psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Rumput di Sydney yang lebih hijau

Rumput tetangga jauh lebih hijau. Itu kesimpulan yang bisa saya ambil dari persinggahan saya di Sydney selama empat hari.

Akhirnya setelah lewat enam bulan, kami sekeluarga pun kesempatan juga pergi jalan-jalan keluar kota. Sebenarnya trip kali ini rada instingtif, tanpa ada rencana, tiba-tiba sepulangnya saya dari ujian terakhir, saya dan kelik langsung memesan tiket return Melbourne-Sydney-Melbourne. Saya punya teman di sana yang kebetulan tinggal dengan keluarganya dan saya pikir lumayan bisa ditumpangi dan tentunya menghemat pengeluaran penginapan 🙂 (Terimakasih tak terhingga buat Iwan, Sandra dan buah hati mereka yang lucu buat kesudiannya diganggu kami).

Trip kali ini tidak ada rencana apa-apa, kami hanya mencatat tempat-tempat yang kami ingin kunjungi, itu saja, tanpa ada survey atau jadwal fix, kami paham  jalan-jalan dengan bayi, semunya mesti flexible nurutin keinginan anak, termasuk tidak ada jalan-jalan di malam hari.

Well, untungnya semua berjalan lancar, Pagi relatif tidak rewel, hampir semua tempat yang ada di daftar kami bisa kami kunjungi. kecuali paddington market, yang dengan bodohnya kupikir sama dengan paddy’s market, emang kesalahan yang fatal, tapi saya berusaha mengambil hikmah, bahwa mungkin ini caranya supaya bisa kembali kesana lagi. hahaha, dipikir-pikir ga usah terlalu ngoyo kalau jalan-jalan. satu atau dua tempat bisa lah dilewati, biarkan mereka jadi alibi yang tepat untuk kembali lagi. sepakat?

dan saya memang ingin kembali ke sana. Aaah. saya suka sekali sydney, lebih suka ketimbang Melbourne. meski banyak teman yang bilang melbourne lebih baik dari sydney, ibarat kota di Indonesia, sydney itu jakarta, melbourne itu yogya. well, tetep saja, saya jatuh cinta sama sydney. tapi tenang ini bukan cinta buta, sebagai orang yang rasional, tentu saya akan berusaha menjelaskan secara logis kenapa saya suka Sydney

1. tentu iklimnya, Sydney lebih hangat ketimbang Melbourne. Ini tentu penting buat makhluk tropis seperti saya. Saat ini saya tengah meringkuk kedinginan di dalam kamar di Melbourne yang lagi dingin-dinginnya, sembari membayangkan beberapa hari bisa berjalan-jalan bebas tanpa pakaian berlapis-lapis.

2. saya suka tatanan kotanya, rada chaos sih tapi somehow cantik, gedung-gedung tinggi nan megah campur aduk dengan bangunan-bangunan tua. saya pernah lewat satu gereja tua cantik dihimpit gedung-gedung pencakar langit. aiiih ciamik nian. dan gedung tua disini beda dengan yang di melbourne. saya selalu merasa gedung-gedung tuanya superficial. entah kenapa. beda dengan yang di sydney, apa karena sydney jauh lebih tua dari melbourne? saya kurang tahu. saya juga merasa nyaman dengan jalannya yang besar-besar dan langit yang bersih tanpa ada kabel yang malang melintang menggangu pemandangan seperti yang ada di melbourne.

3. meski kedua kota punya tujuan wisata yang berlimpah, keduanya punya gunung dan pantai, tapi saya merasa melbourne sangat ekslusif. tempat-tempat wisata disini, tidak bisa dengan mudah ditempuh dengan jalur transportasi umum, dan karenanya harus ikut tour, padahal saya tidak begitu suka dengan tour, karena waktunya tidak fleksibel dan seperti orang dikejar-kejar karena biasanya berlangsung dari pagi sampai malam hari. Sedangkan sydney, saya bisa pergi ke daerah Blue Mountains yang jaraknya lebih dari 100 km dari pusat kota hanya dengan naik kereta dan membayar 2.5 dollar.

4. saya juga merasa sydney lebih homey dalam hal makanannya. aah memang dasar orang Indonesia, meski berusaha eksplor makanan-makanan lokal tetap saja ujung-ujungnya mampir ke warung Indonesia. Beruntungnya kami, Iwan dan keluarga tinggal di kawasan Kingsford yang resturan indonesianya berlimpah ruah dan masakannya pun lebih bervariasi. Saya akhirnya menemukan sop buntut enak disana. yummmy.

Demikian alasan-alasan yang bisa saya utarakan, meski terkadang mengundang debat dengan beberapa teman yang keukeuh Melbourne lebih keren dari Sydney. Seperti kata teman saya Odit yang pernah tinggal setahun di Sydney. Dia bilang Sydney membosankan dan Melbourne lebih hidup dengan art scene-nya. atau Maria yang sedang belajar di Canberra tapi sudah mengunjungi kedua kota tersebut. Dia bilang Melbourne lebih asik karena perempuannya cantik-cantik dan suasana kotanya yang asik, sedangkan Sydney terlalu crowded dan perempuannya gendut-gendut hahaha (padahal yang saya lihat kebalikannya yah). Aah tapi sepertinya baik Odit dan Maria, yang tidak tinggal di Melbourne akan sepakat dengan saya bahwa rumput tetangga memang jauh lebih hijau.

Image

Image

20130721_130714

20130720_150724

Advertisements

One Response to “Rumput di Sydney yang lebih hijau”

  1. salam kenal 🙂
    aku setuju banget dengan poin nomer 1 dan 2 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: