psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Catatan Before Midnight

aah setelah bertahun-tahun nunggu, akhirnya kesampaian juga nonton Before Midnight. Sebenarnya tidak menyangka bakal ada sekuel terakhir dari drama romantis antara Jesse dan Celine, tapi begitu tahu, hati saya bersorak gembira.

Dan acara menonton ini kali ini memang special. Kenapa? saya akan jelaskan nanti. Sebelumnya saya mau bernostalgia dengan dua film sebelumnya. Saya nonton pertama kali film Before Sunrise itu secara tidak sengaja. Saya sudah lupa tepatnya kapan. Waktu itu lepas tengah malam, dan saya tidak bisa tidur. Saya meringkuk di depan sofa di ruang tamu dan menonton film tengah malam yang disajikan. Dan disanalah saya berkenalan dengan tokoh Jesse dan Celine pertama kali. Saya masih belum ngerti apa-apa waktu itu, hanya saja saya suka sekali dengan plot awal dimana dua orang asing bertemu dan langsung jatuh cinta. aah cerita cinta yang sempurna, pikir saya yang waktu itu.

Tak lama kemudian, ketika saya mulai bekerja, tepatnya di penghujung 2004, saya kemudian bertemu lagi dengan mereka. Kali ini melalui rekan kerja saya di Kawanku. Iya majalah remaja itu:) Waktu itu lagi heboh film itu dibicarakan, dan DVD nya digilir dari satu orang ke orang yang lain. Dan saya pun dapat jatah juga. Awalnya saya rada sanksi dengan sekuel kalinya. biasa kan? tapi begitu menonton saya langsung suka suka suka…

Serunya waktu awal bekerja di the jakarta post, saya ketemu dengan Prodita, yang ternyata penggemar berat Richard Linklater, sutradara filmnya. Edan, dia bahkan hapal sebagian dialognya diluar kepala. ckckckckc. Kami pernah nonton bareng di kelas pelatihan waktu itu. Seru. Sepertinya dari sanalah kemudian dimulai persahabatan kami.

Dan akhirnya hampir 10 tahun berlalu, saya pun kembali bersua dengan pasangan Jesse dan Celine. Kali ini saya beruntung, bisa melihat tokoh-tokoh di bioskop dengan layar besar. Sempat bingung juga, karena ga ada teman yang mau nemenin nonton film itu. Well, jadinya saya nekat nonton film itu sendirian, mumpung belum sibuk dengan buku-buku dan kuliah.

Lima menit sebelum film diputar, saya langsung beranjak masuk ruang bioskop. Aah saya tipe orang yang tidak bisa telat kalau mau nonton, Saya seperti layaknya Alvy di film Annie Hall 🙂 Begitu masuk ruangannya, kaget bukan kepalang karena saya adalah satu-satunya orang yang ada disana. Sempat girang karena akhirnya kesampaian juga berasa punya bioskop pribadi tapi disisi lainnya saya juga merasa panik, karena layarnya belum nyala sama sekali padahal biasanya iklan sudah berseliweran tak henti-henti sebelum film dimulai.  Jangan-jangan saya diruangan yang salah, saya pun akhirnya keluar lagi dan bertanya sama petugasnya. Masnya pun sama bingungnya dengan saya hahaha, dan dia akhirnya menghubungi orang untuk memastikan. Dan tak lama kemudian, layar pun hidup. Fiuuuuh.

Okay, saya pun duduk manis di tempat duduk saya. Wah seru juga nonton sendirian di ruangan besar itu. Tapi tak lama kemudian datang seorang penonton, dan kemudian datang seorang lagi. Sepanjang film, hanya tiga orang yang menonton film ini, dan kami semua perempuan. Aren’t we hopeless romantic creatures than men? Go figure. 🙂

Menjelang detik-detik film dimulai, hati saya langsung berbunga-bunga dengan segala eksptasi yang saya simpan selama ini. Tapi saya sebenarnya gak mau berharap banyak, takut kecewa.

Tuh kan begitu melihat Jesse. waw, he is so old. Gee…hehehe fisik banget memang saya. Tapi benar juga kata teman saya yang bilang mukanya mirip Nick Nolte. Celine pun juga begitu. Bisa dibilang, mereka tidak seindah di dua film sebelumnya. Tapi mungkin itu sebuah kesengajaan. Mengikuti alur cerita dan perbincangan Jesse dan Celine dari awal sampai akhir, mereka seolah-seolah ingin menyatakan bahwa cinta tidak melulu ttg yang indah indah. Jesse dan Celine seolah-olah hendak menegasikan formula romantisme mereka di film-film sebelumnya yang mengawang-awang. Di film ini, Jesse dan Celine sudah menikah dan mereka sudah punya dua orang anak. Setelah hampir tujuh tahun bersama, cinta yang mereka rasakan menurut saya lebih “down to earth”. Rayuan gombal sih masih bertaburan disana-sini sepanjang film lewat dialog-dialog mereka yang jenaka, tapi singgungan dengan karir, keluarga membuat hubungan percintaan mereka di film ini menjadi sangat manusiawi. Kontras sekali dengan film-film sebelumnya yang layaknya dongeng. Sebuah contoh, disini Jesse dan Celine bahkan bertengkar hebat, yang membuat saya berhenti bernapas menduga-duga apa yang akan terjadi setelahnya. Dan disini Linklater juga menghadirkan tokoh-tokoh lainnya, seolah-seolah ingin bilang bahwa dunia tidak lagi milik Celine dan Jesse semata, seperti yang tersirat di sekuel sebelumnya yang mempertontonkan obrolan mereka berdua sepanjang film. Di film ini, obrolan Jesse dan Celine diselingi perbincangan dengan tokoh lainnya yang menurut saya juga tak kalah seru. Favorit saya adalah  obrolan di meja makan ketika mereka membahas cinta dan relasi gender.

Dan ketika mereka berdua menyusuri kota di pinggiran Yunani, memori saya seperti digeret-geret ke waktu dimana mereka menyusuri jalan-jalan di Paris dan Vienna. Tapi mereka tidak lagi berbicara tentang grand theory seperti agama, tuhan atau masa depan manusia, mereka sibuk merunut masa lalu dan membayangkan masa depan, bukan tentang hal yang besar-besar tapi hal yang simple seperti pertanyaan apakah mereka masih bersama 50 tahun kemudian. Saya tak bisa menahan untuk tertawa mendengar itu, sosok Jesse dan Celine jadi semakin nyata dan dekat dengan saya. Dan sebelum tengah malam Jesse dan Celine berubah dari pasangan super dengan cerita cinta mereka yang demikian indah menjadi pasangan biasa yang sama dengan yang lainnya  yang berusaha merawat cinta mereka hari demi hari.

Terimakasih untuk cerita kalian, Jesse dan Celine.

PS: Semoga tidak ada lagi Before yang lainnya, saya sepertinya tidak sanggup melihat Jesse dan Celine tua :))

Advertisements

2 Responses to “Catatan Before Midnight”

  1. Haduh! Semakin panik pengen nonton! Aaaaaaaaaaaaaaaaakkkk!

  2. bisa dibilang, film-film ini meskipun semakin tahun semakin gelap dan realistis, semuanya menyisakan optimisme hubungan cinta dua manusia. dari dua film sebelumnya gue yakin mereka bakal bersama akhirnya. tapi yang terakhir ini, gue ga yakin. does this tell more about the film or my (lower and more realistic) expectations of love? hehe. yang menarik menurut gue the young couple di meja makan, yang meskipun sepertinya mereka saling jatuh cinta, mereka yakin bahwa itu gak akan selamanya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: