psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

refleksi 4 tahun menjadi ibu

Hari ini, tepatnya 4 tahun yang lalu, status saya berubah menjadi seorang ibu. Kehadiran bayi mungil manis bernama Senyum Pagi benar-benar mengubah hidup saya. Sampai detik ini saya masih belajar menjadi ibu yang baik buat dirinya. Dialah mentor saya saat ini, bukan sekadar jadi seorang ibu menurut saya tapi menjadi sosok individu yang lebih baik.

Saya masih jauh dari bayangan seorang ibu yang baik. Seringkali saya masih sering merasa emosian jika menghadapi sesuatu yang tidak berkenan di hati saya. Teori bilang, tidak baik membentak anak, tapi susah sekali untuk melakukannya. Saya akui saya ibu yang galak dan tidak segan-segan memperingati pagi dengan nada yang tinggi. Tapi seiring berjalannya waktu, saya mencoba berdialog dengannya, membuatnya mengerti tanpa emosi. Terkadang berhasil, terkadang tidak. Ah, kami pun sama-sama belajar.

Pagi adalah anak yang luar biasa. Saya tidak menyangka dia bisa menjadi seperti sekarang ini. Lincah, kreatif, berani terkadang badung, tapi menggemaskan.

Hobinya saat ini adalah menggambar. Setiap saat pasti menggambar. Gambarnya pun cukup bagus. Dia pun juga cukup kreatif membuat prakarya dari barang-barang bekas, seperti kardus susu, sereal, botol bekas, dll. Saya masih terheran-heran ketika dia menunjukkan setiap hasil karyanya kepada saya tanpa saya mengarahkannya.

Dia juga sosok yang lumayan pemberani. Tanpa ragu, dia selalu maju kedepan di sekolah minggu untuk menyanyi, meski terkadang dia juga tidak begitu hapal liriknya. Yang penting maju, pokoknya. Pernah suatu kali, untuk pertama kalinya dia mengajukan diri ke guru sekolah minggunya untuk menyanyi didepan, dan menyanyilah dia, dengan bahasa indonesianya yang terbata-bata. Entah mengapa, saya termewek-mewek menyaksikan peristiwa itu dari belakang.

Dia adalah partner diskusi yang keren. Kami sering berdialog tentang banyak hal, tentang apa cita-citanya, tentang apa itu cinta, dan masih banyak lainnya. Saya pikir bukan hanya dia yang belajar dari saya ,tapi saya pun banyak belajar dari dia.

Buktinya adalah dia jauh lebih religius dari kami orang tuanya saat ini. Setiap saat sebelum makan, dia selalu mengingatkan, “Pray first, keka, ayah!,” saya dan kelik pun cuma bisa tersenyum kecut, begitu juga waktu mau tidur dan bangun tidur, dia selalu meminta berdoa dulu. Cukup mengherankan, karena saya dan kelik kan gak gitu-gitu amat. Kami, terlebih saya, merasa cukup tertampar dengan peringatan dari si kecil, pagi.

Suatu saat kami pernah menonton film berdua. Film animasi yang keren sekali judulnya Song of The Sea, tentang seorang anak laki-laki yang kehilangan ibunya. TIba-tiba ditengah film, dia berujar, “I dont want to lose you, keka!” ooh such a heartbreaking moment. I was speechless when i heard it and all that i could do just hug her.

Saya memang bisa dibilang dekat sekali dengannya. Kemana-mana saya selalu dengannya. Setiap bangun pagi, orang yang pertama yang dicarinya adalah saya. Pernah beberapa saat, saya bangun pagi untuk jalan pagi di sekitar rumah dan meninggalkannya. dia pun menangis sejadi-jadinya karena tidak mendapatkan saya di tempat tidur.

Beruntung sekali, saya punya pekerjaan yang cukup fleksibel sehingga bisa bekerja dari rumah. Melihat cara bapak ibunya bekerja, pagi membuat kesimpulan bahwa bekerja itu yah dirumah saja. Pernah saya pamit mau pergi ke kantor, dia pun protes. Why do you have to go keka?, Why don’t you work at home with your computer? lalu ditutup dengan jurus pamungkasnya, “I will miss you!”

Pernah saya mencoba membawanya kekantor, toh karena banyak juga teman-teman saya yang membawa anak-anaknya ke kantor. Tapi memang tidak semudah yang saya bayangkan. Pagi itu lincah sekali dan tidak bisa diam. Antengnya cuma bertahan satu jam, selebihnya, dia bisa menari-nari di belakang saya, sambil menggoda saya atau menghampiri tempat duduk rekan kerja saya. Dia nampak menikmatinya, buktinya semangat sekali jika saya bilang mau kekantor, karena dia pasti mau ikut:))

Ah, Pagi, anakku, mentorku dan sahabatku tersayang. Selamat ulang tahun, terimakasih buat pengalaman 4 tahun yang luar biasa ini. Tumbuhlah menjadi pribadi yang kuat, tangguh, pemberani, kreatif dan optimis. Keka akan selalu berusaha terus disampingmu, bukan, bukan untuk membimbingmu atau mengajarimu, hanya untuk menemanimu karena keka percaya kamu pasti menemukan langkahmu sendiri. Dan ingat kita adalah sahabat. Bestfriends stick together, right?

Jpeg

I love you to the jupiter and back, my best of the best of the best of the best friend, Senyum Pagi

xoxo,

keka.

Advertisements

2 Responses to “refleksi 4 tahun menjadi ibu”

  1. Salam kenal 😀
    Tadi terdampar di sini waktu cari2 tulisan di blog org Indonesia ttg musical Wicked. Saya skr domisili n studi di Syd dan telat bangeeet tau ttg Wicked ini, padahal baru aja turnya di Aussie berakhir. Tapi gpp, sy jadi tau ada blog mb Ika ini, yg juga ternyata almamater Aussie. Terakhir, maafkan tulisan sy yg ejaannya ga ikut EYD ini 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: