psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

kartu plastik jahanam

Ada yang tahu ga sih: kenapa kok sekarang orang yang bayar ngutang lebih banyak mendapat previlige ketimbang orang yang bayar lunas?

Saya terheran-heran waktu itu disebuah klinik tes kesehatan ketika saat membayar, petugasnya menanyakan apakah saya memiliki kartu kredit atau tidak. Katanya, dengan membayar kartu kredit, saya akan mendapat potongan beberapa persen dari harga yang harusnya saya bayar.

Uuh menarik bukan? Sayangnya saya yang hanya punya satu kartu kredit bernasib sial. Karena jenis kartu kredit yang saya punya tidak masuk dalam daftar fasilitas itu. Akhirnya mau tak mau saya pun harus membayar tunai tagihan dengan harga normal.

Uuh, sebal. kenapa orang yang membayar tunai malah jadi tidak diuntungkan yah?

berpikir ulang, sebenarnya bukan kali ini saja..saya merasa dirugikan. banyak kali kesempatan di pusat-pusat perbelanjaan dan kafe-kafe saya melewatkan potongan-potongan harga yang ditawarkan melalui fasilitas kartu kredit, karena saya selalu memilih membayar tunai ketimbang kredit. Tapi saya tidak habis pikir waktu itu, kalo lama-lama hal ini menjadi sesuatu yang sistemik dan menganggu saya.

Tapi benar kan? Seharusnya para pedagang merasa lebih diuntungkan ketika mereka mendapatkan pelanggan mereka membayar tagihannya secara tunai. Mereka tidak perlu menunggu berlama-lama untuk mendapatkan kembali uang mereka. Tapi ini malah tidak.

Ini logikanya dimana sih?

Lewat diskusi remeh temeh dengan sang partner hidup, aku pun mulai diajak memahami apa permainan dibalik semua ini.

Yah, intinya adalah sebuah permainan bisnis. Pemilik gerai mungkin sudah menjalin kerjasama bisnis dengan bank-bank yang mengeluarkan kartu kredit ini. Keuntungan dalam bentuk nilai nominal atau fasilitas perbankan pun mereka bisa dapatkan lewat kerjasama ini dengan aturan dasarnya: mengajak para pelanggan berhutang.

Lalu buat banknya sendiri. Mereka akan mendapatkan keuntungan tidak saja dari layanan kartu kredit (ooh ya, ini kan bukan layanan gratis yang diberikan begitu saja. Kita harus bayar iuran setiap tahun bukan?) tapi juga dari sistem pembayaran yang dilakukan.

Dengan kartu kredit, kita dipaksa untuk selalu melibatkan bank dalam setiap kegiatan jual beli yang kita lakukan. Hubungan yang seharusnya terjadi antara kita dan penjual pun diinterfensi oleh bank-bank ini dengan cara-cara yang kemudian menguntungkan mereka semata.

Coba bayangkan, pembayaran yang seharusnya sekali jadi dan langsung beres akhirnya ditunda sampai berbulan-bulan bahkan setahun. Yang artinya hanya satu: semakin banyak uang buat mereka. Yah tentu saja, mereka kan tidak serta-merta memberikan fasilitas ini, ada bunga yang harus dibayar kemudian biaya2 lainnya yang artinya pendapatan tambahan dari mereka.

Tapi jangan salah, saya tidak anti kartu kredit. Toh kartu plastik ini juga terbukti membantu kita dalam beberapa hal terlebih kita ingin membeli sesuatu yang harganya amat mahal. Tapi aku tetap ga terima dengan sistem yang kemudian jadi tidak adil buat orang yang membayar tunai. Masa jadinya harus ngutang mulu..

Tapi berkaca dari seorang teman yang menurut saya ahlinya di perkartukreditan. Saya mencoba belajar banyak darinya. Intinya, bagaimana memanfaatkan sebaik-baiknya kartu plastik ini untuk kemaslahatan umat bersama ๐Ÿ™‚

Fajar, teman saya ini punya beberapa kartu kredit. Yang satu untuk acara-acara ngafe di warung-warung kopi dmall, yang satu untuk acara menonton di bioskop setiap minggu, satu lagi untuk mendapatkan fasilitas lounge gratis di bandara. Ckckckck hebat sekali bukan?

Okey-okey, akhirnya untuk pertama kalinya saya mempelajari brosur kartu kredit dari bank yang saya dapat setiap bulannya untuk melihat fasilitas-fasilitas potongan harga yang ditawarkan.

Dan sore harinya, saya mengajak sahabat-sahabat saya makan di pizza hut dan menikmati potongan beberapa persen. Kami hanya cukup membayar Rp 130,000 dari tagihan yang nilainya Rp 150,000.

Mungkin hal-hal kecil dan sederhana seperti inilah yang bisa menghibur kita, para konsumen yang sudah dijadikan bulan-bulanan sistem korporasi perbankan dunia.

Advertisements

3 Responses to “kartu plastik jahanam”

  1. jadi, kali ini yang diskon yang mana, sayang?

  2. Dulu pas kerja di Bank yang katanya bank global dengan sentuhan lokal itu, ada kebiasaan pegawai permanen akan diberi kartu kredit sebagai fasilitas. Dan (sialnya) si pegawai permanen baru itu akan ditodong untuk mentraktir dengan menggunakan kartu kredit baru tentunya. “Wah kapan nih gesekan pertama, ajak-ajak dong,” gitu deh kira-kira ngerayunya.

    Waktu itu sih aku seneng-seneng aja…wong ditraktir masa nolak….hihihii….walaupun sempat mikir juga…nih pegawe mendapat gaji dari duit sendiri sebenarnya. Soalnya tuh bank bakal dapat iuran dan bunga dari kartu kredit yang dipaksa dipake pegawainya sendiri…

    Yah…yah…jadi Ika sayang, kapan nih gesekan pertamanya…ajak-ajak ya…hihihihihihi

  3. Hahahha..dibaca bersama-sama yah nanti buku panduannya sayang. Penting nih dikala harga bensin pertamax naik mulu! ๐Ÿ™‚

    Waduh..gesekannya sih kapan ajah terserah miss Priska. Ini maksudnya gesek apa yah? hihihihi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: