psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

yogya oh yogya

Akhirnya sampai juga di yogya, setelah lebih dari dua tahun tidak menginjakkan diri ke tanah kelahiran.

Pangling juga saya dengan yogya. Saya tinggal di rumah bulek saya di daerah Kadirodjo, hanya sekitar 10 menit dari bandara. Dulu daerah pinggir jalan menuju rumah bulek masih sepi seingat saya, tapi sekarang sudah penuh dengan banyak toko dan papan iklan yang bener-bener bikin mata sepet.

Tapi saya berusaha — benar-benar berusaha – melihat apa yang terjadi di yogya dari sisi positifnya. Toko-toko yang muncul tumpah tindih dan papan baliho iklan yang semrawutan itu adalah tanda dari pergerakan ekonomi yogya yang makin dinamis. Semoga ini berimbas pada kehidupan rakyat yogya yang makin baik…tapi sebagai rakyat boleh kan berharap semoga pemerintah kota yogya lebih arif dan bijak dalam mengembangkan tata kota yang lebih cantik.

Tapi, jujur sedih juga sebagai orang yang berencana menghabiskan masa tua di kota ini. Kota ini jadi penuh kendaraan. Di titik-titik tertentu kemacetan muncul. Tapi mana mungkin membatasi jumlah kendaraan yang masuk atau melarang orang membeli mobil. Ini kan sama saja menolak duit berputar di yogya. Yang dibutuhkan adalah kesigapan pihak otoritas untuk merespon dengan baik jumlah kendaraan yang meningkat di yogya.

Tapi untuk masalah mall, saya punya sikap berbeda. Saya pikir kenapa Yogya jadi ikut-ikutan Jakarta, yang disetiap jalan protokol pasti bisa dijumpai pusat perbelanjaan. Apa masih kurang 6 mall yang saat ini beroperasi? Sehingga kata kompas akan ditambah 6 lagi. Katanya yang punya proyek mall sih kurang, karena yogya jadi pusat tujuan wisatawan lokal dan mancanegara dan juga pasar yang strategis buat calon mahasiswa yang berencana studi di Yogyakarta. Tapi sebentar, jumlah turis hanya bekisar sekitar 300,000 sedangkan jumlah mahasiswa baru tiap tahunnya juga segitu. Masa iyah orang segitu butuh 12 mall? Lalu gimana dengan 3.5 juta penduduk yogya? apa benar mereka membutuhkan sebanyak itu?

Saya ingat sekali waktu saya masih kuliah di yogya di tahun 2000-an, hanya ada dua mall di Yogya — Galeria dan Malaiboro Mall–…dan menurut saya itu sudah cukup. Lagi-lagi saya tidak anti menolak kemajuan ekonomi yogya, tapi yah itu saya melihat pembangunan mall bukan sesuatu yang dibutuhkan kota ini. Apa iya Yogya butuh 12 mall?

Saya melihat banyak orang yang sudah protes. Yah di sosial media, yah ruang publik, ada juga yang lewat lagu. Saya sendiri memilih protes dengan sikap. Sampai detik ini, saya belum pernah menginjakkan kaki ke ambarukmo plasa atau yang populer dengan nama Amplas semenjak mall itu dibuka. Saya pikir ini lebih taktis, daripada mengeluh disana-sini, tapi kemudian janjian ngopi atau nonton di mallnya. Ironi oh ironi…Tapi, semoga saja saya tidak sendiri. Jadi bagi siapa pun yang ngajak janjian di mall di yogya, sudah tahu kan jawaban saya?

Advertisements

No Responses to “yogya oh yogya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: