psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

memberi untuk penuh kembali

Saya dulu gak pernah kepikiran ngajar. Tapi mau tak mau saya praktis sudah jadi guru setiap minggu sekarang ini. Iya, akhirnya saya memulai lagi taman belajar rumahsenyumpagi tepat sebulan lalu. Banyak-banyak wajah-wajah baru dan semangat-semangat baru, senang rasanya setiap minggu rumahsenyumpagi kedatangan tamu-tamu cilik dengan tas berisi buku dan alat-alat tulis. Mengajar anak kecil memang tidak gampang, tapi saya terus berusaha belajar memahami mereka.

Tentu tantangannya banyak sekali, banyak yang masih malas-malasan, banyak yang malu dan gak berani ngomong, terkadang bikin bingung aja, tapi semangat kembali muncul jika tiba-tiba ada yang mengacungkan tangan maju kedepan atau menjawab pertanyaan dengan benar tanpa malu-malu.

Sebenarnya sempet kepikiran, ngefek gak sih apa yang saya lakukan ini? jangan-jangan gak ada gunanya. Aah tapi saya mau ingin tetap berpikir positif saja dan dari awal niat saya memang ingin berbagi. Ini memang misi sosial pribadi saya buat lingkungan sekitar dengan harapan besar semoga berguna juga buat anak-anak didik saya.

Tapi saya jadi ingat dulu saya pernah ikut les bahasa inggris gratis waktu sd. Les nya diadakan di masjid. Saya ikut karena saya memang suka bahasa inggris. Saya ingat gurunya waktu itu kami panggil Un, karena kebetulan dia memang dari Padang. Les nya tidak bertahan lama, karena si Uni sibuk. Tapi dalam waktu singkat itu, saya belajar banyak dan jadi semakin tertarik dengan beajar bahasa inggris. Saya hanya berharap semoga saya bisa jadi seperti Uni yang bisa memberi sedikit pencerahan buat anak-anak didik saya.

Kaitannya dengan mengajar, akhirnya kemarin saya kesempatan juga mengajar orang dewasa, bukan anak-anak. Ketika masih di Yogya, ada undangan mengajar dari UGM dan Atmajaya yang kemudian saya sambut dengan riang gembira.

Niat mengajar di kampus muncul ketika saya belajar di Melbern, Ada salah satu dosen saya yang masih muda, Stephanie namanya. Dia cantik dan cerdas sekali. Gayanya asik sekali di kelas. Dia pun sempat jadi pembimbing tesis saya, hingga akhirnya dia harus ambil cuti melahirkan. Bukan hanya Stephanie yang menginspirasi saya, ternyata banyak dosen-dosen di Monash university yang sebenarnya mantan wartawan. Ini fakta yang kemudian mendorong saya untuk mencoba mengajar di kampus.

Bapak saya sebenarnya dosen, tapi saya gak pernah kepikiran jadi dosen. Keinginan mengajar itu baru muncul ketika melihat sendiri dosen-dosen saya di Monash.

Tapi filosofi tentang mengajar yang asik menurut saya, saya temukan dari kelik yang dulu juga pernah mengajar animasi di beberapa tempat. Mengajar bukan hanya sebuah profesi, jadi orang yang serba tahu untuk orang-orang yang tidak tahu. Mengajar itu berbagi dan juga belajar lagi. Mengajar adalah sebuah profesi yang menuntut siapapun untuk terus belajar tanpa henti. Dan itu seru sekali, menurut saya.

Saya bersyukur bisa mengalaminya kemarin dalam lingkup yang lebih relevan dengan bidang saya jurnalisme. Saya sebenarnya cukup kecewa karena apa yang selama ini saya dapatkan di Monash belum mampu saya praktekkan di kantor saya sekarang. Tapi lewat pengalaman mengajar kemarin memungkinkan saya bisa membagi itu semua ke teman-teman di kelas. Lega rasanya dan entah mengapa saya merasa penuh kembali.

Advertisements

No Responses to “memberi untuk penuh kembali”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: