psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Krisis hidup dini

Siapa sangka di umur yang belum mencapai 35 tahun ini saya mengalami krisis hidup (life crisis). Orang lebih mengenalnya dengan istilah mid-life crisis, tapi saya menolak menggunakannya. Saya optimis berumur panjang dan di usia segini ini belum lah mencapai separuh umur saya 🙂

Saya baru sadar bahwa saya mengalami krisis ini ketika saya ngobrol dengan sahabat saya Prodita. Awalnya saya pikir cuma galau-galau ibu hamil gak jelas, tapi ternyata teman saya itu mengalaminya juga. Jadilah kita ngobrolin, dan dia memberikan analisanya tentang yang namanya krisis hidup ini. Belakangan ngobrol dengan sahabat saya yang lain, Priska, dan dia mengakui dia mengalami hal yang sama.

Setelah menganalisa sana-sini, saya berkesimpulan semua bermula dari rasa tidak puas. Emang yah manusia kapan sih merasa puas? Contohnya kegalauan saya dipicu oleh keinginan melakukan sesuatu yang lebih baik. Terjemahan bebasnya sih bisa bervariasi, mulai dari dapat pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang lebih besar, punya proyek yang bisa bermanfaat buat orang lain, nerbitin buku sendiri, nyari beasiswa lagi dan masih banyak lainnya. Tapi kemudian saya sadar saya tidak memiliki begitu banyak keleluasaan dalam mewujudkan semua itu mengingat saya adalah seorang ibu yang juga ingin menghabiskan banyak waktu untuk buah hatinya, dan galaulah saya jadinya.

Iya krisis itu juga teridentifikasi dari kebingungan tentang apa yang inginkan. Saya sampai detik ini pun masih bingung dan belum bisa menentukan apa-apa. Kata odit, mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan membantu mengatasi krisis ini, karena kalau sudah tahu, kita tinggal menyusun strategi untuk mencapainya. Terkadang strategi itu bukan sesuatu yang mutlak, bisa saja dia adalah keseimbangan dari kondisi riil yang dihadapi seseorang. Contohnya kasus saya mungkin saya harus mencari pekerjaan atau proyek yang sesuai dengan keinginan saya tapi tidak mengorbankan kebersamaan dengan anak saya.

Masalahnya saat ini saya sengaja menunda-nunda mengatasi kegalauan saya ini. Saya memilih bersembunyi di balik kehamilan saya kedua dengan menunda-nunda hal-hal yang seharusnya saya lakukan untuk menjawab kegalauan tadi. Kalau hormon lagi gak beres, saya bisa nangis-nangis atau ngambek gak jelas gitu karena masalah sepele.

Tapi sebenarnya jika dipikir-pikir, saya sudah hampir mendapatkan semuanya saat ini, punya kerjaan asik dengan waktu yang sangat fleksible dan gaji yang lumayan. Demikian juga sahabat-sahabat saya itu. Yang satu punya kerjaan oke dengan gaji yang tinggi dan satunya lagi bahkan sudah menerbitkan novel…yang mungkin itu tadi, semua bermula dari rasa ketidakpuasan terhadap apa yang ada. Dan saya rasa ini bukan berarti juga bahwa kami tidak mensyukuri apa yang sudah kami miliki saat ini. Kami hanya ingin mendapatkan yang lebih baik. Harapan saya, semoga kegalauan ini bisa melahirkan sesuatu yang lebih baik, bukan hanya untuk saya sendiri, tapi juga keluarga dan orang-orang di sekeliling saya. Amiiin!

Advertisements

No Responses to “Krisis hidup dini”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: