psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Kenapa Keka?

Bukan mama, mami, bunda, ibu, mimi, mima atau segala jenis ma ma yang lainnya.
Aku ingin anakku memanggilku dengan sebutan Keka.
Memang rada ga matching dengan panggilan Ayah yang dipilih suamiku.
Tapi peduli amat, aku punya alasan kenapa aku memilih panggilan itu.
Mama, mami, mima, mimi atau apapun itu kupikir terlalu biasa. Sama seperti kebanyakan anak-anak lain memanggil perempuan yang melahirkannya.
Demikian juga ibu. Sebenarnya aku sempat ingin dipanggil itu oleh anakku karena kupikir ibu adalah panggilan yang bersahaja dari seorang anak kepada ibundannya dibanding mama. Tapi aku pun berubah begitu mendapati begitu banyak orang memanggil aku dengan sebutan itu ketika aku kemana-mana waktu hamil. Ya petugas imigrasi, ya kasir di indomart, ya tukang gorengan, supir taksi. Duh, jadi ilfil.
Mmm, lalu kenapa tidak bunda? Panggilan yang sedang lumayan ngetrend dikalangan ibu-ibu masa kini. Alasannya rada norak sih, tapi sudah cukup bagiku untuk tidak menggunakannya. Aku kurang selera memilihnya karena panggilan itu mengingatkanku pada dorce hihihi. Seorang komedian yang disebut-sebut bunda oleh orang.
Sebenarnya aku pada awalnya ingin anakku memanggil anakku dengan sebutan nama saja. Ika. Tapi setelah berbicara dengan beberapa orang dan memikirkan implikasi sosial kedepannya, aku urung menggunakannya. Aku malas sekali menghadapi lirikan dan sindiran tajam bapak ibuku dan orang-orang tua ketika aku menyuruh anakku memanggil namaku.
Lalu apa dong?
Akhirnya aku pun berkreasi sendiri. Kuciptakan saja panggilan Keka, yang sebenarnya tidak punya arti apa-apa tapi mengandung lafal bunyi yang sama dengan namaku “Ka”. Jadi sekilas tetap kedengaran anakku memanggilku namaku saja kan? 🙂
Dan strategiku cukup berhasil. Meskipun banyak orang jadi bertanya-tanya apa artinya (yang biasanya akan kubalas dengan senyuman, apalagi kalo orang tua yang nanya), panggilan Keka menurutku pilihan yang tetap. Aku tetap mendapatkan mauku tanpa perlu dihakimi oleh bapak ibuku yang menerima panggilan itu karena menduga kalo Keka itu singkatan Kelik dan Ika.
Hihihi.
Intinya sebenarnya, sama seperti nama anakku: Senyum Pagi (iya Senyum Pagi tanpa embel apa-apa), aku ingin buah hatiku memiliki panggilan special dan tiada duanya buat aku.
Tapi apapun panggilannya, sebenarnya tidak penting, karena kutahu dari tatapan mata beningnya, aku tahu anakku memanggilku dengan bahasa lain yang tak tergambarkan lewat kata-kata tapi bisa kurasa dalam hati.

Ya kan, Pagi?

20110821-013632.jpg

Advertisements

2 Responses to “Kenapa Keka?”

  1. tau gak, ponakan2ku kalo manggil aku : BUDEW. singkatan dari (i)bu cilik (kalo di jawa disingkat bulik) yang bernama Dewi. Untuk membedakan tante2nya yang lain, mereka punya kebiasaan memanggil singkat2: bubet (bulik bettie), bukis (bulik christi), dan budew.
    Mungkin anakku kelak akan kubiasakan memanggilku dengan sebutan ini. hehehehe……(entah kalau [calon] bapaknya)

  2. keponakan-keponakanmu kreatif mba. Tak sabar mengetahui bagaimana anakmu kelak memanggilmu 🙂 Semakin unik kupikir jadi makin personal 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: