psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Amin

Image

 

Hampir dua setengah tahun menjadi ibu adalah pengalaman yang luar biasa bagi saya. Setiap hari saya selalu belajar hal baru dari Pagi dan dia tidak bosan-bosannya membawa kejutan buat saya. Yang terakhir, dia tiba-tiba saja melipat tangannya di depan dada, menutup matanya dan berkata, “keka, ayah, pagi…wzzz wzzz, amin!”

Wow. awalnya saya kurang percaya sampai dia mengulanginya lagi. Ahh, mata saya basah dan terharu melihatnya. Anakku mengucap doa pertamanya.

Ini sesuatu yang luar biasa buat saya. Ada rasa bangga menelusup ke dada tapi ada rasa malu disana. 

Saya yang memang tidak religius ini tidak pernah mengenalkan Pagi kepada agama. Jujur saja saya bingung bagaimana memulainya. Saya melihat bagaimana teman-teman mengajari anak-anak mereka mulai dari hal-hal sehari-hari, seperti doa mau makan atau doa sebelum tidur. Tapi saya merasa kurang sreg melakukan hal itu, bagaimana saya bisa bilang, pagi ayo berdua dulu sebelum makan, sedangkan saya sama sekali tidak pernah melakukannya. Atau bahkan mengajaknya ke gereja, ketika saya malas pergi setiap minggunya.

Selain masalah teknis, sebenarnya ada alasan mendasar kenapa kami – saya dan keliek – memilih pendidikan seperti ini. Kami berharap pagi bisa menemukan Tuhannya sendiri. Dia mungkin terlahir Kristen-Katholik, tapi kami ingin dia menentukan kepercayaannya kelak, entah itu Islam, Hindu, Buddha, atau agama lain. Kami mendengar begitu banyak cerita bagaimana agama menjadi peretak hubungan antara orang tua dan anak. Ah, bagaimana mungkin hal yang mengajarkan tentang cinta kasih bisa menebarkan rasa benci bahkan pada darah daging sendiri. Kami tidak mau hal itu. Dengan alasan ini, kami enggan membaptiskan Pagi, meski pihak keluarga mendorong kami melakukannya. Aah, terpikir untuk mengiyakan, toh hanya ritual saja, sebab kelak dewasa, keputusan ada di tangannya, untuk memilih kristen atau yang lainnya. Tapi selama saya bisa menghindar dari segala tuntutan keluarga ini, saya pun memilih menundanya sampai waktu yang tidak terbatas 🙂

Seingat saya, saya juga tidak pernah diperkenalkan dengan Yesus dengan proper oleh orang tua saya. Sewaktu kecil yang saya tahu hanya pergi ke gereja dan sekolah minggu. Aah saya sangat menikmatinya. Saya pun sempat jadi murid sekolah minggu teladan, yang pernah menang juara satu lomba cerdas cermat alkitab hahahaha. Beranjak dewasa, saya pun kenal Yesus lebih dalam. Guru agama di SMP mengajarkan saya ritual renungan harian; berdoa dan membaca alkitab setiap pagi sebelum memulai aktifitas. Saya pun membawa kebiasaan itu kerumah, yang mungkin juga membuat bapak ibu saya kaget karena mereka tidak mengajari saya. Sampai sekarang saya masih melakukan renungan harian, meski suka bolong sana sini. Ya, meski saya tidak rajin ke gereja dan berdoa, saya masih percaya ada kuasa semesta di luar sana dan saya suka rasa damai yang muncul ketika kami berbincang setiap paginya. 

Aah, semoga Pagi menemukan jalan yang baik dalam pencariannya terhadap Tuhan. Aah, semoga dia masih bisa melihat jejak-jejak itu, sedemikian kaburnya, dalam keseharian kami. Saya mungkin bukan ibu yang baik, tapi doa saya semoga Pagi, entah melalui ajaran Yesus, Buddha, Muhammad, dan dewa-dewi yang ada di bumi ini, menjadi anak yang baik dan berbudi luhur.

Amin. 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 Responses to “Amin”

  1. amiiin *terharu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: