psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

konser demi konser

Tinggal 12 hari lagi dan saya akan bertemu dengan Leslie Feist, penyanyi asal Kanada yang akan menggelar konsernya di Indonesia.

Saya sudah membeli tiketnya jauh jauh hari bukan hanya karena saya suka dengan penyanyi yang album terbarunya baru dinobatkan sebagai album terbaik New York Times, tapi tawaran dari promotor yang membuat konser ini haram untuk dilewatkan.

Beruntungnya penonton Indonesia, kita hanya perlu membayar 375 ribu saja untuk menonton mbak Feist, karena menurut kabar dari adik dan teman di singapore dan juga australia, penggemar harus bayar 100 dollar singapore dan 79 dollar australia atau sekitar dua kalinya untuk bisa menonton Feist tampil live.

Sebelum Feist, sekitar 8 bulan yang lalu saya nonton ben folds tampil di jakarta. Saya akui waktu itu sedikit heroik karena saya menontonnya ketika saya hamil 7 bulan :). Suami hanya mengantarkan saya ketempatnya, dan selebihnya saya mau tak mau membaur dengan anak muda ibukota dengan perut saya yang membuncit.

Dipikir-pikir waktu hamil kemarin saya sering sekali nonton konser ya. Pertama waktu nonton smashing pumpkins (meski waktu itu saya belum tahu kalo hamil ya) lalu saya juga nonton java jazz meski lebih karena kerjaan.

Saya senang sekali bisa punya banyak kesempatan untuk menonton konser sekarang ini. Dulu mah boro- boro, kondisi keuangan yang tidak memungkinkan membuat saya hanya bisa gigit jari ketika artis kesukaan tampil disini. Saya tidak seberuntung orang lain yang bisa minta duit ke orang tua dan bisa nonton ini itu. Menonton alanis morissette pun harus melalui penantian panjang selama 14 tahun dan saya harus terbang 14 jam ke hamburg untuk menontonnya. Salah satu pengalaman heroik nonton konser saya yang lain.

Sekarang saya sangat beruntung, karena pekerjaan saya pun memberi saya akses untuk bisa nonton konser. Meski saya akhirnya lebih memilih tidak karena biasanya acaranya berlangsung sampai malam dan saya lebih senang pulang kerumah untuk memeluk senyum pagi.

Tapi dalam urusan menonton konser, saya sedikit selektif. Saya tidak suka nonton artis-artis baru yang mencetak satu dua sukses single. Standar saya cukup tinggi dalam hal ini. Yaah, Setidaknya lagu mereka sudah saya dengar berkali-kali di play list saya.

Saya pun masih dibilang masih awam dalam hal nonton konser musik. Saya ingat sekali saya pertama kali nonton konser dengan teman saya gereja nining. Kami yang sama-sama nonton tarabian, pentas seni anak tarki. Kami berdua bela-belain nonton itu demi nonton sheila on 7 yang lagi gandrung saat itu. Konser-konser berikutnya yang saya tonton kebanyakan gratisan.

Alasan saya nonton konser musik karena saya ingin menemukan sensasinya yang mencandu. Rasanya luar biasa, berdiri di tengah-tengah orang asing yang membagi emosi yang sama. Semua mata tertuju kedepan, menantikan kejutan dari sang idola yang tampil didepan. Belum lagi euforia yang datang ketika semua orang kemudian menyanyi bersama-sama Duh sampai bergidik bulu kudu saya. Pertunjukan musik yang bagus bisa membuat pipi saya ikutan merinding. Berlebihan jika saya menggambarkannya seperti orgasme, tapi memang sensasinya pun tak urun membuat jantung bergerak lebih cepat seperti habis dicium pasangan tersayang.

Demi sensasi demikian, saya pun sebisa mungkin tidak melewatkan konser artis yang saya sukai. Saya sedang menunggu regina spektor, inggrid michaelson (yang kabarnya akan merilis album baru) dan juga swell season yang konsernya di berlin saya lewatkan 2 tahun yang lalu.

Senangnya sang partner pun mendukung hobi saya yang terlambat puber ini. Dia selalu memberi lampu hijau, meski pada akhirnya saya harus nonton sendirian karena dia tidak terlalu tertarik dengan acara-acara musik.

Tapi dipikir-pikir salah satu kencan perdana kami lewatkan dengan nonton pagelaran musik. Saya ingat dia dandan agak ganteng malam itu sambil membawa bunga dan kami pun naik becak ke graha sabha pramana untuk nonton konser twilight orchestra. Pulangnya pun kami harus jalan kaki karena tempat mangkal becaknya jauh. Aah mungkin waktu itu yang penting bukan apa yang ditonton tapi dengan siapa. Ya gak sayang? šŸ™‚

Advertisements

2 Responses to “konser demi konser”

  1. Ahhh! Baru Selasa kemarin aku ngobrolin ini sama seorang sahabat. Kita berdua puas karena di saat Jakarta panen konser begini, kita udah punya uang sendiri dan ga perlu ijin ini-itu sama ortu. Semua konser bebas dilibas asal duitnya ada haha..

    Dan Ika, akupun sudah beli tiket Feist! Dan sendirian karena gada temanku yang berminat nonton. Kalo kamu juga sendirian, mau bareng?

    Dan Ika, akupun menunggu Regina & Inggrid dengan harap-harap cemas.

    Dan Ika, Tarabian itu acara angkatanku loh. Karena termasuk panitia, aku bisa nonton SO7 persis di depan panggung dan udahannya bisa ketemu Duta & Eross di backstage. Nggak ngefans sih, cuma waktu itu berasa keren aja bisa ketemu artis. Haha..

    Ah, seneng deh baca postinganmu ini, Ka.

  2. Wuaaah grace, senang banget mendapatkan komenmu ini. ayo nonton feist bareng ya. dan kemudian regina dan kemudian inggrid…aaaah ga sabar šŸ™‚


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: