psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Mengingat 1965

INGAT65-compact-tag-blue

 

Kemarin setelah sekian lama, akhirnya saya kembali lagi ke lapangan. Liputan sebuah pemutaran film yang kabarnya diancam ormas tertentu (saya sengaja tidak mencantumkan namanya karena saya tidak ingin mereka dapat promosi gratis).

Selain urusan kantor, saya datang dengan misi khusus. Berbulan-bulan belakangan, saya sedang menyiapkan sebuah gerakan bersama teman-teman. Gerakan ini kami sebut Ingat1965. Pencetusnya adalah sahabat saya sendiri Prodita Sabarini. Melalui gerakan ini, kami ingin mengajak teman-teman generasi muda untuk menceritakan kembali peristiwa 1965 dari kacamata mereka, melalui pengalaman keluarga dan orang-orang terdekat. Harapannya, kami bisa berbuat sesuatu buat proses rekonsiliasi yang sedang macet ini.

Saat ini, kami sudah mengumpulkan banyak dukungan termasuk dari sutradara Joshua Oppenheimer. Tapi kami masih membutuhkan banyak lagi dukungan. Untuk itulah, saya pergi ke acara pemutaran film Pulau Buru: Tanah Air Beta di kantor Komnasham di Menteng Rabu lalu.

Sampai disana, gedung penuh dengan orang-orang. Saya pun bertemu teman-teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Rika dan Salma salah dua diantaranya. Senang sekali. Saya pun berkesempatan merasakan nostalgia liputan dengan banyak wartawan-wartawan lainnya. Maklum, jadi wartawan features membuat saya terkadang harus solo reporting tergantung topik yang sedang digarap.

Film Rahung Nasution sendiri cocok dengan semangat Ingat65 yang memang ditujukan untuk anak muda. Saya dan Odit sengaja kesana untuk mengajak Rahung dan teman-temannya untuk bergabung dengan kami.

Begitu lampu dimatikan dan pemutaran dimulai, saya pun begitu terbawa dengan alur film. Kakek saya sendiri adalah korban tragedi 1965 yang saya baru ketahui tahun lalu. Film itu bercerita tentang seorang anak muda, Ken, yang diajak bapaknya berziarah ke pulau Buru. Sontak, dari awal saya mengucurkan air mata. Saya sedih melihat bagaiman Ken bisa mendengar penderitaan dan perjuangan ayahnya selama menjadi tapol di pulau Buru secara langsung karena saya merasa dirinya sangat beruntung, sedangkan saya tidak bisa mendapatkan kesempatan indah itu.  Kakek saya sudah lama meninggal sebelum saya lahir. Menyadari hal itu, tak henti-hentinya saya menangis selama film diputar. Begitu film selesai, saya pun sempat tak sanggup melakukan wawancara, karena terbawa emosi.

Setelah melakukan pekerjaan saya, saya pun mulai mendekati Rahung dan teman-temannya dan bercerita tentang gerakan kami ini. Mereka begitu antusias mendengarnya dan mengatakan akan mendukung juga. Senang sekali rasanya ketika banyak orang mendukung apa yang kita bangun. Kami rencananya akan meluncurkan gerakan ini tanggal 24 nanti.

Semoga kedepannya, Ingat65 semakin maju dan didukung banyak orang sehingga bisa mencapai cita-cita luhurnya.

Tengok websitenya di https://medium.com/ingat-65

dan follow kami di https://www.facebook.com/ingat65/ dan https://twitter.com/ingat65

 

 

 

 

 

Advertisements

No Responses to “Mengingat 1965”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: