psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Berantas korupsi dari diri sendiri

K.O.R.U.P.S.I

sudah lelah kita mendengar kata itu berulang-ulang ditulis di media-media, diucapkan berkali-kali oleh pembawa berita atau dalam lantunan pembicaraan sehari-hari.

Tapi tetap tidak ada yang berubah. Indonesian masih saja dengan statusnya sebagai salah satu negara terkorup di dunia dan tak habis-habisnya kita didera tayangan para pejabat terhormat ditangkap karena terlibat kasus korupsi.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengakhiri ini semua?

Segala program anti korupsi yang digembar-gemborkan disetiap instansi seperti pepesan kosong. Tidak ada yang menggubris. Praktik korupsi masih saja merajalela, dari tingkat yang paling rendah sampai ke kelas kakapnya.

Aku pernah berpikir bahwa cara yang diadopsi negara-negara yang memberikan sanksi hukuman mati kepada koruptor mungkin bisa menekan tingkat kejahatan kelas putih di negeri ini. Seperti korea selatan misalnya yang berhasil melakukannya.

Tapi dipikir-pikir mengingat sistem penegakan hukum yang bobrok di negara ini. Apakah cara itu bisa berhasil?

Bagaimana kalo polisinya disuap, atau hakim atau jaksanya? lagi-lagi kita kembali ke lingkaran setan.

Mmm, lalu apa yang bisa kita lakukan?

Kemarin sebuah ide muncul tiba-tiba dan tak diduga-duga ketika saya mengurus perpanjangan paspor saya yang akan habis tahun ini.

Dari proses yang ada, saya berpikir mungkin pemberantasan korupsi tidak dimulai dengan program-program anti korupsi yang besar, seminar-seminar omong kosong, atau slogan-slogan tanpa arti. Mungkin semua bisa dimulai dari diri kita sendiri?

Simple aja, kalo misalnya susah sekali membasmi koruptor-koruptor ini, sebagai pemasok jasa korupsi, bagaimana kalau kita memulainya dari sisi para penikmat atau pemakai atau konsumennya. Yup, mereka adalah kamu dan saya.

Dan menurut saya cara ini lebih masuk akal, setidaknya hanya perlu kesabaran ekstra tinggi untuk menghadapi sistem yang sudah bobrok.

Saya sudah bisa membuktikannya bahwa cara ini bisa berhasil kok kemarin waktu mengurus paspor saya itu.

Saya sudah dengar cerita dari teman yang baru saja mengurus paspor bahwa jasa calo paspor itu masih ada meski klaim dari pihak imigrasi yang bilang tidak ada praktik suap di instasinya. Dia menggunakan untuk kepentingan yang sangat mendesak, dan untuk itu dia harus membayar 900 rb agar paspornya bisa jadi dalam waktu 3 hari (dari waktu yang ditentukan 2 minggu).

Jadilah saya pergi ke kantor imigrasi jakarta selatan di bilangan tb simatupang, yang kebetulan dekat rumah. Saya berangkat lumayan pagi sekitar jam 7, tapi oh my..ternyata sudah penuh tempatnya dan saya dapat antrian 121. Busyeet.

Saya memang berencana untuk tidak menggunakan calo, dulu waktu mengurus paspor yang pertama kali juga saya bisa melakukannya tanpa calo. Bedanya dulu calonya yang menghampiri secara terang-terangan, kali ini tidak. Setidaknya mereka lebih santun dan tahu diri nampaknya. Saya tahu dari mba-mba sebelah saya, mereka menawarinya diam-diam dengan tarif yang kurang lebih sama dengan yang dikatakan teman saya.

Aah, untungnya saya tidak bertemu dengan mereka. Jadilah saya duduk manis disana, menunggu berjam-jam, berpanas ria dalam ruangan yang penuh sesak. Aih akhirnya nama saya dipanggil. Kurang lebih waktu itu sudah hampir jam 3. Saya dipanggil karena ada petugas melihat perut saya yang besar. “Takut pingsan nanti, mba lihat perempuan hamil” Waktu itu saya sempat menolaknya karena nanggung, antriannya sudah sampai 117, tinggal 4 lagi  dan tiba giliran saya. Tapi petugas itu memaksa. Aaah, apa boleh buat? rejeki anak mungkin 🙂

Setelah ditanya ini itu, saya pun disuruh kembali 2 hari lagi untuk foto dan membayar administrasi.

Datanglah saya dua hari berikutnya. Kali itu, saya datang sangat pagi, berharap antriannya masih sedikit. Fiuuh, strategi saya berhasil. Tak berapa lama, nama saya dipanggil untuk membayar administrasi. Cukup Rp 255,000 saja, setelah itu saya langsung kelantai atas untuk mengambil foto.Menunggu beberapa saat, saya pun disuruh masuk ruangan dan jeprat sana jepret sini, selesailah semua. dan saya disuruh kembali lagi setidaknya 5 hari kemudian untuk mengambil paspor baru.

Ckckck, senang sekali waktu itu. Rasanya seperti sebuah pencapaian bisa melalui semua proses birokrasi pemerintah tanpa suap menyuap.

Meski memang butuh banyak energi untuk melakukannya, tapi tak mengapalah. Mungkin pengorbanan semacam ini yang dibutuhkan untuk membuat bangsa ini jadi lebih baik.

Tidak usah lagi berharap koruptor-koruptor itu berubah atau kapok, selama masih ada kita yang melanggengkan praktik itu.

Saya juga ga percaya dengan orang-orang yang berkoar-koar mengenai pemberantasan korupsi atau berkeluh kesah mengenai kasus korupsi yang merajalela di negeri ini, kalo dia masih saja menyuap waktu bikin sim, atau memberi duit pada polisi waktu ditilang, atau membeli bensin premium padahal mobilnya sedan mewah.

Sepertinya memang susah, saya pun masih belajar.

Tapi bukanya tidak mustahil kan?

Let’s start the change from ourselves.

 

 

 

Advertisements

3 Responses to “Berantas korupsi dari diri sendiri”

  1. terima kasih sudah mengajak untuk belajar,

  2. saya pun masih belajar kok mas didik. Kemarin hampir saja menjerumuskan teman sendiri waktu dia bikin paspor, tapi syukur orang imigrasinya juga jujur 🙂

  3. Let’s start the change from ourselves.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: