psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

24 bulan 3 minggu 3 jam 4 menit dan sepersekian detik

Lamanya saya menjadi seorang ibu. Sebuah amanat yang tidak saya duga akan saya dapat. Amanat dengan tanggung jawab yang luar biasa besar. Salah satunya adalah memberi yang terbaik buat Senyum Pagi, anak, teman, rekan dan guru saya sekaligus. Menyusuinya adalah salah satu apa yang bisa saya berikan buat dirinya. Dari apa yang saya baca dan dengar, ASI memang yang terbaik untuk bayi.

Sebenarnya tidak menyangka bahwa saya bisa menyusui pagi sampai detik ini dan entah sampai kapan, karena sampai sekarang belum sampai 15 menit yang lalu dia masih juga menyusui, tergeletak di paha antara saya dan bahan kuliah saya.

Tapi saya tidak akan cerita banyak tentang pengalaman saya. Saya malah hendak bercerita atau komentar tentang hal yang dari dulu banget pengin saya katakan. Saya memang menahan diri untuk tidak mengatakan apa-apa hingga saat ini, dimana saya merasa saya punya posisi yang  cukup kuat untuk buka mulut.

Saya cuma ingin bilang bahwa it is okay if you can not breastfeed your children. Saya sadar betul bahwa ibu selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya dan menyusui mungkin salah satu hadiah yang bisa diberikan ibu kepada anaknya, tapi saya sadar tidak semua ibu bisa melakukan itu.

So it is okay.

Saya ingin mengatakan ini dari dulu sebab saya gatal melihat ibu-ibu zaman sekarang yang begitu mudah menghakimi ibu-ibu yang tidak bisa menyusui anaknya. Label tidak sayang anak, ibu egois dan tidak peduli anak pun diberikan kepada ibu-ibu yang tidak bisa menyusui anaknya. Tapi saya tidak mau mengeneralisir seperti mereka, mungkin memang ada ibu yang egois dan tidak peduli dengan anak hingga tidak mau menyusui anaknya. But who are we to judge? Lihat dampaknya pada ibu-ibu yang memang benar-benar tidak bisa menyusui, karena sakit atau alasan tertentu.

Sedih rasanya melihat temannya teman yang terpuruk menyadari dirinya tidak bisa menyusui. Dirinya merasa gagal jadi ibu, membuat saya jadi merasa sedih. Tapi melihat sekeliling saya sadar mengapa dia bisa merasa seperti. Informasi bagaimana ASI sangat penting buat bayi sudah menyebar kemana-mana, tapi sayang sekali menurut saya info itu kemudian dilebih-lebihkan sedemikian rupa sehingga sengaja atau tidak sengaja memojokkan ibu-ibu yang tidak bisa menyusui anaknya. Opini publik yang terbentuk saat ini adalah seakan-akan mereka bersalah jika tidak menyusui anak.

Tidak hanya itu, saya perhatikan menyusui jadi semacam ajang unjuk diri antara satu ibu dengan ibu lainnya. Berlomba-lomba siapa yang paling banyak memproduksi susu, lihat saja deretan foto-foto di Facebook dengan botol-botol susu berjejer-jejer di lemari pendingin. Atau pengumuman-pengumuman atas keberhasilan mereka menyusui anaknya sampai S1(6 bulan), S2 (12 bulan) atau bahkan S3 (2 tahun). Deklarasi-deklarasi pencapaian yang menurut saya terlalu vulgar dan kurang simpatik mengingat tidak semua orang bisa melakukan hal yang sama. Saya selalu berpikir menyusui adalah kegiatan yang begitu personal dan intim antara anak dan ibu. Tapi kemana semua itu?

Mungkin saya terlalu sinis, tapi saya tidak tahan melihat tingkah laku para pejuang ASI yang kadang-kadang keterlaluan. Salah satu blog penggiat ASI, ujar seorang teman, bisa sebegitu ekstrem sehingga mencaci maki anggota yang menawarkan botol susu. Menurut mereka, tiada yang lebih baik dari puting susu ibu. Viva la tits, mungkin begitu kata mereka.

ASI memang hal terbaik yang bisa diberikan seorang ibu kepada anaknya. Saya rasa semua ibu tahu itu. Ibu-ibu di kampung bulak tahu benar hal itu, saya yakin perempuan-perempuan modern yang setiap hari bersinggungan dengan Internet juga tahu tentang hal itu. Saya tidak menolak kampanye ASI, cuma saya hanya berharap agar mereka dilakukan secara proporsional tanpa mengintimidasi perempuan-perempuan yang tidak bisa menyusui.

Saya ingin sekali berkata kepada ibu-ibu itu bahwa jangan kuatir karena meski mereka tidak memiliki ASI, mereka masih punya seumur hidup untuk memberikan yang terbaik untuk anak mereka.

 

padang 141

Advertisements

2 Responses to “24 bulan 3 minggu 3 jam 4 menit dan sepersekian detik”

  1. tidak hanya itu. kalo dipikir-pikir betapa kejamnya perempuan-perempuan yang menuding perempuan belum menikah – meski umurnya secara matematik terbilang cukup dewasa untuk menikah- sebagai perempuan sulit. (itu yang membuat saya rada jengkel dengan perspektif matematis, segala sesuatu dipandang dari sisi kuantitatif).
    hingga seseorang pernah menggambarkannya sangat ironik: masyarakat kita ini kejam. mereka memaksa kita melakukan sesuatu yang toh nantinya akan mereka hujat setelah kita menurutinya.

    “konstruksi sosial itu jahat, jenderal!” hehehehehe….

  2. saya termasuk didalamnya..jujur sj perasaan mrs bsalah selalu tmbul dlm dr sy krn tdk bs mberikan yg tbaik untk anak sy.. sy tdk bs myusui anak sy krn ada pydra sy tdk spt wnt kbayakan.. hanya bs dpompa tp hasilnya cm sdkt tdk kurang dr 30ml itupun dgn susah payah dan perih yg sgt dlm.. sy sgt sedih, sy tkdg kesal mlihat ibu yg mmlki pydra normal (mmliki puting) tp tdk mau myusui anaknya, sdgkan sy hrs bsusah payah..sgala cara sdh sy lakukan..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: