psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Jan
01

Dua puluh enam menit di tahun yang baru. Saya barusan terjaga karena letusan kembang api yang cukup heboh. Saya, Kelik dan anak-anak sudah tidur dari jam delapan tadi. Tidak ada ritual spesial hari ini. Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya.

Meskipun demikian, tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa deg-degan di tahun yang baru ini. Begitu banyak perubahan terjadi di akhir tahun kemarin yang saya kira dampaknya masih akan terasa sampai 2018. Salah satunya dengan pekerjaan baru yang saya dapat. Saya hanya bisa berharap atas kenyamanan buat saya dan keluarga.

Tidak akan ada rencana besar tahun ini, saya ingin semuanya mengalir saja. Cuma seperti tahun-tahun sebelumnya, saya biasanya membuat semacam janji pada diri sendiri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu sambil berharap keputusan ini lebih baik buat diri saya.

Setelah hampir berhasil tidak belanja sandang di tahun 2016, tahun ini saya mencoba menantang hidup saya untuk

  1. mengurangi waktu online. Setelah kemarin berhasil puasa media sosial selama kurang lebih 3 bulan. Saya sepertinya ingin kembali menantang diri saya untuk tidak terlalu sering menatap layar HP. Untuk itu, saya sudah membeli buku harian yang saya tak sabar ingin isi dengan segala pernak-pernik keseharian. Tidak tahu akan seberapa konsisten saya nanti, kita lihat saja yah. Setelah berhasil menghilang dari semesta Path, saya ingin mencoba melakukan hal yang serupa di akun yang lain. Wish me luck
  2. Saya sadar betapa beruntungnya saya di tahun 2017. Lalu mengutip Presiden Kirkman di Designated Survivor, cara yang paling cantik untuk bersyukur atas semua berkat yang saya terima adalah dengan melakukan kebaikan dengan sistem Pay It Forward. Saya tidak yakin bagaimana hal ini bisa berjalan, tapi saya penasaran ingin mencobanya.

Saya rasa dua resolusi sudah cukup lah buat tahun ini. Selamat tahun baru semuanya. Sampai jumpa di tahun depan, saya ingin kembali tidur nih.

 

Advertisements
Dec
04

 

Tanggal 15 November lalu resmi saya bekerja di kantor baru. Kalau dari google map, lokasinya sih lebih dekat tiga kilometer dari rumah saya yang ada di Kampung Bulak, Cinangka. Namun tantangannya adalah saya harus berjuang menempuh perjalanan tersebut sebelum dan sesudah jam kerja bersama ribuan orang lainnya. Dan selama lebih kurang dua minggu bekerja di sana, ini bukanlah hal yang mudah.

Saya sudah mencoba mengantisipasi tantangan ini jauh sebelum saya masuk. Saya mencoba berangkat pagi sampai ke tengah kota untuk melihat kondisi lalu lintas di jam-jam padat. Iya, selama bertahun-tahun bekerja, saya sudah lama tidak updet dengan kondisi lalu lintas pagi ini karena kantor yang lama, jam kerjanya cukup fleksibel. Dan percobaan pertama ternyata gagal total, karena saya gagal menemukan go-car. Entah kenapa, hari itu ketika ingin memesan tidak ada satupun yang menyahut permintaan saya diantar ke pusat kota. Well, besoknya untung saja dapat. Kesimpulan saya dari percobaan itu, lalu lintasnya tidak seburuk yang saya duga. Saya bisa mencapai pusat kota sekitar satu jam. Tapi belajar dari pengalaman, lalu lintas Jakarta itu tidak ada yang bisa menebak, jadi dengan kalkulasi sedemikian rupa untuk mengantisipasi kondisi terburuk, saya harus persiapkan waktu dua jam untuk di perjalanan. Artinya saya harus berangkat jam 7 supaya bisa sampai di kantor jam 9. Saya sempat kuatir sebelumnya kalau saya harus berangkat pagi sekali karena banyak ibu-ibu bekerja di dekat rumah saya yang berangkat dari subuh. Fiuuuh, syukurlah. Menurut saya berangkat jam 7 cukup ideal, karena setidaknya saya masih bisa olahraga di pagi hari dan berangkat sambil mengantar Pagi ke sekolah.

Menjelang hari perdana masuk kerja setelah menimbang ini-itu dan ngobrol sana-sini, akhirnya saya dan suami sepakat mencari supir karena itung-itungannya lebih matematis dan praktis jika kami menyewa supir yang bisa mengantar saya setiap hari. Untung saja, kami bisa segera mendapatkannya. Mas Anggi, kami memanggilnya. Dia masih saudara tetangga dan tinggal tidak jauh dari rumah. Tugas mas Anggi hanya mengantar saya lalu balik ke rumah dan menjemput saya ketika sore. Jadi semacam supir paruh waktu. Terkadang dia juga mengantar Pagi balet. Sejauh ini kehadirannya cukup membantu saya menghadapi ruwetnya lalu lintas pagi hari dan deg-degan menunggu orderan go-car yang belum tentu dapat.

Hari pertama pun tiba. Jalanan lumayan macet waktu itu setidaknya lebih macet dari percobaan saya pertama kali karena ternyata ada perampokan bersenjata di minimarket di jalan Pondok Cabe. Ada-ada saja kan? memang lalu lintas Jakarta tak terduga. Setelah melewati macet sana dan sini, akhirnya saya sampai di kantor jam 8.30. Fiuuuh…Di hari-hari berikutnya cukup lancar ternyata, kecuali hari Senin yang sedikit istimewa. Saya berangkat jam 7 kurang dan jam 8 lebih dikit pasti sudah sampai Blok M. Pulangnya saja yang bikin males. Sejauh ini, rekor tercepat adalah 1 jam 20 menit dan terlamanya adalah Kamis kemarin menjelang long weekend. Saya menghabiskan waktu sekitar 2 jam 15 menit di jalan karena terjebak macet di daerah Fatmawati. Saya tiba di rumah jam 7.45 ketika itu padahal pulang dari kantor 5.30. tapi melihat timeline sosial media, saya tidak sendiri ternyata. Banyak yang mengeluh tentang kemacetan Jakarta yang super waktu itu. Teman saya bahkan ada yang sampai rumah jam 11 malam.

Trik andalan saya untuk mengatasi kemacetan adalah aplikasi waze. Sejauh ini sih manjur untuk menghindari titik-titik kemacetan tentu ditambah dengan insting-insting tertentu. Tapi manusia bisa berusaha, tapi lalu lintas Jakarta tetap berkehendak lain. Nampaknya tidak ada yang lebih hebat dari pesan suami saya, dia selalu bilang, “udah pasrah saja tinggal tidur dan taraaa…bangun-bangun sudah sampai rumah/kantor”. Sayangnya saya belum bisa menuruti anjurannya. Saya selalu senewen sendiri kalau ketemu macet apalagi kalau mau pulang karena tidak sabar bertemu anak-anak di rumah. Saya berharap dengan berjalannya waktu, saya mulai bisa pasrah yah karena memang tidak ada yang bisa menebak lalu lintas Jakarta. Dari semuanya ini sepertinya saya dipaksa berlatih mengelola sabar dan emosi saya di waktu-waktu seperti ini. Sebuah pesan whatsapp dari Fajar pun mengingatkan pentingnya mengelola rasa syukur kita yang menurut saya bisa dijadikan amunisi menghadapi hal-hal yang menyebalkan di jalan. Tapi yah saya masih harus terus berlatih dan berlatih supaya makin mahir.

Sebenarnya ada cara lain untuk mengatasi jarak ini yaitu saya pindah ke pusat kota. Sebenarnya pihak kantor sudah memberi fasilitas itu, tapi setelah menimbang-nimbang untuk saat ini saya lebih memilih tidak. Saya terlalu nyaman dengan rumah saya dan kampungnya. Berat juga meninggalkannya udara segar pagi hari, pohon-pohon rindang, tukang sayur favorit, mas-mas jualan yang seliwerin depan rumah dan tak lupa tetangga yang ramai. Tidak tega juga rasanya memaksa anak-anak ikut pindah bersama saya, sementara disini mereka bisa bermain dengan leluasa dengan tetangga-tetangga di halaman depan rumah atau bersepeda di masjid dekat rumah. Pagi sudah menolak untuk pindah sekolah karena dia merasa nyaman dengan sekolahnya disini. Baiklah jika begitu. Biasanya kalau saya sedang lari pagi sebelum berangkat kantor, saya berusaha mengingatkan diri saya dan merekam semua  pemandangan yang ada di sekitar saya — sedetil apapun – bunyi burung, tanah basah, pohon-pohon, sinar matahari yang hangat — bahwa untuk kemewahan inilah saya memilih untuk menaklukan lalu lintas ke Jakarta setiap harinya.

 

Nov
19

IMG_3915

Tidak ada yang menyenangkan dengan perpisahan. Tapi tidak begitu adanya dengan perpisahan di The Jakarta Post. Selama bertahun-tahun, The Jakarta Post, khususnya divisi redaksi di lantai 2, mempertahankan tradisi perpisahan yang manis dan menyenangkan untuk para wartawan yang mengundurkan diri. Biasanya orang yang akan pergi didaulat untuk mengadakan hajat kecil-kecilan mengundang semua staff di lantai tersebut. Ada makanan, minuman, sedikit pidato kemudian diakhiri dengan makan-makanan, hahaha hihihi dan tentunya foto-foto dooong. Semuanya senang dan gembira. Ini mungkin dikarenakan bahwa sebenarnya ini sebenarnya bukan benar-benar perpisahan, karena banyak sekali yang sudah keluar pun akhirnya kembali dan bekerja untuk The Jakarta Post. Contohnya mas Endy, pemimpin redaksi kami, dia sempat keluar dan bekerja di beberapa kantor berita asing sebelum akhirnya kembali mengabdi ke The Jakarta Post.

Tahun ini kebetulan banyak sekali saya menghadiri hajatan kecil-kecilan sejenis. Lagi-lagi semuanya tanpa ada tangis dan haru. Hingga tibanya saya yang harus mengucapkan selamat tinggal ke kantor yang sudah menjadi tempat saya bekerja selama 12 tahun.

Tidak terasa sudah 12 tahun lebih dua bulan saya mengabdi ke salah satu koran ternama negeri ini. Sebenarnya, jika dihitung-hitung, saya hanya “ngantor” 10 tahun, karena dua tahun saya habiskan untuk belajar S2 di Melbourne. Tapi tetap, masa jabatan saya di The Jakarta Post ini cukup rekor, dibandingkan sebelum-sebelumnya. Sebelum bekerja di The Jakarta Post, setelah lulus saya sudah pindah-pindah kerja beberapa kali. Yang pertama di Majalah Kawanku, yang hanya bertahan tiga bulan dan setelah itu Trans TV, yang hanya bertahan empat bulan saudara-saudara.

Bekerja di The Jakarta Post itu menyenangkan sekaliiiii..itu mungkin kenapa saya betah sekali. Saya ketemu mentor-mentor yang hebat dan juga teman-teman yang banyak diantaranya jadi sahabat sampai sekarang. The Jakarta Post lebih dari sekadar kantor buat saya, dia adalah sekolah tempat saya belajar banyak hal baru. Ini kemudian kenapa ketika orang resign dari The Jakarta Post mereka bilang “Saya sudah lulus dari JP”

Sebelum benar-benar memutuskan untuk lulus dari JP, saya sudah menimbang-nimbang berat keputusan saya itu karena memang tidak mudah meninggalkan tempat yang saya anggap seperti taman bermain saya sendiri. Dari wartawan yang ecek-ecek dan belum bener nulis bahasa Inggris sampai kemudian bisa menulis kolom dan laporan investigasi yang diapresiasi banyak orang adalah proses yang menyenangkan yang saya bisa alami dan saya bersyukur dan berterima kasih buat senior-senior yang tak lelah membantu saya.

IMG_3906

Saya tidak sendiri di pesta kelulusan saya. Ada dua orang lainnya yang lulus dari JP. Karena itu pesta hajatan kelulusan pun begitu meriah ada nasi liwet yang dipesan teh Lina, sekretaris kantor. Tapi sialnya, pesta ini begitu beda. Ada sedih disana yang sebenarnya saya tidak duga akan alami. Setelah mas Endy, pemimpin redaksi The Jakarta Post memberikan sepatah kata perpisahan, saya pun didaulat untuk berpidato. Sangat singkat, tapi saya tak kuasa menahan haru untuk mengucapkan selamat tinggal pada rumah kedua saya. Keadaan diperparah dengan pidatonya Bagus, rekan saya yang juga lulus. Sebelum menyelesaikan kalimat pertamanya, beberapa orang sudah mulai menangis. Aaarrghhh…tisu pun dibagikan, sementara orang-orang berpelukan. Hari itu, untungnya saya membawa Pagi yang tahu benar kantor The Jakarta Post. Saya peluk dia ketika sedih datang di saat itu. Saya sering sekali membawa Pagi ke kantor. Tak heran, jika adalah salah satu orang yang berkeberatan saya pergi meninggalkan The Jakarta Post. Bagi Pagi, The Jakarta Post adalah rumah lainnya dimana dia bisa bermain sembari merecoki pekerjaan om, tante, pakde dan budenya.

IMG_3911

Kembali ke pesta kelulusan, keadaan mulai cair ketika mas Arif, rekan saya yang lain, menyampaikan kesan pesannya. Dan setelah itu, pesta kelulusan pun berjalan normal sebagaimana mestinya, makan-makan, minum-minum dan foto-foto.

Yang sangat special saya tidak hanya mendapatkan satu pesta kelulusan tapi dua. Esoknya. adik-adik angkatan di bawah saya juga mengadakan pesta perpisahan yang tak kalah hangat di Taman Suropati. Saya pun datang lengkap bersama Kelik, Pagi dan Nyala. Kami bermain, bercanda, makan-makan dan minum-minum juga (ada Sangria), bernyanyi-nyanyi, sedikit pidato (tentu kali ini tanpa nangis doong).

Terimakasih The Jakarta Post untuk 12 tahun yang menyenangkan ini…

 

 

 

 

Nov
06

Pertama kali mengajak anak camping, yah ketika kami di Australia. Tapi camping disana lumayan enak, sudah ada dapur dan fasilitas MCK nya sangat terjaga, kita hanya perlu bawa tenda, makanan dan alat-alat masak. Terkadang, alat-alat masak sudah disediakan. camping perdana kami waktu di Uluru dan yang kedua di Victoria.

Emang dasar manja, begitu mendengar ada glamping (glamorous camping) ada di Indonesia, saya pun bersorak-sorak. Tapi, saya ingin menunggu Nyala agak gedean dikit, biar dia juga bisa menikmati. Teringat saya waktu Nyala menangis semalaman waktu kami membawanya ke pulau Macam. hahahaha…yang ada bukan liburan.

Ah akhirnya saat itu tiba. Nyala hampir dua tahun. Langsung saja saya dan bapaknya anak-anak merealisasikan rencana glamping yang tertunda.  Setelah tanya-tanya ke teman kami Virtri yang sering berglamping ria, saya memilih gunung Pancar karena lokasinya tidak terlalu jauh dari Jakarta. Dua minggu sebelumnya kami baru ke Bandung, kayaknya capek harus kembali ke sana untuk Glamping karena rata-rata lokasi Glamping di Lembang, Bandung atau Sukabumi. Atas inisiatif Kelik, kami pun mengajak tetangga baru kami Silmi, Ahsan dan anaknya Sofia. Mungkin lebih seru jika memang pergi berombongan supaya anak-anak juga bisa mengeksplor alam dengan teman-temannya.

IMG_20171029_094138.jpg

 

 

 

IMG_20171029_093350.jpg

Begitu sampai disana, saya sudah terkesima dengan pohon-pohon pinus yang menjulang tegak ke angkasa. Begitu masuk pintu gerbang, di kanan-kiri sudah ramai orang-orang menjajakan spot-spot untuk foto. Kreatif banget deh. Jadi semacam booth di nikahan, yang nuansanya bisa dipilih-pilih, hanya saja kita harus bayar. Yang kami coba tiga booths seharga 20 rb untuk orang dewasa, 10 ribu untuk anak-anak. Bahkan ada yang meminjamkan kamera juga coba, dan gak sembarang kamera, karena mereka menyediakan kamera Nikon coba dan bayarnya cuma Rp 2000 per foto. Lumayan banget untuk di coba berasa punya fotografer sendiri pas jalan-jalan.

IMG_20171029_065903_1.jpg

IMG_20171029_070048.jpg

IMG_20171028_163329.jpg

 

Lokasi perkemahan kami ternyata lumayan di pelosok, tapi dari gerbang bisa terlihat dan ditempuh dengan jalan kaki. Anehnya dan juga asiknya, ternyata hanya kami yang menginap malam itu. Jadi serasa dunia milik kami. Dua tenda putih terpancang tegak dibatasi oleh bendera-bendera kecil warna-warni sementara di tengah ada tenda untuk makan di hiasi lampu-lampu cantik. Seruuuu dan cantiiiik.

IMG_20171029_094057.jpg

 

IMG_20171029_053355.jpg

IMG_20171029_094925.jpg

IMG_20171029_053519.jpg

 

Setelah beberes, kami makan siang di ruang makan baru kami karena di perjalanan tidak sempat mampir. Tidak ada restoran atau warung terdekat, untungnya ada mas-mas penjaga yang helpful. Akhirnya kami meminta bantuannya untuk membeli nasi dan lauk pauk. Aaah ketika makanan terhidang, kami makan dengan lahap (baca: bapak-ibunya yah, karena anak-anak sibuk main). Memang beda yah makan di alam terbuka.

Setelah kenyang dan leyeh-leyeh sebentar, kami pun memutuskan jalan-jalan sekitar lokasi perkemahan. Kami juga mencoba foto-foto di beberapa booth yang cantik dan satu foto wajib duduk tindih-tindihan di hammock dong yaah…

Setelah itu kami pulang dan makan malam sudah tersedia. Ayam bakar, sambal, sop dan krupuk. Yummmmeeeeh. Kami pun meminta acara api unggun (iyah karena kami memesan jauh-jauh hari, kami dapat fasilitas api unggun juga) dipercepat, karena takutnya anak-anak keburu ngantuk.

IMG_20171028_174325.jpg

IMG_20171028_181835.jpg

Aah tapi salah perhitungan, karena anak-anak jadi gak konsen makan, mereka terkesima melihat api unggun yang sudah menyala.  Di sebelah api unggun, kami pun membakar jagung dan sosis yang kami bawa dari rumah. Anak-anak pun ikut membantu, kecuali Nyala yang sibuk mondar-mandir melihat api unggun.

Enaknya membawa anak-anak kecil berkemah adalah kami tidak butuh upaya keras untuk menyenangkan mereka. Batu-batu besar, tetumbuhan di pinggir jalan sudah membuat mereka girang, dataran kosong pun menjadi tempat mereka berlari-lari tanpa henti. Begitu masuk tenda, mereka bisa berjam-jam didalam. Si Nyala pun sontak berteriak “rumah” bukan “tenda” ketika ditanya kita ada di mana sekarang.

Esoknya kami bangun pagi dan jalan-jalan memutari kawasan gunung Pancar. Kami melihat banyak juga yang bertenda di sekitar kami dan mereka membawa tenda sendiri. Aah mungkin kami akan mencobanya kelak, ketika anak-anak sudah gedean lagi. Setelah kembali, sarapan sudah siap dan setelahnya kami pun menghabis waktu menikmati saat-saat terakhir kami di gunung Pancar sambil berfoto-foto.

IMG_20171029_062458.jpg

IMG_20171029_063531.jpg

IMG_20171029_071136.jpg

Sebenarnya asik glamping di gunung Pancar, karena gak glamor-glamor amat. Suasana berkemahnya masih dapat kok, sempurnalah sebagai pengenalan anak-anak yang ingin diajak bener-benar camping.

Sebelum kembali ke rumah, Ahsan dan Silmi mengajak kami ke air terjun didekat sana. Sebenarnya pilihan tempat wisata dekat sana selain air terjun adalah pemandian air panas, tapi karena gak yakin dengan air panasnya, kami memutuskan untuk ke air terjun. Tapi udara di gunung Pancar tidak dingin-dingin amat, kami pun jarang memakai jaket disana.

IMG_20171029_120023.jpg

Sebeneranya air terjunnya gak okay-okay banget kok. Lebih cocok untuk anak-anak yang sudah besar, karena ada beberapa titik yang lumayan dalam. Jadinya kami main di air-air berbatu saja.

Setelah basah dan capek, kami pun pulang. Sebenarnya yang seru juga adalah perjalanan dari tempat perkemahan ke air terjun, kami melewati beberapa lereng-lereng cantik yang masih penuh dengan sawah-sawah bertingkat. Kami sempat berhenti untuk foto-foto dan sekembalinya dari sana menuju rumah, kami melewati gunung Pancar kembali dan melihat dari jauh tenda-tenda putih kami sudah hilang. Aaah…saya langsung mengerti kenapa Nyala bisa menyebutnya rumah dan bukan tenda.

IMG_20171029_111441.jpg

 

 

Oct
02

Minggu ini saya memasuki waktu Indonesia bagian deg-degan karena anak bakal ujian tengah semester. Fiuuh, akhirnya ngerasain juga perasaan senewen ibu-ibu yang kelimpungan membantu persiapan anak-anaknya ujian. Dulu sih masih bisa petantang petenteng waktu Pagi masih di TK. Sekarang? Si mbarep sudah kelas satu dan sudah menghadapi serangkaian ulangan di semester pertama ini.

Saya sangat peduli dengan aktivitas dan kegiatan Pagi di sekolah. Itu salah satu alasan ikut WA grup ibu-ibu kelas satu-satu; biar lebih updet. Saya selalu berusaha berkomunikasi dengan gurunya dan rajin bertanya untuk menunjukkan bahwa ya saya peduli.

Masalah ujian ini, saya juga bingung kenapa saya gak bisa santai kayak si suami yah. Padahal dari pengalaman saya bersekolah, saya seharusnya bisa lebih cuek bebek. Saya dulu langganan ranking satu yang selalu belajar rajin sebelum ulangan di sekolah yang saya tahu juga gak guna-guna amat sih buat sekarang ini. Belajar dari situ, seharusnya saya bisa lebih santai. Tapi tetap gak bisa. Sewaktu jadwal ujian dikeluarkan, saya pun segera menyusun jadwal tidak masuk kantor karena mau menemani Pagi belajar. Pokoknya emaknya gak mau kalah ribet. Issh emang dasar emak-emak kompetitif kali yah saya ini.

Pagi itu cerdas. Dia cepat sekali menangkap sesuatu yang baru. Dia sudah bisa menulis dengan lancar. Tulisannya bagus sekali. Kemampuan menghitungnya juga diatas rata-rata. Kelemahannya hanya di Bahasa. Banyak kata-kata yang masih belum dia mengerti. “Ramah itu apa?” “Saling melengkapi itu apa?” dan saya pun harus menjelaskan satu-satu. Nah, salah satu tantangan kami adalah pelajaran Agama. Susah yah belajar moral itu karena tidak ada rumus baku dan ketika saya bilang okay, ternyata gurunya enggak. Contoh pertanyaan: apa yang sebaiknya pertama kali dilakukan sehabis main di luar rumah? Pagi menjawab cuci tangan dan kaki. Dan ternyata salah saudara-saudara, menurut gurunya jawaban yang benar adalah memberi salam. Jeng jeng. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan mengawang-awang. Untuk ujian agama kali ini, Pagi akan dites pengetahuannya tentang proses penciptaan di kitab Kejadian. Jiaaah…gatal rasanya pengin ngajarin dia tentang teori evolusi dan manusia purba.

Ah mungkin segala persiapan menjelang ulangan ini tidak hanya pembelajaran buat Pagi tapi buat saya juga. Saya juga harus belajar untuk memahami bahwa meski saya ingin Pagi mendapatkan hasil yang terbaik, saya juga harus menyakinkan diri saya untuk gak usah gitu-gitu amat kali, toh Pagi kan mau kuliah di jurusan seni hahahaha.

 

 

 

 

Sep
08

Semenjak jadi Ibu beranak dua, saya menjadi sosok yang tidak nyaman dengan perubahan. Maunya yang aman-aman saja, maunya yang pasti-pasti saja. Toh, hidup sudah cukup repot dengan dua orang anak.

Hal ini berbeda sekali dengan pribadi saya aslinya yang suka berpetualang dan mencoba hal-hal baru. Kalau dulu mungkin saya akan jabani, tapi sekarang? mmm perlu pikir sekali, dua kali.

Jika memang menginginkan perubahan, ada variabel tambahan yang meski dimasukkan dalam kalkulasi pengambilan keputusan. Variabel utama itu salah satunya yah keluarga. Jika perubahan yang ada berdampak negatif terhadap keluarga atau anak-anak saya, saya tentu akan bilang tidak.

Kali ini perubahan yang akan saya ambil sepertinya akan mempengaruhi secara fundamental apa yang terjadi di keluarga saya. Takut? Ragu? Tentu saja. Tapi saya berharap keputusan ini bisa membawa hal yang baik buat keluarga saya. Semoga. Kalaupun tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Semoga saya diberi kekuatan untuk menjalani segala konsekuensi dari keputusan yang diambil dan diberi pengertian untuk memahami bahwa perubahan yang kita inginkan belum tentu sama dengan yang kita butuhkan. Jadi kalau memang perubahan itu tidak bisa terjadi, saya bisa ikut memahaminya bahwa ini mungkin bukan saat yang tepat.

 

 

Aug
21

Senyum Pagi ulang tahun ke-6 tanggal 24 Juli. Beberapa tahun kemarin si sulung selalu minta dirayakan, apalagi semenjak masuk TK dan dia menghadiri begitu banyak perayaan ulang tahun di sekolahnya. 

Terakhir kali kami mengadakan pesta ulang tahun Pagi secara meriah waktu dia berumur satu tahun, sebelum kami hijrah ke Melbourne. Setelah itu paling pesta kecil-kecilan entah dengan keluarga atau dengan teman-teman day care-nya di Melbourne. Sebenarnya ingin sih mengadakan pesta ulang tahun lagi untuknya, tapi waktunya tak pernah pas sampai akhirnya kemarin itu.

Sebenarnya waktunya juga enggak benar-benar pas, karena Pagi baru saja masuk SD. Jadi bingung mau mengundang yang mana. Setelah ngobrol dengan anaknya, kami sepakat mengundang teman-teman TK nya saja karena dia belum begitu kenal dengan teman-teman SD barunya.

Lalu penentuan tema. Saya mengajukan gimana kalau temanya main di kampuny, jadi semua hal-hal yang berbau kampung kita siapkan, mulai dari kuenya, dekorasinya, kostumnya sampai good bags nya.

Menyenangkan sih meski juga deg-degan karena kami mengerjakannya lumayan mepet semua. Mulai dari memesan tumpeng, kue jajanan pasar, snack jadul dan makanan besek. Belum lagi memesan janur untuk dekorasi dan goody bags yang isinya mainan jadul semua dari perahu otok-otok, kitiran sama gambaran. Seruuu…

Kami pun bikin semacam photo booth di dinding depan rumah buat para tamu berfoto. Pagi dan ayahnya pun bikin beberapa aksesoris untuk dipakai tamu yang ingin berpose.

Kostumnya pun gak kalah seru. Kami semua berpakaian ala-ala kampung, pake kain dan kebaya juga.

Sewaktu hari H, sebelum pesta dimulai, saya lumayan stress karena dekorasi belum selesai tapi keroncongan bapak saya yang di rumah saya juga belum selesai. Aiish lega rasanya begitu semua selesai dan tempat rapi begitu tamu sudah mulai berdatangan.

Acara lancar, hampir semua tamu datang, bahkan ada yang datang sampai jam 9 malam coba. Semua berkat bantuan saudara dan teman-teman tersayang. Rizka buat kado kue ulang tahunnya yang keceeh (bikin kursus baking deh Rizkaaa) dan juga pesanan kue basahnya yang top. Belum kesediaannya juga jadi MC dadakan bersama Nida yang perjuangannya melewati lembah dan mendaki gunung hingga bisa sampai ke kampung bulak. Aah..terimakasih kalian.

Lalu ada bibi ebi yang bawa hiasan pompom dari singapura sebagai sentuhan terakhir dekorasi ulang tahun.

Dan tentunya buat teman-teman Pagi dan juga Ayah dan kekanya yang menyempatkan datang dan berbagi kebahagiaan atas bertambah umurnya kesayangan kami Senyum Pagi.

Kekurangannya adalah kami tidak punya foto berempat yang okay karena mondar mandir kesana kemari. Tapi yah sudahlah, meski tanpa foto, semoga tetap jadi memori yang berkesan buat semuanya.

Sementara itu refleksi saya sebagai ibu dari Pagi: Pagi sudah besar, sudah mulai kritis dan suka bertanya banyak hal. Pribadi yang sangat menyenangkan bisa berteman dengan siapa saja dan ramah kepada siapapun. Walaupun terkadang masih malu-malu, tapi tidak pernah bertahan lama. Dalam hitungan menit, dia pasti segera berbaur dan menikmati sekelilingnya. I love youuuu, Pagii…maafkan Keka yang masih sering marah-marah ya nak. Ingat selalu, Keka selalu sayang padamu.

Jul
23

 

IMG_20170525_171231

Sejujurnya setelah resmi gagal berkunjung ke museum Ghibli, saya rada enggan ke Tokyo. Kebayang ramai dan riwehnya kota itu. Apalagi dengan bawaan dan dua anak-anak, pasti kebayang repotnya.

Tapi ya sudahlah. Pengin tahu juga rasanya tinggal di kota metropolis yang terkenal dengan penduduknya yang gila kerja. Apartemen yang kami sewa terletak lumayan di pusat kota, di daerah Nishi Nippori, sekitar 3 stop stasiun dari pusat. Kamar kami terletak di gedung yang ramping di pojok sebuah jalan. Dari jendela, kami bisa melihat lalu lalang kereta api.

IMG_20170525_181916

Hari-hari terakhir kami di Jepang kami nikmati di Tokyo. Panas dan padat itulah kesan yang saya dapat dari Tokyo. Tanah begitu berharga disini, sehingga kalau bisa taman bermain untuk anak-anak dibuat sekecil mungkin dan parkir di pinggir jalan pun dibuat 2 tingkat. Kami sekeluarga tidak begitu banyak berinteraksi dengan banyak orang lokal disini. Mereka sibuk dan jalannya cepat. Salah satu kesempatan berinteraksi dengan mereka adalah pergi ke restoran lokal. Di sana, kami melihat Jepang yang hidup dan ramai dengan para pelayan berteriak menyebutkan menu-menu yang kami tidak tahu artinya. Lucu juga sih rasanya menjadi satu-satunya orang asing yang ada di ruangan tersebut.

Sebelnya mengantri di restoran di Jepang, mereka mendahulukan orang yang datang sendirian karena lebih mudah mendapatkan satu kursi kosong ketimpang 4 kursi kosong. Sehingga banyak tuh satu meja makan diisi oleh beberapa orang asing yang tidak kenal sama sekali tapi nampaknya mereka tidak peduli. Yang penting makan…Saran saya jika sedang lapar, kalau ada satu kursi yang kosong langsung saja diambil, meski anda membawa rombongan.

Hari pertama

Mendung di Tokyo dan sedikit hujan. Aaah..padahal dari kemarin udara sudah mulai cerah. Tapi tak mengapa, ini adalah saat yang tepat untuk menggunakan payung transparan khas Jepang doong.

IMG_20170526_100157

Hari pertama kami pergi ke Miraikan Museum Tokyo. Seperti sudah saya sebutkan di post sebelumnya, kami memutuskan untuk tidak pergi ke Disneyland, Kittyland atau Museum Doraemon karena selain mahal, yang sepertinya bakal menikmati kunjungan itu tentu bapak ibunya. Anak saya yang besar belum kenal siapa itu Doraemon atau Harry Potter (idaman si Ibu kalau bisa pergi ke Disneyland Tokyo) Beda dengan museum Ghibli, sebagai anak penggemar Hayao Miyazaki, Senyum Pagi sudah hapal hampir semua karakter studio Ghibli.

IMG_20170526_163227

Tapi beneran deh, Miraikan ini keren banget selain murah yah (teteup). Jika pengin tahu perkembangan teknologi Jepang disini tempatnya. Tempatnya pun seru. Anak-anak pasti senang disana. Ada robot yang bisa diajak interaksi dan dipegang-pegang, banyak permainan-permainan interaktif juga.

Ada sesi tutorial juga sebenarnya, tapi sayangnya juga ada dalam bahasa Jepang. Meski Pagi dengan pedenya pun ikutan juga. Kami sangat menikmati kunjungan disana. Inilah untungnya punya suami yang geek. hehehehe.

Setelah dari Miraikan, kami ingin mampir ke Akihabara, pusat elektronik dengan lampu-lampu neon yang kece buat background foto. Iya tujuan kami kesana bukan mencari barang elektronik, tapi hanya mampir buat foto kok hehehe. Kami ke Akihabara untuk mencari toko buku bekas Book Off yang salah satu cabang terbesarnya ada disana. Seperti diduga saya langsung menggila, tapi koleksinya gak sebagus di Seta ternyata. Untungnya saya dapat dua novel Kazuo Ishiguro dengan harga super miring.

Hari kedua

Kami pergi ke Tokyo National Museum. Niatnya pengin belajar tentang sejarah Jepang dan pernak-pernik kebudayaannya. Dari patung, alat-alat perhiasan, alat masuk, senjata, baju sampai konde. Setelah itu kami pergi ke acara nonton virtual reality proses restorasi salah satu kastil disana. Aah ternyata salah duga, ternyata hanya semacam penjelasan. Jadinya ayahnya dan pagi sukses tertidur. Mungkin sebaiknya tanya dulu yah sebelum masuk.

Setelah itu kami lanjutkan jalan-jalan ke taman Ueno. Jadi disinilah tempat macam rupa museum, salah satunya Tokyo National Museum. Kelik merayu  untuk mampir ke National Museum of Western Art cuma untuk foto di depan gedungnya yang konon kabarnya dirancang oleh arsitektuk kenamaan Le Corbusier.  Tapi kami hanya benar-benar mejeng di depannya aja. Lagian kalau Western Art kayaknya mendingan ke Eropa aja sekaliaan ( amiiiin). Di depan tamannya, kami sempat bertemu si Pemikir (the thinker) karya Rodin.

IMG_20170527_131959

Setelah itu kami bingung mau kemana. Penginnya sih ke taman bermain. Tapi bingung yang mana. Tapi akhirnya kami pergi ke arah Roppongi, salah satu kawasan mewah di Jepang, mungkin seperti Menteng atau Pondok Indahnya. Di Roppongi ini katanya ada taman bermain yang disebut Robot Park. Kami memutuskan kesana karena tamannya gratis dan dari browsing-browsing mainanya lucu-lucu. Tapi setibanya disana, saya lumayan kecewa, karena tempatnya kecil sekali. Beda banget dengan yang Australia yang satu kawasan playground bisa lebih luas dari lapangan bola. Tapi yah sudah yaa..sudah jauh-jauh ke Roppongi. Yang menarik mungkin dandanan bapak ibunya yang mengantar yang dandy dan lengkap dengan make up mereka. Padahal cuma ngantar anak main yah…

IMG_20170527_164827

Hari ketiga

Sehari sebelum pulang kami memutuskan mampir ke flea market paling akbar di Tokyo, Tokyo flea market. Camberwell flea market di Melbourne yang saya sangat cintai pun tak ada bandingannya. Barangnya mulai dari yang remeh temeh sampai yang barang-barang merek mahal ada disana. Tas Prada, Gucci lengkap dengan box dan kantongnya dijual juga disana. Bagi penggemar flea market, Tokyo adalah surga dimana para pembeli bisa nawar juga.

IMG_20170528_110745

Tujuan berikutnya kami ingin menuju ke Shibuya Crossing karena jujur saya pengin ngerasain nyebrang di perempatan (atau perlimaan yah) tersibuk di dunia. Norak yah. Tapi sebelum kesana, kami mampir ke daerah Harajuku melihat orang dandan dengan kostum unik lalu lalang.  Kami lewat Takashita Street..yang yak ampuuun penuh, padat, sesak. Dan saya tidak pernah melihat manusia sebanyak itu.

Setelah itu kami mampir ke Meiji shrine di daerah dekat sana. Lumayan meredakan sih suasana di kuil tersebut. Jalan menuju kesana penuh dengan pohon-pohon. Kami beruntung karena sesampai disana kami bisa melihat satu pesta pernikahan meskipun hari sudah sore.

IMG_20170528_170132

Dari sana kami langsung menuju Shibuya dan akhirnya kesampaian juga nyebrang di Shibuya crossing. Yak ampun…ribet banget karena gak biasa jadi sempat panik karena takut lampu merah sudah berganti hijau. Norak bangeeeet tapi menyenangkan. Bahagia itu gak perlu mahal ternyata.

Malamnya kami menutup perjalanan dengan makan malam di restoran paling enak di Nishi Nippori. Aah bakal kangen ramen nya niih. Jepang merupakan satu-satunya tempat di luar negeri yang membuat saya tidak kangen masakan Indonesia.

Japan, we will be back!

 

 

Jul
21

Sewaktu suami menawarkan memasukkan Kawaguchiko ke daftar itinerari kami, saya sih cuek-cuek saja. Saya sudah cukup puas dengan Tokyo, Kyoto dan Osaka yang merupakan tujuan wajib buat orang yang baru pergi ke Jepang untuk pertama kalinya. Alasannya sih dia pengin melihat gunung Fuji lebih dekat dan Kawaguchiko adalah salah satu daerah yang pas untuk melihatnya. Well, saya tidak menolak toh 15 hari adalah waktu yang cukup panjang, jadi empat kota masih oke lah.

IMG_20170523_162231

Perjalanan dari Seta ke Kawaguchiko cukup jauh. Tapi pemandangan yang ada cukup memanjakan, mulai dari rumah-rumah khas Jepang, sawah-sawah lalu daerah industri berganti ke pemandangan yang didominasi warna hijau di sepanjang jalan sampai bertemu gunung Fuji legendaris. Kami berganti kereta beberapa kali. Dari yang bagus dan penuh ilustrasi sampai kereta tua yang mengingatkan saya pada KRL di Jakarta. Modelnya persis.

Sesampainya di stasiun, aura daerah turis begitu kuat. Begitu keluar, kami disambut oleh gunung Fuji yang megah yang seakan-akan selalu menggoda mengajak ingin berfoto setiap saat. Di luar stasiun, bus-bus pariwisata berseliweran menaikkan dan menurunkan penumpang. Kami memutuskan jalan kaki saja ke arah penginapan sekalian melihat-lihat pemandangan.

IMG_20170523_164746

IMG_20170524_113021

Penginapan kami cukup istimewa. Ini rumah asli Jepang. Rumahnya besar sekali dan sedikit menyeramkan karena kami hanya berempat sementara ruangannya berlapis-lapis khas orang Jepang. Kerennya kamar kami tepat berhadapan dengan gunung Fuji.

 

Esoknya kami jalan-jalan ke daerah kampung Jepang yang masih mempertahankan rumah aslinya. Kami dapat info disana juga ada tempat sewa kimono yang murah. Kalau di Kyoto, sewanya bisa mencapai 3000-5000 yen, nah disini hanya 1000 yen saja. Setelah ke kampung Jepang, kami pun pergi ke public onsen, yaitu tempat pemandian air hangat khas Jepang dimana para pengunjungnya harus telanjang. Katanya kalau ke Jepang, kudu harus wajib merasakan ini. Seru dan deg-deg sih, karena saya harus menggandeng dua anak, sementara ayahnya pergi sendiri. Ini dikarenakan pemandiannya memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Setelah berendam, kami pun makan malam. Yang disayangkan di daerah ini adalah makanannya kurang begitu enak. Selain itu jam bukanya juga aneh. Pokoknya mereka buka hanya jam makan siang dan malam, selain itu tutup.

Esoknya kami pulang. Tapi kami mampir kami ke taman bermain Fuji-Q Highland Park yang baru dibuka. Karena kami tidak ada agenda ke Disney, ya sudahlah bermain ke taman ini dan cukup memuaskan kok.

Jujur dari rangkaian perjalanan kami di Jepang, saya menikmati sekali trip ke Kawaguchiko yang semula saya anggap remeh. Alasannya di tempat tersebut saya merasakan semua hal yang khas Jepang: tidur di atas tatami, mencoba kimono, mandi onsen dan pergi ke theme park. Seruuuu pokoknya.

 

 

Jul
20

Kami menetap di rumah teman di Seta dari Selasa Sore sampai Selasa Pagi minggu depannya. Jadi Seta menjadi semacam tempat pemberhentian acara melancong kami. Dari Seta kami pergi ke Osaka, dari Seta kami pergi ke Himeji Castle yang kabarnya kastil paling megah di Jepang, dari Seta, kami juga jalan-jalan ke Kyoto.

Seta adalah kota kecil yang seru. Banyak perumahan modern khas Jepang. Kami tinggal di daerah pemukiman yang mirip dihuni Nobita dkk. Aah jalan-jalan ke Jepang itu membuat imaji masa kecil saya menjadi nyata. Kami sempat menghabiskan satu hari menyelusuri Seta. Kami naik sepeda ke taman terdekat, main di gorong-gorong air sampai berburu barang bekas dan sushi murah. Seruu deh pokoknya. Jadi liburan ke Jepang gak harus mahal-malah menurut saya, melihat dan mencecap kehidupan sehari-hari orang Jepang menurut saya adalah pengalaman berharga. Tentu semuanya ini tidak terlepas dari panduan mbak Shinta dan mas Bayu, tuan rumah kami yang selalu memberikan info seru buat acara jalan-jalan kami.

  1. Osaka Aquarium

Hari pertama, kami berkunjung ke Osaka Aquarium yang katanya salah satu yang terbesar di dunia. Kami kesana sebenarnya untuk Nyala yang gandrung sama ikan. Dia begitu semangat setiap kali melihat ikan. Yah dari pada menghabiskan tiket mahal di Disney Sea, Osaka Aquarium merupakan alternatif lainnya yang gak kalah kece. Koleksinya lumayan banyak lhoo. Di setiap ruangan, kita bisa menjumpai meja yang diatasnya disediakan stempel dan ca. Jadi setelah melihat-lihat setiap pengunjung bisa mendapatkan cap sesuai dengan tema ruangan. Misalnya ketika masuk ke koleksi hiu, stempelnya berupa hiu. Pencarian stempel bisa jadi permainan seru buat anak-anak. Dan belakangan saya tahu, hampir di setiap tempat wisata di Jepang, pasti disediakan  stempel dan cap yang seolah-olah berfungsi sebagai penanda  bahwa kita pernah kesana. Seru sekali yah…

IMG_20170517_141252_HDR

IMG_20170517_160133

 

Setelah puas bermain di akuarium, kami berencana mencari makan, eh tapi malah nyasar. Tapi pada akhirnya kami menemukan restoran ramen yang enak bangeeeet dan murah.

2. Osaka kids plaza

Hari kedua, kami menuju  Kids Plaza Osaka, semacam taman bermain. tapi uniknya ini berada di dalam gedung. Jadi satu gedung itu isinya taman bermain saja. Cakep dan megah. Saya baru tahu bahwa Jepang tidak seperti negara maju lainnya yang menyediakan taman bermain gratis buat penduduknya. Taman bermain yang bagus di Jepang berarti kita harus membayar. Salah satunya adalah Osaka Kids Plaza ini. Tapi menurut saya pribadi harga yang ditawarkan setimpal dengan kepuasan yang didapat anak-anak.

IMG_20170518_142227

IMG_20170518_162457

3. Hari berikutnya kami ke kastil Himeji. Letaknya lumayan jauh jadi kami harus kesana naik Shinkansen lagi.

IMG_20170519_114932_HDR

Sebenarnya bisa saja kami ke Kastil Osaka, tapi katanya Himeji lebih legendaris. Akhirnya kami pergi kesana. Sampai di stasiun Himeji, kami sudah disambut dengan banyak atribut yang dikhususkan untuk para wisatawan. Uniknya letak stasiunnya langsung berhadapan dengan kastil Himeji. Melihat trotoar lebar dan nyaman, kami pun memutuskan untuk berjalan kaki ke arah kastil. Waah, hari itu lumayan panas. Sebelum sampai di pintu masuk.

Kami pun memutuskan beristirahat, menghabiskan bekal sementara Nyala dan Pagi sibuk kejar-kejaran dengan burung-burung. Sampai di lokasinya, terjadi halaman kastil ini luas sekali saudara-saudara. Setelah puas potret sana, potret sini, kami menuju bangunan utama.

IMG_20170519_143848

Dan untuk menuju puncak, kami harus naik beberapa anak tangga. Saya yang harus menggendong Nyala cukup ngos-ngosan begitu sampai di atas. Sebenarnya di atas hanya ada kuil kecil tempat orang berdoa dan jendela-jendela yang dipakai pengunjung melihat kota dari ketinggian. Pulang dari sana, kami menemukan toko yang menjual kimono super murah. Aah kami pun kalap.

 

4. Esoknya, kami bersama keluarga mas Bayu dan mbak Shinta pergi ke Nara, kota tua yang banyak taman berisi kijang-kijang yang dilepas. Hari itu hari Sabtu dan kota Nara penuh sekaliii. Saya sendiri kurang bisa menikmatinya. Apalagi udara panas. Kami pergi ke beberapa kuil, tapi padatnya pengunjung membuat saya kurang bisa puas melihat-lihat. Kami pun memutuskan untuk langsung kembali ke Kyoto. Nah perjalanan dari Nara ke Kyoto nih yang seru. Kami menyasarkan diri ke gang-gang kecil penuh dengan toko-toko lucu. Sampai di Kyoto stasiun, kami langsung naik ke mall di atasnya untuk makan. Menuju kesana, kami melihat tangga dengan lampu warna-warni lampu yang bisa dimainkan. Seruuu…restorannya canggih banget, ngantri plus pesannya harus pake mesin.

IMG_20170520_131026_HDR

 

IMG_20170520_140309_HDR

IMG_20170520_184742_HDR

 

5. Hari minggu, kami memutuskan istirahat di rumah saja, menyusuri Seta dan sekitarnya. Kami naik sepeda ke taman terdekat. Jepang juga salah satu kota sepeda, jadi tidak ada salahnya merasakan naik sepeda.

IMG_20170521_103738

Setelah itu kami main air di selokan dekat rumah. Beda dengan di Indonesia, selokannnya bersih dan apik.

IMG_20170521_154707 (1)Sorenya, kami diajak makan sushi murah. Lagi-lagi restorannya serba canggih, kami pesan lewat sebuah mesin di setiap meja dan voila…tak berapa lama makanan pun tiba.

IMG_20170521_204950Setelah itu kami diajak toko second hand store di Seta. Yak ampuuun langsung kalap mendadak. Haduh haduh, koleksi banyak banget dan bagus-bagus. Aaah..ini bisa agenda tambahan nih selama di Jepang: berburu barang bekas. Ditelusuri ternyata keberadaan toko-toko ini didukung oleh kebiasaaan masyarakat Jepang yang selalu memberi yang terbaik buat orang lain. Sepatu-sepatu adidas stan smith aja ada yang masih lumayan kinclong..widiih.

6. Di hari terakhir kami di Kyoto, agenda kami adalah pergi ke tempat-tempat para turis. Agenda kami hari itu lumayan padat: Fushimi Inari, Gion Kyoto, semacam kota tuanya dan Nishiki Market. Dan karena lokasinya berdekatan, kami menyelesaikan semuanya lumayan cepat, padahal kami berangkat gak pagi-pagi amat. Akhirnya kami memutuskan mampir ke Arashiyama Bamboo Forest juga. Tips dari saya kalau mau datang ke tempat-tempat turis ini sebaiknya datang pagi sekali atau sore sekali karena akan lebih sepi dan kesempatan foto-foto jadi lebih banyak tanpa perlu ada photo bomb dimana-mana.