psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

antara karir dan anak-anak

Para suatu masa, saya pernah berencana untuk mengundurkan diri ketika anak kedua lahir. Rencana tinggal rencana, sampai anak kedua berumur hampir setahun, saya belum juga minggat dari kantor.

Saya memang sangat mencintai profesi saya ini, tapi selain itu saya juga menyadari bahwa saya bukan ibu rumah tangga yang baik. 

Saya pernah mencoba simulasi untuk mencoba apakah saya bisa mengabdikan diri ini sepenuhnya kepada anak-anak, dekat dengan mereka selama 24 jam?

Untuk simulasi ini, saya mengambil cuti 10 hari untuk total mengasuh anak sendirian tanpa dibantu teteh.Dan hasilnya? gagal total. Saya tidak bisa menikmatinya (atau belum bisa yah). Saya merasa kelelahan, padahal ada si suami yang membantu. Rasa capek yang saya derita, beda dengan yang saya rasa ketika kerja sampai larut malam atau lari 10 km. Capek yang saya rasa terasa hampa, tidak ada kemenangan disana.

Aaah, saya memang bukan ibu yang baik, yang lebih menikmati kerja kantoran daripada bersama anak-anak meski seringkali rasa bersalah menyusup tiba-tiba ketika terlalu sibuk bekerja.

Aah, menjadi ibu itu berat, dan mengalaminya kedua kalinya bukan jaminan kita jadi ahlinya.

Satu hal yang pasti, saya mungkin bukan ibu yang baik tapi saya yakin saya mencintai anak-anak saya sepenuh hati

Advertisements

No Responses to “antara karir dan anak-anak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: