psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

kelak suatu hari nanti

Usia baru saja menyentuh 30 tahun, tapi kenapa akhir-akhir ini jadi memikirkan tentang pensiun ya…

Salahkan lalu lintas jakarta yang membuat diri ini jadi desperate setengah mampus untuk tinggal lebih lama di kota ini. Aku ingin cepat cepat pergi dari sini, ke sebuah tempat yang nyaman, yang hingga detik ini saya masih membayangkan tempat itu sebagai yogya, kota dimana saya dilahirkan.

Tapi memang akhir-akhir ini topik pensiun begitu hangat di tengah-tengah orang terdekatku saat ini. Ada sahabat yang menargetkan usia 35 tahun akan pensiun, lalu ada beberapa teman yang punya rencana untuk bisa pensiun dini. Aah menarik memang.

Tapi aku sendiri..dan juga kelik, tidak pernah berpikir untuk pensiun. Kami pernah membicarakan ini dan memutuskan bahwa kami akan terus bekerja sampai akhir hayat kami karena kami tidak bisa membayangkan untuk tidak lagi bekerja. Beruntungnya kami, karena kami melakukan yang kami suka. Jadi saya akan berusaha terus menulis sampai saya nenek-nenek, sementara kelik akan terus berkarya sampai dia tua.

Sebenarnya alasanya bukan hanya masalah pemenuhan kepuasan jiwa, tapi juga ada sisi kebutuhan material yang tak terbantahkan. Saya masih ingin hidup cukup, memberikan yang terbaik buat senyumpagi dan tetap bisa pergi ke maccu piccu :))

Tentu banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjamin masa tua yang terjamin itu, seperti berinvestasi atau menabung.

Ada seorang teman yang iseng berhitung dengan suaminya. Mereka menargetkan bahwa mereka akan pensiun ketika tabungan mereka mencapai 5 milyar rupiah. Penjelasannya cukup logis, dengan jumlah uang demikian besar, mereka bisa hidup dengan sangat cukup dari bunganya saja setiap bulan. Edannya, pasangan beranak satu itu yakin mereka akan mencapainya ketika berusia 40 nanti. Canggih nian.

Saya sendiri tidak membayangkan bakal bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Tapi saya jadi bertanya pensiun itu hanya masalah keterjaminan finansial? pensiun atau masa tua (karena saya tidak ada rencana untuk pensiun) yang ideal, menurut saya, adalah yang juga bisa menciptakan rasa nyaman. Dan rasa nyaman, yang ada dalam otak saya saat ini adalah saya tetap bisa bekerja meski melewati usia produktif saya.

Kenyaman di masa depan adalah sebuah banyangan akan rumah bertembok putih di daerah timur yogya dan diri ini dengan kacamata dan rambut yang berantakan beranjak ke kursi dekat jendela untuk menikmati melihat matahari yang muncul malu-malu dan mendengar sayup sayup suara burung yang mulai bersahutan yang memberikan kode alam paling indah untuk segera menyelesaikan tulisan-tulisan yang tertunda.

Ah semoga.

20120811-224454.jpg

Advertisements

2 Responses to “kelak suatu hari nanti”

  1. imho, pandanganmu dan temanmu itu bisa disatukan. target tabungan 5 milyar di usia 40 tahun tidak jelek. tapi setelah itu apa? apakah berhenti bekerja? itu pilihan masing-masing. bisa saja kamu dan kelik mempunyai target sama, mencapai tabungan 5 milyar di usia 40 tahun. setelah itu kalian tetap bisa berkarya, bedanya saat itu bisa memilih berkarya untuk pihak yang membolehkanmu meninggalkan kemacetan jakarta. dengan kata lain, kenyamananmu adalah syarat no 1, bukan lagi gaji atau materi. dengan pengalaman yang kamu punya dan tabungan 5 milyar, posisi tawarmu jadi lebih tinggi, bukan 🙂

  2. hehehe…masalahnya ga kebayang bisa ngumpulin duit 5 milyar al..:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: