psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

menciptakan keabadian

Menulis adalah bekerja untuk keabadian, kata pak Pramoedya. Kalimat itu menjadi salah satu penyemangat saya di masa awal saya menjadi wartawan. Menghadapi garis kematian setiap hari dengan topik yang loncat dari sana ke sini dan itu-itu saja sedangkan harus mengikuti kemana pun narasumber pergi jujur saja membuat badan dan jiwa ini super capek. Selain kalimat pak Pramoedya, harapan bahwa pekerjaan ini bermanfaat buat orang lain adalah hal-hal yang tetap membuat saya semangat, terlepas itu benar atau tidak yah.

Pelarian saya ditengah-tengah ritual menulis untuk koran adalah blog ini. Ini adalah ruang bermain dan tempat sampah saya untuk mengomentari segala sesuatu. Mulai dari patah hati, kejengkelan dengan pemerintah sampai cerita-cerita gak penting lainnya. Hitung-hitung latihan untuk jadi seorang kolumnis yang merupakan salah satu cita-cita saya ketika jadi wartawan. Iyah jujur, saya terinspirasi mbak Carrie Bradshaw, salah satu tokoh di Sex and the City. Melihat hidupnya kok sepertinya enak sekali, jalan-jalan, ngobrol sama teman-temannya, lalu menulis apa saja yang dia diinginkan dan dibayar untuk itu. Siapa yang gak pengin.

Oleh karena itu, saya senang sekali ketika salah satu editor menawari saya untuk menulis di kolom parenting JPlus (majalah The Jakarta Post) yang terbit sebulan sekali di tahun 2016. Ide tulisan bebas terserah saya, tapi saya sering berdiskusi dulu dengan editor sebelum akhirnya mengeksekusi tulisannya. Wow, setiap edisi saya pasti menulisnya dengan sepenuh hati dan sebelum mengirimkan ke editor, saya pasti meminta Kelik untuk membacanya terlebih dahulu untuk mengomentarinya, meskipun hampir dipastikan dia selalu memuji tulisan saya…hehehe.

Tapi sayang karena penerbitan JPlus dihentikan, hilang deh kolom saya satu-satunya. Sebagai seorang penulis, saya merasa ruang bermain saya hilang. Duh…untungnya ada tempat-tempat lain yang lebih menantang. Yang pertama adalah kolom By The Way, sebuah kolom prestigius The Jakarta Post yang terbit di setiap Sabtu. Sewaktu saya masih wartawan culun, saya adalah penikmat By The Way setia. Semua tulisan menarik dari yang lucu, seru, berat jadi satu. Senang sekali waktu akhirnya pertama kali bisa nulis di By The Way. Saya menulis tentang curhat saya setelah mengetahui bahwa kakek saya adalah salah satu korban peristiwa 1965. Setelah tulisan itu muncul, orang-orang kantor banyak yang mengomentari ketika mereka bertemu saya. Ada yang memuji, ada yang menyatakan keprihatinan, ada yang hanya sekadar mengklarifisi kebenaran. Entah apa pun reaksinya, saya senang mengetahui, tulisan saya dibaca orang, meski hanya orang satu kantor.

Tulisan saya kedua di By The Way cukup jauh jaraknya. Disamping sibuk, saya juga sebenarnya menyiapkan topik yang tidak gampang, saya mau membahas kematian. Aargh, saya sempat berdialog dengan teman-teman terdekat sebelum akhirnya menyelesaikan tulisannya. Dan begitu lega perasaan ini ketika tulisan itu muncul.

Di tulisan saya yang ketiga, saya berbagi cerita tentang keputusan saya untuk berhenti dari Facebook. Lucunya, ketika saya menghampiri meja sekretaris redaksi keesokan seninnya, dia langung bilang bahwa dia memutuskan menghapus Facebook dari HPnya setelah membaca tulisan saya. Hahaha…saya hanya bisa tertawa.

IMG_20170512_094610

Lalu selain By The Way, ada satu lagi tempat bermain yang lebih menantang jika ingin jadi kolumnis. Namanya commentary dan view point. Itu sudah kelas berat dan biasanya ditaruh di halaman headlines. Dahulu yang mengisinya hanya editor-editor kelas kakap di The Jakarta Post. Namun karena alasan regenerasi, mereka pun mengundang editor-editor baru yang culun semacam saya untuk mengisi kolom ini. Tulisan perdana saya waktu itu masih kurang analitik dan rada baper mengomentari Jokowi yang membuat saya patah hati karena gagal memenuhi janjinya untuk menyelesaikan kasus-kasus HAM. Ternyata banyak yang suka, bahkan saya pernah diberi info kalau Martin Aleida bahkan memujinya. Aaah jadi super GR saya.

Setelah itu saya berusaha mengikuti format commentary yang sebenarnya untuk tulisan-tulisan commentary berikutnya. Saya berkomentar tentang jalannya persidangan Jessica lalu setelah itu saya berkomentar tentang hoaks. Saya kurang tahu gimana sebenarnya pendapat pembaca karena sekarang The Jakarta Post sudah memasang pay wall untuk beberapa konten premium. Tapi yang jelas, mas Endy, pemimpin redaksi menyukainya dan selalu memuji.

Lalu kemarin tiba-tiba, editor opini meminta saya menulis suatu topik. Wow, ini baru pertama kalinya saya dapat pesanan seperti ini. Setelah beberapa minggu menggodoknya, akhirnya saya menyelesaikan jumat lalu dan akan terbit senin ini. Fiuh, saya masih kurang puas dengan apa yang saya tulis sih, tapi saya harus menyerahkannya karena sudah terlalu lama. Mungkin ini akibatnya kalau idenya gak dapat dari hati sendiri.

Lalu kemudian kesempatan menulis di Kompas datang. Saya ingat pertama kali saya menulis untuk Kompas adalah untuk sebuah kolom anak muda. Saya menulis tentang tren animasi Indonesia dan saya mewawancarai calon suami saya sendiri waktu itu hehehehe. Saya pun menawarkan diri untuk menghidupkan kolom parenting saya yang tewas dan teman saya yang menawarinya pun setuju. Jadilah kolom saya tentang pengalaman nonton Coldplay di Singapura kemarin itu.  Senangnya bisa menulis dengan bahasa ibu dan mengetahui kemungkinan akan dibaca oleh banyak orang. Saya belum menulis lagi di kompas karena saya berjanji saya harus memenuhi kewajiban saya dulu di kantor sebelum menulis untuk media lain.

IMG_20170514_204213

Lewat ruang-ruang bermain ini saya mencoba menikmati sepenuhnya pekerjaan saya ini. Meski pusingnya melebihi deadline yang bertubi-tubi, tapi kenikmatan begitu melihat tulisan saya diterbitkan tak terkira menyadari bahwa buah pikir saya akan dibaca banyak orang. Aah, ini rasanya mencicipi keabadian?

Advertisements

No Responses to “menciptakan keabadian”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: