman-teman baru dengan kepribadian yang berbeda-beda. Menyenangkan tapi ternyata juga menantang juga yah buat orang seumuran saya. Kebanyakan dari mereka masih muda. Anehnya, saya dikira seumuran dengan mereka. Padahal, dalam benak saya selalu mikirin anak di rumah hehehe.

Kebanyakan mereka ingin sekali berkunjung ke Indonesia, eh Bali. Ada Bidu dari Romania, Katia dari Georgia dan Liana dari Armenia. Saya pun hanya bisa mengatakan bahwa saya pun ingin sekali mengunjungi negara mereka suatu hari.

Selain belajar di kelas, bertemu dan menghabiskan waktu dengan teman baik lama maupun baru. Saya sempatkan diri berziarah ke museum Van Gogh, yang pertama kali saya kunjungi tahun 2010. Dan girangnya saya, dalam perjalanan ke sana, saya bertemu dengan Banksy, yang saya gagal temui waktu ke Jerman tahun lalu.

Selain itu, saya juga berkunjung ke Utrecht kemudian menyusuri hutan di sekitar Hilversum dengan daerah hutannya yang juga mempesona.

IMG-20190217-WA0015

IMG_20190215_175721

 

 

 

Apr
28

IMG_20181231_113351

Awalnya, kami sempat berpikir untuk menambahkan Thailand dalam wisata Asia kami kali ini. Tapi setelah menghitung biaya dan tenaga, akhirnya kami sepakat untuk melewatinya. Sebenarnya yang ngebet pengin ke Thailand yah Keliek karena dia belum pernah ke sana dan ada temannya yang tinggal di sana.

Makanya cukup girang hati kami, ternyata tiket yang kami beli dari Hanoi ke Jakarta sempat transit di Thailand. Tadinya kami pikir bakal singgah di Kuala Lumpur seperti ketika kami berangkat. Ternyata tidak. Kami dijadwalkan transit di Don Mueang, Bangkok selama 6 jam sebelum penerbangan kami ke Jakarta. Langsung saja, Keliek mengontak temannya, mas Sigit, untuk janjian ketemuan

Setibanya di Don Mueang, kami langsung diajak makan ke restoran Beer Hima. Kata mas Sigit, restoran ini dapat Michelin Star. Dan yak ampun, semua makanan dipesan ternyata hingga perut kami super penuh. Setelah itu kami diajak jalan-jalan ke semacam pasar modern yang ada taman dan danaunya karena takutnya tidak cukup waktu untuk mengejar pesawat. Kami diajak ke kuil demi dapat foto khas Thailand. Kuilnya itu pun tepat dipinggir sungai.

WhatsApp Image 2019-04-28 at 11.09.24 PM

IMG_20181231_141015

IMG_20181231_135117IMG_20181231_151415

WhatsApp Image 2019-04-28 at 11.11.51 PM

WhatsApp Image 2019-04-28 at 11.11.55 PM

Meski singkat, persinggahan di Thailand ini cukup menawan. Sepertinya seru juga kalau wisata Asia berikutnya dimulai dari sana.

IMG_20181231_152842

 

Apr
26

IMG_20181227_141553-01

Ha Long Bay memang sudah jadi inceran kami begitu memutuskan ke Hanoi. Awalnya siih berencana ingin main bermalam di sana sambil melihat-lihat pantai yang lain. Tapi rencana tinggal rencana, ya saudara-saudara.

Salahnya saya dan Keliek adalah kami tidak benar-benar riset sebelum berangkat tentang acara jalan-jalan ke Ha Long Bay. Gimana bisa riset, lha wong urusan penginapan di Hanoi baru dibooking pas di Kamboja. Ini jangan ditiru yah saudara-saudara.

Awalnya sih kami cari-cari penginapan di daerah Ha Long Bay. Ada sih beberapa yang sudah jadi inceran. Tapi kemudian ketika kami cari tahu bagaimana kami bisa ke sana, kok kayaknya mentok yah: semuanya merekomendasikan ke satu agen travel yang namanya Sinh Tourist. Konspirasi macam apa ini?

Tiga teman saya orang Vietnam aslih yang tidak mengenal satu sama lain merekomendasikan nama itu. Ada sih satu teman yang merekomendasikan untuk naik boat cruise yang tarifnya busyeeet dah.

Untuk memesan paket tournya, teman saya, Ngoc, pun merekomendasikan untuk datang ke kantornya langsung karena begitu cari namanya di google…semuanya mengaku Sinh Tourist. Nah lho!

Akhirnya Kelik pergi pagi-pagi naik Grab (andalan kami bersama) untuk ke satu alamat. Dan, menurut ceritanya, dia tidak jadi memesan di kantor itu karena setelah dia pergi untuk ambil uang di ATM, dia menemukan kantor Sinh yang lain dengan paket yang lebih menarik meski lebih mahal. Oh well.

Besoknya pagi kami sudah siap-siap. Kami dijemput bus besar yang penumpangnya datang dari berbagai negara. Mmm…semoga ini pertanda kami tidak salah pilih yah.

Selama 3-jam perjalanan  kami dihibur oleh pemandunya yang lucu.

Sebelum naik kapal, kami digiring ke gedung tempat menjual tiket untuk paket wisata Ha Long Bay. Untuk paket kami, kami mendapat kesempatan berkunjung ke goa, naik kayak dan main di pantai.

Gedung itu penuh, parkirannya juga penuh sesak dengan bus. Aah pertanda bakal ramai dan tidak nyaman nih. Kebanyakan turis ini datang rombongan dan saya perhatikan banyak dari mereka datang dari Cina. Anehnya, banyak sekali turis ini meminta foto dengan Pagi dan Nyala..Selama kami di sana, lebih dari 5 kali Pagi dan Nyala mendapat ajakan untuk berfoto bersama. Hihihihi

Setelah itu kami digiring ke kapal yang akan membawa kami mengitari Ha Long Bay. Kapalnya cukup baru dan nyaman. Tak lama makanan siang pun hadir. Kami pun menyantap makanan yang disediakan dengan lahap. Kami satu meja dengan turis dari Korea Selatan yang lucunya punya ritual untuk memotret makanannya sebelum makan. Kalau kami mah boro-boro yah saudara-saudara.

IMG_20181227_122344

IMG_20181227_131129

Spot pertama adalah Sung Sot Cave, gua penuh stalakmit dan stalaktit yang penuh dengan bumbu cerita-cerita legenda dari si pemandu. Saya tidak begitu memperhatikan sayangnya karena si Nyala kebetulan rewel dan minta digendong sepanjang perjalanan doong. Padahal itu naik-turun tangganya lumayan deeh.

IMG_20181227_140647IMG_20181227_141441

Setelah itu giliran bersenang-senang main kayak. Saya, Nyala dan Uti memutuskan naik perahu rombongan, sedangkan Pagi dan Ayah naik kayak yang dikayuk berdua. Saya baru menyadari betapa penuhnya Ha Long Bay ketika itu begitu melihat banyaknya turis yang mengantre untuk naik kayak. Saking penuhnya, bahkan ada yang berantem juga.

IMG_20181227_145701

Setelah itu perhentian terakhir kami adalah sebuah pulau yang punya dua atraksi pilihan: main di pantai atau naik ke puncak. Kami yang merasa sudah capek  naik tangga, apalagi saya yang naik sambil membawa beban, memilih main di pantai saja.

Tapi saya juga tidak bisa begitu menikmatinya. Pulaunya terlalu penuh orang. Tidak ada indah-indahnya. Di tempat inilah, Pagi dan Nyala kebanjiran request foto bersama dari turis-turis lainnya. hahahaha.

IMG_20181227_162912

Bukit-bukit Ha Long Bay mengingatkan saya pada Raja Ampat di Indonesia, yang sayangnya belum saya kunjungi. Kalau perjalanan cruise-nya mengingatkan saya pada perjalanan di Milford Sound di Selandia Baru. Melihat penuhnya Ha Long Bay saat itu, saya bersyukur memilih untuk tidak menginap di sana. Tempatnya terlalu penuh dan membuat kunjungan tidak nyaman. Apa mungkin karena akhir tahun? Aah, mungkin.

But for now, bye Ha Long Bay.

IMG_20181227_155832

 

 

Apr
24

IMG_20181229_110605

Dalam edisi jalan-jalan kali ini, kami memutuskan untuk tinggal lebih lama di Hanoi. Sewaktu memutuskan tujuan ke Vietnam, saya  ingin mengunjungi baik Ho Chi Minh maupun Ha Noi karena kebetulan teman-teman saya tinggal di kedua kota ini. Tapi saya meminta Keliek untuk tinggal lebih lama Hanoi karena berdasarkan rekomendasi teman-teman saya, Ha Noi lebih asik kotanya.

Lima hari rombongan kami tinggal di ibu kota Vietnam ini.

Kalau saya membayangkan kota ini seperti Jakarta tapi nuansanya Yogya yah. Suhu di kota ini berbeda sekali dengan Ho Chi Minh yang panas dan gerah. Suhu kota Hanoi sama seperti Lembang tapi lebih dingin lagi. Dari awal, teman-teman saya sudah mengingatkan untuk membawa jaket tebal untuk mengantisipasi cuaca dingin di Hanoi. Kebayang dong repotnya, bawa dua anak dan tanpa bagasi pula hahahaha. But somehow we managed. Tidak ada yang masuk angin hingga kami pulang.

Selama singgah di sana, kami disambut oleh udara hangat awalnya, namun menjelang kepulangan kami, kami dihantam udara cukup dingin. Jadi jaket yang kami bawa pun tidak sia-sia kami bawa. Namun hujan yang enggan berhenti membuat kami lumayan betah berlama-lama di kamar hotel.

Selama di sana, kami tinggal di dua penginapan yang berbeda.  Kalau di awal-awal, kami cukup nelangsa dengan pilihan hotel yang tidak sebaik yang kami kira, di Hanoi kami lumayan bisa berleha-leha.

Penginapan pertama kami pilih karena desainnya yang sangat Vietnam. Jadi rumah di sana dibangun memanjang ke belakang lalu dibuat bertingkat untuk memastikan semua anggota keluarga dapat akses yang adil ke jalan besar.  Anggota keluarga yang  paling tua tinggal di lantai paling bawah.

 

IMG_20181225_162822

Penginapan pertama kali terletak di dekat jalan kereta (train street) Ha Noi yang terkenal itu, makanya disebut The Rails. Kami tidur di lantai 2, sedangkan dapur dan ruang makan ada di lantai paling atas. Interiornya jadul ala-ala kolonial Prancis.

Dekat sana ada Danau Hoan Kiem dan Kota Tua, jadi lumayan strategis. Selama di sana kami pergi jalan-jalan menjelajahi daerah sekitar. Tentu saja dengan teman saya Ngoc sebagai guide lokal kami.

IMG_20181225_134018

IMG_20181225_151124

Kami mengunjungi Water Puppet Show yang legendaris di Vietnam. Bukan cuma anak-anak yang senang, orang dewasa pun juga girang menontonnya. Pertama kali ke sana, tiketnya terjual habis. Jadinya kami memesan untuk pertunjukan esok harinya yang ternyata juga penuh. Padahal pertunjukannya disampaikan dalam bahasa Vietnam yang tidak ada terjemahannya. Mmm hal ini membuat saya bertanya-tanya kenapa pertunjukan wayang orang atau seni daerah di Indonesia tidak bisa semenarik ini yaa.

IMG_20181226_154911

Kami juga sempat mengunjungi Museum yang menurut saya menarik sekali. Belajar dari pengalaman kami di Ho Chi Minh, saya akhirnya meminta info dari teman saya tentang museum yang sedikit interaktif buat anak-anak. Teman saya, Ngoc, kemudian menyarankan mengunjungi Museum Perempuan Vietnam. Apa? Museum Perempuan? di negara yang dulunya komunis? Hahaha…saya lumayan kagum.

Browsing sana-sini, ternyata ini adalah salah satu museum yang wajib dikunjungi bagi para feminis. Aah seru juga bawa anak-anak gadis saya ke sini. Barang-barang koleksinya tidak begitu memukau, tapi memantik beberapa diskusi menarik antara saya dan Pagi tentang kesetaraan, kesehatan perempuan dan pahlawan perempuan. Semuanya itu membawa saya bertanya-tanya mengapa Vietnam bisa begitu menghargai perempuan, sampe dibikin museum coba. Namun, jawaban Ngoc memupuskan harapan saya. Dia bilang semuanya ini hanyalah retorika pemerintah saja. Well, at least you are one step ahead  us, saya bilang ke dia yang menolak untuk berhenti berharap.

IMG_20181226_115107

Sebelum pindah ke penginapan yang ke-dua yang terletak di dekat West Lake, danau besar lainnya, kami pergi ke Ha Long Bay yang wajib dikunjungi katanya kalau ke Vietnam sebagai salah satu keajaiban dunia.

Penginapan kami yang terakhir paling mewah. Di apartemen yang bergaya modern ini, semua perabotan dan perkakas  masih baru. Di apartemen terakhir ini, kami benar-benar leyeh-leyeh di kamar saja. Kami hanya jalan-jalan ke Pagoda dekat penginapan dan pergi mengunjungi monumen Mausoleum yang terkenal itu. Selebihnya, kami hanya tinggal di hotel. Kebetulan cuaca hujan terus, jadi cocok mendukung agenda kami bermalas-malas di kamar.

IMG_20181228_120035

Di apartemen yang terakhir ini, saya kedatangan teman-teman lama dan baru yang tinggal di Hanoi. Teman pertama adalah Luong, yang saya temui pertama kali 10 tahun yang lalu di Jerman dalam sebuah fellowship. Dia sudah beberapa kali pergi ke Indonesia, tapi untuk pertama kalinya saya ketemu dia di Vietnam.

IMG-20181230-WA0005

Teman saya yang kedua adalah Nam Huong. Dia adalah teman baru saya waktu saya  bekerja di ASEAN Secretariat. Kami bertemu pertama kali pada hari pertama kami bekerja di sana.

Setelah lama tak bertemu, kami tak sengaja bertemu di sebuah kafe di dekat gereja yang disebut Notre Dame-nya Hanoi. Ketika itu saya sedang  memesan kopi dengan Ngoc ketika saya melihat Nam Huong lewat. Saya pun sontak memanggilnya dan reuni di antara kami tak terhindarkan.

IMG-20181225-WA0032

Pada malam terakhir kami tinggal di Hanoi, Nam Huong mengajak kami makan malam di restoran cantik bersama anaknya yang sudah hampir remaja, Mai. Kami sangat menikmati makanan dengan semua kehangatan yang ditawarkan meski saat itu hujan belum juga berhenti.

IMG_20181230_182830

Sama seperti ketika di Ho Chi Minh, agenda makan-makan tidak pernah absen.

IMG_20181225_123542

IMG_20181225_130215

Kenangan di Hanoi beserta teman-teman tercinta membekas hangat di memori saya hingga kini, tentu saja tak ketinggalan makanannya.