psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Suatu sore di taman suropati

Setelah beberapa hari menahan diri untuk tidak liputan, akhirnya saya nekat untuk pergi juga, mengabaikan  dokter yang sudah berpesan supaya saya mengurangi jalan-jalan untuk mempercepat pemulihan.

Iyah, saya divonis pincang tiga minggu oleh dokter gara-gara kelingking kaki saya patah akibat terpeleset di kamar mandi. uuuh, ga heroik banget.

Proses penyembuhan bisa lebih lama dari itu, kata dokter, jika saya tidak menjaga diri untuk tidak kemana-mana setidaknya dalam kurun waktu itu.

Ah membayangkan tidak kemana-mana selama tiga minggu rasanya seperti neraka.

Editor sayapun  sudah merelakan agar saya istirahat saja dirumah.

Jelas jelas saya menolak. Saya sudah bilang sama dokter bahwa saya tetap akan pergi liburan meski dengan kondisi kaki seperti ini, saya pun sudah jauh-jauh hari mengajukan cuti ke atasan..masa nanti saya istirahat demi kaki tapi akhirnya pergi liburan juga. Rasanya kurang pas.

jadi saya memutuskan untuk bekerja seperti biasa dan akhirnya pergi liburan seperti layaknya orang sehat.

Sama seperti hari itu, ketika saya bersikeras untuk pergi liputan ke taman suropati seperti layaknya reporter yang sehat bugar 🙂

Meski editor sudah mengingatkan kondisi kaki saya, saya tetap pengin liputan. Bosan rasanya duduk dibelakang meja dan menelepon orang-orang.

Dan pergilah saya ke taman Suropati siang itu, diantar oleh sang supir cinta 🙂

Misi saya waktu itu ingin  menggenapi tulisan saya tentang konflik kepentingan di pengelolaan taman ria.

Fiuuh. dan saya tidak menyesal saya ngotot pergi waktu itu.

Saya ketemu orang-orang luar biasa saat itu dan bisa ngobrol dengan mereka sampai sore.

Saya bertemu dengan Victorius Manek, pemuda dengan semangat luar biasa dari Atambua. Pria berusia 27 tahun ini nekat datang ke Jakarta karena ia ingin belajar biola murah. Dia di kampungnya adalah guru musik disebuah sekolah seminari. Tapi kemauannya untuk terus belajar, mengantarkannya ke ibukota ini.

“Disini (taman suropati) saya bisa belajar biola hanya membayar 100 rb per bulannya. Itu murah sekali,” ujar Victor ketika menjelaskan alasannya pergi ke Jakarta.

Lambat laun pembicaraan kami bergulir nyaman di salah satu sudut taman kota itu. Mas Victor mungkin bukan narasumber yang tepat untuk tulisan saya, karena dia sebulan tinggal disini, tapi dari dirinyalah saya belajar banyak hal.

Tentang kemauannya untuk belajar, tentang kecintaannya pada keluarga, tentang semangatnya untuk terus berpetualang tanpa pantang menyerah.

Di sela-sela pembicaraan kami, tak segan-segan dia memainkan biolanya.

Saya dan beberapa pengunjung taman terhibur dengan permainan mas Victor yang menurut saya sangat indah. Dia memukau saya melalui lantunan beberapa karya pemusik andalannya Vivaldi.

“Ah saya belum begitu bisa,” ujarnya selalu merendah diri. Di akhir pembicaraan, dia berjanji akan memainkan “Summer” salah satu karya Vivaldi yang menurutnya masih susah untuk dimainkan.

Saya pun berjanji untuk mengunjunginya kelak di Atambua, sambil sekalian jalan-jalan ke Timor Leste tentunya 🙂

Tak hanya Viktor, saya bertemu makhluk hebat lainnya di tengah rindangnya taman kota.

Waktu itu hari pertama bulan puasa, tak ada orang yang jualan makanan disekitar taman. Untung saja datang sang penyelamat saya pak Priyono, pedagang somay keliling.

Sembari menikmati somaynya, saya pun akhirnya tertarik ngobrol dengan pak Priyono dan menjadikannya narasumber  buat tulisan saya. Menurut saya, sosok pak Priyono tepat untuk mewakili suara publik Jakarta yang berhak menentukan fungsi penggunaan lahan di komplek taman ria. Bukan para pemilik modal dan bukan pula para politisi busuk itu.

Aiih mendengar ceritanya, saya lagi-lagi seperti ditampar keras. Kehidupan sederhananya menjadi pedagang somay keliling selama 20 tahun di ibukota ini membuat saya terenyuh sekaligus malu.

Dan tawanya, begitu sempurna menutupi beban hidupnya dalam menghidupi keluarga dan kelima anaknya.

Semangat orang-orang ini begitu luar biasa dan menular.

Saya sangat menikmati sore itu. Dan sakit ini…aaaah, tidak ada apa-apanya.

Advertisements

3 Responses to “Suatu sore di taman suropati”

  1. ke atambua? udah pernah tuh. ke Timor Leste? udah juga. hehehe (www.nyomsek.co.id). kalo ke kampung halamannya Menek tuh, ika, pas transisi musim, wuaahh sip sekali. apalagi ke timleste dan menyisir pantai utaranya yg aduhai.

    anyway, ngliput taman kota depan kantor BI jogja, mau gak?

  2. aiih mba dewi…bikin iri saja..
    iyah semenjak ke komodo kemarin, jadi berpikir indonesia itu makin ketimur itu makin cantik yaa?
    yaaa. kalo jogja ga mau liputan, maunya main ajah 😛

  3. semanggat and sukses


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: