psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

ketika kematian mengintip dari ujung jendela

Uuh, tidak pernah menyangka saya bisa sedekat itu dengan maut. Saya selama ini hanya mengamatinya dari jauh, melihatnya berseliweran di timeline social media saya ketika teman-teman memberitakan kenalan atau orang-orang tersayang mereka meninggal. 

Dan tepat tiga minggu lalu, dia datang mengetuk pintu. 

Bukan saya yang hendak dia kunjungi, tapi mbah saya yang memang sudah uzur. Umurnya hampir 80 tahun. Semenjak jatuh beberapa tahun yang lalu, mbah Joyo memang membutuhkan penanganan khusus karena dia sudah tidak bisa berjalan normal lagi sekarang. Diluar itu, mbah saya itu sebenarnya sehat luar biasa, banyak orang bilang dia lebih sehat dibanding pakde-pakde saya yang umurnya jauh lebih muda. 

Tapi kemarin itu, kondisi fisik yang capek dan tingkat stress yang tinggi mempengaruhi kesehatan mbah. Anaknya, Ibu saya, baru mengadakan hajat besar untuk pernikahan adek saya, kami semua, termasuk mbah, terbang ke Jakarta menghadirinya. Bagi mbah, perjalananan itu melelahkan dan tidak nyaman. Mbah tidak seperti dulu lagi. Selain kakinya yang sakit, dia juga menderita apa yang saya pahami sebagai dementia. Pelupa akut. Baginya saat ini, rumahnya adalah di ledok, balapan. Tidak ada yang lain. Dan jika bepergian jauh, yang dia inginkan adalah pulang, pulang dan pulang. Sesuatu yang tidak begitu dipahami oleh anak-anak dan cucu-cucunya.

Hingga kemarin saya tahu betapa kuatnya keinginannya untuk pulang. Setelah hampir seharian mengeluh ingin pulang, malamnya ketika saya melihat beberes ingin pergi dia gelisah bukan kepalang. Karena keinginannya untuk pulang sangat kuat, dia selalu ingin diajak ketika ada orang yang pergi karena takut ditinggal. Waktu itu saya sudah memesan taksi, saya dan kelik hendak menyusul keluara kelik yang menginap di pusat kota. Kami berencana main ke ancol esoknya. Tapi rencana itu dan juga rencana-rencana lainnya harus batal.

Tepat beberapa saat sebelum taksi datang. Mbah mendapat serangan asma dan mengeluh dadanya sakit (belakangan kami tahu bahwa mbah dapat serangan jantung). Waktu itu saya kurang paham, saya pikir itu hanya serangan asma biasa, karena mbah memang mengidap asma. Sampai kemudian sakitnya menjadi-jadi. Waktu itu mbah ditemani bulek dan ada juga teteh yang menginap dirumah selama kami di jakarta. 

Aah, suasananya begitu mencekam ketika itu. Mbah yang meronta-ronta, lalu bulek yang tidak henti-hentinya menangis. Saya pun membatalkan diri pergi dan mengantar mereka ke rumah sakit. Kelik dan teteh menjaga pagi di rumah. 

Melihat kebelakang apa yang terjadi, saya tidak menyangka saya bisa sebegitu tenang menghadapinya. Saya mungkin tidak punya pilihan lain. Melihat kondisi mbah, lalu bulek yang panik, belum lagi dokter, suster dan pihak rumah sakit membuat saya harus bersikap tenang, logis dan cepat. Apalagi waktu itu Bapak ibu saya belum datang dan om-om pun masih di perjalanan. 

Aah, tapi patah hati saya melihat mbah di ruang emergency dengan napas yang tersenggal-senggal. Kondisinya tidak membaik dan dokter pun memutuskannya untuk membawanya keruang ICU. 

Saya dan adik saya pun mengantarnya sampai depan pintu ICU. Setelah pintu ditutup, akhirnya tangis saya pun pecah setelah hampir 4 jam saya tahan.

Hari-hari berikutnya, saya habiskan di ICU. Sungguh horor, melihat orang-orang tergeletak tidak sadar, yang terdengar hanya bunyi irama mesin disamping mereka. Saya datang kesana ketika jam besuk. Konyolnya ditengah-tengah semua itu, saya pun berpikir andai saya jadi dokter. Aah setidaknya saya tahu apa arti angka-angka dimesin itu dan tahu apa yang bisa lakukan untuk membuat kondisi mbah membaik. 

Esok malamnya kondisi mbah memburuk, ternyata mbah dapat serangan yang kedua. Waktu dikabari, saya sudah pulang, gantian adik saya dan om yang menjaga. dan saya pun harus kembali lagi kesana. Jam terasa berhenti.

Ketika maut menyapa kembali, tiada lagi yang penting. Saya bisa dibilang menelantarkan Pagi beberapa hari itu, dengan menghabiskan sebagian besar waktu di rumah sakit. Dia menghentikan semua yang ada hanya rasa cemas yang tidak menentu. Dan saya benci ketidakpastian. 

Ketika melihat kondisinya di ruang ICU, saya sudah pasrah. Ventilatornya dipasang kembali, angka di mesin menunjukkan denyut jantung yang terlalu cepat dan juga tekanan darah yang diatas rata-rata (iya akhirnya saya belajar memahami angka-angka itu). Yang saya bisa lakukan adalah mengelus-ngelus tangannnya. Saya ingat di pagi hari, dia sudah bisa ngobrol dengan saya, minta diambilkan teh hangat manis sari wangi. Tapi sekarang, dia kembali tidak sadar, nafasnya kembali berat. Aah mbah. Melihatnya kepayahan dan kesakitan, saya pun berbisik padanya, mengatakan jika mbah ingin pergi, saya dan keluarga sudah rela. Tapi tangannya tiba-tiba menyentak saya. Saya paham tanpa perlu dia berkata-kata, Mbah saya ingin pulang kerumahnya di Ledok.

Cepat sembuh mbah Joyo!

 

 

 

 

Advertisements

2 Responses to “ketika kematian mengintip dari ujung jendela”

  1. Cepat sembuh Mbah Joyo.God bless you

  2. terimakasih Priska *peluk*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: