psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Melawan penyakit

Liburan lebaran yang lalu bukan liburan buat saya karena saya harus berjibaku melawan radang tenggorokan.

Keadaan tambah buruk ketika pagi pun juga ketularan, padahal teteh lagi pulang kampung. Padahal saya sudah berusaha demikian rupa sehingga pagi tidak ketularan. Tapi apa daya, karena saya masih menyusuinya sehingga tidak bisa benar2 lepas darinya. Tidak hanya itu, keinginan saya untuk tidak mau minum obat pun tambah buat saya kepayahan. Tidak saya pungkiri, serangan radang kali ini memang hebat, tapi saya bersikeras tidak mau minum obat apapun karena alasan saya menyusui.
Terlepas dari itu semua, saya memang membatasi diri untuk tidak sembarang minum obat. Jika ingin radang atau flu, saya buru-buru menghadangnya dengan minum banyak-banyak atau mengonsumsi vitamin C. Biasanya sih berhasil, tapi mungkin kemarin kecapean juga harus mengurus pagi sendirian, jadinya ambruk juga.

Saya memilih tidak minum obat karena beberapa alasan. Saya percaya bahwa obat bukan hal yang baik untuk tubuh. Mereka pada dasarnya zat kimia asing yang bisa saja mengakibatkan efek samping tertentu. Bukan itu saja, saya kuatir sifatnya mencandu. Beberapa orang terdekat mengalaminya, dulunya butuh satu bodrex buat meredakan sakit kepala, sekarang butuh dua. Menurut saya, ketergantungan ini membuat tubuh malas untuk melawan sendiri penyakit itu. Iya saya percaya tubuh kita dibuat sedemikin rupa lengkap dengan sistem mekanisme pertahanan tubuh yang luar biasa. Jadi sebaiknya jangan disia-siakan.

Untuk itu jika sakit datang, biasanya saya beralih ke racikan tradisional. Saya memilih minum jeruk nipis hangat ketika radang. Mungkin sembuhnya tidak langsung, tapi membantu untuk melatih daya kebal tubuh. Saya ingat sekali waktu pertama kali mempraktekkan hal itu. Kalo tidak salah berminggu-minggu. Butuh lama sekali untuk sembuh, tapi setelah pulih saya merasa tidak gampang sakit. Dan seperti kemarin saya hanya butuh waktu kurang dari seminggu untuk sembuh dari radang menggunakan racikan air jeruk nipis yang sama.

Tapi jangan salah, saya bukan berarti anti obat. Saya meminumnya jika memang saya membutuhkannya, seperti ketika kelingking saya patah dua tahun atau ketika saya sakit typus hampir telat setahun yang lalu. Saya tidak punya alasan lain untuk tidak minum obat ketika itu. Tapi menurut saya, kita punya pilihan bagaimana dan apa yang kita sebaiknya konsumsi. Contohnya ketika patah tulang, saya bilang kedokternya kalau saya berencana hamil dan ketika saya typus saya sudah wanti-wanti dokternya sejak awal dengan bilang saya adalah ibu menyusui. Saya tidak mau sembarangan zat asing ke tubuh saya.

Hal itu juga saya terapkan ke anak. Saya dan kelik berpikir seribu kali jika hendak memberi obat ke kami. Bahkan terakhir konsultasi ke dokter, kami sepakat tidak menggunakan resep yang diberikan karena setelah riset di internet, obat itu mengandung bahan-bahan berbahaya untuk anak berumur satu tahun ( ah orang tua jaman sekarang). Saya tidak mau sembarangan memberi obat seperti bapak saya yang menjejali anak-anaknya dengan antibiotik ketika sakit. Mungkin niatnya baik, tapi tidak untuk jangka panjang. Saya merasa jadi salah satu korbannya dan gigi saya yang kuning ini jadi bukti nyata 😀

Advertisements

2 Responses to “Melawan penyakit”

  1. ya, betul. sebaiknya kembali ke obat herbal. rebusan daun sirih adalah antibiotik yang paling baik dibanding obat antibiotik manapun

  2. wah saya belum pernah coba..so far pilih obat tradisional yang juga nyaman di lidah 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: