psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

adelaide oh adelaide

Kali ini giliran kami ke Adelaide. Dan kalau sebelum-sebelumnya, kami selalu menginap di rumah temanku, kali ini kami pergi numpang ke tempat teman SMA kelik. Dia dan keluarganya pindah ke Adelaide 3 tahun yang lalu menemani istri melanjutkan PhD disana. Mereka punya seorang putri manis yang bernama Azahra, yang langsung akrab bermain dengan pagi. Aah senangnya.

Kali ini memutuskan untuk menyewa mobil dari bandara. Kami pikir itu lebih menguntungkan buat kami karena lokasi rumah temannya kelik yang diujung kota. Kami pikir dengan menyewa mobil, kami akan lebih fleksibel ke beberapa tempat selama kunjungan empat hari kami disana.

Tidak banyak cerita yang bisa saya bagikan. Adelaide tidak jauh beda dengan kota-kota lainnya di Australia. Mungkin hanya lebih sepi. Tapi saya suka sekali dengan art centernya yang terkonsentrasi di satu tempat dengan bangunan-bangunan cantiknya. Ketika berjalan disana, kelik dan saya merasa akhirnya berasa kayak diluar negeri :)).

Kami melewatkan kangaroo island, karena tiketnya yang mahal sekali, lagipula kami memilih untuk menjelajah kota Adelaide. Lagi pula, saya melewatkannya supaya ada alasan untuk kembali lagi.

Selama kami di Adelaide, kami pergi ke sebuah kota tua yang kabarnya adalah perkampungan jerman tertua di Australia. Kompleknya penuh sesak dengan turis, mengingatkan saya dengan kampung tua di Jakarta. Dan kami sempat mampir salah satu restauran tertua disana untuk mencicip sosis platter yang isinya oooh my good..sosis enam buah dalam ukuran besar..kami bertiga kewalahan menghabiskannya.

Selama empat hari kami pun melakukan ritual yang biasa kami lakukan. Kami sambangi taman-taman bermain cantik disana, salah satunya St. Kilda Playground, yang luar biasa luasnya..sepertinya dibuat bukan buat anak-anak semata tapi juga orang dewasa. Kami pergi ke museum. Kami pergi ke taman dan ke pantai. Kami temui pantai unik yang membolehkan kami membawa mobil sampai bibir pantai…ih asiiknya. tapi karena masih winter, kami pun hanya bisa bermain di pinggiran saja.

Yang kurang menyenangkan dari kota adelaide adalah lalu lintasnya. Aduuuh macet sekali, setiap pulang kerumah sore hari tepat usai jam kantor, kami pasti terjebak macet…cukup mengherankan karena kupikir kotanya lebih sepi dari melbern, tapi dengan jalan penuh sesak dengan mobil, saya jadi berpikir ulang. Kata mas Bebe, temannya kelik, setiap rumah di Adelaide biasanya punya mobil dari satu. Oalaah..gak beda jauh sama Jakarta.

Adelaide oh Adelaide…

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

No Responses to “adelaide oh adelaide”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: