psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Budaya santun di jalanan

Rata-rata orang yang tinggal di jakarta atau setidaknya yang pernah ke ibukota tercinta ini pasti menyadari betapa jahanamnya lalu lintas di kota ini. Bahkan ada beberapa pengguna jalan yang kemudian berpikir jangan-jangan neraka lebih baik dari kondisi jalanan jakarta. Kita tidak hanya berbicara masalah kemacetannya yang naujubillah bin zalib, tapi juga hal-hal lain yang tak kalah parahnya.
Misalnya angkutan umum yang ugal2an, berhenti sembarangan, membuat macet seenak jidat, lalu kualitas transportasi publik yang menyedihkan, belum lagi ganasnya pengendara motor yang sudruk kanan kiri, semua merasa seperti pembalap yang berlomba menuju akhirat, lalu pengemudi mobil yang tidak tahu diri, berlindung dibalik kenyamanan udara pendingin, memaksa semua pengguna jalan memgakui kedaulatannya sebagai wakil dari kelas tertinggi di kota barbar ini. Lalu makhluk-makluk jalanan yang terpinggirkan seperti bajaj dan bemo yang meminta hak mereka atas sedikit tempat di jalanan jakarta yang sudah sesak. Ada juga kaum paling papa, para pejalan kaki, yang nampaknya tak mau kalah, berusaha balas dendam atas perlakuan tak adil diperkastaan lalulintas jakarta dengan berlenggak lenggok seenaknya di jalanan lalu menghentikan angkot sembarang tempat dan yang tak urung menciptakan kemacetan.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Saya sendiri sebagai pendatang baru di kancah edan jalanan ibukota pun awal-awal sempat ketar-ketir. Dengan abdul yaris, saya berusaha tampil percaya diri. Meski setiap kali saya jadinya kebanyakan mengalah. Sebal bukan main, apalagi kalo harus mengalah dengan pengguna jalan yang ga tahu aturan, sebangsa angkot yang paling suka bikin shock jantung dengan manuver salip kiri-kanan mereka yang nekat. Huah sebelnya sampe keubun-ubun. Belum lagi kalo ketemu pengemudi motor dan mobil yang sama sekali ga mau ngalah. Huah, saya merasa seperti pengemudi yang paling dizalimi di jalanan jakarta. Yang gak bisa ngapa2in, meski diperlakukan tidak adil.

Pernah suatu ketika saya pun memutuskan gila seperti yang lain. Pokoknya tancap gas, masa bodoh dan persetan dengan yang lain. Pokoknya gaya banget.
Alhasil, pernah suatu kali saya bertengkar dengan seorang pengendara motor karena kami berbenturan di pertigaan. Kami sama-sama mengklaim bahwa dirinya yang paling benar, padahal kalo saya pikir, saya pasti ada salahnya, meski sudah memberi lampu sen, gaya berbelok saya yang kurang cekatan pasti juga turut andil dalam kecelakaan itu. Tapi emosi berada diatas angin ketika itu. Hingga masnya berteriak: mba nya marah sama saya? Dengan mata melotot. Saya yang ga mau kalah tiba-tiba merasa seperti ditantang. Saya pun bilang tidak dengan tegas, tapi saat itu entah kenapa saya tersenyum. Mungkin menertawakan kekonyolan diri sendiri, buat apa coba berantem begitu, buang-buang waktu aja. Akhirnya saya pun berinisiatif minta maaf, dan kagetnya si masnya juga minta maaf, mengakui mungkin dia juga bersalah.

Setelah itu kami pun berpisah sambil tak lupa bertukarsenyum.

Tapi kejadian itu membuatku berpikir ulang mengenai sikap berkendara. Mungkin perlu kepala super dingin untuk bisa menaklukan jakarta.

Dipikir-pikir dari pada membuang energi emosi di jalanan, mengumpat orang, mengutuk yang lain, lalu bertengkar hebat dengan pengemudi lain ditengah jalan mungkin lebih baik mengalah dan pasrah. Entah mengapa tapi itu cara yang waras untuk menghadapi kejamnya lalu lintas jakarta.

Saya pernah juga mengalami pertengkaran hebat dengan sopir sebuah kendaraan, waktu itu saya padahal hanya membonceng. Meski tidak sampai terjadi bentrok fisik, tapi emosi yang saya rasakan benar-benar menguras energi. Ooh my ga enak banget.

Saya saat ini berusaha belajar dengan prinsip legowo yang diterapkan sang suami ketika menyetir. Aah, dia itu luar biasa, dia gemar sekali memberi jalan buat orang, lalu tidak pernah lupa mengucap terimakasih pada siapapun yang memberinya jalan, meski hanya dimobil dan tidak terdengar siapapun. Tapi saya banyak belajar darinya dan berusaha mempraktekkan beberapa kali.

Dan hasilnya luar biasa menurut saya, prinsip santun itu bisa mengembalikan senyum senyum yang selama ini hilang di jalanan.

Saya beruntung bisa mendapatkannya beberapa kali, senyum dari pengendara motor yang saya kasih jalan. Senyum dari ibu dan anaknya yang berterimakasih karena sudah diberi kesempatan untuk menyeberang atau sekadar lambaian tangan dari mobil dari arah berlawanan di gang yang sempit

Rasanya luar biasa bisa menemukan wajah-wajah kemanusiaan di tengah-tengah pekatnya asap knalpot.

Tidak hanya itu, saya pun belajar menikmati kemacetan atau kegundahan di jalan raya. Andalan saya dulu adalah musik. Saya suka menyetel musik keras dan bernyanyi seenaknya seolah-olah mobil saya semacam ruangan karaoke berjalan. Tapi itu biasanya tidak berlangsung lama. Paling hanya sejam, selebihnya saya hanya bisa diam karena kehabisan suara dan menggerutu.

Hingga saya menemukan alternatif lain yaitu imajinasi. Duh menurut saya, orang jakarta seharusnya menjadi orang kreatif di dunia. Terperangkap di ruangan berkaca, tanpa bisa melakukan apa-apa dengan kejadian luar biasa berkelebat tak henti-hentinya itu seharusnya bisa mendatangkan sesuatu.

Saya sendiri biasa menggunakan imajinasi untuk menghadapi makhluk-makhluk pengemudi kurang ajar yang tidak tahu aturan. Dari pada marah-marah, saya biasanya membayangkan si mas-mas sopir pengemudi B 817 JB yang menyerobot jalan saya tanpa sen itu saya sulap jadi abu dengan tatapan mata ini. Hal lebih gila bisa saya bayangkan ketika obyeknya adalah sopir angkot.

Jadi buat apa sebal, emosi, mengutuk dan semua hal yang menguras energi, kenapa kita tidak bersikap baik dijalanan. Toh di jalan raya keadaan sudah sedemikian buruknya. Buat apa coba menambahnya. Bersikap santun ga ada salahnya kok dan sekali-kali cobalah mainkan imajinasimu dijalanan.

Advertisements

No Responses to “Budaya santun di jalanan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: