psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

berbicara tentang birokrasi

Ah yang namanya ngurusin birokrasi, dimana saja memang menyebalkan. Saya pikir berada di negara maju akan membuat persoalan berurusan dengan negara jadi lebih mudah dan nyaman, tapi ternyata hampir sama saja. Yah, memang tidak separah di Indonesia, yang terkenal dengan korupsinya. Disini memang  semua proses urus mengurus dokumen bebas dari unsur sogok-menyogok, tapi leletnya itu masya allah. ckckck. jadi kepikiran, apa memang itu harga yang harus dibayar untuk sebuah pemerintahan yang bersih? gak juga kan seharusnya.

Saya memiliki beberapa pengalaman kenapa akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan seperti itu. Berada dinegara lain dalam waktu cukup lama memaksa saya mau tak mau berurusan dengan tetek bengek ini. Sebelumnya, ketika saya hanya tinggal sebulan atau dua bulan dinegeri asing, saya tak perlu sama sekali berurusan dengan birokrasi setempat karena semua sudah diurus oleh penyelanggara. tapi sekarang? jadi curiga jangan-jangan ternyata sama saja, jangan kenyamanan yang diberikan memang untuk menghindari waktu yang terbuang untuk berurusan dengan pemerintah setempat 😛 saya tidak tahu pasti, tapi ingin rasanya cari tahu dengan mengalaminya sendiri, yang intinya harus tinggal lebih lama dinegara lain lagi. aah semoga 🙂

Kembali ke Australia, semua nampak sempurna disini. udara yang bersih, lalu lintas yang nyaris tanpa macet (ternyata disini juga bisa macet lho, lalu fasilitas publik yang lengkap, dan juga transportasi umum yang cukup memadai. tapi ketika harus berhubungan dengan para birokrat? tingkat kesabaran super tinggi, terlebih persistensi sangat dibutuhkan.

Pengalaman kami yang pertama adalah ketika kartu myki kami rusak. Myki adalah kartu yang digunakan untuk menggunakan fasilitas transportasi di kota ini. Mau naik bis, tram atau kereta, yang dipake yah kartu Myki. Di hari pertama, kami langsung membelinya di warung kelontong terdekat (Seven eleven), tapi apesnya ternyata dari dua kartu yang dibeli, satu kartu tidak bisa digunakan, padahal kami beli dalam nominal cukup lumayan, yaitu 50 dollar. Ketika kami mencoba menukarnya di counter myki di stasiun stasiun, mereka malah bilang kami harus lapor melalui telpon untuk mendapatkan gantinya. Aneh bukan? seharusnya kan lebih gampang buat pelanggan untuk tinggal komplain ke outlet terdekat dan voila, masalah selesai. Tapi ini tidak, kami harus menelepon berulang-ulang untuk waktu yang tidak sebentar. Karena tidak hanya antri, untuk beberapa kasus saya suka dioper kesana kemari. Kagetnya ketika dari target 10 hari masalah bisa selesai, kartu kami baru bisa diganti sebulan kemudian. Itu pun disertai usaha telpon berulang kali untuk mengingatkan kasus kami. Uuh.

Yang kedua, ini kelik sendiri yang mengalami. tak hanya terheran-heran, kami sebenarnya cukup geli. jadi kelik pergi ke Australia dengan visa yang bersyarat, dia harus melakukan health check up di sini, karena diagnosa di Indonesia menyatakan dia pernah terpapar TBC. Sebagai tamu yang baik, setibanya kami disini, kami pun langsung lapor seperti yang direkomendasikan di surat visa. Eh ternyata, dari lapor, sampai menerima surat pertama yang menuruh kelik untuk pergi periksa lagi butuh waktu satu setengah bulan. itu pun perlu ditelpon juga. Hasil pemeriksaan untungnya baik-baik saja, kelik hanya diminta melakukan perawatan ringan yang sebenarnya tidak wajib. tapi untuk melakukannya, kami diminta untuk menunggu surat lagi. Ckckck, dan setelah menerima suratnya, kaget bukan kepalang, kelik harus menunggu sampai bulan juli untuk bisa melakukan perawatannya. “keburu mati ini mah,” ujar kelik spontan waktu menerima suratnya. hehehehe

dan pengalaman yang paling reseh adalah ketika mengurus child care benefit buat pagi. Child care benefit adalah fasilitas yang diberikan pemerintah australia kepada orang tua yang ingin memasukkan anaknya ke child care (tempat penitipan anak). Rata-rata orang tua yang bakerja disini, menitipkan anaknya ke child care. Kami akhirnya memutuskan mengirim pagi ke child care, karena saya kuliah dan kelik sudah memulai pekerjaannya dengan sebuah perusahaan disini, meski hanya free lance. Sempat ragu juga, karena kelik belum mendapat pekerjaan permanen, dan begitu pagi dimasukin, pagi harus rutin masuk dan tidak bisa berhenti sewaktu-waktu, padahal biayanya cukup mahal yaitu 98 dollar perhari yang artinya hampir satu juta perhari. ckckckck. Tapi kami tidak punya pilihan lain lagian kami pikir ini baik buat pagi untuk belajar bersosialisasi, untuk itu kami pun berusaha mendapatkan child care benefit karena sebagai penerima beasiswa dari pemerintah australia, kami berhak mendapatkannya. 

setelah tanya sana-sini, kami pun mengumpulkan berkas yang diperlukan dan mengantarnya ke kantor terdekat. waktu itu kami memutuskan menunggu saja, dengan naifnya berharap urusan bakal lancar. seminggu, dua minggu, tiga minggu..sampai waktunya kami memasukkan pagi ke child care, belum juga ada kabar. Seorang teman memang sejak awal memang menyarakan untuk rajin telpon, tapi waktu itu kami tidak terlalu mengindahkan berharap semua masalah beres dengan sendirinya, tapi dugaan kami salah besar. Kami pun menelepon kantor Centre Link (yang mengurusi masalah ini). Atas saran teman kami itu, sebaiknya pilih fasilitas bahasa Indonesia saja, yah memang untuk mendukung kebijakan yang pro keberagaman, pemerintahan australia di melbourne menyediakan fasilitas pelayanan dalam berbagai macam bahasa. Iya bahasa memang menjadi kendala, apalagi ketika berbicara di telpon dan tidak ada kesempatan untuk menggunakan bahasa tarzan untuk membantu proses komunikasi :D. Tapi fasilitas bahasa itu pun ternyata tidak membantu sama sekali, karena si penerjemah bukannya membantu malah membatasi, karena kami hanya diberi kesempatan untuk bertanya satu kali setiap kali bertanya, jadi tidak boleh ada pertanyaan beruntun meski mereka relevan satu sama lain. Gemes jadinya. Akhirnya kami pun menelpon ke bagian pelayanan yang biasa. dan kami harus menunggu (bisa hampir lebih 30 menit karena banyaknya antrian), lalu dioper kesana-kemari, hingga akhirnya kami diberi kalau dokumen yang kami kirim belum ada di sistem dan mereka belum menerima sama sekali!. eh busyet, sebel banget, untung saja mereka cepat menelusurinya dan memberi tahu dokumen kami sudah ditemukan kembali. (Ini gimana sih). Tiga hari kemudian kami diberi surat, kalo dokumen kami belum lengkap, padahal waktu ditelpon mereka bilang semua sudah lengkap. ckckck, saya pun harus menelepon kembali, menunggu lebih dari 30 menit, dioper sana sini, dan intinya saya harus mengantarkan kekuranan dokumen saya ke kantor terdekat. Yaah, demi dapat potongan, saya pun akhirnya pergi, meski sewaktu tiba disana, mbaknya bilang kalau sebenarnya ga perlu datang, karena seharusnya dokumen itu bisa didapatkan langsung lewat sistem mereka. Oh well (tepok jidat). Tapi mungkin itu harga yang harus dibayar untuk dapat diskonan dari pemerintahan australia, anehnya  begitu pulang saya dapat surat dari mereka kalo permohonan kami untuk mendapatkan child care benefit diterima. Sujud syukur deh meski sempat sebal bukan kepalang.

Intinya, birokrasi memang tahi, mau di Indonesia atau di Australia. Kesabaran adalah kunci, saudara-saudara. 

 

 

Advertisements

No Responses to “berbicara tentang birokrasi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: