psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Belajar sampai mati!

Suatu pagi, rumah kami kedapatan tamu yang mengejutkan.

Dia seorang pemuda berkacamata yang datang dan membawa motor birunya. Tak lama kemudian, dia berdiri di depan pintu rumah dan bertanya:

“Disini rumah guru bahasa inggris?” tanyanya.

Saya yang sedang berada dikamar, mendengarnya sempat kaget. Ada apa gerangan pria itu datang kerumah.Pertama saya kira mungkin dia adalah seorang orang tua yang mau mendaftarkan anaknya les. Tapi mas ini masih terlalu muda

Benar saja pertanyaan berikutnya pun bikin saya tambah deg2an.

“Ibu ini backgroundnya apa yah? Kalo bapak?” tanyanya kemudian kepada keliek yang kemudian menyusul ke ruang tengah.

Dengan mencoba tenang, saya pun menjawab pertanyaannya.

Lalu dia pun menjelaskan kemudian, bahwa dia tahu mengenai kelas ini dari salah satu muridnya, Saskia, yang belum begitu lama bergabung di taman belajar rumahsenyumpagi. Dia bercerita kalau dia adalah guru ngaji di dekat rumahnya.

Mendengar itu, aku jadi tambah deg-degan, memutar kembali peristiwa sedih pagi hari beberapa waktu lalu. Tapi aku berusaha menampik rasa kuatir dan berusaha tetap tenang.

Dia pun bertanya kembali, “Apa saja yang diajarkan kelas ini?

Kelik pun menyahut menjelaskan bahwa pada intinya kami hanya membantu anak-anak untuk bisa berbahasa inggris, membuat mereka berani dan mau mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini tidak ada kaitannya dengan kurikulum sekolah kok mas. Apa yang kami berikan hanya bersifar tambahan,” jelas Kelik.

Lalu dia pun bertanya kembali, “Memang dulu pernah dilarang yah?”

Kami pun berusaha menjelaskan padanya bahwa itu hanya kesalahpahaman semata dan ketika sudah diklarifikasi tidak ada lagi masalah. Kelas pun berjalan seperti semula.

Penjelasan mas Iqbal (akhirnya tahu juga namanya) selanjutnya pun membuat kami lega.

“Iyah sebenarnya saya juga ga ada masalah. Kalau memang untuk kebaikan yah kan tidak apa-apa. Sayangnya disini masyarakat masih banyak yang belum terbuka,” ujarnya.

Dan ketika ngobrol beberapa saat, kami pun akhirnya tahu kenapa dia datang ke rumah kami pagi-pagi.

“Iya, sebenarnya saya mau minta bantuan ke bapak ibu. Saya juga belajar bahasa inggris karena saya merasa kesulitan,” ujar pria yang ternyata sudah berkuliah di salah satu perguruan tinggi di daerah Jakarta Selatan.

Aaah.mendengarnya saya pun kaget. Waah, belum pernah saya mengajar orang dewasa sebelumnya. Tapi pada akhirnya kami mengijinkan dirinya untuk ikut kelas yang ada, meskipun aku jelaskan padanya bahwa pendekatan ke anak-anak tidak hanya mengajar materi tapi juga bermain.

Dia pun tidak keberatan. Di pertemuan pertama, dia datang ke kelas anak kecil yang waktu itu sesinya mengenai nama-nama hewan. Aku sempat kebingungan, karena waktu itu aku sedang mengajari anak-anak bermacam-macam nama hewan sambil menyanyi dan menari. Aku pun bilang padanya supaya mengikuti saja di belakang. Jadinya, aku dan anak-anak pun sibuk berjoget ria di depan sementara mas Iqbal memperhatikan di belakang, sambil mengajukan beberapa pertanyaan.

Untuk pertemuan kedua, akhirnya saya dan kelik sepakat membagi tugas. Saya yang mengajar anak-anak, Kelik yang menemani mas Iqbal. Waktu itu, dia kami beri dia setumpuk koran The Jakarta Post. Keliek mengajaknya untuk membaca dan mengartikan artikel demi artikel sementara saya mengajari anak-anak mengenai present dan past tenses

Kami berdua senang sekali mendapat kehormatan untuk dapat bertemu dengan mas Iqbal. Terus terang, aku kagum dengan semangatnya untuk terus belajar dan tanpa malu-malu. Dia berani datang kerumah kami, berkenalan, meminta kami dan tak segan-segan bergabung dengan kelas anak-anak kecil untuk bisa belajar. Darinya kami tahu bahwa untuk belajar itu sebenarnya tidak mengenal umur.  Hebat. Kita nampaknya perlu mencontoh mas Iqbal untuk terus bisa semangat dan tak kenal lelah untuk mau belajar dan menjadi manusia yang lebih baik

Dan dengan semangat yang sama dengan mas Iqbal…saya dan kelik beserta sahabat kami tercinta winta pun ikut les bahasa perancis setiap minggu. Kami mendatangkan guru langsung dari kedubes perancis hihihi monsieur Iwan untuk intensif mengajari serba-serbi bahasa perancis di rumahsenyumpagi.

Baru dua minggu ini kami memulainya, dan semoga sampai selamanya. Ayo terus belajaaaar!

 

 

Advertisements

2 Responses to “Belajar sampai mati!”

  1. Keren! Salut utk nya 🙂

  2. iyah Vir..tapi entah kenapa udah dua minggu ini dia tiada muncul-muncul yah…mmm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: