psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Perjuangan pagi hari

Berbaikhatilah, karena setiap orang memiliki perjuangannya sendiri, begitu katanya sih.

Dan perjuangan saya dimulai pagi hari saudara-saudara.

Menjadi ibu dan mahasiswa di negara lain, tanpa insfratruktur sosial yang memadai (baca: pengasuh dan orang tua yang bisa diminta tolong untuk ngemong) memang merepotkan. Setiap hari adalah sebuah pertempuran buat saya (emak lebay mode on). Terkadang saya kalah, terkadang saya menang.

Tantangannya menjadi bertambah ketika saya memutuskan bekerja. Peran saya ditambah satu lagi: seorang pekerja yang harus sampai dikantor pagi hari. Ini artinya saya akan menghadapi tantangan lebih besar setiap paginya.

Sebelum bekerja, saya masih bisa sedikit santai, mengurusi Pagi sampai tuntas sebelum akhirnya mengantarnya ke penitipan anak dan sibuk menulis thesis. Tapi setelah bekerja, semua urusan Pagi harus selesai jam 8 pagi. Saya dan kelik mengusahakan keluar rumah sebelum jam 8, kemudian mampir menitipkan pagi ke child care dan pergi ke stasiun terdekat untuk mengejar kereta jam 8. 20 menuju ke kantor masing-masing.

Dan setiap hari memiliki tantangannya sendiri. Terlebih jika saya atau kelik harus lembur malam sebelumnya sampai dini hari menyelesaikan tugas-tugas lainnya, biasanya kami jadi telat bangun dan drama pagi hari pun semakin seru. Kalah deh film action Hollywood kalo lihat adegan pagi hari di Manatunga 🙂

Dramanya tentu saja berpusat ke Pagi, dan bagaimana cara kami mengurusinya sampai dia siap diantar ke child care. Yang pertama, menyuapinya. Aah, ini selalu jadi PR besar buat saya, menyuapi pagi sampai tuntas makannya. Sekarang saya sedikit mendingan, udah bisa sedikit cuek jika dia tidak mau disuapi, kalau dulu seharian saya bisa patah hati. Tapi sebisa mungkin saya berusaha menyuapi pagi sampai tidak bersisa. Sebenarnya sesampainya di child care, Pagi akan makan lagi karena jam 8 adalah saatnya sarapan disana. Tapi saya sendiri merasa kurang sreg kalau belum ngasih Pagi makan nasi :). Jangan ditanya rahasianya apa, tingkah laku Pagi tidak terduga setiap paginya dan saya harus punya 1001 jurus menaklukannya untuk menghabiskan makanannya. Jika makanan sudah habis, maka muncul tantangan kedua: memandikannya.

Huaah…sampai saat ini saya masih enggak mengerti, kenapa oh kenapa susah sekali mengajak anak-anak kecil mandi tapi begitu mereka sudah nyemplung air, kenapa susah sekali mengajak mereka mentas? Ada yang bisa bantu saya? Ini yang kami hadapi setiap pagi..Saya akui kelik jagonya untuk hal yang satu ini. Ada saja akalnya untuk merayu pagi agar mau mandi dan memintanya untuk selesai. Tapi yah itu tiap pagi kami harus kreatif menarik perhatiannya, karena terkadang rayuan kami tidak mempan. Rayuan kami untuk mengajaknya mandi mulai dari permainan air, membuat kolam renang di bak mandi, mengajaknya mandi bersama dengan bonekanya dll sampai kemudian kami harus memunculkan ide baru lainnya untuk menyuruhnya keluar dari bak mandi.

Setelah keluar, tugas belum selesai. Tantangan setelahnya adalah mendandani pagi. Semakin besar Pagi memiliki kemauannya sendiri. Saat ini, dia hanya mau memakai “pretty dress” yaitu gaun-gaun panjang bunga-bunga dengan rok-rok lebar. Padahal tidak semua bajunya adalah pretty dress. Di musim dingin ini, kami pun punya PR tambahan untuk menyakinkannya menggunakan baju hangat atau celana daleman. Dia biasanya menolak karena dia tidak mau ekstra baju itu mengganggu penampilan pretty dress-nya (hedeeuuuh). Dan ketika dia setuju memakainya, semuanya harus dalam warna sepadan. Jika dressnya pink maka celana dan baju dalemannya pun harus pink. Tidak hanya itu, kaos kaki dan sepatunya pun harus sama warnanya. Memilih sepatu pun cukup memakan waktu, karena dia biasanya memiliki pilihannya sendiri yang dipakainya terus menerus dan kami harus menyakinnya untuk memakai yang lain. Belum lagi topi atau ketika dia ingin rambutnya dikuncir dan dikepang…

Dan kami menghadapainya setiap pagi, terkadang heran juga ketika kami bisa menyelesaikannya semua kurang dari 1 jam. Meski terkadang tidak semulus yang diharapkan. Terkadang pagi pun cukup membantu, saat ini dia sudah memakai baju dan sepatu sendiri. Tapi terkadang hal ini memakan waktu lebih lama, karena sering kali dia menolak bantuan kami sama sekali…pokoknya semua harus dilakukan sendiri, kami tidak bisa apa-apa hanya bisa geregetan didepannya..belum lagi ketika tiba-tiba dia berubah pikiran ingin memakai sepatu atau baju warna lain…:)

Oiya tulisan ini bukan untuk mengeluh atau apa, karena saya cukup sadar ini sudah menjadi pilihan dan konsekuensi yang saya dan keluarga saya pilih…saya ingin menuliskan dan mengenangnya saja karena mungkin suatu hari saya bisa memahami bahwa sebagaimanapun sulitnya keadaan bisa jadi ini adalah saat yang paling membahagiakan. Mengutip kata Sigmund Freud : “One day, in retrospect, the years of struggle will strike you as the most beautiful”

wpid-img-20140605-wa0000.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 Responses to “Perjuangan pagi hari”

  1. Kamu kerja di mana sekarang? Ah nampak kehebohan yang seru hihihihihi…..

    Btw, Pagi punya berapa warna sepatu boots? Aku pinjem dong

  2. hahaha banyak boots-nya pagi Priska…boleh kok pinjam…ayo kapan kita ngobrol2 lagi…aku kangeeen….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: