psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

tragedi oh tragedi

Apakah ada orang yang senang tertimpa musibah?

Mmmm, sepertinya tidak ada. dan saya termasuk diantara orang-orang tersebut, yang merutuk dan menggerutu jika ditimpa masalah.

Sebagai orang yang suka merencanakan segala sesuatu dengan seksama dan detail, termasuk untuk menghindari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan, saya merasakan perasaan sebel luar biasa ketika semua yang direncanakan jadi amburadul karena sebuah tragedi yang terjadi tiba-tiba.

Berencana boleh, tapi tetap semesta beserta elemen-elemennya yang acak yang menentukan.

Baru minggu kemarin saya tertimpa masalah. Suami saya yang mengantuk dengan sukses menabrak bemper belakang taksi di sekitar daerah arteri pondok indah.

Saya tidak tahu persis kejadiannya seperti apa, karena saya tertidur waktu itu. Saya terbangun karena benturan keras yang membuat penyok bemper taksi di depan kami.

Uuh, saya kesal sekali, karena saya sudah menawarkan diri saya beberapa kali untuk berada di belakang setir, sebelum berangkat dan bahkan sesaat sebelum tabrakan terjadi. Saya tahu suami saya kurang tidur dan mengantuk, tapi dengan yakinnya, dia menjawab tidak mengantuk. Dan tabrakan pun terjadi, karena dia pulas beberapa saat ketika menyetir. 

Kekesalan saya yang berikutnya adalah waktu yang terbuang untuk negosiasi masalah ganti rugi. Proses rembukan berbelit-belit padahal suami saya waktu itu ingin mengajar sementara saya dikejar deadline untuk menulis artikel pendek.

Si supir secara langsung mengajukan nilai Rp 3 juta untuk biaya ganti rugi yang menurut kami berdua sedikit tidak masuk akal mengingat kerusakan yang ditimbulkan hanya mengakibatkan bemper penyok dan sedikit  retak di lampu belakang mobil.

Kami pun menolaknya. Dan dia pun menolak ketika kami menawarkan uang di tempat yang jumlahnya memang tidak sebanding dengan Rp 3 juta yang ditawarkannya pertama kali.

Aku pun berinisiatif menelepon perusahaan taksi, dia pun menelpon atasannya, dan akhirnya kami pun saling menunggu di lokasi kejadian untuk menyelesaikan masalah dengan melibatkan pihak ketiga dari pihak manajemen taksi.

Solusi datang ketika pihak manajemen menyarankan kami untuk menghubungi perusahaan asuransi dan menanyakan apakah pihak yang tertabrak juga ditanggung.

Awalnya saya pikir saran yang aneh, masak sih? Tapi ternyata setelah dihubungi, pihak asuransi menegaskan bahwa mereka menanggung kerusakan mobil saya dan mobil yang ditabrak.

Ooallah, saya dan suami saya baru tahu. Maklum sejak kami membeli abdul yaris, kami sama sekali belum pernah mengajukan klaim asuransi, meski kami, terlebih saya, suka serempet sana, serempet sini, membuat lecet disana sini.

dan berkat kejadian itu, kami memutuskan untuk mengajukan klaim untuk kerusakan yang lain, yang ketika ditotal jumlahnya lumayan juga. 

meski sempat sebal dan ingin marah waktu kejadian itu, pada akhirnya saya tak kuasa menahan senyum ketika masalah selesai. Leganya saya tidak perlu mengganti rugi kerusakaan, dan abdul akan kembali mulus seperti sedia kala.

Ini mungkin yang namanya yang disebut “learning car insurance the hard way”

Aah sepertinya semesta punya caranya sendiri untuk mengejutkan penghuninya.

dan baru saja saya menjatuhkan hp saya cukup parah. Saya tidak bisa lagi memakainya karena setengah permukaannya retak. 

mmm…kira-kira apa kejutan selanjutnya dari musibah yang satu ini ya? 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

No Responses to “tragedi oh tragedi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: