psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Sinah Wijoyo Utomo (5 Desember 1933 – 13 Oktober 2013)

Image

Namanya Sinah, perempuan bertubuh mungil dari Kutoarjo. Tidak banyak cerita yang kutahu dari dirinya. Semuanya serba samar-samar. Aku memanggilnya mbah Joyo, mengikuti semua orang yang berjamaah memanggilnya ibu Joyo setelah menikah dengan mbah kakungku Wijoyo Utomo. Ah, betapa pernikahan mampu merenggut semuanya dari perempuan, termasuk nama. 

Dibalik badan mungilnya, dia adalah figur perempuan perkasa yang saya kagumi. Semangat dan perjuangannya luar biasa. Mbah Joyo harus berjuang sendirian menyekolahkan anak-anaknya setelah ditinggal pergi mbah kakung yang meninggal tiba-tiba karena sakit. Dan dia berhasil. Semua anaknya bisa sekolah hingga tamat. Saya salut padanya, kekekeuhannya untuk menyekolahkan anaknya meski kondisi keuangan yang hampir tidak memungkinkan. Mbah Joyo tidak pernah sekolah dan dia buta huruf, tapi dia sadar betul betapa pentingnya pendidikan untuk masa depan anak-anaknya dan keluarganya.

Saya adalah cucu pertama mbah Joyo. Saya sudah mengganggapnya seperti ibu kedua saya. Saya sempat diasuhnya ketika ibu menyusul bapak ke Jakarta. Bisa dibilang, saya ini anak mbah Joyo. Katanya, saya pernah diteteki olehnya ketika masih bayi, karena saya menangis terus menerus waktu ditinggal ibu bekerja. Mungkin karena itu saya sangat dekat dengannya. Salah satu memori saya denganya adalah ketika dia menjemput saya di TK di jalan kota baru yogya. Saya anak yang cengeng dan menangis kalau tidak ada yang menjemput. Jika budhe alfa menjemput, maka mbah yang datang ke sekolah untuk menghampiriku dan kami pulang naik becak.

Kenangan lainnya adalah ketika libur sekolah. Setelah saya pindah ke Jakarta, saya dan adik-adik saya selalu menanti-nantikan liburan di Yogya. Jalan-jalan ke pasar, jajan jenang sumsum, atau sarapan gudeg jalan solo. Rumah mbah yang mungil di jalan solo terasa begitu nyaman bagi kami.

Jika tidak libur, mbah juga tak jarang bertandang ke jakarta. Ketika asisten rumah tangga pulang, mbah datang untuk menjaga kami ketika bapak ibu bekerja. Dan ketika mbah ada, saya tidak senakal biasanya :))

Itu kenangan masa kecil saya bersama mbah Joyo.  

Masuk kuliah, saya kembali ke Yogya dan saya punya kesempatan mengulangi lagi kebersamaan dengannya. Ketika saya kembali ke rumah klitren, saya mendapati bahwa semua yang ada di rumah mbah serba mini. Kompor mini, penggorengan mini, cobek mini. Maka saya dan teman saya menyebutnya mbah Mini. Dia hanya terkekeh-kekeh. Aah saya rindu tawanya. 

Saya juga baru menyadari bahwa mbah saya sangat religius. Dia rajin berdoa dan rajin ke gereja. Ketika saya ada masalah, nasihatnya selalu ‘minta petunjuk pada tuhan. gusti selalu bantu’ Itu mantra yang dia ucapkan berulang-ulang, tidak hanya padaku tapi juga anak-anaknya dan juga orang-orang lain yang dirundung masalah.

Yang menyenangkan tinggal bersama mbah adalah saat-saat menjelang tidur. Saya senang dininabobokan mbah Joyo yang terkenal dengan jurus isik-isiknya (menepuk-nepuk paha dan punggung). Beruntung sekali saya, hingga sampai kuliah saya bisa merasakan jurus isik-isik mbah saat-saat menjelang tidur. Ah, saya memang manja.

Di beberapa kesempatan, saya berusaha mengetahui lebih dalam tentang sosok mbah. Dari cerita-ceritanya, saya tahu mbah dulu pernah menikah dengan tentara di kutoardjo. Tapi tentara itu meninggal dalam perang dan dia pun pindah ke yogya. Disana dia bekerja sebagai pabrik, sampai bertemu dengan mbah kakung. Salah satu cerita yang terekam dikepala saya adalah ketika mbah kakung menjemput mbah joyo sepulang kerja naik sepeda. Entah kenapa, waktu itu saya membayangkannya seperti salah satu adegan film romantis. Sayangnya dia tidak bercerita banyak tentang kematian mbah kakung. Dia hanya cerita kerja kerasnya menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya. Dia membiayai anak-anaknya dengan berjualan kue basah keliling kampung. Hidup bisa dibilang susah ketika itu, tapi ketika mendengarnya bercerita saya menangkap rasa bangga di setiap ucapannya. Dan saya sebagai cucunya merasakan hal yang sama.

Tapi sering saya membuat patah hati mbah. Kami bertengkar dan berakhir dengan saya menyakiti mbah. Tapi perseteruan kami tidak bertahan lama, saya tidak tahan berantem lama-lama dengannya. Dan dia adalah tipe pemaaf, yang bisa dengan tiba-tiba lupa bahwa beberapa jam sebelumnya kami bertengkar.

Sayang sekali, di akhir hidupnya, mbah menjadi pelupa. Mungkin ini yang disebut orang dementia. Keluarga tidak pernah benar-benar memeriksakannya ke dokter. Setiap kali ke dokter pasti untuk urusan asma yang memang diidapnya, masalah kepikunan, para dokter memakluminya sebagai penyakit orang tua. Tapi sedih rasanya mendengarnya berulang kali menanyakan hal yang sama. Meski kondisinya yang seperti itu, dia menolak pindah ke jakarta bersama anak-anaknya. Dia merasa yogya adalah rumahnya, gubuk kecil di klitren itu adalah istananya. Untuk hal itu, sepertinya kami memiliki kesamaan sebagai orang dibawah rasi sagitarius yang sama-sama keras kepala. Meski saya tidak terlalu percaya dengan bintang, tapi untuk mbah saya buat pengecualian.

Kondisi mbah memburuk ketika dia jatuh dan membuatnya tidak bisa berjalan seperti biasa. Saat itu, semua energi positif yang pernah saya temui dalam mbah sedikit demi sedikit terkikis oleh rasa ketidakberdayaan. Saya sedih tapi saya tidak melakukan banyak hal karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dan urusan pribadi. Ah, maaf sekali mbah. 

Saat terakhir saya dengannya adalah diruang ICU rumah sakit Sari Asih Ciputat. Saya tidak bisa mengucapkan selamat tinggal dengan layak karena dia pasti akan shock ketika saya bilang bahwa saya akan meninggalkannya. Saya hanya cium keningnya dan berkata dalam hati “sampai ketemu lagi mbah” dan mengelus-elus keningnya.

Tiada perpisahan diantara kami, mungkin kami akan bertemu lagi dan kelak saya ingin mendapatkan cerita lengkap darinya, tentang mbah Joyo dan juga tentang Sinah.

Sampai jumpa, mbah joyoku sayang, sampai kita berjumpa lagi. 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

No Responses to “Sinah Wijoyo Utomo (5 Desember 1933 – 13 Oktober 2013)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: