psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Kita yang menang, bukan dia atau dia…

Kemarin umat Indonesia di Melbourne berbondong-bondong ke konsulat jenderal untuk memilih presiden dan wakil presiden mereka yang akan datang. Sedari pagi, satu persatu warga negara Indonesia masuk ke bilik suara dan menyoblos kertas suara mereka. Saya datang agak siangan. Yah maklum, hari libur memang membuat orang terlena, tahu-tahu sudah siang 🙂 Aah, yang penting harus datang. Saya tidak bisa melewatkan pemilu kali karena beberapa alasan.

Saya belum pernah segugup ini menghadapi pemilu. Tidak pernah secemas dengan hasilnya nanti. Karena siapa pun pemenangnya, dia yang menentukan nasib bangsa lima tahun kedepan.

Saya memilih Jokowi. Saya punya beberapa alasan dan beberapa alasan itu tidak saya pungkiri memang sangat egois. Saya memilihnya karena saya minoritas dan dibanding Prabowo, Jokowi memberi ruang buat kaum minoritas. Saya memilihnya karena saya kuatir dengan keselamatan jiwa saya. Sepertinya orang yang berprofesi sebagai wartawan dan aktivis punya alasan was-was jika Prabowo terpilih dengan track recordnya yang seperti itu. Mendengar cerita teman-teman di beberapa media yang mendapat surat “cinta” dari Prabowo yang menulis nama lengkap mereka masing-masing di amplop suratnya, bikin saya merinding. Aaah, saya sumpah takut sekali jika punya presiden Prabowo, seorang calon diktator baru yang akan memimpin Indonesia.

Saya pribadi mendambakan sosok presiden yang dekat dengan saya. Seseorang yang sama seperti saya, yang bisa diraih dan tidak mengawang-awang seperti presiden terdahulu yang Indonesia miliki, yang terkesan begitu berjarak dengan rakyatnya sendiri. Melihat kiprah politik Jokowi dari awal, pembawaannya, pilihan katanya, gestur tubuhnya, saya melihat bangsa Indonesia dalam dirinya. Aiiiih…saya dulunya sebenarnya gak begitu cinta-cinta banget sama mas jokowi, sempeg eneg malah dengan pemberitaannya yang saban hari di media-media nasional. Saya pun sempat berencana jika ada pilihan lain yang lebih baik saya tidak akan memilihnya. Tapi ternyata saya tidak punya pilihan. Dan saya harus memilih yang terbaik dari yang terburuk. Dari sisi politis saya pikir semuanya sama brengseknya. Kemudian, isu ham yang menjadi poin lebih buat Jokowi, membuat saya berpikir ulang karena begitu banyak jendral-jendral yang terlibat pelanggaran HAM juga mendukung Jokowi. Seorang teman mengajak untuk golput. Saya cukup merenungkan pilihan itu. Tapi, ketakutan saya terhadap sosok Prabowo membuat saya urung untuk menjadi golput.

Beberapa minggu sebelum pemilu, saya tambah panik. Karena ternyata beberapa orang memutuskan memilih prabowo. Saya tidak habis pikir dengan mereka dan cukup kecewa. Saya pun mengadakan rapat singkat dengan keluarga, syukurnya kami semua sesuara. Karena banyak keluarga yang terpecah gara-gara pemilu presiden kali ini. Saya dengar hal itu juga terjadi pada pertemanan di sosial media.Di facebook, mayoritas teman saya memilih jokowi, tapi bagaimana dengan masyarakat menengah kebawah. Apa yang mereka pilih? Berdasarkan ngobrol dengan beberapa orang, isu agama itu cukup berhasil. Dan di bulan puasa ini, pasti momentum yang pas sekali buat kubu Prabowo. Beberapa teman ada yang panik, adik saya yang tinggal di Singapura pun ikutan panik. Aah saya pun gelisah.

Dan siang kemarin saya datang membawa surat undangan dan paspor menuju bilik suara no.7. Dalam perjalanan menuju bilik, jujur saya terharu sekali dengan banyaknya orang Indonesia yang datang kesana. Menurut para penjaga TPS, jumlahnya luar biasa dibanding pemilu legislatif yang lalu. Saya juga berjumpa dengan teman-teman lain dan menanyakan pilihan mereka. Kaget juga, karena ada beberapa dari mereka ada yang memilih no. 1. Tapi melihat mereka, saya kok menjadi tidak begitu kuatir lagi. Saya malah melihat Indonesia yang lebih baik. Saya tidak melihat mereka pendukung prabowo sebagai lawan. Mereka adalah partner untuk membangun Indonesia baru. Apapun alasan mereka, saya tidak begitu peduli lagi dan mencoba menghargai. Dan dari mereka, sebenarnya saya berharap bahwa kita bisa sama-sama menggiring pemerintahan yang lebih bersih dan bermartabat. Saya tidak menjadi begitu takut dengan Prabowo, karena saya yakin jika dia melanggar amanat yang diberikan, kita semua semua berada di kubu yang sama untuk mengingatkan dia, mencegah dia berbuat sewenang-wenang. Demikian juga halnya dengan Jokowi. Saya pun juga mengharapkan sikap kritis terus terbangun di republik yang baru belajar demokrasi ini. Pemilu ini mengingatkan saya bahwa pemenang sejatinya adalah rakyat bukan prabowo atau jokowi.

Advertisements

3 Responses to “Kita yang menang, bukan dia atau dia…”

  1. Isu agama yg dijual kubu Prabowo berhasil didaerah-daerah. Aku sampai kaget sama saudara-saudaraku yg di daerah, bahkan tanteku yg dokter yg notobene well-educated ternyata pikirannya sangat pendek ketika memutuskan memilih Prabowo: Jokowi agamanya tidak jelas. Konyol bgt! Dulu aku tidak pernah secara terbuka mendukung satu calon tertentu, malas terlibat dalam arena ini, tp krn melihat dukungan terhadap kubu Prabowo, aku merasa berkewajiban utk ikut “berkampanye”. Seperti kata kamu,Ka..ini pertarungan dan kemenangan rakyat!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: