psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Jan
06

img_20181209_212914

Terima kasih sudah menjadi pria yang super keras kepala dalam mengejar mimpi-mimpinya.

 

 

 

 

Advertisements
Jan
06

img_20181124_135058

 

Jujur selama saya absen dari dunia per-blog-an, begitu banyak peristiwa menarik hadir di kehidupan saya. Ingin sekali rasanya menuliskannya semuanya. Menulis blog, itu bukan hanya sekadar rutinitas tapi semacam catatan buat diri saya sendiri atas  pencapaian, kebahagiaan dan juga kegagalan dan  keresahan. Coretan-coretan untuk refleksi juga.

Untuk cerita satu ini, saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk menuliskannya. Meskipun sudah hampir dua bulan saudara-saudara. Kisah kali ini adalah kisah tentang perayaan ulang tahun Nyala yang ketiga. Tuhan mungkin berusaha menampar saya Pagi dengan mengingatkan saya pada janji saya ketika saat kami pergi ke sekolah minggu, seorang teman Nyala yang ketika itu diundang tapi tidak bisa datang memberikan kadonya ke Nyala. Sweet bangeeet, batin saya. Baiklah, itu cue saya untuk menulis cerita perayaan ulang tahun Nyala.

Well, sumpah semuanya serba dadakan, karena sayanya juga baru balik dari Jerman dan bapaknya yang super slow itu juga gak ngapa-ngapain hingga saya datang. Jadi semua detil acara disiapkan kurang dari 2 minggu saudara-saudara.

Kebayang dong repotnya. Untungnya koordinasi saya dan keliek lumayan lah, meski saya sempat uring-uringan karena dia telat bikin undangan yang berakibat banyak orang yang tidak datang karena sudah ada acara.

whatsapp image 2019-01-06 at 9.33.00 pm

 

Dari jauh-jauh hari, Nyala sudah tahu bahwa ulang tahunnya akan dirayakan. Dia juga berlatih menyanyikan lagu ulang tahun dan juga meniup lilin. Dia pun sudah bisa menunjukkan tiga jarinya ketiga di tanya, ulang tahun yang ke berapa? Dari jauh-jauh hari, saya dan Keliek sih inginnya temanya bernuansa jepang-jepangan.  Ini sebenernya karena kami ingin memakai kimono yang kami beli di pasar loak di Jepang dengan harga murah. Kapan lagi kan bisa pakai kimono.

Tapi bapak ibu bisa berencana, anaknya tetap yang menentukan. Si Nyala tetap keukeuh pengin punya kue ulang tahun princess dooong. Waduuuh. Ya sudah lah yah…untung dia gak ribet pengin baju princess juga. Jadinya kami sekeluarga tetap dengan kostum kimono lalu dekor ala-ala Jepang, tapiii kue ulang tahunnya tetap princess Disney doong.

Dari semua barang yang dicari yang paling menantang mencari kue ulang tahun. Awalnya saya pengin cari yang foundant, tapi cek bakery sana, bakery sini kenapa mahal yah, selalu di atas satu juta. Duh..akhirnya Ayahnya menemukan satu pembuat kue rumahan yang bisa diorder dan harganya lebih masuk akal. Meski ternyata juga bukan foundant juga yaah. Tapi mengingat mata Nyala berkilat-kilat kegirangan waktu kuenya datang, hati ini ikut juga riang. Untuk mengakali agar kuenya jatuhnya lebih murah, saya pun mengikuti tips Mama teman baletnya Pagi. Beli saja polosan nanti boneka princessnya beli di online ajah. Dan beneran terbukti. Anak senang, Ibupun senang.

Kami pun menyiapkan segalanya sendiri, termasuk memilih dan membungkus merchandise. Salah satu komentah Kelik yang buat saya geli: “Ini baru ngurusin anak ulang tahun, gimana kalau rabi (menikah)” yah,”

Hari H. Acara berjalan lancar, tetangga sekitar, teman-teman sepermainan Nyala datang semua. Ada beberapa teman Pagi yang juga diundang, mengingat teman Nyala belum banyak. Saya pun mengundang beberapa teman. Tapi seingat saya hanya satu yang datang: Tante Reva beserta Om Fajar dan adek cantik mungil Aurora.  Pengorbanannya luar biasa karena datang jauh-jauh dari Bekasi…semoga sajian trancam dan tempe bacemnya bisa mengobati yah. hahaha.

Terima kasih Tuhan buat hari yang menyenangkan ini. Tiga tahun lalu tetap di tanggal 24 seorang Nyala hadir di tengah kami dan hingga sekarang sinarnya tidak pernah redup terus menerangi kehidupun kami.

 

 

 

img_20181123_085338

Dec
14

IMG_20181103_160023

 

Setelah resmi jadi ibu dua anak, agenda jalan-jalan sendiri (atau lebih dikenal dengan istilah solo travelling) bisa dihitung dengan jari. Saya dan anak-anak itu sudah jadi satu paket, ke mana saya pergi, pasti anak-anak ikut. Kecuali untuk urusan kerjaan yah, saya biasanya akan selalu bersama anak-anak. Bahkan waktu dengan Pagi dulu, saya sering bawa dia untuk urusan kantor.

Bepergian sendirian tanpa anak-anak buat seorang ibu memang bisa jadi sebuah dilema. Apalagi hidup di masyarakat yang budaya patriarkinya sangat kuat yah. Istri seharusnya di  rumah bersama anak-anak, yang pergi yah seharusnya laki-laki. Untungnya lingkungan dekat saya tidak ada yang pernah berujar seperti itu, atau saya yang gak pedulian. Tapi untungnya punya suami yang selalu mendukung dan dengan senang hati mengurus anak-anak sementara istrinya jalan-jalan..ehm…kerja maksudnya.

Tapi mungkin yang berat meninggalkan anak-anak, adalah kebersamaan yang sudah menjadi rutinitas jadi hilang. Kesempatan untuk menyaksikan saat-saat bersejarah pencapaian anak-anak pun bisa jadi hilang. Hati rasanya mencelos dan bolong. Setiap saya bepergian sendirian, saya selalu berujar “Wah, coba Nyala dan Pagi bisa ikut dan mengalami apa yang bisa saya lihat, rasakan dan nikmati.” Sedih rasanya kalau ingat itu. Perasaan merasa “bersalah” itu pun muncul ketika harus ninggalin anak sebentar bersama ibu saya sewaktu kami liburan ke Singapura karena saya harus bertemu dengan teman.

Tapi tidak bisa dipungkiri, hati pun juga senang ketika bisa cuti sejenak jadi full time mom. Ini adalah momen buat saya untuk men-charge diri saya sepenuhnya dengan pengalaman-pengalaman baru dan pengetahuan baru-baru. Bepergian sendiri adalah salah satu me-time yang berharga bagi saya. Saya bisa menikmati sesimpel pergi ke kantor dan bekerja di kantor. Atau itu kenapa saya suka jalan-jalan pagi buat olahraga. Itu adalah me-time yang paling sederhana. Ketika me-time, saya biasanya “ngobrol” dengan diri sendiri tentang rencana-rencana saya tentang ide tulisan dan banyak hal.

Dilema itu datang belum lama ini ketika saya harus pergi tiga minggu ke Eropa. Jauh-jauh hari saya sudah bilang ke suami, dan dia okay saja. Meskipun ini adalah waktu terlama saya meninggalkan anak-anak. Catatan terlama saya pergi meninggalkan anak itu 10 hari ketika saya harus liputan ke London. Waktu itu cukup menantang juga, karena Nyala belum setahun, jadi saya harus pergi memompa ASI di sela-sela kegiatan. But I made it.

Sekarang tiga minggu. Selain kunjungan kerjaan, saya juga mengatur waktu untuk jalan-jalan dan mengunjungi teman-teman di sana. Saya pergi mengunjungi teman dan sahabat di beberapa kota dan negara. Saya sempat tinggal lama dengan Virtri, sahabat saya, dan keluarga mungilnya di Berlin. Virtri mempunyai seorang anak lucu bernama Kelana, dan sukses membuat saya beberapa kali latah memanggilnya Nyala. Mungkin itu tanda saya kangen dengan Nyala.

Waktu saya solo travelling adalah ketika mengunjungi Budapest-Slovakia dan Polandia dalam sekali jalan. Itu semua terjadi dadakan saya juga tidak menyangka bisa seperkasa itu sebenarnya. Saya berangkat dari Berlin hanya berbekal tiket pesawat Berlin-Budapest dan pesanan menginap di sebuah apartemen di Budapest. Ini mungkin bawaan sering jalan-jalan sama anak-anak yang terkadang memang tidak bisa merencanakan segala-sesuatunya amat rigid. Jadinya banyak manuvernya. Ketika sampai Krakow, Polandia, kota yang cantik itu tetap tidak bisa membuat saya betah berlama-lama, maunya balik segera ke Berlin dan pulang ke Indonesia.

Hari-hari terakhir saya di Berlin pun saya tampak setengah hati, setengahnya sudah mau balik ke Indonesia. Mungkin tiga minggu terlalu lama? Mmm…

Tapi mungkin sayanya yang terlalu lebay, orang-orang rumah bilang anak-anak manis ketika saya tinggal.  Nah lhooo…apa mesti ditinggal mulu supaya manis selalu. Atau ini berarti, akunya ajah yang gak becus ngurusin anak? abis kalau sama aku, pasti ada masalah…hahaha

Aduuh doaku sih meskipun jarak memisahkan kami, saya ingin anak saya belajar bahwa perempuan itu bisa mewujudkan dunianya sendiri tanpa harus selalu bergantung ke anak-anak dan suaminya. Jadi perempuan yang cerdas dan mandiri dan mampu meraih cita-citanya sampai ke negeri jauh. Dan satu lagi doaku, semoga di kesempatan yang lain, kami bisa jalan bersama-sama menaklukkan dunia. Amiiiin.

Nov
23

IMG-20181107-WA0024

Setelah lulus sekolah S2 di Australia, saya rencananya mau mendapatkan fellowship dulu sebelum akhirnya lanjut ke S3. Ah yak ampun, ternyata tidak semudah yang saya kiri. Mmmm..pelet saya sudah tidak berkhasiat lagi tampaknya hahaha.

Mungkin juga saya terlalu pede daftar fellowship yang keren-keren. Saya juga pengin banget melebarkan sayap ke Amerika yang katanya adalah puncak segala bentuk jurnalisme. Tapi sekarang kayaknya hal itu masih mimpi. Dari beberapa yang saya lamar, semuanya ditolak dengan sukses. Hiks.

Lalu ketika melihat dua tawaran fellowship ke Jerman dalam waktu yang berdekatan. Saya pun iseng-iseng mencoba karena topiknya yang menarik. Lagian, sahabat saya Virtri baru pindah dengan keluarganya ke Berlin. Bisalah saya mampir main nantinya.

Setelah beberapa bulan, saya pun dapat kabar kalau saya terpilih untuk fellowship yang pertama. Well, pada intinya sih kunjungan liputan ke Jerman hanya saja dibuat sayembara ke seluruh wartawan sedunia. Yang proposalnya paling okay-lah yang terpilih. Senangnya hati saya karena saya terpilih dari 15 wartawan dari seluruh dunia. Dan beda dengan fellowship yang pernah saya ikuti, saya juga berkompetisi dengan wartawan dari negara-negara maju. Angkatan saya ada wartawan dari Finlandia dan Ceko juga.

Tidak beberapa lama, saya mendapat kabar bahwa saya mendapat kesempatan dari penyelenggara Fellowship yang ke-2 bahwa meskipuan mereka sudah memilih fellow tahun ini, tapi mereka merasa tertarik dengan proposal saya. Mereka bilang akan mencari dana tambahan untuk mendatangkan saya. Dan dapatlah mereka. Singkat cerita, saya akan pergi selama 3 minggu untuk menghadiri dua acara itu di Jerman. Wuhuuu.

Senang tapi juga sedih karena harus meninggalkan anak-anak selama 3 minggu. Keliek pun harus mendatangkan bala bantuan mamahnya dari Yogya untuk mengasuh anak-anak selama saya pergi. Campur aduk emosi ini saya akan tulis di tulisan yang lain saja yah. Tulisan ini akan lebih fokus pada pengalaman saya selama di Jerman dan betapa berubahnya negara ini selama kurun waktu satu dekade.

Saya pertama kali ke Jerman 10 tahun yang lalu untuk fellowship juga (sebut saja saya fakir fellowship). Tahun 2008, Saya pergi dengan wartawan Indonesia yang lain, Priska yang sekarang justru jadi sahabat dekat. Kami tinggal 6 minggu di kota Hamburg dan di antaranya kami juga mengunjungi Berlin selama seminggu. Kami pergi waktu itu ketika musim panas, yang masih dingin juga buat ukuran orang tropis seperti saya.

Kunjungan saya ke Jerman yang ke-dua terjadi tahun 2010. Saya datang untuk fellowship yang lain selama dua bulan. Saya datang bersama seorang wartawan Indonesia yang lain, termasuk bos saya di The Jakarta Post.

Kunjungan itu sangat berbeda karena kami datang waktu musim dingin. Sebelum saya mendarat di Berlin Tegel Airport, seminggu sebelumnya suhu mencapai minus 10 derajat. Busyeeet.

Kesan saya dari kunjungan-kunjungan itu kurang lebih sama. Orang Jerman itu tepat waktu sekaliii. Saya ingat bahwa sampai hitungan menit. Jadi gak masalah jika mereka bilang janji di lobby 9.34…Selain itu saya mendapati orang Jerman juga kaku-kaku. Apalagi kalau bertemu di jalan. Sedikit sekali yang bisa berbahasa Inggris. Dan kebanyakan mereka tidak bisa joget hahaha.

Lalu sepuluh tahun kemudian saya datang kembali. Perjalanan kali ini diawali dari  Frankfurt, lalu saya muter muter ke Stuttgrat, Karlshure dan Saarbrucken. Seminggu kemudian,  tibalah saya kembali ke Berlin. Baunya masih sama dan selama perjalanan bis ke apartemen Virtri, saya mencoba mengingat-ingat kembali memori saya 8 delapan tahun yang lalu. Dan saya baru sadar, ini musim gugur pertama saya di Jerman.

Selama kurang lebih dua minggu di Jerman, saya mencatat ada beberapa perubahan yang lumayan:

  1. Jerman jadi lebih ngaret yah.

Saya kaget juga dengan penemuan ini. Di dua event yang saya datangi, hampir semua acara molor. Yang saya maksud di sini bahkan dalam hitungan menit yah karena setahu saya Jerman dulu sangat tepat waktu. Apalagi waktu di Stuttgart, kami bisa molor sampai 15 menit. Ternyata hal itu biasa di Stuttgart yang lalu lintasnya padat sekali dikarenakan jumlah mobil yang banyak. Maklum kota ini tempat beberapa pabrik mobil terkenal, seperti Prosche dan Mercedes.

2. Jerman jadi lebih ramah

Lebih banyak orang ramah dan bisa berbahasa Inggris. Kesan saya ini bertahan sampai saya pulang dalam perjalanan ke airport. Saya berkenalan dengan seorang bapak-bapak yang juga dalam perjalanan ke airport. Dia orang Jerman yang anak-anaknya tinggal di luar negeri. Kami ngobrol cukup lama ketika itu. Waktu saya dan Virtri jalan-jalan pun, banyak orang-orang yang hangat menyapa. Mmmm, tapi apa ini karena faktor Kelana, anak Virtri yang juga jalan-jalan dengan kami yaa…

3. Karena kakunya orang Jerman, dulu saya jarang sekali melihat orang bermesraan di tempat publik. Beda dengan di Italia atau Paris. Tapi kemarin saya mendapati beberapa pasangat dan saya juga menemukan sepasang gay. Aah sukaaak.

Tiga minggu mungkin waktu yang sebentar, tapi tidak bagi saya. Menjelang hari-hari terakhir di Berlin, saya sudah kangen akut dengan anak-anak. Jiwa saya sudah ada di Jakarta, begitu kata Virtri. Mungkin benar juga.

Beda dengan 8 delapan tahun yang lalu, ketika saya begitu berat meninggalkan Berlin. Saya ingat sekali menyempatkan diri jalan-jalan ke Alexander Platz menemukan tutup got cantik khas Berlin dan mengambil foot selfie. Setelah itu, saya jalan-jalan mengitari daerah sekitar sambil berpikir apakah saya akan kembali lagi?

Mengingat hal itu, saya kemudian berpikir ternyata bukan hanya Jerman yang berubah tapi saya pun juga berubah.

4. Jerman jadi lebih ramah lingkungan?

Ini melihat banyak sekali restoran vegan di mana-mana. Beberapa orang Jerman yang saya temui pun mengakui mereka menjadi vegan. Beda sekali dengan waktu saya datang sebelumnya di mana saya diajak ke restoran yang banyak dagingnya. Sekarang kalau ke restoran pasti di tanya mau menu vegetarian atau yang biasa. Ini juga saya perhatikan dari banyak restoran vegan berseliweran di mana-mana di Berlin. Beda dengan kota-kota lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nov
15

IMG_20180929_154752

Akhir September lalu, saya dan genk Ingat65 mengadakan acara piknik. Sebenarnya acaranya ditujukan kepada para penulis. Ada beberapa yang berminat. Tapi begitu hari H, yang ikut yah kita-kita saja plus saya bersama suami dan anak-anak.

Kami memang berniat ikut karena sudah lama sekali tidak main ke pantai. Intinya kami sakaw pantai. Yang seru adalah kami bakal berkemah di sana. Jadinya kami membawa tenda kami yang kami terakhir pakai di Australia ituuu.

Yang paling seru adalah malam sebelum kami berangkat, gempa di Palu terjadi. Duh, saya langsung mengkeret berniat membatalkan semuanya. Tapi teman-teman yang lain kok santai. Begitu tanya pak Keliek, dia pun tetap mau berangkat. Ya sudahlah berdoa saja semua baik-baik.

Perjalanan kali ini memang berbeda ketika kami pergi ke pulau Macan beberapa waktu yang lalu. Kalau dulu berangkat lewat pelabuhan Marina Ancol, kali ini kami berangkat lewat pelabuhan Muara Angke. Semenjak jam setengah 7 kami di sana, kapal baru berangkat jam 9. Dan entah kenapa perjalanan begitu lama sampai ke Pulau Dolphin tujuan kami. Beberapa kali saya sempat mau muntah, tapi saya paksakan saja untuk tidur. Untungnya anak-anak tidak apa-apa. Sepertinya mereka lebih tahan banding ketimbang saya.

Sebelum kami menuju ke pulau Dolphin, kami singgah dulu ke pulau Harapan. Beristirahat, makan siang dan bertemu dengan penyewa kapal untuk pergi ke pulau Dolphin.

Sebenaranya perjalanan kali tidak repot, karena semua sudah diurus oleh Nida. Kami tinggal bayar dan bayar diri saja. Saya sebelumnya tidak pernah dengar Pulau Dolphin, tapi Nida yang penggemar pantai ini bilang pulaunya bagus. Ya sudahlah.

IMG_20180929_151740

Tapi sepertinya banyak sekali orang yang menawarkan jasa trip ke pulau-pulau sekitar di pulauHarapan. Kami juga bertemu dengan sekelompok Yogi yang hendak berkemah tapi di pulau lain.

Jadi paket perjalanan kami juga termasuk island hopping ke beberapa tempat snorkling yang caem sebelum ke pulau Dolphin. Saya yang sedang menstruasi pun hanya bisa gigit jari di atas kapal. Tapi senang melihat Pagi belajar snorkling.

IMG_20180929_142436

Saya berharap sih tidak banyak orang yang berkemah di pulau Dolphin. tapi harapan saya pupus, begitu sampai sana, yang jaraknya sekitar 30 menit dari pulau Harapan, sudah banyak orang-orang di sana. Katanya sih mereka hanya berkunjung saja dan tidak berkemah. . Tapi saya sudah melihat beberapa kemah berdiri di sana-sini.

IMG_20180930_060322

IMG_20180929_152830

Untungnya kami masih kebagian tempat, di pantai bagian belakang. Pulaunya sendiri cantik. Ada dua pantai yang bisa buat main, dan berenang-berenang cantik.

Kamar mandi hanya ada dua di sana dan cukup antre juga menunggunya. Untuk pipis bayar 2,000 untuk mandi Rp 5,000, jadi siap-siap bawa receh yang banyak. Oya pastikan untuk mandi minta air tawar, jangan air laut.

Setelah beberes kemah dan bermain di pantai, kami pun menyiapkan makan malam. Untung bawa Keliek. Dia memang bisa banget diandalkan. Dia juga yang punya ide bawa bricket buat masak. Dibanding kelompok kemah yang lain, kami yang paling tidak serius. Kelompok lain bawa cabe, tomat, panci, dan penggorengan, kami yah bahan makan yang hampir jadi sajah plus snack yang berkelimpahan Untungnya di sana ada warung indomie penyelamat yang bisa dihampiri> tapi toh kami tidak pergi ke sana juga.

Malam itu kami buat api unggun dan ngobrol santai di bawah bintang-bintang sambil nyemil marsmallow gosong dan jagung dan ubi bakar (banyak juga yah). Tidur pun nyenyak, cuma begitu bangun punggung kok pegal-pegal yah. Sepertinya harus beli kasur angin lain kali.

IMG_20180930_060503

Pagi sebelum memulai aktivitas saya sempat yoga, sementara anak-anak sudah nyemplung air bersama-sama tante-tantenya. dari pagi sampai menjelang siang, mereka belum belum bosan juga. Apalagi si Nyala. Senangnya bukan main. Pagi pun sudah bisa main snorkling sendiri. Senangnya bukan main dia.

Tapi saatnya pulang karena kapal sudah menjemput. Setelah membereskan semuanya kami pun berlayar kembali ke pulau Harapan sebelum naik kapal ke Jakarta.

Untuk semuanya kami hanya perlu bayar Rp 265,000 per orang. Sementara anak-anak bisa lebih murah dari itu. Beda banget kan sama yang di pulau Macan hahaha. Untuk liburan keluarga, berkemah di pulau seribu ini cukup seru dan murah bukan? Sepertinya kami bakal sering-sering deh.

Oct
13

IMG_20180927_122041

Tanggal 27 September lalu–iya saya ingat benar tanggalnya–saya naik angkot lagi. Entah kapan terakhir kali saya naik angkot. Seingat saya sudah lama sekali.

Waktu itu naiknya pun tidak direncanakan sama sekali. Jadi saya ingat sekali waktu itu saya sedang ada janjian di Kantor Berita Radio (KBR) di jalan HOS Cokroaminoto. Sehabis dari sana, saya dan teman-teman mampir ke mie ayam yang menurut saya lebih enak dari mie ayam Ambon yang legendaris itu. Setelah kenyang, saya pun berencana balik. Tapi bingung karena posisinya yang di tengah-tengah memungkinkan saya untuk naik apa saja dari sana. Tiba-tiba Kopaja P20 jurusan Senin-Lebak Bulus datang. Langsunglah saya spontan pamit dan naik Kopajanya.

Begitu naik, saya serasa dibawa ke lorong mesin waktu, di masa-masa muda (hihihi, iya saya memang sudah menua) masih lincah naik turun angkutan umum. Meski macet dan umpet-umpetan, saya menilai naik angkot semacam mencerahkan. Ketemu banyak orang, memperhatikan gerak-gerik mereka, menikmati lalu lintas di luar dan di dalam kendaraan:  para penjual dengan aneka rupa dagangan mereka, kemudian pengamen dengan gaya dan musik yang  jika beruntung bisa menghibur hati.

Meski bising, macet dan belum lagi asap yang ke mana-mana, naik angkot juga menenangkan buat saya. Saya masih ingat betapa bisa tertidur di bis dari Kreo sampai Monas itu adalah kemewahan yang tiada duanya. Atau tidur siang sejenak dari Kebayoran sampai Palmerah.

Tapi sesudah hamil dan punya anak, saya semakin jarang naik angkutan umum. Rasanya tidak tega membawa anak-anak kecil di tengah-tengah lautan kendaraan yang semrawut di Jakarta. Demi kenyamanan, saya pun membeli kendaraan yang akhirnya juga saya pakai hilir mudik rumah ke kantor dan ke rumah lagi.

Dua tahun di Australia dengan segala kenyamanan yang ditawarkan angkutan umum mereka, membuat saya sedikit takut mencoba gagah naik angkot lagi. Tiba-tiba hamil lagi dan punya anak kedua, hubungan saya dan angkot pun layaknya mantan yang putusnya tidak baik-baik. Kemudian ada ojek daring dan juga kereta–iya sekarang saya suka naik kereta ke mana-mana, semakin jauhlah hubungan saya dan kopaja.

Hingga kemarin itu. Saya tidak mengharapkan apa-apa. Keputusan saya saat itu sangat spontan. Saya tidak mengharapkan pencerahan atau ketenangan jiwa ketika memutuskan naik kopaja waktu itu. Saya penasaran apa yang berubah yah setelah sekian lama. Waktu itu saya naik kopaja biasa–bukan yang AC dan dijadikan pengumpan bus Transjakarta. Tidak banyak yang berubah. Masih kusam, kotor dengan kursi-kursi dan karat-karat disana-sini. Sama seperti bus Metromini 69 yang membawa saya pulang dari Bulungan ke Kreo ketika saya masih SMA. Iya, pengalaman bus pertama saya terjadi ketika saya masih SMA.

Dua puluh tujuh tahun kemudian, bohong rasanya ketika saya bilang saya merasa damai dan tenang ketika naik angkutan yang sejenis. Di kopaja itu, saya celingak-celinguk melihat keadaan sekitar sambil membawa erat bawaan saya. Perbedaan yang jelas adalah saat itu adalah penumpang lumayan sepi, padahal perjalanan terjadi di siang bolong. Ada sekitar 6 penumpang waktu saya naik. Lalu lama-kelamaan satu-persatu penumpang menghilang. Hingga hanya saya dan satu penumpang sebelum saya akhirnya turun di Poins Square Lebak Bulus. Ketika itu saya ingin membeli beberapa barang untuk kebutuhan piknik ke luar kota. Setelah selesai, saya pun saya bergegas membuka aplikasi taksi daring. Cukuplah nostalgia saya dengan kopaja hari itu.

Hingga 9 September yang lalu, saya pun mengulangi nostalgia itu. Lagi-lagi saya ada acara di KBR. Ketika hendak pulang, saya sudah berencana naik Trans Jakarta saja, mengingat pengalaman kurang berkesan kemarin itu. Tapi teman saya tiba-tiba memberi tahu kalau saya bisa naik bus pengumpn dekat dari situ yang salah satunya kopaja juga namun diberi fasilitas AC. Jadilah saya naik kopaja ber-AC melintasi jalur khusus busway. Saya tidak banyak memperhatikan sekitar meski memang lumayan penuh ketika itu. Ada bau aneh yang buat saya tidak nyaman. Aarrgh. Untungnya kurang dari satu jam saya sudah sampai di terminal Lebak Bulus. Begitu turn, ketika hendak memesan ojek daring, saya melihat ada angkot 106 ngetem. Aah, lagi-lagi saya penasaran. Lalu melompatlah saya naik ke dalam angkot yang membawa saya pulang ke rumah tercinta.

IMG_20181009_143654

 

 

 

 

Sep
01

IMG-20180828-WA0020

Minggu yang lalu adalah minggu yang membanggakan bagi saya. Saya bangga sebagai seorang istri dan juga ibu. Dua orang kesayangan sukses membuat dada saya berdesir dan mata berkaca-kaca.

Minggu lalu dua film layar besar karya suami kesayangan tidak direncanakan muncul berbarengan. Yang pertama adalah film anak-anak Petualangan Menangkap Petir dan yang kedua adalah film laga silat Wiro Sableng.

Di saat yang bersamaan anak pertama kami Senyum Pagi mengikuti lomba balet tingkat nasional pertamanya.

Akhir pekan yang cukup sibuk bagi saya dan keluarga kami tapi semua terbayar dengan rasa bangga dan bahagia.

Setelah berbulan-bulan, hari-hari yang ditunggu datang juga buat Keliek Wicaksono. Kerja keras melototin komputer seharian selama berbulan-bulan lalu pertemuan-pertemuan maraton yang tidak ada henti-hentinya akhirnya terbayar juga sayang.

Kami sekeluarga hadir di gala premier Petualangan Menangkap Petir bersama-sama anak. Ketika namamu muncul di kredit awal film, ada haru disana.

IMG_20180825_142147

Perasaan yang sama pun hadir ketika menemani datang ke gala premier Wiro Sableng. Senyum ini tidak pernah habis mendengar namamu disebut berkali-kali. Belum ketika diperkenalkan dengan timmu, selalu ada cerita membanggakan di sana.

Saya lupa kapan pertama kali kamu bilang bahwa mimpimu adalah membuat  efek visual yang ciamik untuk sebuah film kolosal. Tapi jelas bahwa kamu mewujudkannya malam itu dan senangnya bisa jadi salah satu saksi yang menyaksikannya.

IMG_20180827_214056

Kegigihanmu mengerjakan proyek besar ini dan ketelatenanmu mengerjakan ratusan gambar yang tidak mudah. Belum lagi kepemimpinanmu dalam mengkoordinir puluhan artis visual efek menemukan klimaksnya malam itu. Aah, penuh rasanya dada ini melihat pencapaianmu di layar besar itu.

Sehari sebelumnya, saya juga merasakan hal yang sama ketika Pagi dan teman-temannya tampil di atas panggung berkompetisi dengan 10 sanggar balet untuk kategori group balet. Nama lombanya NaDWorC atau National Dance Workshop dan Competition. Ternyata lomba yang dihelat 2 tahun sekali ini cukup bergengsi. Semua jurinya dari luar negeri, dua dari Rusia sedangkan satu dari Filipina. Pesertanya juga banyak dan berasal dari sanggar-sanggar tari terkenal di Indonesia. Lombanya bertempat di Gedung Kesenian Jakarta.

IMG_20180826_120918

Ketika kelompok Pagi dipanggil, tak kuasa air mata ini pun menetes. Terharu melihat Pagi berlenggak-lenggok di atas panggung. Saya tahu Pagi berlatih cukup keras untuk itu. Sekitar 2 minggu sebelum lomba,  gurunya pernah bertanya kenapa Pagi tampak tidak fokus dan selalu lupa gerakannya. Dan dia membuktikan kerja kerasnya. Di atas panggung, Pagi dan teman-temannya tidak melakukan kesalahan sama sekali. Flawless.

Tapi meski demikian, Pagi tidak juara. Ada kelompok lain yang lebih baik. Banyak teman-temannya yang sedih dan menangis. Tapi tidak Pagi.  ” “Upset” sih, tapi cuma dikit,” ujarnya sambil nyengir dan memamerkan dua gigi kelincinya yang besar-besar.

Ah, Pagi kamu selalu juara di mata ibumu ini.

 

 

 

 

 

 

Aug
23

Coba jika diperkenankan bertanya: berapa banyak whatsapp (WA) group yang Anda punya saat ini?

Saya bergabung dengan sekitar 10 WA grup. Setidaknya 3 group untuk urusan pekerjaan. Tapi ada juga group dengan kantor lama (tidak usah disebut yah namanya heheehe). Iya, tampaknya saya golongan orang-orang yang tidak gampang move on.

Ada beberapa group dengan teman-teman terdekat. Meski ada kalanya akhirnya mereka saling bersinggungan karena banyak di antara sahabat saya yang akhirnya berteman juga. Dunia memang kecil, saudara-saudara.

Lalu ada juga group yang tidak terelakan. Ini macam group keluarga dan juga group ibu-ibu anak-anak sekolah. Mau enggak mau, saya kudu ikutan. Apalagi kaitannya dengan sekolah anak saya. Demi anak pokoknya.

Sampai saat ini saya masih bisa menghindari beberapa whatsapp group. Entah sampai kapan saya tidak tahu yaah.  Yang jelas, saya biasanya menolak setiap orang yang memasukkan no. saya tanpa persetujuan terlebih dahulu.

Saya sebenarnya sempat heran kenapa orang senang banget bikin whatsapp group. Apakah ini hanya di Indonesia saja?

Saya pernah suatu ketika agak gusar dengan relasi yang ada dibentuk di sana, semacam jadi formal dan basa-basi demi pengakuan. Busuk lah. Saya kangen dengan pembicaraan yang personal, intim dan memikat hati

Terkadang saya merasa betapa  WA ini begitu menyita waktu kita. Kalau dulu kita bisa tidak balas sms atau tidak angkat telpon. Tapi pesan whatsapp? mmm…

Pernah pengin sekali punya Hp jadul yang tidak bisa buat WA. Tapi adanya saya malah menyusahkan orang-orang yang ingin menghubungi saya, apalagi masalah pekerjaan yah.

Entah kesurupan apa, saya pun pernah mengatakan rencana saya untuk undur diri dari beberapa WA group. Reaksinya beragam. Tapi yang paling epic adalah rekan saya sendiri, Odit, yang bilang saya: sombong banget sih kamu.

Langsung saya ngakak deh. Emang gaya banget nih Ika.

Meski saya mengeluh, saya mengakui tidak bisa lepas dari WA. Apalagi kalau urusan koordinasi pekerjaan atau mengucapkan hari raya, yang tentu jauh lebih efisien jika kita mengucapkannya di group.

Semoga ada hidayah turun yang bisa memandu saya langkah mana yang benar. Atau mungkin tutorialnya?

 

 

 

 

 

 

 

Jul
09

IMG_20180707_072711

Salah satu jagoan dalam kehidupan saya berulang tahun yang ke-40. Seorang suami, ayah dan teman. Whoooa, apa rasanya menjadi 40 tahun. Tua sekali rasanya. Dia pun mengakuinya. Untuk menghiburnya, saya bilang bahwa sudah banyak temannya yang menginjak 40 tahun. So, no drama, please

Semakin kita tua, perayaan ulang tahun jadi kurang menjadi semakin tidak menyenangkan. Ulang tahun menjadi suatu pengingat bahwa waktu seseorang di dunia ini berkurang satu tahun lagi. Saya dulu tidak memahami pemikiran seorang kakak kelas di kampus yang tidak suka dengan ulang tahun, berbeda dengan saya yang bahagia maksimal. Lama-lama,  saya semakin paham apa yang dia maksud. Usia semakin bertambah, waktu semakit sementara mimpi belum banyak yang tercapai, sementara ada keinginan untuk terus bersama-sama dengan orang-orang yang tersayang. Ada ketakutan dan kekhawatiran di sana.

Tapi mari kita buang rasa takut itu, di usia yang ke-40 ini, banyak sekali yang dirimu rayakan. Salah satunya adalah satu mimpi yang tercapai yaitu menjadi visual effect artist di sebuah film laga yang cukup ternama (tidak mau sebut nama, tidak mau repot nanti kena pasal non disclosure agreement sayah). Bahkan di proyek ini, dirimu tidak hanya sebagai artist tapi juga sebagai koordinatornya. Tugasmu mengkoordinasi tugas pesulap-pesulap audio visual untuk menghasilkan gambar yang ciamik di layar. Istri mana sih yang tidak bangga?

Saya ingat sekali salah satu proyek perdana buat karirmu sebagai visual effect artist adalah di film indie Bejo Van Derlaak buatan Fourcolours Films, film yang juga mempertemukan kita di lapangan. Saya bantu-bantu make up artist dan dirimu bantu bikin efek bom di proses editing. Pengalaman yang menyenangkan

 

Prestasi lainnya yang kamu ukir dalam karirmu sebagai visual effect artist adalah film Ambilkan Bulan. Kamu bahkan memenangkan penghargaan Piala Maya untuk film dengan efek terbaik tahun 2012, tetap sebelum kita berangkat ke Australia.

Yang saya bisa belajar darimu adalah bagaimana dirimu sangat gigih memegang dan memelihara mimpi-mimpimu. Peduli setan dengan orang lain. Orang yang saya kenal paling lembut ini, ternyata untuk urusan mimpi dia tidak mau ditawar-tawar. Ketika dia tahu apa yang dia ingin, dia akan berusaha mewujudkan. Pelan-pelan, sedikit-sedikit namun pasti.

Hal lain yang saya belajar darimu adalah bagaimana bekerja dengan menggunakan hati. Saya tahu benar  pekerjaan di film ini tidak mudah. Meeting sana, meeting sini, ketemu tim ini, ketemu tim itu, supervisi sana, supervisi sini. Sibuknya melebihi senior officer ASEAN (eh). Ah, tapi selama hatimu di sana, seperti tidak akan apa-apa.

Selamat ulang tahun ke-40, Keliek Wicaksono. Selamat terus berkarya dengan hatimu.

 

 

 

 

Jun
20

IMG_20180613_170928

Liburan sekolah akhirnya tibaaa. Anaknya boleh gembira. Emak emak yang biasanya deg-degan karena bakal kerempongan harus meladeni anak-anak di rumah. Saya yang ngantor Senin Kamis ini biasanya suka mati gaya.

Perlu diketahui liburan sekolah tahun ini panjang sekali karena dirapel dengan liburan puasa dan lebaran. Pagi praktis sudah libur dari akhir Mei dan akan kembali masuk tanggal 16 Juli. Luar biasa.

Untuk mencegah Pagi jenuh tingkat akut dan emaknya senewen, saya akhirnya mengajak anak-anak pergi mengunjungi bibinya yang tinggal di Singapura. Cukup 15 hari karena tiket ke sana lumayan mahal juga yah di bulan Juni. Salah sendiri juga sih beli tiket mepet-mepet. Tapi punya anak-anak masih piyik emang bikin agenda tak tertebak hingga last minute.

Agenda di sana pun tidak aneh-aneh. Saya hanya ingin mengajak anak-anak main ke playground yang seru-seru di Singapura. Anak girang, Ibunya apalagi karena gak perlu keluar duit. Beberapa kali ke Singapura, saya memang selalu mengajak anak-anak main ke playground mengulangi masa-masa indah di Australia yang tak kalah seru playgroundnya.

Kunjungan kali ini saya memutuskan untuk membawa anak-anak mencoba beberapa water playground. Iyaaah…di Singapura water playgroundnya seru-seru dan tidak hanya di taman tapi di mall. Kalau negara empat musim mungkin water playgroundnya kurang maksimal karena beroperasi pada musim panas dan semi saja. Tapi kalau di Singapura, setiap hari nampaknya kalau sedang tidak hujan.

Jika diperhatikan playground di Singapura itu berlimpah ruah. Di kompleks apartemen adik saya ada tiga biji dan semua bagus-bagus. Perbandingannya dengan Australia jauh lebih baik karena setahu saya di Melbourne, playground ada di setiap RW. Fasilitasnya pun gak main-main. Pernah saya dan anak-anak nyasar dan tiba-tiba kami menemukan playground keren di dekat stasiun MRT Marymount. Di playground yang juga terletak di sebuah komplek apartemen ini  masak ada trampolin dan flying fox. Apa-apaan iniih?? Saya yang deg-degan abis nyasar pun tak kuasa untuk rehat sebentar sambil membiarkan anak-anak bermain di playground yang sayang jika dilewatkan.

IMG_20180609_183522

IMG-20180610-WA0001

Di beberapa lokasi playground di apartmen bahkan ada alat-alat fitnesnya juga. Jadi anak-anak main, bapak-ibunya bisa berolahraga. Salut buat pemerintahan Singapura yang benar-benar memperhatikan kebutuhan warganya dari yang kecil sampai dewasa untuk bermain dan hidup sehat.

IMG_20180602_150142 (1)

Jadi kalau ngobrol dengan adik ipar yang bekerja jadi arsitek di Singapur. Disain playground itu ada dua. Ada yang seragam biasanya dibuat komplek-komplek hunian apartemen. Ada juga yang custom made. Ini biasanya ada di taman-taman dan ruang publik. Biro arsitek adik ipar saya kebetulan yang mendisain Bishan Park yang ternyata memenangkan beberapa penghargaan.

Jadi kalau pergi ke Singapura dan bawa anak-anak, tidak usahlah keluar duit banyak-banyak untuk mereka bermain. Ajak menginap di air bnb. Puas-puasin main di playground yang bagus-bagus di komplek apartemen. Kalau menginap di condominium, bahkan ada kolam renangnya juga. Ajak jalan-jalan ke taman dan mall dan temukan playground yang seru-seru.

Berikut ini beberapa daftar tempat playground yang seru yang pernah kami kunjungi

Far East Organization Children’s Garden 

DSCF0820

Lokasinya ada di Gardens by the Bay. Selain jalan-jalan sekitar taman, janganlah lewatkan Children’s Garden. Seru banget water playgroundnya. Setahu saya paling heboh muncratnya. Saya pikir daripada mengunjungi Flower Dome dan Cloud Forest yang tiketnya gak murah itu dan gak worth it juga. Lebih seru mungkin jalan-jalan di hutan beneran, yang Indonesia pasti lebih kaya. Jadi, lebih baik mampir ke Children’s Garden deeh…sehabis basah-basahan kita bisa mampir makan di Satay by the Bay, yang okaylah satenya di tingkat Singapura.

Admiralty Park

IMG-20180603-WA0008

Kata adik saya playground ini lumayan anyar dan disainnya bagus banget. Eh ternyata bener lho. Bagus banget dan seruuu. Yang tua-tua ajah banyak yang ikutan. Kompleksnya mengingatkan saya pada playground seru di daerah Brisbane. Saya lupa namanya tapi ada juga perosotan yang tinggi bangeet.

WhatsApp Image 2018-06-04 at 00.32.20

Eh eh disini saya juga melihat ada teknologi perosotan terbaru dari pipa. Jadi kejadian nyangkut di tengah-tengah perosotan gak mungkin terjadi. Adanya yah meluncur, meluncur dan meluncur.

WhatsApp Image 2018-06-04 at 00.32.19

Di kompleks ini dibagi dua playground. Pertama buat yang anak kecil yang kedua buat anak yang lebih besar. Tapi sama-sama serunya. Kalau mau mencari keringat di sinilah tempatnya. Kita bisa lari-larian bersama anak-anak sambil menjajal aneka rupa perosotan.

Bishan Park atau Ang Mo Kio Park

IMG_20180609_154759

Akhirnya kesempatan juga berkunjung ke Bishan Park. Meski nyasar, saya kalau disuruh balik lagi pasti mau. Tamannya bagus dan luas dan ada tiga lokasi playground. Yang pertama, wahana main pasir. Yang kedua, wahana main air. Yang ketiga, adventure park yang memang menantang tempatnya karena anak-anak harus manjat disana-sini.

IMG_20180609_175018

IMG_20180609_175843

Jacob Ballas Children’s Garden

IMG_20180610_154401

Singapura memang tidak cukup buat satu taman buat anak-anak, mereka ternyata perlu punya dua. Ini baru banget tempatnya. April tahun lalu ketika kami ke sana, belum dibuka tamannya. Tempatnya dan arena permainannya hampir mirip dengan The Ian Potter Foundation Children’s Garden yang di Melbourne. Lokasinya juga sama-sama di Kebun Raya setempat. Tapi saya rasa yang di Singapura lebih luas. Sayangnya belum semua jadi dan masih tutup. Oiya yang masuk ke sini kudu bawa anak, kalau enggak, gak boleh masuk.

IMG_20180610_155259

Yang seru tentu wahana water playgroundnya tapi sayangnya mungkin hanya pas untuk anak-anak di bawah 5 tahun. Tapi jangan kuatir, untuk anak-anak besar ada dua wahana tree house yang cukup seruu, saya ikutan mencoba dan cukup bikin keringetan saudara-saudara.

IMG_20180610_155559

Water playground

IMG_20180608_152919

Saran saya ketika pergi ke mall, coba cek apakah mall tersebut punya water playground. Ada beberapa mall yang menyediakan water playground nya dan gratis pula lhooo. Jadi sementara anak-anak sibuk main air, para orang tua bisa gantian jaga/hunting barang-barang belanjaan.

Sejauh ini saya dan anak-anak hanya menjajal water playground di mall dekat rumah saja. Itu saja sudah bahagia minta ampun mereka. Satu di Waterway point di dekat stasiun Punggol dan NEX di dekat stasiun Serangoon. Yang di Nex, lebih besar dan seru. Beberapa orang tua bahkan ada yang ikutan. Oiya jika beruntung, ibu-ibu muda bisa melihat bapak-bapak muda bertelanjang dada dan sebaliknya tentu saja hehehe.

IMG-20180617-WA0004

 

Untuk yang di taman, selain di Garden by the Bay, saya juga menemukan water playground seru dekat rumah adek saya di Punggol Waterway park. Enak tempatnya dan di bawahnya ada wahana pasir juga. Di Bishan Park, tipe water playgroundnya beda dengan yang biasanya muncrat-muncrat. Di sana water playgroundnya mengalir karena katanya menggunakan air resapan.

IMG_20180612_170545

Nah, petualangan hemat kali ini cukup sampai di sini saja. Sebenarnya masih pengin main di banyak tempat seperti di Tiong Bahru atau water playground yang seru di Sentosa Island dan Marina Barrage. Tapi kita simpan buat kunjungan berikutnya saja.

IMG_20180613_163212