psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Ayo Indonesia

Sudah dua bulan di Indonesia, sudah mulai terlena dengan rutinitas sehari-hari.

Tapi saya tidak mau berbicara mengenai itu terlebih dahulu. Saya ingin bicara sebelum saya akhirnya memutuskan kembali lagi jadi buruh.

Sekembalinya saya dari Melbourne, saya memang minta ijin dari kantor untuk memperpanjang cuti saya. Saya berencana ingin pulang ke Yogya beberapa saat untuk mengunjungi keluarga dan mempersiapkan segala sesuatunya sebelum mulai bekerja. Agaknya saya ingin lebih lama menunda bertemu dengan realitas keseharian. Yah mungkin saja.

Saya pergi ke yogya naik mobil. Penginnya sih naik mobil sendiri, tapi karena beberapa alasan, jadilah saya,  kelik dan pagi berangkat minjem mobil pak joko. Berangkatnya pun bareng sama beliau, karena ada kabar dadakan bahwa adik bapak saya meninggal.

Pergilah kami dan sesudah perjalanan sehari-semalam, tibalah kami di Yogya.

Ah yogya, seberapa berubahnya dirimu, kamu tetap rumahku.

Saya pun kepikiran untuk mempercepat rencana hijrah saya ke yogya, mencoba mengajar saja di Yogya sambil jadi penulis lepas. Tapi ini judulnya masih survey, masih belum ada nyali untuk melakukannya.

Selama di Yogya, kami pun juga memutuskan untuk road trip keliling jawa. Itung-itung membalas utang beberapa tahun yang lalu, ketika kami berencana road trip dari ujung ke ujung pulau jawa, tapi harus tertunda karena saya hamil.

Kali ini kami pergi dengan membawa, si kucrit Senyum Pagi. Entah kenapa, waktu berangkat saya kurang begitu bersemangat. Rasanya jadi males ketika membayangkan perjalanan yang akan kami tempuh. Rasanya saya masih mabok dengan road trip 14 hari di New Zealand.

Tapi akhirnya kamipun pergi.

Kami pergi tanpa itinerari, tanpa rencana tanpa ambisi. Tujuan kami Malang, karena kebetulan ada teman disana yang bisa kami pakai rumahnya untuk menginap. Awalnya sih mau sampai ke ujung, ke Baluran..tapi kami ingat kami membawa si kecil..kayaknya tidak adil juga jika terlalu memaksakan. Kami pun memilih menyerahkan diri kepada jalan dan bertindak impulsif.

Rute kami adalah berangkat melalui jalur utara ke Malang dan kembali ke yogya melalui jalur selatan.

Selama perjalanan, saya diingatkan kembali betapa indahnya Indonesia..hamparan sawah yang menawan, gunung-gunung yang berserak berantakan di horizon kanan kiri jendela mobil kami. Aah..Indonesia masih tetap menawan.

Tapi kami pun harus bertemu realitas yang lain: jalan yang rusak dan kemacetan disana-sini. yah itung-itung buat persiapan ke Jakarta juga sih…mengingat kondisi seperti ini kami pun tidak begitu memaksakan diri. Kami memutuskan untuk menginap ketika malam tiba, di hotel yang kami temukan di pinggir jalan.

Ini repotnya dan asiknya jika pergi tanpa itinerari. Kami sempat bingung kemana kami harus menginap atau dimana seharusnya makan. Terimakasih sekali pada mbah Google yang memberi petunjuk didetik-detik terakhir.Kami pun dengan tanpa rencana memutuskan mengingat di Madiun kemudian Ponorogo, kota yang sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya.

Kami pun menjadikan perjalanan sebagai momen untuk perburuan kuliner. Sekali lagi terimakasih ke mbah Google, yang memberikan saran kemana  harus makan. Selama perjalanan, kami meencoba menyicipi masakan khas daerah yang tidak bisa kami temukan di Jakarta.

Kami mampir ke Garang Asam mbah Semar di Solo. Restaurannya itu jauh dari menarik, tapi rasa masakannya luar biasa. Pak Bondan pun pernah mampir kesana dan mengakui kelezatannya. Kata kelik garang asam disana unik karena disajikan dengan telur didalamnya. Kami pun juga menyicipi menu andalan lainnya kopyor ipis, makanan pencuci mulut yang dihidangkan hangat. Aaah saya sampai kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya.

Lalu ada juga nasi becek nganjuk. Edan. Ditempat itulah saya akhirnya menyicipi hidangan kambing, padahal saya sama sekali tidak suka kambing. Tapi rasanya memang luar biasa.

Sebenarnya ada cerita lucu dibalik itu. Sebelum mampir ke rumah makannya, yang lagi-lagi tidak menarik penampakannya, kami sempat kena tilang ketika hendak parkir. Aah karena sudah jauh-jauh dan kena tilang pula, saya pun jadi merasa dikompori harus ikut nyicipi hidangan kambing di nasi becek nganjuk itu. Dan saya tidak menyesal.

Kami pun mampir ke sate ponorogo yang popularitasnya sampai tingkat kepresidenan yaitu sate pak tukri sobirun. Dua presiden Indonesia yang terakhir pernah mampir disana dan bisa dilihat di foto-foto yang terpampang di dinding rumah makannya. Satenya memang beda, disajikan dalam bentuk pipih. Rasanya pun luar biasa. Pagi yang ogah-ogahan makan daging pun lahap memakan beberapa tusuk.

Belum lagi segala hidangan di Malang..ah kami sukses memanjakan perut kami. Kepikiran kenapa tidak Indonesia mencoba memasarkan pariwisata lewat makanan juga? kalau masalah pemandanan dan obyek pariwisata tempat lain mungkin juga punya bahkan tanpa ada tambahan masalah infrastruktur.  Tapi makanan? Sate yang enak di Melbourne sekalipun tidak bisa menandingi sate ponorogo yang saya icipi.

Selama perjalanan, saya pun mencatat beberapa hal yang saya jadikan perenungan buat diri sendiri bahwa masih ada harapan di negeri ini dan saya melihat titik titik harapan itu sepanjang perjalanan.

Pertama ketika kami ditilang di Nganjuk. Aah saya sudah berprasangka buruh dengan para polisi kalau mereka nyari-nyari alasan. Dan benar saja, ketika saya melihat bagaimana polisi berbicara dengan kelik mengenai pelanggaran yang dibuatnya. saya memilih menemani kelik di kantor polisi sebenarnya juga dengan alasan ingin tahu bagaimana polisi sekarang ini. Apalagi waktu itu lagi seru-serunya isu KPK vs Polisi. Ketika oknum polisi menawarkan diri untuk disuap, saya pun dengan sigap sambil mengendong pagi mengirimkan isyarat ke kelik untuk tidak mengiyakan. Dan selamatlah kami. Kami hanya disuruh membayar denda tilang ke bank terdekat. Fiuhh..Korupsi memang begitu merajalela di Indonesia. Tapi dari kejadian ini saya berpikir bahwa tindakan ini adalah kejahatan dua pihak, korupsi ada tidak hanya karena ada yang mengkorupsi tapi juga ada membiarkannya. Selama kita tidak tinggal diam, saya optimis kita bisa melawan korupsi.

Kedua saya temukan pencerahan lain di kota batu malang. Kami mampir ke alun-alun taman kotanya. Aah saya dibuat terkesima dan terharu, beanr-benar terharu. Akhirnya setelah sekian lama, kami menemukan area playground di taman dan gratis pula, meski kondisinya tidak terlalu prima. Tapi saya sampai nangis (emang dasar emak lebay) melihat Pagi tertawa girang naik perosotan disana. Area tamannya tidak begitu luas, tapi peraturan disana cukup jelas: tidak boleh merokok dan buang sampah sembarangan dan ajaibnya semua orang nampak mematuhinya. Semua orang di kota tersebut nampak benar-benar memelihara apa yang mereka punya, area publik gratis dimana setiap orang bisa singgah dan bermain sejenak. Satu lagi harapan buat Indonesia.

Sebenarnya saya ingin meneruskan perjalanan sampai ujung dan menemukan hal-hal baru sambil memanjakan lidah kami. Tapi ditengah perjalanan, sebuah imel dari kantor masuk, mengatakan bahwa saya harus segera kembali.

Aah, selamat datang realitas, semoga saya siap dengan harapan-harapan yang membuncah didada saya untuk Indonesia.

Advertisements

No Responses to “Ayo Indonesia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: