psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Misi Asi dari London

Perjalanan ke Inggris kali ini lebih bikin saya deg-degan ketimbang delapan tahun yang lalu. Kali ini saya membawa misi yang tidak mudah sebagai seorang ibu yang masih menyusui. Tulisan kali ini berusaha membagi suka duka perjuangan ibu menyusui yang terpisah lebih dari 10,000 km dari anaknya.

Sebelum saya mengiyakan tawaran tugas ini, saya berkonsultasi dengan suami saya, mengingat status saya yang masih menyusui Nyala. Untung sang suami sangat mendukung dan menganjurkan saya menerima tawaran tersebut.

Langkah saya selanjutnya adalah, saya langsung memberi tahu pihak pengundang kondisi saya dan meminta mereka untuk memberi fasilitas yang dibutuhkan karena saya butuh waktu, alat dan tempat untuk memastikan saya bisa tetap memompa. Untungnya mereka bisa memahami itu dan mengatakan sudah berkoordinasi dengan hotel dan penyelenggara acara untuk mengakomodir kebutuhan saya.

Saya akan pergi selama 9 hari, termasuk 2 hari perjalanan. Saya akan mengunjungi 2 kota Birmingham dan London dan tinggal di 2 hotel yang berbeda di kedua kota tersebut. Menurut jadwal, saya akan hadir di sebuah acara seminar di Birmingham, sebelum akhirnya nanti pergi London untuk menghadiri fellowship dan kunjungan ke beberapa tempat.

Sebelum berangkat, saya sudah menyiapkan beberapa hal seperti pompa, tas pompa, plastik penyimpan, cover sehingga bisa memompa dimana saja dan kapan saja, ice cooler, dan juga banyak ice gel pack.

Anak saya hampir berusia satu tahun sebelum saya berangkat, dan produksi asi saya tidak sebanyak sebelumnya. Jadi saya harus terus memompa supaya menjaga produksi ASI tetap banyak.

Setelah alat dan urusan hotel beres, kekuatiran selanjutnya adalah membawa asi-asi yang sudah saya perah kembali ke Indonesia. Fiuuuh…ini lumayan PR sih.

Dari awal, saya sudah merencanakan bahwa saya hanya akan menyimpan asi di hari ke-3 saya pergi mengingat wadah ice cooler yang terbatas. Jadi waktu berangkat, saya menerapkan sistem pump and dump. Hari ke-3, saya mulai menyetok ASI. Sayangnya,  kulkas di hotel di Birmingham tidak cukup dingin. Akhirnya saya harus membuang satu bungkus asi karena sudah bau. Selanjutnya, saya meminta pihak resepsionis untuk menyimpan asi di kulkas mereka di dapur yang mereka punya.

Hari ke-4, kami pindah ke London. Karena belum banyak kantong asi yang didapat, saya belum menggunakan ice cooler. Saya bawa saja mereka di tas pompa yang saya punya plus ice gel pack nya. Meski seharian bepergian, sesampainya di London, asi masih dingin dan aman.

Berbeda dengan yang di Birmingham, di hotel yang di London, saya dikirim kulkas langsung ke kamar saya. Wow, senang banget karena artinya saya bisa leluasa menyimpan asi-asi saya tanpa perlu mondar-mondir ke resepsionis.

Selama mondar-mandir kesana-kemari, menghadiri seminar dan tempat-tempat yang berbeda-beda, saya usahakan setiap 4 jam sekali untuk memompa. Teratur memompa penting sekali untuk menjaga produksi ASI tetap lancar. Tantangannya memang saya harus berhadapan dengan bermacam kondisi yang  mengharuskan saya memompa dimana saja dan kapan saja. Untung ada alat penutup yang menolong saya, ketika ruangan khusus yang saya minta terkadang tidak saya jumpai, apalagi kalau dalam perjalanan. Cuek bebek adalah senjata saya. My baby must get her milk! Jadi saya memompa di dalam bis, di bangku paling belakang di seminar, di meja ruang tunggu pameran, dan lain-lain.

Tantangan selanjutnya adalah membawa perahan ASI itu kembali ke Indonesia. Untuk itu,  ada beberapa hal yang diperlukan. Pertama, pastikan peraturan maskapai penerbangan dan kedua peraturan keamanan bandara.

Saya kebetulan naik Singapore Airlines. Dari website, seharusnya tidak apa-apa membawa asi didalam kabin dan bahkan bisa menitipkan jika dan hanya jika ruangnya memungkinkan. Tapi saran saya, telpon saja pihak maskapainya untuk memastikan. Sayangnya, ketika ditelpon staff kurang membantu. Intinya, semua peraturan di website entah kenapa dipatahkan oleh mas-mas yang saya hubungi.

Akhirnya saya konsultasi ke teman yang pernah mengalami hal yang sama. Ketika dipesawat, dia menyarankan untuk meminta ice cubes saja ke pramugarinya untuk menjaga asi yang kita pompa tetap dingin. Saya hanya menyiapkan plastik-plastik kecil untuk wadah ice cubes saja,

Masalah lainnya adalah, kedua bandara yang saya kunjungi cukup ketat masalah cairan. Aturan maksimal 100 ml cairan benar-benar tidak bisa ditawar baik di Heatrow, London dan Changi, Singapore. Untuk ASI bisa lebih, jika ada anak yang dibawa. Tapi saya kan tidak membawa anak saya.

Dalam perjalanan kembali ke Indonesia, saya memang belum membawa ASI. Semua stock ASI yang sudah saya hasilkan selama perjalanan sudah saya simpan di bagasi saya di dalam ice cooler karena aturan cairan yang ketat itu. Sebelum memasukkan ke koper,  saya masukkan ice cooler nya ke dalam plastik hitam besar supaya tidak basah. Saya bismillah saja semoga, semuanya bisa dalam kondisi prima setelah 17 jam perjalanan.

Tantangan berikutnya adalah membawa ASI yang saya hasilkan dari pesawat yang membawa saya dari Heatrow ke Singapore ke pesawat berikut yang membawa saya dari Singapore ke Jakarta.

Well, karena satu orang hanya dijatah 100 ml. Saya pun sudah bersiap-siap meminta rekan satu pesawat untuk membawakan kantong lainnya. Tapi ternyata pihak keamanan cukup pengertian, ketika saya menunjukkan kantong-kantong ASI, mereka hanya meminta saya menyerahkan tas asi saya dan memeriksanya lebih teliti lagi karena tidak melalui xray.

Aah sampe juga di Jakarta. Deg-degan selanjutnya adalah melihat reaksi Nyala setelah tidak melihat ibunya 9 hari. Teman saya punya pengalaman anaknya mendadak mogok nenen sehabis ditinggal tugas keluar selama beberapa hari. Fiuuh, saya pun ikutan cemas.

Begitu melihat Nyala, saya pun langsung menggendongnya. Nampaknya dia sedikit lupa buktinya dia menghindari tatap muka ketika saya menggendongnya. Tak lama, saya cari tempat duduk dan mencoba menyusuinya, dan puji Tuhan dia langsung mau..

Senangnya lagi, ketika koper dibuka dirumah. Stock asi aman. Selama perjalanan saya hanya membawa 2 plastik dalam kondisi beku sedangkan lainnya masih cair. Nah, hanya satu dari dua yang beku itu yang benar-benar sudah mencair, dan artinya harus segera dikonsumsi. Sedangkan yang lainnya aman dan bisa langsung masuk freezer.

Puji Tuhan..misi ASI yang sukses.

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

No Responses to “Misi Asi dari London”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: