psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Mengajar itu candu

Jpeg

Karena otak masih mampet untuk nulis kerjaan kantor, mari kita tetap produktif dengan menulis blog…:)

Kali ini saya mau cerita pekerjaan anyar saya yang baru saya jalani sebulan ini. Tepat tanggal 9 Februari saya mengajar di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Posisi saya masih dosen part time karena saya masih bekerja di kantor lama. Saya mengajar kelas English for Journalism dan saya kebagian mengampu 2 kelas di hari kamis.

Perjalananan saya mendapatkan pekerjaan ini cukup panjang. Selulus saya dari Australia, memang ada niatan untuk mengajar di kampus.

Saya ingin mengajar karena saya menikmati pekerjaan ini. Menurut saya, mengajar itu bukan hanya membagikan ilmu kepada orang lain, tapi juga memberikan kesempatan kepada saya untuk terus belajar.

Sepulang dari Melbourne, Australia, saya sudah mengajar di almameter saya tercinta, UGM dan universitas Atmajaya Yogyakarta. Tapi saya ingin menjalani profesi ini lebih serius, maka ketika mengetahui UMN buka lowongan dosen tetap, saya pun segera melamar.

Tapi ternyata proses sampai saya dipanggil untuk wawancara itu lama sekali. Saya sampai menelepon memastikan pihak HRD nasih lamaran saya. Mereka bilang, mereka akan memanggil begitu ada kebutuhan dari  pihak jurusan. Nah loh…saya sempat menitipkan lamaran saya pada teman yang juga bekerja disana, tapi tidak ada hasilnya pula.

Hingga suatu masa, saya mendapat email dari pihak HRD UMN yang mengatakan saya diminta untuk datang dan melakukan simulasi mengajar (micro teaching).  Tak disangka, selesai presentasi, saya pun langsung ditanyakan bisa mengajar hari apa untuk kelas English for Journalism. Aiih, senangnya…

Saya mengajar setiap hari Kamis dari jam 8 pagi sampai jam 2. Saya mengajar dua kelas. Satu kelas berisi 36 anak yang bentuk dan rupanya beraneka macam. Sejauh ini, saya menikmati diskusi di kelas saya. Anak-anaknya cukup aktif dan kritis. Melihat mereka cukup membuat semangat, mengingatkan saya waktu awal-awal menjadi wartawan.

Akalnya pun macam-macam, di kelas minggu kemarin, saya pun terpaksa mengeluarkan seorang anak karena dia main HP terus, padahal saya sudah katakan dari awal bahwa penggunaan HP dilarang di kelas, kecuali memang disuruh.

Bahasa pengantar kelas saya bahasa Inggris, itu berdasarkan saya dan murid-murid. Mereka cukup memahami bahwa kelas ini butuh menggunakan bahasa ingris secara optimal, jadi setiap pembicaraaan di kelas pun harus pakai bahasa Inggris. Meski kadang-kadang pun masih campur-campur. Tapi saya sangat menghargai murid-murid dengan keterbatasan bahasa Inggris mereka tetap mengacungkan tangannya dan mengungkapkan pendapatnya.

 

Saya selalu mendorong mereka untuk tidak sungkan melakukan kesalahan karena dari sana kita bisa belajar bukan?

Aaah…rutinitas mengajar setiap kamis ini memang cukup melelahkan. Badan rasanya rontok setiap habis mengajar langsung dua kelas. Dari segi materiil pun tidak terlalu banyak yang saya dapat, lumayan lah untuk ukuran sebuah universitas baru.  Tapi semua capek dan hal-hal material itu terbayar dengan rasa puas saya melihat anak-anak di kelas begitu semangat belajar.

Lewat pekerjaan baru ini saya diingatkan bahwa materi mungkin bukan satu-satunya yang penting dalam sebuah pekerjaan karena kepuasan dan keberadaan ruang untuk terus tumbuh dan belajar dalam sebuah pekerjaan adalah sesuatu yang tidak bisa dinilai harganya. 

 

 

Advertisements

No Responses to “Mengajar itu candu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: