psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

beranjak dari zona kenyamanan

“I want my life back,” seru seorang teman dari Vietnam suatu ketika kami duduk bersama untuk makan siang. Namanya Minh, sama seperti saya, dia adalah wartawan yang memutuskan untuk sekolah lagi. Siang itu dia mengeluh tentang betapa dia merindukan waktu untuk bisa membaca novel lagi karena sekarang hari-harinya sibuk untuk membaca tumpukan text books, belum lagi tugas-tugas.

Somehow I feel what he feels.

Dulu sebelum berangkat, ketika masih duduk cantik di depan meja kerja sambil menulis artikel, saya sering membayangkan apa rasanya meninggalkan comfort zone?

yah bagi saya, saya memang sudah dalam comfort zone, yang terkadang membuat saya gelisah tapi disisi lain tak disangkal sangat melenakan.

Sudah lebih 7 tahun saya bekerja di kantor ini. Cukup mengherankan juga apa yang buat saya betah. Ini lebih dari sekadar gaji, karena menurut saya mereka membayar lebih untuk sebuah pekerjaan yang saya suka. Saya juga sudah diberi banyak kesempatan untuk belajar dan itu priceless buat saya. Namun, liputan tiap hari dengan tantangan deadline yang begitu keras lama-lama berangsur-angsur jadi rutinitas harian tanpa adrenalin. Apalagi berada di desk features yang punya tenggat waktu yang lebih fleksibel. Saya terkadang merasa bosan, meski saya sendiri yang awalnya meminta untuk dipindahkan kesana karena waktu itu saya bilang ke pimpinan saya, saya ingin hamil dan punya anak.

Sudah lebih 2 tahun saya didesk itu, dan memang saya akui sangat nyaman. dengan deadline yang sangat manusiawi dan kebebasan untuk menulis apapun saya suka, belum lagi editor yang super toleran dan saya bisa dengan sangat fleksibel menentukan jadwal liputan dan wawancara asal target tulisan terpenuhi. Apalagi sih yang kurang?

aah saya memang tidak pernah merasa cukup. šŸ˜¦

Selain karir, didalam kehidupan pribadi saya merasa sudah nyaman dan merasa bersyukur sekali buat berkat-berkat yang hadir dalam hidup saya. Seorang partner yang handal, anak yang aktif, rumah mungil dipinggiran jakarta belum lagi hal-hal materiil yang bisa kami nikmati. Saya bahagia namun terkadang cemas.

Makanya ketika kesempatan untuk sekolah lagi datang, saya pun menggangapnya sebagai peluang untuk beranjak dari comfort zone ini.

Dan lucunya dan anehnya lagi, berada jauh dariĀ  zona kenyamanan itu, membuat saya merindukannya. Dasar manusia aneh memang Ika ini.

Iya, sama seperti Minh, saya kangen membaca novel lagi, atau liputan atau duduk diteras rumah ngobrol dengan tetangga dan anak-anakku.dan masih banyak hal konyol lainnya yang saya pengin lakukan.

Satu hal lainnya, saya terkadang merasa bersalah karena saya juga mungkin menggeret orang terdekat saya untuk beranjak dari zona kenyamanan mereka. Kelik dari pekerjaan dan network yang sudah mapan di Jakarta dan juga Pagi dari suasana nyaman dan akrab dekat dengan keluarga di Indonesia.

Sama seperti saya, mereka masih meraba-raba dan berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru ini, jauh dari segala kemewahan dan privilige yang bisa kami dapatkan dari jakarta.

Proses yang tidak mudah, kelik masih mencari pekerjaan hingga detik ini dan pagi masih harus menyesuaikan diri di child care, berinteraksi dengan teman-teman baru, sementara saya berkutat dan berjuangĀ  dengan diktat kuliah yang tebal.

Zona nyaman kami saat ini adalah kasur ukuran sedang tempat kami merebahkan diri diwaktu malam sambil berbagi selimut. Dan saya tidak bisa lagi mengeluh.

Advertisements

No Responses to “beranjak dari zona kenyamanan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: