psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Kembali pada-Nya

Setelah berusaha mengacuhkan Tuhan beberapa saat, akhirnya diri ini gak kuasa untuk kemudian kembali padanya.

Saya lupa kapan saya memutuskan kembali untuk dekat padaNya. Tapi saya kira anak saya Pagi memiliki andil besar dalam keputusan ini.

Saya bisa dibilang anak Tuhan jaman dulu sekali ketika saya masih sekolah. Saya rajin ke gereja, rajin membaca alkitab tiap hari dan rajin berdoa.

Begitu kuliah, sedikit-sedikit kepercayaan saya pada yang Maha Kuasa mulai terkikis oleh rasa kritis. Apa iya Tuhan ada, Apa iya perlu ke gereja, Apa iya perlu berdoa?

Beberapa saat saya terimbang-imbang oleh pertanyaan-pertanyaan yang sampai sekarang tidak bisa saya jawab.

Hingga setahun lalu, akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan kebiasaan untuk membaca alkitab dan berdoa setiap pagi.

Adakah perubahan? saya merasa tidak ada yang signifikan. Seringkali ketika saya merasa kangen, saya terkadang merapel bacaan alkitab saya.

Hingga awal tahun ini, saya merasa kerinduan yang membuncah. Saya pun ribut mencari buku renungan harian Daily Bread yang biasa saya pakai. Entah kenapa.

Mungkin saya merasa bahwa seberapa perkasa dan hebatnya saya, ada hal-hal yang begitu jauh di luar kuasa kita. Menjadi ibu satu anak, tingkat kekuatiran saya bertambah satu lagi karena saya juga memikirkan keselamatan buah hati saya. Begitu banyak pertanyaan, begitu banyak misteri yang saya rasa saya gak sanggup untuk menghadapinya sendirian.

Saya butuh seseorang. Seorang teman yang mendengar dan menenangkan saya. Saya ingat saya menemukan sosok itu di pagi hari yang tenang, sebelum saya memulai aktivitas.

Pagi sedikit banyak memantapkan saya untuk kembali padaNya. Seingat saya, kami — saya dan kelik- tidak pernah mengajarkan agama dengan sungguh-sungguh kepadanya. Hanya yang umum-umum saja.

Saya terkadang lupa berdoa sebelum makan, tapi saat ini sebelum kami makan, Pagi pasti selalu mengingatkan “Pray first, keka,” padahal seingat saya, kami baru mengajarkan dia sekali bagaimana kita harus bersyukur sebelum makan.

Begitu juga ketika hendak tidur dan bangun tidur, Pagi selalu mengingatkan kami.

Saya merasa bahwa anak saya yang belum lima tahun itu mengingatkan dan mengajari saya untuk selalu kembali padanya.

Saya dan kelik, jika sempat, berusaha untuk ke gereja. Sayangnya bukan untuk beribadah dan mendengar kotbah pendeta. Kami semangat ke gereja karena ingin mengantar Pagi ke sekolah minggu.

Dan tebak lagu favoritnya?

“Baca kitab suci, doa tiap hari, doa tiap hari, doa tiap hari…kalau mau tumbuh,”

Ah, Pagi.

terimakasih, Nak, sudah mengingatkan keka.

Advertisements

No Responses to “Kembali pada-Nya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: