psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

egoiskah saya?

Minggu lalu, saya terlibat pembicaraan menarik dengan seorang teman di saluran perbincangan online gtalk. Sebenarnya semua bermula dari pembicaran iseng, kami hanya saling menegur sapa di tengah-tengah deraan deadline.

Tapi belakangan pembicaraan kami menjadi seru karena dia mengungkapkan salah satu hal yang bikin saya jadi tergugah dan memikirkan banyak hal.

Dia bilang bahwa keputusan seseorang untuk punya anak adalah sesuatu yang egois. Apapun itu alasannya. Apakah demi cinta, demi petuah keluarga ataupun niat luhur untuk meneruskan kelangsungan hidup manusia.

Alasannya sebenarnya simpel, dia merasa dunia ini terlalu rusak untuk menjadi tempat buat anak-anak untuk hidup. Dan parahnya pasangan-pasangan ini, menurut dia, tetap beranak-pinak, ditengah keadaan bumi yang porak poranda dengan penyakit, masalah sosial, perang dan konflik politik dan membiarkan anak-anak mereka tumbuh di tengah-tengah dunia yang tidak karuan untuk alasan yang akhirnya bermuara kepada kepentingan pribadi mereka. Iyah.  Apapun itu.

Mmmm…

Jujur saja, saya sempat sedih mendengar itu. Saya berpikir ulang mengenai keputusan saya dan pasangan hidup saya untuk punya anak.

Dipikir-pikir, dulu saya sama sekali enggak kepikiran mau punya anak. Hingga suatu saat, saya mendapat semacam pencerahan ketika sedang liputan di panti jompo di daerah Jakarta Selatan.

Miris sekali melihat keadaaan oma-oma di panti itu, mereka hidup sendiri dan berjuang sebatang kara karena tidak ada keluarga yang mengurusi. Dari beberapa nenek yang saya wawancarai, mereka semuanya mengaku tidak punya anak dan akhirnya menetap di panti itu karena tidak ada sanak saudara yang mengurusi.

Berangkat dari sanalah, saya kemudian memutuskan untuk punya anak karena saya tidak ingin sendirian di hari tua.

Aiih dipikir-pikir egois sekali saya ini. Mungkin benar apa kata teman saya itu, bahwa keputusan seseorang untuk punya anak selalu didasari oleh keinginan yang berpusat pada diri sendiri.

Apapun itu.

Demi pembuktian rasa cinta.

Demi titah dari orang tua.

Demi melanjutkan keturunan.

Demi keinginan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Demi sebuah kenyamanan di hari tua

bahkan untuk keinginan mengemban misi keagamaan dan kemanusiaan.

Benarkah demikian teman-teman?

Adakah alasan-alasan lain yang bisa membuat rasa bersalah ini luntur? Sayangnya, sampai detik ini saya belum juga menemukannya.

Sepulangnya dari kantor, saya kemudian mencoba mendiskusikan hal ini dengan Kelik dalam perjalanan kami pulang ke rumah.

Dia sempat kaget dan juga sedih. Saya bisa membaca raut mukanya waktu itu, matanya seolah berucap supaya saya segera membuang pikiran-pikiran aneh jauh-jauh.

Hanya satu ujarnya, “Punya anak itu juga butuh pengorbanan sayang”

Saya tertegun dan diam mendengar kalimat itu.

Pengorbanan?

Entah apa itu istilah yang tepat.

Tapi selama lima bulan ini, saya harus minum susu setiap hari, sesuatu yang saya tidak suka. Saya juga harus meminum obat-obat pil yang super ukurannya, lalu mengurangi porsi makan pedas, kemudian bangun pagi-pagi untuk sekadar berjalan-jalan dan belanja sayuran, lalu saya harus membatasi keinginan saya berjalan-jalan dan liputan ke luar bahkan menunda sekolah saya.

Apakah itu bisa disebut pengorbanan?

Bukannya saya ingin membela diri atau apa, tapi saya jadi bertanya-tanya egoisan mana orang yang memutuskan punya anak dengan yang tidak ingin punya anak?

Aaah kita manusia memang makhluk-makhluk egois yang hanya memikirkan diri sendiri!

Advertisements

6 Responses to “egoiskah saya?”

  1. ika sayang,
    selama ini aku membaca blogmu diam2, tapi posting yang ini membuatku tergelitik untuk berkomentar:)
    menurutku, jika seseorang memutuskan untuk punya anak, justru dia menjadi sesorang yang lebih toleran dan berbagi. selama sembilan bulan seorang ibu mengizinkan tubuhnya untuk dihuni manusia lain. lalu selama enam bulan berikutnya seorang ibu akan memberikan asi ekslusif untuk si bayi. masih ingat lagu anak-anak tentang kasih ibu? hanya memberi tak harap kembali. bagian mana yang egois?
    ada banyak masalah di dunia. tapi justru disinilah anak-anak bisa berperan. didiklah anak-anak untuk berpikir positif dan mencintai alam/sesama. anak-anak yang baik bisa membuat dunia lebih baik.
    aku belum menikah dan belum punya anak, tapi dari cerita teman2ku, bisa disimpulkan menjadi orang tua itu tidak mudah karena harus mengurus anak dari bayi yang tidak bisa apa2 sampai jadi mandiri.
    ika sayang, selamat atas kehamilanmu:)
    salam,
    tifa

  2. Ah Ika, aku ndak tahu harus berkomentar apa…karena aku cinta anak-anak 😀

    Soal judul yang berbentuk pertanyaan, aku cuman mau bilang. Ngga, kamu ngga egois. Setiap pilihan menuntut tanggung jawab, tanggung jawab loh ya bukan risiko. Dan minum susu, minum pil segede gaban, atau mengurangi makanan pedas, menurutku itu bukan pengorbanan atau risiko…itu tanggung jawab.

    Ayo Ika sayang, jangan mikir yang negatif..Yuk kita nongkrong sehat lagi…Ketawa dan makan salad yang creamy itu sambil mandangin bunderan HI…Ah kangen kamu jadinya….peluk beruang ;D

    Hidup itu tanggung jawab

  3. Menjadi ibu adalah belajar menjadi tidak egois. Mengandung anak sembilan bulan baru awal dari banyak tanggung jawab setelahnya, melahirkan dengan benar, menyusuinya langsung segera setelah lahir, menyusuinya eksklusif 6 bulan tanpa susu formula dan menyusuinya terus sampai 2 tahun tanpa susu formula, menyediakannya rumahnya yang baik dan makanan sehat bukan instant adalah sebagian kecil lagi tanggung jawab yang mengikutinya. Jadi siap-siaplah untuk menjadi seorang yang begitu toleran untuk memberikan hidupmu. Secara naluriah ibu yang bertanggung jawab tidak akan pernah egois… So just enjoy it, keep healthy and stop worrying about little thing like that.

  4. Aah Tifa, sekarang aku tahu kenapa tiba-tiba ada orang dari Itali dan Vietnam datang mengecek blog-ku yaah…thanks yah for the support deary!

    Priska, aaah i love your words, tanggung jawab..ya aku setuju sekali dengan itu
    so wanna hug you..

    Thanks Ning, saya sedang berusaha untuk memfokuskan pikiran ini ke hal-hal yang positif, tapi moodswing perempuan hamil itu hebat banget yaah. Btw, do i know you, you look familiar.

  5. semalam temanku dari belanda yg berusia hampir separuh abad (laki-laki) hanya berkomentar 1 hal tentang punya anak: it’s so complicated.
    tetapi aku tetap berkata: I want to have one, only one or two is enough. Just to share about loving with them.
    Kisah lain yang lebih memilukan: seorang temanku dicerai suaminya karena tak bisa punya anak.
    Well, kita hanya pelaku yang bisa menentukan egois atau tidaknya

  6. thank for sharing, mba dewi. aku juga masih clueless, masih meraba-raba dan belajar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: