psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Dia

Saya samar-samar mengingat pertemuan pertama kali saya dengannya. Meski kami sama-sama kuliah di universitas yang sama di yogyakarta, tapi kami di bulan Oktober di sebuah festival film independen di sebuah hotel berbintang di Jakarta. Saya kesana sebagai kurator untuk pertunjukan film di yogya, yang kebetulan juga membintangi sebuah film yang dinominasikan di festival tersebut (ehem, saya sebenarnya enggan sekali membicarakannya, tapi ya sudahlah) sedangkan dirinya adalah salah satu peserta yang juga mendapat nominasi di festival tersebut.

Katanya dia melihat saya pertama kali di layar. Iya dia menonton film dimana saya menjadi pemeran utamanya. Untung saja, waktu itu saya belum datang, kalau sudah pasti malu sekali saya. Saat menonton filmnya, dia katanya membatin, “iki mbak e, piye tho..,” hahaha…kalau kalian nonton filmnya, pasti akan berkomentar hal yang sama…Setelahnya, kata dia, teman-teman film komunitas yogya mengenalkannya, waktu kami sama-sama nongkrong di depan venue pemutaran. Dia bilang, sutradara film saya mengenalkannya pada saya. Jujur saya sama sekali tidak mengingat perkenalan itu. Saya mengingatnya jelas sebagai salah satu peserta yang filmnya menang telak di festival itu. Dia menarik perhatian saya ketika dia mengganti kaosnya menjadi kemeja batik sesaat sebelum naik ke podium untuk menerima penghargaan dari Garin Nugroho. Kupikir, kocak juga anak ini.

Lalu pertemuan kami berikutnya pun berputar masalah film. Karena filmnya menjadi salah satu pemenang di festival itu, saya pun memilihnya sebagai salah satu film yang akan diputar di pemutaran film di yogyakarta. Saya pun mengontak dia untuk meminta filmnya. Pertemuan selanjutnya saya ingat di kampusnya. Waktu itu mau ada wisuda di kampusnya, saya datang bersama teman saya untuk menagih film yang dia janjikan. Saya ingat disuguhi fanta merah, sementara kami bertukar nomor untuk korespondensi selanjutnya.

Setelah itu, pertemuan-pertemuan kami selanjutnya pun masih seputar film. Namaku, di daftar buku telpon di HPnya tercatat, Ika Rumah Sinema, organisasi yang aku bantu ketika itu.

Pertemuan kami semakin intens, ketika kami sama-sama terlibat dalam pembuatan film Four Colors Film lainnya. Fiuh, untungnya saya tidak lagi bertindak sebagai pemain, tapi hanya sebagai kru, sama seperti dirinya. Kami menjadi sering bersama, karena saya harus membonceng dirinya untuk datang ke lokasi syuting di Kaliurang. Kami pun menjadi semakin dekat lewat pembicaraan di atas roda dua antara Klitren Lor dan Kaliurang.

Setelah itu, dirinya berusaha membangun hubungan personal lewat cara lain. Dia datang suatu pagi kerumah mbah saya, meminta saya menemaninya untuk mencari anjing peliharaan di Ngasem. Saya yang suka anjing, pun langsung mengiyakan. Waktu itu saya juga punya anjing yang saya beri nama Spooky, dan kebetulan memang galak sekali, dan pernah menggigit tangannya. Tapi itu tidak membuatnya kapok ternyata. Kami pun pergi ke Ngasem dan bertemu Badud, anjing kampung yang akhirnya dipilihnya. Dia mengakui belakangan, bahwa membawa saya ke Ngasem adalah triknya mendekati saya. Dan itu memang berhasil, kami semalin dekat lewat badud. Seringkali dia menitipkan badud ke rumah, ketika dia harus keluar kota.

Setelah itu kunjungannya ke rumah menjadi semakin rutin. Hampir setiap pagi datang kerumah. Bahkan terkadang dua kali dalam sehari bisa mampir. Sosoknya yang santai dan kocak membuat saya nyaman. Dari semua lelaki yang saya kenal, dia yang paling konsisten dan persisten membangun relasi dengan saya. Dia nampak tidak peduli dengan lelaki-lelaki disekitar saya. Kunjungannya dan sapaan pagi hari darinya tetap rutin dan intens. Saat-saat itulah, dia bilang, dia merubah nama saya di daftar telpon di hpnya dari Ika Rumah Sinema menjadi Senyum Pagi. Salah satu prestasi lainnya, dia adalah lelaki pertama yang main kerumah dan bertemu dengan bapak saya yang galak itu di Jakarta. Sebelumnya tidak pernah ada lelaki yang seberani itu.

Tapi saya butuh lama untuk kemudian benar-benar yakin padanya. Mulai dari awal bertemu tahun 2002, kami baru “jadian” pada 24 augustus 2004, hanya beberapa hari setelah wisuda. Hari itu juga, saya harus kembali ke Jakarta untuk menghadiri wawancara kerja. Saya mengingat perpisahan mengharu-biru kami di stasiun tugu. Kami pun beberapa tahun menjadi hubungan jarak jauh. Sering kali saya ingin menyerah, tapi selalu dia yang memberi semangat untuk bertahan hingga akhirnya diapun memutuskan hijrah ke jakarta kemudian, meninggalkan kota nyamannya di Yogya, membangun karir dari nol.

Singkat kata, tiga tahun kemudian kami pun sepakat mengikat janji di candi boko tepat di ulang tahun saya ke-26. Keputusan saya menikah, banyak membuat teman-teman saya terkejut yang memperkirakan bahwa saya yang paling lama menemukan jodoh.Tapi,  lima tahun bukan waktu yang sedikit untuk menyakinkan saya untuk mencoba membangun rumah tangga dengan dia, pikir saya.

7-12-2015. Delapan tahun sudah saya menikahinya. Saya mulainya mengenalnya sebagai animator yang handal, pembuat animasi keren dan menghibur. Seiring waktu dia berubah menjadi figur yang kocak menghibur dan juga penyayang. Tapi delapan tahun hidup bersamanya, saya mengetahui bahwa dia tidak hanya mencari nafkah tapi  dia juga juru masak yang hebat, supir yang bisa diandalkan, partner hidup yang selalu mendukung saya, ayah yang luar biasa buat anak-anak kami, juga penjahit yang oke, salah satu buah karyanya adalah kelambu di kamar tidur kami. Saya ingat saya pernah ditanyai seorang pemilik toko bunga di Clayton, Melbourne yang keheranan dengan tingkahnya. Dia pelanggan tetapnya, setiap bulan selalu membeli bunga buat saya. Tidak hanya itu, tukang bunga itu juga sering melihat dia mengurus cucian di tempat laundry disebelah tokonya terkadang sambil membawa Pagi. “What did you do to him?” dia bertanya yang saya jawab hanya dengan tawa.

Belakangan saya dikejutkan dengan keterampilan lainnya. Dia berhasil membuat kebun sayuran di rumah kami. Tidak hanya itu, dia juga berhasil membuat tempat tidur bayi buat anak kedua kami. Saya pun sampai heran dan ketakutan sekaligus dibuatnya, apa yang tidak bisa dilakukannya?

Saya selalu kuatir bahwa dengan bertambah usia pernikahan, maka kejenuhan akan menyerang. Tapi saya sadari bahwa ini tidak akan terjadi dengan dirinya yang selalu mengejutkan saya dengan kejutan-kejutan kecilnya.

Happy anniversary, Kelik Wicaksono and yes i love you to infinity and beyond too…

IMG-20151127-WA0002

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 Responses to “Dia”

  1. Maaaasssssss Keeellliiikkkkkk……


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: