psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Pengakuan pengendara pemula

Akhirnya saya bisa menyetir.
Keinginan saya untuk bisa berkendara sendiri sudah terwujud dan saya sah bisa ngomongin tentang gender.
Tapi tunggu dulu, jangan dikira saya bangga dengan prestasi ini. Setelah dipikir- pikir saya jadi malu.
Kok bisa? Pertama tentu saja berkaitan dengan sim yang saya peroleh dengan tidak hormat. Saya secara tidak langsung telah menyogok aparat demi mewujudkan resolusi tahun lalu: punya sim. Dengan liciknya, saya datang ke kursus pelatihan mobil dekat rumah. Sekalian belajar menyetir, sekalian dapat sim. Untuk mendapatkan sim a, waktu itu saya merogoh kocek saya sekitar 800 ribu kalo tidak salah plus kursus nyetirnya. Hanya perlu sekali datang, dan saya pun pulang membawa sim yang saya damba- dambakan. Bangga? Tentu tidak. Rasa itu muncul ketika saya menyetir sendiri untuk pertama kali (biasanya ada co-driver kelik yang menemani). Saya dengan keahlian menyetir pas-pasan dan juga sense of space yang rada kacau ( ga tahu ujungnya mobil seberapa sehingga sering kali menyenggol sekitar :)) nekat meluncur di atas jalan raya. Duh, bagaimana kalo saya nabrak mobil lain atau bahkan melukai orang lain. Dipikir-pikir sungguh amat tidak bertanggung jawabnya saya. Demi ambisi pribadi, saya mempertaruhkan keselamatan orang lain. Akhirnya saya tahu kenapa ujian sim di luar negeri susah sekali. Selain karena bebas korupsi, mereka juga ingin meminimalisir kecelakaan lalu lintas. Memikirkan hal itu, saya jadi membayangkan bahwa saya mungkin tidak sendiri. Dengan sistem yang korup seperti ini, tidak mustahil banyak orang seperti saya. Belum bisa nyetir, tapi udah berani turun ke jalan. Saya jadi membayangkan yang tidak-tidak. Kalau banyak orang seperti saya di jalan raya, apa jadinya lalu lintas indonesia?
Syukurnya saya belum, ah semoga tidak pernah, mengalami insiden apapun selama menyetir. Paling hanya senggol spion atau nabrak bemper yang tidak sampai menimbulkan huru hara di jalan. Itu pun saya yang biasanya ditabrak. Hal ini lagi-lagi bukan karena saya bisa nyetir, tapi lebih karena beruntung mungkin, lagian saya sangat extra hati-hati membawa mobil pokoknya jarang di atas 60 km per jam jalur biasa.

Pertama kali menyetir, saya tidak dapat pungkiri kalau saya senang sekali. Kesampaian juga angan-angan ini. Nyetir sendiri, menembus kemacetan ibukota sambil mendengarkan alanis mendendangkan lagu-lagunya di tape radio. Namun, setelah beberapa kali saya jadi kurang menikmatinya. Pertama oleh karena rasa deg2an yang tidak henti2mya muncul ketika berada di belakang setir. Stressnya bukan main. Menyetir bukan hanya melelahkan badan tapi juga jiwa. Hal lain yang kurang menyenangkan dari menyetir adalah saya kehilangan beberapa hal yang suka ketika menjadi penumpang pasif. Pertama, saya tidak bisa baca buku lagi. Novel catch-22 yang baru saya mulai baca tak tersentuh sama sekali. Biasanya saya membaca ketika ngebis. Yang kedua adalah, saya kehilangan kesempatan untuk tidur. Wuaah, saya sudah tidak bisa melakukan hal itu lagi, yang saya sering sebut surga dunia, bisa terlelap tidur undur diri dari kenyataan dan bisingnya sekitar. Rasa puas muncul ketika terbangun dan mendapati tujuan sudah dekat. Dan tentu saja, saya rindu berinteraksi dengan orang sekitar di angkutan umum yang terkadang lucu-lucu tingkahnya. Dan satu hal lagi, saya kangen sama supir ganteng saya kelik yang dulu selalu siap sedia mengantarkan kemanapun. Saya kangen menghabiskan waktu dengannya didalam mobil kecil kami, ngobrol apa saja, membicarakan hidup dan sesekali menertawakannya. Tapi mau tak mau saya sekarang harus berangkat kemana-mana sendiri karena pekerjaan Kelik saat ini mengharuskannya tetap dirumah. Jadilah saya yang amatir ini berkelana di jalanan.

Dan inilah pengakuan saya sekaligus permohonan langsung kepada pengguna jalan yang lain untuk memaklumi keberadaan saya ditengah-tengah mereka. Mohon maklum teman jika ada salah dalam berkendara!

-ika yang baru pulang dari menyetir kurang lebih 2 jam dengan kaki pegal dan kepala pening.

Advertisements

2 Responses to “Pengakuan pengendara pemula”

  1. Tetap semangat menyetir mobil…..
    selamat karena sudah berani berada di jalan raya!!

  2. terimakasih anna. salam kenal.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: