psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

menafsirkan duka

Entah harus mulai dari mana. Mungkin saya seharusnya membeberkan semua sebulan yang lalu ketika semua masih jelas terekam di memori dan ketika rasa perih itu begitu nyata didada. Tapi saya ternyata tidaklah sevulgar yang saya kira. Saya memilih menyimpan ini sendiri dan membaginya kepada orang-orang terpilih, sambil mencoba menerka apa makna di balik semua ini.

Aah, seandainya kamu menungguku, Mbah. Aku sudah berjanji akan menemanimu sepulangku dari sini. Tapi siapa yang berkuasa atas waktu? mungkin setahun lagi terlalu lama untukmu?

Dan kamu pun memilih pergi 13 oktober yang lalu selepas maghrib, dua bulan lagi menjelang ulang tahunmu yang ke-80.Dikelilingi ketiga anak-anakmu, kamu pergi dengan damai. Tanpa rasa sakit, kata mereka. Hanya dengan menarik nafas panjang tiga kali dan dirimu sudah tiada. Ada terselip sedikit rasa lega disana ketika mendengar cerita ini, karena satu pintaku adalah kamu bisa pergi tanpa rasa sakit.

Tapi tak bisa kupingkiri rasa sesak yang sampai saat ini masih hinggap didada. Mungkin seharusnya aku bisa lebih legawa seperti adik-adikku, tapi aku masih belum bisa. Aku masih menangis ketika mengingatmu, Mbah. Nyeri itu masih ada dan aku masih belajar menyiasatinya.

Tiada kata perpisahan darimu. Beberapa jam sebelumnya, di sore hari, lewat Skype kita sempat berdialog. Dan kamu hanya bilang, “Mbah ngantuk, Mbah mau tidur dulu ya?” Kalimat yang kata adikku diulang terus menerus begitu dirimu keluar dari rumah sakit untuk yang kedua kalinya. Dan aku hanya bisa mengiyakan tanpa menyadari bahwa itu kata-kata terakhirmu untukku.

Lewat tengah malam, aku yang tertidur sehabis menidurkan pagi terbangun dan mendapati beberapa panggillan tak terjawab dari Jakarta. Semoga ini bukan apa-apa. Tapi begitu mendengar suara Bapak di sebrang, saya sudah tahu sebelum kata-kata habis diucapkan. Saya pun terisak hebat.

Saya ingin segera terbang ke yogya. Tapi sekali lagi waktu tidak berpihak pada saya. Seandainya saya pergi dengan pesawat paling pagi pun, saya tetap tidak bisa mengejar pemakaman Mbah. Semua bilang saya tidak harus pulang, dan kali ini si keras kepala pun menurut.

Saya pernah membaca artikel seseorang yang membagi pengalamannya menghadiri pemakaman ayahnya lewat skype. Sewaktu membacanya, saya merasa janggal, tapi saya akhirnya melakukannya.

Lewat gambar yang patah-patah, aku masih bisa jelas melihatmu tidur di peti kayu itu. Lalu aku juga menangkap kedukaan dirumah favoritmu diledok, teman-temanmu, saudara, kerabat, tetangga, semua berkumpul disana. Riasanmu sedikit berlebihan awalnya, tapi untung ada yang memperbaikinya dan sebelum peti ditutup aku kembali mendapati wajah Mbah joyo yang bersahaja.

Aku disini tapi juga disana, mengantarmu dari rumah sampai mrican, tempat peristirahatanmu. Dan menatap lekat-lekat fotomu yang ditaruh dinisan.

Tapi, maaf Mbah karena aku tidak bisa melepasmu secara langsung.

Maaf karena aku tidak bisa menepati janjiku dirumah sakit waktu itu untuk mengantarkanmu pulang.

Maaf dan maaf, adalah untaian kata-kata yang selalu kukirim lewat doa-doaku untukmu Mbah.

Saya tidak tahu formula sampai kapan rasa duka ini terus bercokol didada. Saya memang amatir. Dan air mata yang berlinang ini buktinya.

Saya masih berupaya memahami apa yang terjadi dan kemudian mengambil hikmahnya. Saya juga masih berusaha mengikis rasa penyesalan yang begitu hebat. Saya masih belajar untuk itu karena ternyata saya tidak hanya keras terhadap orang lain, tapi juga diri sendiri.

Kematian. Saya masih gagap menghadapinya. Kali ini, dia hadir begitu dekat. Dan untuk kesekian kalinya, dia menyampaikan pesan yang masih coba kutafsir pelan-pelan.

Advertisements

4 Responses to “menafsirkan duka”

  1. aku baru baca ika. turut berduka ya. sedih sekali bacanya, semoga kamu cepat melaluinya ya

  2. Ika, ikut berduka cita ya. Tetap semangat ya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: