psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Tidak ada perjalanan yang sia-sia, seburuk apapun itu

Ijinkan saya berbagi pengalaman jalan-jalan saya dan keluarga yang tidak semulus yang direncanakan. Tapi sebenarnya awalnya pun tidak mulus-mulus amat.

Selama di Australia, saya dan kelik punya satu ambisi, selain membantu saya menuntaskan kuliah, kami ingin sekali menuntaskan jalan-jalan kami ke seluruh provinsi yang ada di negeri kanguru tersebut.

Sebulan kami pulang, tinggal satu provinsi yang belum kami kunjungi yaitu Northern Territory (NT). Terinspirasi oleh mbak Kate dan Mas William yang jalan-jalan ke Uluru, salah satu tempat wisata yang popular di NT karena bongkahan batu merah yang besar, kami pun ingin sekali kesana.

Awalnya kami bingung mau kesana naik apa dan lewat mana? ada pilihan pergi road trip atau naik pesawat. Tapi kelik yang nampaknya sudah bosan menyetir sehabis trip ke NZ, kami pun sepakat pergi naik pesawat. Tapi masya ampuun mahal juga yah…tapi kapan lagi yah hehehe?

Nah, dalam rangka penghematan, kami pun pergi membawa tenda yang baru kami beli, ini pertama kali kami berwisata dengan tenda. Dan rasanya seru, meski punggung pegal pegal, yang paling mengejutkan adalah Pagi yang tidak mengeluh sama sekali dalam pengalaman pertamanya berkemping ria.

Bukan awalnya saja yang gak gampang (baca: murah), sesampainya disana pun banyak hal-hal yang tak terduga.

Saya menulis pengalaman ini sekadar ingin bilang bahwa tidak semua acara travelling itu indah seperti di foto-foto yang disebar di media sosial. Bahwa ada yang ribet dan bagian yang gak ngenakin juga…dan gak ada salahnya berbagi hal-hal yang menyedihkan yah, supaya orang lain bisa belajar disana dan menghindari hal yang sama terjadi pada mereka.

Ya masalah kecopetan, yah nyasar, yah ketinggalan kapal…dipikir-pikir semua cerita travelling saya konsisten dengan cerita duka yah dibanding sukanya yaah hehehe…

Perjalanan ke uluru pun begitu. Saya bahkan sudah membagi ceritanya ke pembaca The Jakarta Post, termasuk kisah sedihnya.

Kalau dibaca disana, saya cerita gimana gagalnya kami menyewa mobil ketika disana. Padahal kami sudah merencanakan banyak hal termasuk membawa car seat buat Pagi..tapi karena gak bisa, ruang gerak kami pun terbatas dan kami pun harus menggantungkan diri ke penyedia jasa tour yang mahal untuk bisa jalan-jalan ke bongkahan batu besar itu.

Ya begitulah, dipikir-pikir mangkel sekali waktu itu, masalahnya waktu kami booking via online tidak ada penjelasan sama sekali bahwa penyewa harus membawa sim asli asal negaranya. Ya sudahlah…mungkin apa yang kami alami menjadi pembelajaran buat orang-orang yang akan pergi kesana.

Semoga.

Advertisements

No Responses to “Tidak ada perjalanan yang sia-sia, seburuk apapun itu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: