psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Bekerja di tanah asing

Sebenarnya gak pernah berencana untuk kerja di negeri orang, rencananya selepas pulang dari sini langsung akan balik ke Indonesia tercinta untuk mengabdi kepada bangsa dan negara…uhuy…

Alasan enggak kerennya adalah karena nyari kerja di negeri orang itu susah. Tanya saja Kelik Wicaksono. Hehehehe…Beliau butuh lima bulan sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan setelah melalui pergi ke beberapa wawancara. Itu pun bukan pekerjaan tetap, hanya dipekerjakan untuk sebuah proyek. Sampai saat ini, suamiku tercinta itu sudah hinggap dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Yang terakhir, dia bertahan cukup lama di sebuah perusahaan post pro yang membuat sebuah animasi kartun untuk televisi lokal. Begitu kontrak selesai, dia pun menganggur, sekarang masih mencari-cari sambil mengerjakan beberapa proyek singkat. Aah emang susah mencari pekerjaan tetap disini terlebih yang sesuai dengan bidangnya..Kelik termasuk beruntung karena banyak suami yang pasanganna sekolah disini memutuskan bekerja seadanya untuk mendapatkan uang disini. Toh dapatnya pun gak jauh beda dengan yang kerja di kantoran sebenarnya. Fakta ini yang menjelaskan kepada saya kenapa banyak orang muda Australia lebih memilih menukang ketimbang sekolah tinggi, hasil yang mereka dapat dari pekerjaan kasar terkadang lebih besar daripada bekerja di kantoran. Tapi Kelik ternyata dia lebih kepala batu dari saya…dan syukurnya dia mendapatkannya.

Sementara saya, saya (berusaha sekuat tenaga) menikmati peran saya sebagai mahasiswa dan ibu…dua pekerjaan yang sama sekali tidak mudah. Tapi sementara saya masih kerepotan membagi waktu diantara keduanya, terkadang terbersit keinginan untuk mencoba bekerja disini. Banyak kesempatan magang yang ditawarkan kampus…banyak yang menarik. Ingin sekali melamar dan mencoba untuk sekadar mencari pengalaman dan belajar. Tapi yah itu..pertimbangan waktu dan tenaga membuat saya urun. Pertimbangan lainnya adalah proyek magang disini tanpa dibayar. Sedih juga. Apalagi buat seorang ibu yang punya satu anak yang butuh biaya untuk child care yang biayanya amit-amit. Aku mulai menghitung dan memutuskan magang bukan sebuah pilihan tepat. Aku sebenarnya sempat merasakan magang di The Age (semacam Kompas nya Melbourne) untuk proyek satu hari. Aku terlibat dalam pembuatan data base untuk proyek multimedia mereka. Dan itu kereen sekali memang, saya belajar sesuatu tentang data journalism dan bagaimana itu bisa bermanfaat sekali untuk pengembangan jurnalisme ke depannya. Tapi yah itu, bekerja satu hari penuh dari jam 8 pagi sampai jam 10 malam tanpa dibayar..kok rasanya ngelu, apalagi harus meninggalkan anak seharian…

Hingga akhirnya sebuah tawaran bekerja datang dari seorang teman di ABC (TVRI Australia) yang mengatakan mereka butuh tenaga casual. Casual ini sama seperti freelancer gitu, dipanggil jika dibutuhkan. Saya sempat ragu mengambilnya karena setahun ini saya memutuskan untuk fokus melakukan penelitian. Tapi keinginan untuk belajar dan juga kesempatan untuk mendapatkan duit jujur membuat saya bimbang. Saya konsultasi ke Kelik…aah dia emang dasar..sarannya sekolah itu no. 2, yang penting cari pengalaman…ok deh. Saya pun berkonsultasi dengan pembimbing saya, kagetnya mereka malah menyuruh saya bekerja dudududu. Memang media yang saya lamar itu termasuk media besar di Australia dan kompetisi untuk masuk kesana cukup ketat. Setelah wawancara informal dan melakukan beberapa tes, saya pun diterima (kaget juga karena kayaknya gak sukses pas mengerjakannya). Resmilah saya jadi cewek panggilan ABC, dan tugas saya sebenarnya gak keren-keren amat, hanya menerjemahkan artikel dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Namun uangnya lumayan, meski pajaknya pun lumayan juga tapi setidaknya cukup untuk nombokin duit child care pagi.

Tanggal 9 yang lalu resmi saya bekerja tiga bulan untuk ABC. Saya ingat hari pertama bekerja itu tanggal 9 April, ketika penghitungan suara legislatif berlangsung. Saya ingat sekali pulang dari kantor harus bergegas ke konjen untuk melihat penghitungan suara buat tugas kuliah. Capek memang, tapi saya menikmatinya…

Saya cukup belajar banyak disana. Saya bahkan sempat terlibat untuk sebuah program marketing mereka, yang merupakan hal baru buat saya. Saya melihat bagaimana mereka melakukan strategi promosi untuk salah satu divisi mereka. Bagaimana mereka menggunakan twitter dan facebook untuk mempromosikan konten mereka..saya menikmatinya pembelajaran ini.

Tapi yang paling saya nikmati adalah perjalanan dari dan ke kantor. Kebetulan kantor ABC terletak di daerah strategis di kawasan Southbank tak jauh dari stasiun kereta Flinders yang jadi landmark Melbourne. Memang daerah itu tujuan favorit turis, kantor ABC juga dekat sekali dengan National Gallery dan perlu melewati Yarra River dengan landscape bangunannya yang mempesona… Ketika pagi hari atau sore hari, saya juga menikmati berada diantara orang-orang kantor dengan kostum keren mereka bergegas. Banyak diantaranya adalah perempuan dengan pakaian unik dan trendi…ah jadi ingat kata seorang teman, bahwa cewek-cewek Melbourne memang modis. Dan itu tidak memandang usia, saya sempat terpukau melihat seorang nenek dengan rambut burgundi dan jaket merah dan sepatu merahnya…hahaha…

Aah saya pasti akan merindukannya kelak ketika kembali ke Indonesia. Tapi semoga bekal dan ilmu yang saya dapat di Melbourne bisa saya bawa balik ke Indonesia dan membuat segalanya lebih baik di tanah kelahiran sendiri. Semoga.

pemandangan cantik sepulang kerja

pemandangan cantik sepulang kerja

Advertisements

No Responses to “Bekerja di tanah asing”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: