psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

refleksi konsistensi

aah, susahnya jadi makluk yang konsisten. Saya baru menyadari bahwa banyak hal yang saya tidak bisa saya jaga dan saya sedikit kecewa untuk itu. Saya akui memang banyak faktor eksternal yang membuat saya jadi tidak konsisten, tapi saya pikir, kalau saya cukup kuat saya pasti bisa menghadapinya pasti halangan apapun bisa diatasi.

Ada satu hal yang membuat saya merasa cukup konsisten untuk itu, yaitu menulis blog, setidaknya sampai sekarang saya masih bisa konsisten mengisi halaman ini sekali dalam sebulan namun ada setidaknya dua hal besar yang membuat saya merasa gagal.

Pertama tentang taman belajar rumahsenyumpagi. Tidak ada kelas sabtu sore lagi sekarang, semenjak saya pindah ke Melbourne. Ini membuat saya sangat sedih. Sewaktu di rumah, saya berusaha semampu saya untuk bisa hadir untuk mereka, meski hujan badai, kelas masih saya adakan. Bahkan ketika saya hamil dan punya anak, saya pun masih mengajar. Ingat benar waktu itu, sehari sebelum saya melahirkan, saya masih mengajar anak-anak bersama miss Alia di teras depan rumah. Dan sepertinya saya hanya meliburkan anak-anak satu minggu, kemudian akhirnya mengajar lagi setelah melahirkan.

Tapi saya mengaku tidak bisa mengalahkan jarak. Sebelum saya pergi, saya sempat memikirkan cara apa yang bisa dilakukan untuk tetap membuat kelas ini berjalan, dan cara yang paling memungkinkan adalah lewat dunia maya. Kami mulai berbalas email dan pesan, sampai sekarang, tapi tetap saja ada yang hilang. Aah saya mungkin juga sedang kangen kampung bulak. 

Kedua, tentang lari. Well, saya memang tidak pernah membuat komitmen apa-apa tentang berlari. Hanya saja, saya cukup rutin berlari sebelum saya berangkat ke sini. Saya masih berlari disini, sekali-sekali. Kebetulan di dekat rumah ada jogging track yang bisa saya sambangi ketika ingin mencari keringat. Tapi hawa dingin atau entah itu agenda memasak, mencuci atau mengasuh pagi yang menahan saya untuk tidak berlari. Dipikir-pikir, saya tidak pernah betul-betul konsisten berolahraga, selalu gonta-ganti. Dulu renang, lalu lari, tapi tidak ada yang bertahan lama. Meski saya punya argumen untuk itu, saya tetap saja merasa gagal. Ingin rasanya kembali rutin berlari, memenuhi komitmen kepada diri sendiri untuk hidup sehat dimana saja dan kapan saja. 

 

 

 

Advertisements

No Responses to “refleksi konsistensi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: