psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Misteri seorang pria di hari minggu

Saya selalu melihatnya duduk di tempat yang sama. Pria berkacamata itu selalu menempati kursi depan di sudut kiri gereja, Tampangnya yang tidak biasa dibanding kanan kirinya membuatnya terlihat sedikit mencolok. Terlebih lagi dengan baju-nya yang rada nyentrik, memang tidak bisa tidak mata jemaat lainnya pasti langsung menatapnya.

Pernah suatu ketika dia datang dengan celana garis-garis merah putih, yang sepertinya kurang cocok dengan usianya. Aaih, cukup nekat juga dirinya. Aku dengan rasa penasaran pun mendekati dirinya dan mendapati bahwa celana itu terbuat dari bahan selimut yang biasa dipakai di ruang-ruang rumah sakit kelas ekonomi. Duh..kreatifnya.

Beberapa kali bertemu dengannya di setiap kebaktian pagi, selalu ada keinginan untuk berkenalan dengannya, tahu namanya dan dari mana asalnya. Fiuuh, tapi tak pernah ada keberanian.

Hingga minggu kemarin, kesempatan itu datang. Ah ya..dia sedang nampak sedang duduk sendirian, tenggelam dalam kebisingan lalu-lalang orang yang beramahtamah sesuai kebaktian.

Tapi sebelum saya sempat melaksanakan misi, bapak saya yang juga ikut kebaktian saat itu menghentikan langkah saya dan bertanya ini dan itu. Uuuh..mau gak mau, saya menahan keinginan, apa jadinya kalo bapak saya melihat anaknya yang sudah menikah ini berkenalan dengan cowok lain.

Setelah mengurus ini itu, saya pun ingin segera balik ke mobil. Dengan langkah gontai dan penuh penyesalan, saya pun berjalan menuju parkiran  untuk menghampiri kelik yang sudah menunggu. Tanpa dinyana, pria itu masih disana duduk terpekur sendirian di pojok gereja.

Segeralah saya mengumpulkan keberanian saya untuk berkenalan dengannya. dag dig dug…

Dan 15 menit kemudian, saya akhirnya bisa memecahkan misteri pria itu.

Namanya bapak Samirin, umurnya 82 tahun. Dia tinggal di Rempoa, bersama cucu-cucunya. Kalau tidak salah, istrinya masih hidup dan tinggal di desa. (Aaah saya tidak begitu bisa mendengar suaranya yang lirih itu). Dia lulusan SD yang dulu kerja sebagai tukang bangunan. Dia mengaku kalau dia tidak sakit dia pasti datang ke gereja. Dulu bahkan waktu belum ada terminal Lebak Bulus, dia seringkali jalan kaki dari rumahnya ke gereja dengan alasan menghemat uang.

“Memang ada apa yah dik?” tanyanya.

“Aah gak pak, saya hanya ingin berkenalan kok,” ujar saya, sembari menutupi mata ini yang sudah mulai berkaca-kaca.

Aaah sosok-sosok seperti pak Samirin ini memang bikin saya terenyuh. Dia mengingatkan saya pada tokoh Carl Fredrickson di film animasi UP, film yang tak pernah gagal membuat saya sesenggukan.

Tapi pak Samirin ini begitu nyata didepan saya dengan rambut putihnya dan kulit legamnya, belum lagi dengan kacamata yang sudah diselotip sana-sini, berbeda sekali dengan pengunjung gereja lainnya di gereja yang sepertinya berlomba-lomba menunjukkan kemewahan.

Tapi saya kagum dengan pak Samirin, dan juga merasa tertampar. Dengan segala keterbatasannya, dia masih berusaha datang setiap minggu ke gereja, yang terkadang memilih lagu-lagu bahasa inggris di kebaktiannya, yang pasti membuat bapak ini kesulitan untuk mengikutinya.

Saya salut dengan kesetiaannya, sementara saya hanya bisa mengumpat dalam hati menutup mulut rapat-rapat begitu lagu dalam bahasa inggris dilantunkan di tengah-tengah kebaktian. Iyah, semangat saya untuk beribadah, luruh seketika, begitu layar didepan menampilkan lagu bahasa inggris. Bukan apa-apa, bukan saya sok atau apa…tapi gereja saya kan GKJ, Gereja Kristen Jawa, dan banyak mbah-mbah atau orang-orang tua yang tidak semuanya bisa berbahasa inggris. Ini mereka anggap apa sih oleh si penyusun kebaktian, yang bahkan pelafalan inggrisnya ajah sering ngaco. huh…

Tapi melihat senyum dan semangat pak Samirin, saya hanya bisa menunduk malu dengan keiklasan dan semangatnya untuk beribadah. saya yang hidup berkecukupan ini sering kali malas datang ke gereja, dengan segala alasan kesibukan ini-itu. Sementara, anda dengan segala keterbatasan anda, dengan baju seadanya dan celana kain selimut garis garis dan alas kaki sederhana, senantiasa bergegas kerumah Tuhan untuk memuliakan namanya.

Aah pak Samirin, anda sukses membuat saya menangis sesenggukan di mobil dalam perjalanan pulang kami.

Advertisements

2 Responses to “Misteri seorang pria di hari minggu”

  1. dan tulisanmu sukses membuatku berkaca-kaca juga :((

  2. duh kok kamu sama kayak kelik yah Al, kulihat matanya berkaca-kaca sehabis membaca postingan ini.
    Mmmm…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: