psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

kenekatan di dapur manatunga

Satu hal lagi yang saya dapat selama berpetualang disini adalah kesempatan untuk mengasah keterampilan memasak saya. Dari tipe pemasak yang sukanya nurut apa yang ditulis di resep , sekarang saya belajar jadi tipe pemasak eksperimentalis. Bukan sok gegayaan, tapi ini memang didorong oleh kondisi yang terbatas. Terbatas bahannya dan duitnya :))

Saya mengakui keahlian memasak kelik jauh diatas saya. Dia itu tipe yang eksperimentalis gitu. Dia bisa dengan gampang mengubah bahan-bahan yang ada dikulkas menjadi sesuatu yang bisa dimakan dan rasanya enak.

Saya pernah mengatakan kunci sukses dari memasak adalah cinta (pret). Memasak dari hati jaminan masakan enak, demikian kata ibu saya. Tapi saya belajar disini, bahwa ada dua hal lainnya: nekat dan pede. Mungkin rasa kepepet dan desperate yang membuat saya mau gak mau harus belajar jadi eksperimentalis. Melbern memang jauh lebih mending dibanding Berlin untuk masalah bahan-bahan makanan Asia. Disini masih ada pare, labu siam, pete, jengkol dan banyak lainnya. Tapi yah harganya lumayan tentunya. Yang susah mungkin membayangkan ada mas-mas jualan somay dan bubur ayam lewat depan rumah…ini yang terkadang mendorong saya bereksperimen di dapur. Rasa impulsif ini yang memaksa saya memasak tahu goreng isi, nasi uduk, mie ayam dan somay…meski hasilnya tentu tidak sespektakuler mamang-mamang di pinggir jalan di Jakarta.

Eksperimen terakhir saya adalah somay..kalo diresep sih bilangnya butuh ikan tenggiri. Ketika menengok bahan-bahan di kulkas dan lemari dapur. Saya tidak punya tenggiri, yang ada ikan sardine, dan bahan tepung kanji yang saya punya pun terbatas. Jadinya saya berakrobat campur tepung ini itu..untungnya hasilnya lumayan dan ketika saya bawa ke pertemuan ibu-ibu pun habis juga.

Dapur saya di Clayton ini pun mendukung eksperimen yang saya lakukan didapur. Kompor saya disini dilengkapi juga alat pemanggang dan oven. Saya pun sempat mencoba beberapa resep kue. Sayangnya hasilnya kebanyakan gagal. Saya memang tidak berbakat. Keahlian saya mentok di cupcake. Hahahaha. Kata seorang ibu, kalo memasak kue kuncinya adalah presisi. Apa yang ada diresep harus dikuti bener-bener. Perasaan sudah dikuti, tapi kenapa hasilnya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Ah memang saya tidak berbakat mungkin.Pavlova saya ambles, dan bolu susu saya ambles. Tapi terlepas dari kegagalan ini, saya sangat menikmati proses membuatnya, menakar bahan, menguleni bahan dan juga menanti-nanti hasilnya sambil mengintip-intip di kaca oven.

Pertanyaannya adalah apakah petualangan didapur seperti ini akan berlanjut di Jakarta? Ketika ada mamang-mamang bakso, somay, mie tek tek, bubur ayam, mie ayam seliwerin didepan rumah? Kita lihat nanti yah.

20141109_145007

Advertisements

No Responses to “kenekatan di dapur manatunga”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: