psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

etika ala ika

Bulan Maret hampir berjalan separuh, tapi belum ada tulisan di blog ini. Demi menggenapi ikhtiar satu tulisan perbulannya, saya pun mampir kali ini. Sebenarnya bingung mau nulis apa sih, jadi ijinkan saya menulis beberapa hal yang mengganggu saya akhir-akhir ini, yaitu tentang media sosial atau tepatnya praktek-praktek didalamnya.

Saat ini saya memiliki beberapa akun tersebar di beberapa media sosial. Saya punya akun di facebook, lalu di twitter, satu di path, satu di instagram, satu disini, satu di blogspot, satu akun non aktif di foursquare, belum lagi line, whats app…hahaha cukup eksis juga kan saya.

Beberapa waktu lalu saya sempat mikir untuk undur diri dari jagad per-facebook-an, karena toh saya sudah lama tidak posting apa-apa. Tapi setelah menimbang-nimbang, niat itu urung saya lakukan. Banyak sekali teman-teman saya disana, dari sd sampai sekarang. Belum lagi teman-teman yang berada di luar negeri, ini dia yang membuat saya merasa sayang kalo menghapus akun..karena bagaimana kalo tiba-tiba saya pengin ke zambia, kenya, peru, nepal, yordania, mozambique? (amiiiiiiin) kan cara paling gampang cari akomodasi gratis adalah lewat pertemanan di facebook. heehhehe. Tapi mungkin saya akan de-activate sementara, karena facebook itu distraksinya terlalu besar, meski tidak aktif mengunakannya, saya masih utak utik stalking sana-sini (yes, i am watching you guys…hahahaha) dan itu tidak sebentar ternyata. Sementara saya bisa mengatasi adiksi akan facebook dengan menghilangkan ikon default nya dari layar hp saya, jadi kalo mau akses harus lebih bersusah payah. Pengin sih de-activate, tapi kata sebuah penelitian distraksi itu penting buat menyelesaikan pekerjaan (ah alesaaaan hahaha).

Selain facebook, saya juga aktif di instagram, twitter dan path…sama seperti facebook, semua akun terproteksi. Ada yang bilang, kenapa sih akun twitter pake dikunci, emang nge twit rahasia negara? well, itu pilihan saya untuk sementara ini. Alasannya tidak lebih karena masalah kenyamanan. saya malas saja tiba-tiba dikomentari orang-orang yang tidak saya kenal dan sebaliknya malas mengomentari juga orang-orang yang tidak saya kenal.

Kalau instagram, saya gunakan untuk berbagi foto-foto pribadi, teman-teman saya adalah orang-orang yang saya kenal. Di Path, saya lebih ekstreme, saya gunakan itu untuk orang-orang terdekat. Teman saya disana hanya 30-an dan belum ada rencana untuk menambah, sepertinya saya belajar dari facebook yang menurut saya sekarang terlalu riuh dan ramai.

Saya pun cukup ribet dalam pertemanan di media sosial. Jika ada yang gak sreg, bisa saya unfriend, unfollow atau hapus dari timeline. Semua pasti ada alasan. Tapi yang jelas, I can’t stand arrogant people, i will definitely unfriend or unfollow them.

Dan disela-sela kesibukan bersosial media, saya menemukan tingkah beberapa orang yang kurang sreg menurut saya. Saya berpikir begitu karena saya gak kepikiran untuk melakukan hal yang sama seperti mereka.

1. tentang orang-orang yang menulis status panjang-panjang di facebook

memang sih si facebook nanya what is in your mind? tapi bukan berarti bisa ngedembleh seenak jidat, nulis panjang-panjang, menuh-menuhin timeline. Kenapa gak sih nulis di blog saja, ketimbang di facebook, apa mungkin biar dibaca banyak orang? tapi bukankah ada cara yang lebih cantik, seperti menulisnya dulu di blog dan memberikan link nya di twitter atau facebook.

2. please don’t be over in everything

Over sharing disini ditujukan bukan hanya untuk orang-orang yang membagi semua detil hidupnya di social media tapi juga kepada orang-orang yang membaginya ke semua akun yang ada.

menurut saya, what stays in facebook stays there, masa perlu dishare juga ke instagram, ke twitter, path juga…gagal paham saya maksud dari orang-orang itu apa yah…apa mereka punya teman-teman yang berbeda di setiap akun? Ya syukurlah kalau begitu. karena setahu saya teman-temannya itu-itu juga, dan bayangkan betapa terganggunya  teman-teman tersebut ketika beberapa kali menerima notifikasi tentang hal yang itu-itu juga,

dan sebagai yang menerima pesan yang bertubi-tubi seperri itu, saya jadi dibuat bingung, mau komentar apa saya dan dimana, apa mesti like atau komen di semua akun? membingungkan…

over hashtag, gatal rasanya ngeliat tanda # lima deret penuh memenuhi layar hp. What do you want, people? ini yang lebih penting hashtag nya dari pada pesannya yah? atau sebenarnya ada kode-kode rahasia yang ingin disampaikan…

3. be vigilant in sharing

Saya perhatikan akhir-akhir ini banyak yang suka sharing post, blogs atau komen di akunnya masing2, kalo di path istilahnya re-path. Saya juga sering melakukannya, tapi saya memilih berhati-hati, saya biasanya lebih memilih membagi informasi dari institusi yang jelas, seperti lembaga-lembaga berita atau orang-orang yang memang saya kenal dan tahu reputasinya. Zaman sekarang siapa saja bisa ngomong dan belum tentu mereka benar kan? bayangkan jika kita asal sharing, bukankah berarti kita juga berpartisipasi dalam menyebarkan kebohongan?

sekian dulu curhat malam ini dan sampai ketemu di halaman sebelah, entah di facebook, twitter atau yang lainnya 🙂

Advertisements

No Responses to “etika ala ika”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: