psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Mentor Mungil

Sebelum melahirkan, saya sempat gundah gulana memikirkan apa yang akan saya lakukan ketika si kecil datang ke dunia.

Beribu pertanyaan bertubi-tubi datang.
Bagaimana saya akan membesarkan?
Apa yang akan saya ajarkan padanya sehingga dirinya bisa jadi orang yang berbudi pekerti?
Siapkah saya menjawab pertanyaan-pertanyaan anehnya nanti?
Kira-kira metode pendidikan anak yang seperti apa yang baik? Apakah pola reward punishment, good cop bad cop, atau apa?

Dan belum sempat saya tuntas menjawab pertanyaan tersebut. Senyum Pagi pun muncul, datang memorakporandakan segala asumsi awal mengenai relasi orang tua dan anak.

Sebagai orang tua, yaitu orang yang dituakan saya pikir sudah sepantasnya saya tahu lebih banyak, mengerti lebih dalam agar bisa memberi wejangan dan nasihat lalu menjadi panutan buat si kecil.

Tapi asumsi saya langsung hancur seketika ketika saya berhadapan dengan si kecil.

Sudah 1 bulan 17 hari saya genap jadi ibu, dan saya merasakan bahwa saya yang diajari dan dibimbing oleh si kecil dan bukan sebaliknya.

Saya memanggilnya guru kecil.

Dia mengajari saya, makhluk egois nan keras kepala ini, banyak hal.

Semua dilakukannya dengan cara-cara sederhana.

Lewat tangisan tanpa henti, rengekan manjanya, senyumnya yang manis, dan tawa yang malu-malu.

Dia mengajari saya bagaimana berubah untuk lebih sabar, peka terhadap orang lain, tidak mudah mengeluh, menyanyi ( jangan tanya gimana hasilnya tapi lumayan ampuh untuk meninabobokannya:)), multitasking (mengasuh sendiri tanpa asisten benar-benar menempa diri untuk bergerak lebih efektif dan efisien), berimprovisasi mencoba segala cara untuk mendapatkan sesuatu dalam hal ini konteksnya tentu saja menidurkan Pagi :).

Sampai saat ini saya masih jauh dari sempurna. Contohnya saja saya masih saja tidak sabaran ketika Pagi menangis terus menerus tanpa henti meski semua cara sudah saya lakukan. Biasanya saya jadi uring-uringan atau bahkan pada awalnya saya jadi ikutan nangis karena merasa putus asa. Namun akhir-akhir ini, saya memutuskan untuk diam, ketika Pagi super rewel. Saya memilih tak bersuara menghadapinya meskipun dia dalam dekapan dan gendongan saya.

Saya masih belajar. Meskipun lambat, si guru kecil tak pernah bosan mengajari saya.

Tantangan baru selalu muncul tiap hari. Seperti kemarin, ketika orang yang bertugas mencuci dan membersihkan rumah tidak datang. Jadilah saya dan kelik berakrobat mengasuh, membersihkan rumah dan kemudian mencuci.

Fiuh, untung saja kami lulus ujian. Kelik mencuci. Saya yang menyapu dan mengepel rumah. Dan kami bergantian mengasuh si mungil.

Entah pelajaran apa lagi yang akan guru kecil berikan besok.

Saya siap, guru mungilku.

20110911-231605.jpg

Advertisements

No Responses to “Mentor Mungil”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: