psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

I did it.

Yes. I did it.

Semua bermula dari iseng-iseng melihat papan pengumuman Jakarta Heart Run 10k dalam perjalanan ke tempat les. Saya pun mengajak teman kantor dan sahabat saya Odit, ikutan. Semula dia ragu, karena dia tidak terbiasa lari, sementara saya cuma pelari kelas kampung, yang hanya bisa lari muter muterin kampung.

Tapi berbekal nekat, kami sepakat ikutan event itu dan tidak ketinggalan mengajak teman Odit dan teman saya juga Zaki, yang suka lari, untuk ikutan.

Bukan gampang memang, karena pastinya harus banyak latihan. Waktu kurang dari dua bulan waktu saya pertama mendaftar online lewat website. Sementara persiapan yang biasa saya lakukan adalah seperti biasa lari keliling kampung. Sedikit-sedikit jaraknya saya tambah, dari hanya 4 km beranjak ke 6 km lalu ke 8 km hingga mentok 8.5 km (hahaha saya ga tahu mesti lari ke pojok kampung yang mana lagi untuk mencapai target 10 km) kemudian saya perlahan-lahan mempercepat lari saya, dari mulai hanya berlari kecil-kecil, hingga mencapai kecepatan diatas 9 km/jam (yang menurut panitia sudah masuk kategori diatas pemula). Well tapi saya sempat kuatir dengan jarak yang akan ditempuh, 10 km bukan jarak yang dekat, apalagi saya hanya bisa mentok 8.5 km…bagaimana kalo saya tidak sanggup. Suami saya, selalu bilang: udah dibawa santai juga…iyah santai tapi deg-degan juga nih. Sejauh ini memang saya bisa menaklukkan jarak 5-8 km berlari terus menerus tanpa berhenti, tapi 10 km?

Okay kita coba saja.

Pada hari H, saya sudah bangun dari pagi karena juga harus mempersiapkan keperluan Pagi yang juga diajak. Untungnya lalu lintas cukup bersahabat, hanya mengantri parkirnya yang lumayan lama.

Dari antriannya, bisa diduga pesertanya banyak sekali..8,000 orang kata zaki. Well, kok jadi tambah deg-degan, belum lagi melihat banyak sekali yang datang dengan persiapan cukup lengkap. Gadget cukup lengkap di tangan kanan dan kiri, sepatu yang kinclong dan berwarna-warni, sedangkan saya? hanya tampil seadanya, maklum kalo di kampung, ngeliat ada orang lari-lari pake sepatu kets yang solnya hilang pake baju tidur, nah itu saya. Ini rada mendingan karena pihak panitia menyediakan kaos, jadi saya bisa tidak usah baju kebanggaan saya ketika lari. Masalah sepatu, sebenarnya saya berencana mengganti sepatu saya yang rusak itu, tapi sayang juga, ya sudahlah. Tapi yang bikin tambah drop, adalah ketika saya pergi ke kamar mandi umum, dan berpapasan dengan peserta perempuan lainnya dan mencium aroma segar..saya baru ngeh, saya belum mandi..sementara yang lain nampak rapi, wangi dan tak sedikit yang memakai make up. Jiaah…tapi dipikir-pikir ini mau lari apa mau mejeng?

Di garis start, saya, odit dan zaki menunggu lomba dimulai. Kami semua mengakui sedikit nervous melihat begitu banyaknya orang. Tapi yang membuat kami semangat adalah dukungan dari teman-teman, terutama teman-teman odit dan zaki. Bahkan grace hadir di senayan untuk mendukung dan mendokumentasikan semuanya. Lalu ada alia dan midya juga yang memberikan dukungan lewat twitter. Jadi ga ada alasan untuk mundur.

Dan lari pun dimulai. Pada awalnya saya dan odit berdampingan dan zaki dibelakang, hingga zaki kemudian menyusul kami dan odit pun berlari mendahuluiku. Mereka berdua keren sekali, terlebih odit yang sama sekali tidak pernah berlari sebelumnya, bisa sampai digaris finish sebelum aku.

Memang susah bagiku, bukan hanya masalah jarak. Well, medannya memang tidak seberat di kampung bulak, yang becek dan berbatu juga naik turun, tapi entah, saya merasa monoton berlari di jalan aspal yang mulus. Hiburan satu-satunya saya adalah ketika melewati mbak-mbak ber make-up yang jalan ditengah-tengah lari (pengin nowel jadinya dan bilang ini lari 10 km bukan jalan 10 km, lho mba…hahaha cape tapi belagu). Semangat saya pun bangkit ketika melihat kakek tua berlari sekuat tenaga tanpa putus semangat menuju garis finish.

Kaki pun sempat kram di tengah jalan, sehari sebelumnya saya memang memutuskan lari, dan ternyata kaki saya jadi sakit. Tapi saya harus terus dan terus tidak berhenti sampai garis akhir. Sebenarnya menurut saya pribadi tantangan dari lari adalah mengalahkan diri sendiri, gimana memotivasi diri untuk konsisten terus berlari tanpa berhenti, tanpa menyerah hingga garis akhir. Ketika ditanya, apa sih rahasianya bisa berlari terus, saya juga bingung jawabnya. You just run, one hop at a time until the finish line.

Dan saya berhasil. Berlari non stop selama 10 km terus menerus tanpa berhenti. Fiuuuh. Lega rasanya melihat Odit, Zaki dan Grace menanti di garis sambil melambai-lambaikan tangannya. 300 m…200m..100m..50m… saya pun memacu langkah saya lebih cepat dengan kekuatan yang masih tersisa dan hop melompat ke garis finish.

Yes. I did it.

Advertisements

2 Responses to “I did it.”

  1. Yes, we did it! Makasih udah ngajak aku lari ya Ika. xo


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: