psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

akhir dari dua tahun

Kemarin, hari saya terakhir kuliah. Tidak ada yang spesial. Kali ini saya berangkat agak pagi karena ingin mampir ke perpustakaan demi menyelesaikan tugas kuliah lainnya. Saya memakai kostum serba merah, tidak ada maksud, saya hanya mencocokkan dengan celana merah yang masih bersih bekas dipakai kemarin. Kuliah berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang istimewa. Cuma saya sedikit resah di kelas karena saya sudah berencana pergi sebelum kuliah selesai sebab saya harus menjemput pagi dikarenakan kelik bakal pulang telat dari kantor. Untungnya kelasnya hanya semacam wrap-up dan berlangsung lebih cepat. Begitu kelar, saya pun langsung ngibrit ke shuttle bus yang akan mengantar saya pulang. Tidak ada pamitan, salam-salaman dengan teman sekelas atau foto-foto. Semua berakhir begitu saja, pikir saya dalam hati. Mungkin saya hanya sok dramatik hahahaha, soalnya susah juga..ini bukan unit yang saya ambil untuk dua jurusan saya, saya hampir tidak mengenal teman-teman sekelasnya, kebanyakan teman-teman saya sudah lulus karena program mereka 1.5 tahun, sedangkan saya 2 tahun. Emang drama sekali saya ini.

Tapi saya mau melanjutkan ngelangut saya. Sambil berdiri di pojok belakang bis yang penuh sesak, saya memikirkan bahwa perjalanan saya sekolah dua tahun hampir selesai. Iiih beneran gak terasa. Masih ingat waktu saya pergi kekelas pertama kali, bertemu dengan teman-teman baru, berkutat dengan dosen-dosen dan tugas-tugas yang nampaknya tak pernah habis. Meski sedikit mellow ada perasaan lega disana. Lega karena sebentar lagi saya bebas dari tugas-tugas dan bisa liburan sepuasnya dan bermain dengan pagi tanpa kepikiran tugas saya.

Saya akui saya belajar banyak, belajar dalam artian sebenarnya di kelas, membaca, menulis. Bagaimanapun susahnya, saya mencoba menikmatinya, menelusuri pemikiran para ahli lewat tulisan-tulisan mereka, menemukan hal-hal baru, ide-ide spektakuler lalu mengetesnya dan menganalisanya kemudian mencoba membangun argumen sendiri untuk mengomentari argumen mereka  mencoba membangun kritik dari sana. Somehow I am gonna miss that.

Saya akui saya belajar banyak selama saya menulis thesis. Memulainya di awal tahun, akhirnya proyek penelitian saya selesai juga minggu ini dan sudah saya kumpulkan. Saya gak peduli hasilnya, yang kata supervisor saya akan ditentukan oleh dua examiner. Saya lebih peduli dengan proses yang saya lalui. Tiap minggu bertemu supervisor, berargumen dan berdebat, pulang dengan pusing kepala lalu mencoba menyusun kata dan logika sehingga jadilah 17,763 kata itu. Ketika ditanya kenapa milih thesis, padahal gampang ambil coursework, saya jawab sambil bercanda bahwa saya makhluk masochist yang suka nyiksa diri sendiri hahaahah…Tapi, sebenarnya alasannya cukup praktis, saya ingin membuka peluang melanjutkan Phd. Katanya akan gampang melamar S3 jika S2 menulis penelitian. So far belum ada rencana, hanya cita-cita ingin melanjutkan lagi eerrr tapi dengan catatan jika saya gak ada kerjaan dan bingung mau ngapain lalu juga rindu menyiksa diri :))

So far, hasil belajar saya diatas kertas memang tidak secermerlang waktu di UGM tapi saya cukup puas. Prestasi paling membanggakan saya adalah salah satu essai saya dinilai paling baik oleh si dosen dan dijadikan acuan buat murid lainnya untuk tugas selanjutnya. Aih mimpi apa saya? ingat sekali tugas saya pertama saya yang hanya dapat ponten 59. hahahaha…sungguh saya belajar.

Tapi diluar ruang kelas saya belajar lebih banyak. Pertama saya belajar multitasking, membagi waktu lebih jitu. Jadi ibu dan mahasiswa bukan hal yang gampang saudara-saudara. Saya juga belajar menentukan prioritas. Meski saya kesini karena beasiswa, saya tahu prioritas saya bukan memulu mengenai mengejar ilmu. Saya kesini dengan kesadaran bahwa saya ke melbern untuk membagi mimpi saya dengan kelik dan pagi. Mimpi saya dapat gelar master, kelik punya pengalaman kerja disini dan pagi mendapat pengalaman bersekolah dan berteman disini. Saya juga belajar hal praktis lainnya misalnya memasak. Kemampuan saya terkini adalah membuat mie goreng seperti yang disajikan di restauran China..rasanya kata kelik luar biasa (hahaha entah bener apa enggak). Saya juga mencoba belajar baking memanfaatkan oven yang ada di dapur tapi so far hasilnya jauh dari memuaskan. Intinya, saya masih harus banyak belajar.

Saya juga belajar berteman lagi, yang memang buat saya tidak mudah apalagi di usia kesekian. Kondisi saya yang beranak juga membuat keadaan makin kompleks karena begitu pulang kuliah saya langsung pulang dan tidak punya waktu berbasa-basi dengan orang baru. Tapi di semester kemarin saya beruntung berkenalan dengan beberapa orang yang bisa dibilang klop. Meski kami sudah terpisah karena tidak ada mata kuliah yang diambil bareng, kami suka hengot bareng makan malam atau nonton bareng.

Sebentar lagi saya dan keluarga kecil saya akan pulang, Kami sudah beli tiket pulang. Kami akan meninggalkan Melbern 13 minggu lagi. Waktu akan berjalan begitu cepat. Itu pasti.

Akankah saya merindukan ini? saat ini tidak karena kepalas saya masih penuh dengan tumpukan konsep teori untuk tugas selanjutnya. Tapi biar saya nikmati penyiksaan ini hingga minggu depan.

IMG-20141023-WA0013

foto sehabis kuliah terakhir bersama senyum pagi yang baru dijemput dari childcare 🙂

Advertisements

No Responses to “akhir dari dua tahun”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: