psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Yang hampir berakhir

Kepulangan saya ke Indonesia tinggal menghitung hari. Perasaan saya campur aduk. Kalo sedang mumetnya mengurus ini-itu dan beberes sana-sini, pengin rasanya saya langsung kabur dan pulang. Tapi terkadang, ketika bisa berhenti sejenak dari segala kepanikan beberes, saya dan kelik sama-sama sadar betapa kami akan sangat merindukan Melbourne, rumah kami selama dua tahun.

Selama dua tahun ini kami berusaha menjadikannya rumah. Tempat kami pulang. Seminim mungkin kami pulang ke Indonesia, karena saya ingin merasakan sepuas-puasnya tinggal, hidup dan berkarya di luar negeri. Untuk alasan itulah, saya memilih obyek penelitian di Australia supaya tidak usah pulang ke Indonesia. Selama disini, kami berusaha hidup seperti orang lokal. Main ke taman, pesta barbeque, kepantai, ke festival-festival, nonton drive in, dan mencoba makan ini-itu.

Tapi tak terasa waktu kami sudah semakin habis di sini. Hari-hari berlalu demikian cepat. Apalagi belakangan kami sibuk mengurus tetek-bengek masalah kepindahan, waktu seakan berjalan begitu cepat. Untung sebelumnya kami sudah mengkhatamkan keberadaan kami di Australia dengan mengunjungi provinsi terakhir di negara ini : The Northern Territory. Setidaknya kami bisa pulang membawa lebih beragam cerita tentang negara-negara bagian di Australia.

Ngurus kepulangan itu merepotkan sekali. Bukan hanya perkara packing barang-barang, tapi juga masalah berkas-berkas. Tiap hari kami isi dengan menelepon sana-sini. Aah birokrasi disini sama saja, yang mending paling disini tidak ada suap.

Disamping mengurusi berkas-berkas kepindahan, kami berusaha memaksimalkan waktu kami di Melbourne dan kota-kota lainnya di daerah Victoria yang belum sempat kami kunjungi. Kami pun sebisa mungkin mampir ke taman-taman bermain apik di penjuru kota karena kami sadar bahwa tidak mudah mendapatkan fasilitas semacam itu di Indonesia. Kami ingin mencoba berkemah disini. Katanya belum afdol ke Australia kalau belum merasakan berkemah. Kemah perdana kami, kami lakukan di Uluru kemarin, sekalian uji coba tenda yang baru kami beli. Rencananya kami ingin nyobain lagi berkemah di Victoria. Semoga kesampaian sebelum pulang.

Iya kami akan kangen Melbourne. Sepengalaman saya, Melbourne memang tempat paling nyaman di Australia. Gelarnya sebagai the world’s most liveable city bukan hanya gaya-gayaan. Dibanding negara bagian lainnya, Melbourne menurut saya yang terbaik. Mungkin tidak dari segi fasilitas, karena saya mendapati standard fasilitas di beberapa negara bagian hampir sama (yang membedakan mungkin kualitasnya, seperti public transport di melbern lebih beragam dibanding perth, fasilitas pejalan kaki di melbern lebih oke ketimbang di brisbane, dll), tapi mungkin dari keterbukaannya terhadap pendatang (bahkan lebih baik dari Sydney). Segala macam penduduk dari berbagai negara ada di kota ini, ini bisa dilihat dari beragamnya restauran menawarkan menu-menu negara tertentu. Saya sudah mencoba menu afghan, nepal, korea, jepang, polandia yunani dan afrika. Anehnya ketika saya menanyakan apa sih menu asli Australia, teman-teman saya yang orang Australia kebingungan menjawabnya. Nah lho…

Mungkin pendapat saya ini subyektif, tapi saya mendengar dari teman yang punya seorang teman yang sudah merasakan hidup dan tinggal di berbagai negara di Eropa, Amerika dan Australia. Menurut, tempat yang terbaik versi dia adalah Melbourne, bahkan tidak hanya itu, dia spesifik menyebut Clayton, tempat tinggal saya saat ini, sebagai tempat paling ideal untuk hidup. Aah beruntungnya kami…

Saya akan rindu Melbourne, tapi saya menantikan kepulangan saya ke Indonesia. Saya akan merindukan Clayton. Itu pasti. Tapi semoga saya bukan tipe yang picik kalau saya kembali ke Indonesia, yang kalau kangen berlarut-larut dalam nostalgia lalu membandingkan semuanya dengan Indonesia dan akhirnya menjelek-jelekkan Indonesia. Amit-amit yah. Itu menurut saya, sama kayak orang yang protes macet tiap hari tapi tetap naik mobil, atau orang yang sebel tinggal di Jakarta, tapi bekerja dan tinggal disana. Kalau gak suka, yah pindah atau lakukan sesuatu, jangan hanya mengeluh. Ah semoga saya jangan jadi orang yang seperti itu. Lagipula kalau kangen, kan selalu ada alasan untuk kembali.

Advertisements

No Responses to “Yang hampir berakhir”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: