psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Ah airmata itu

Saya mengingat diri saya sebagai anak yang cengeng. Sedikit-sedikit menangis. Terutama waktu saya mulai sekolah. Tiada hari yang terlewat tanpa menangis. Saya ini memang anak jago kandang, hanya berani dirumah tapi begitu luar pagar, langsung mewek.

Sekolah tidak dijemput nangis, gunting direbut teman nangis, dapat nilai jelek nangis, berantem dengan teman nangis. Ah ingat sekali waktu saya mengadu pada bu guru dengan airmata yang berderai karena dua teman dekat rumah mendiamkan saya dan tidak mau pulang bareng lagi. Oo belum lagi waktu saya ga kebagian kaos olahraga ketika pembagian seragam baru. Itu sedikit memalukan memang, saya ga kebagian krn memang tidak ada ukurannya, tapi tetap saya menangis sampai ada teman cowok datang memberikan seragamnya. Hati terhibur, tapi begitu sampai rumah bajunya gak cukup. Hahaha.Terpaksa saya tetap harus menunggu stok baju yang baru.

Untungnya kebiasaan mewek itu tidak menjadi-jadi. Seiring saya dewasa, saya sadar untuk berusaha tidak mudah menangis. Menitikkan air bukan jadi sesuatu kegiatan yang bisa dipertontonkan, dia menjadi hal yang sangat personal, yang saya pindahruangkan ke dalam ruang-ruang privat saya. Dorongan untuk menciptakan kesan bahwa saya kuat, indipenden dan mandiri yang menghantar saya menjadi pribadi yang tidak mudah menangis. Kelihatannya.
Namun saya tetap menangis ketika nilai essay saya dikuliah dapat c, belum lagi cinta pertama yang ga kesampaian waktu awal kuliah yang bikin rutinitas ke kamar mandi saya jadi sedikit lebih lama. Dasar emang anak cengeng.

Mungkin yang tidak berubah adalah kebiasaan saya menangis waktu nonton film. Bahkan dengan soknya, sebagai kritikus film cemen saya menjadikan airmata saya sebagai penentu kualitas sebuah film. Semakin menangis, semakin bagus. Hahaha. Ingat benar saya waktu nonton I Am Sam yang berhasil bikin saya tercekat sepanjang film karena tak henti-hentinya menangis. Tapi akhir-akhir ini, saya jadi menyangsikan penilaian berdasarkan airmata ini. Saya curiga hormon juga turut andil dalam menentukan saya menangis atau tidak ketika menonton. Seperti waktu lalu, ketika nonton film steven spielberg yang baru war horse. Masa saya mulai menangis bahkan ketika film belum beranjak di 30 menit pertama. Kebayang dong akhirnya jadi apa, saya menangis di sepanjang film. Sedikit lebay nih padahal filmnya mah standard banget. Bagus tapi ga bagus banget. Dasar spielberg monyet emang.

Tapi lambat laun saya cukup sadar bahwa saya ternyata memang perlu menangis. Menonton atau tidak menonton. Ketika beban terasa begitu berat dan seakan tidak ada jalan keluar yang bisa dicari, menangis menurut saya jalan keluar singkat yang bisa digunakan untuk meluapkan segala emosi sebelum akhirnya dapat berpikir jernih untuk mencoba menyelesaikan masalah yang ada. Entah mengapa, saya merasa begitu lega setelah menangis. Asal mungkin porsinya saja jangan terlalu berlebih.

Rekan sejawat kelik yang divonis mengidap kanker mengajarkan saya hal itu. Baru-baru ini kami mendengar cerita versi lengkap mengenai perjuaangannya melawan kanker payudara. Karakternya orangnya memang ceria, jadi cerita yang disampaikan pun bukan yang memancing rasa sedih tapi justru tawa. Tak urung banyak orang heran dengan bagaimana caranya menghadapi situasi berat ini. Tapi dengan entengnya dia menjawab: ah kalo saya bisa sembuh dengan menangis, saya akan menangis setiap hari. Tapi kan buktinya enggak? Ujarnya sambil memberikan cengiran khasnya.

Benar juga dia, jangan sampai menangis menghalangi orang untuk mencari solusi dari masalah yang ada.

Jangan lebay kayak sby si tukang ngadu yang bisanya cuma bilang prihatin dan menangis sambil mempertontonkan dua kantong matanya yang semakin menebal. Entah apa yang coba dia bangun dengan image presiden itu, tapi yang jelas itu tidak menyelesaikan masalah.

Mempertontonkan tangisan sah-sah saja, tapi jangan berlebihan dan disiarkan langsung ke penjuru tanah air. Saya sendiri terkadang merasa perlu menangis didepan segelintir orang-orang pilihan atau sekedar berbagi dan mengatakan ‘saya baru saja menangis’ ke teman-teman dekat hanya untuk menyatakan betapa saya butuh mereka dan dukungan mereka.

Advertisements

No Responses to “Ah airmata itu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: