psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Sampai di Narita lalu ke Kyoto

Narita

Rombongan odong-odong berangkat pagi hari dari Jakarta dan sampai sore di bandara Narita. Narita itu sekitar 1.5 jam dari Tokyo. Semua lancar, cuma Nyala saja yang menangis tanpa henti selama kurang lebih 30 menit (yes mommy is counting) ketika ingin mendarat. Ah untung penumpang yang lain pengertian.

Sesampainya disana, saya dan anak-anak menunggu Kelik melakukan banyak hal. Mengaktifkan sim card pake data yang dibeli di Indonesia (ketimbang menyewa pocket wifi, ini lebih recommended untuk dipakai. Meski banyak wifi, kami tetap menggunakan ini untuk memastikan semua perjalanan lancar meski mblusuk2 dan tidak nyasar mengingat repotnya bawa anak-anak), lalu menukar JR Pass (kami memutuskan membeli ini karena menurut kami ini moda transportasi yang nyaman dan murah untuk perjalanan kami kali ini) lalu menukar recehan dollar ke yen.

IMG_20170515_173749

Akhirnya sampai. Pagi dan Nyala pun senang, apalagi bapak ibunya 

Setelah semua selesai, kami pun menghubungi pak Osamu tuan rumah yang akan kami kunjungi. Dia janji akan menjemput kami. Kami memutuskan untuk menginap di Narita saja untuk beristirahat setelah seharian dalam pesawat.

IMG_20170515_185351

Rumah nyaman di Narita

IMG_20170516_095911

tempat tinggal kami semalam

Kelik memilih rumah pak Osamu karena cantik dan unik. Rumahnya terbuat dari balok kayu dan dia ternyata seorang arsitek. Tempat tinggalnya mengingatnya seperti daerah pinggiran Melbourne. Sepi dan rumahnya cantik-cantik. Yang saya perhatikan bangunan rumah di Jepang itu desainnya sangat presisi. Semuanya simetris dan rapi. Enak dilihat pokoknya.

Malam itu kami beristirahat. Makan malamnya kami order dari restoran terdekat yang rasanya lumayan tapi gak cukup nendang. Malam itu kami tidur nyenyak. Esoknya, kami sarapan super mewah di rumah dan pak Osamu sendiri yang menyiapkannya. Luar biasa. Setelah itu kami berjalan-jalan di sekitar taman sampai saatnya check out. Kami sempat mampir ke playground terdekat, tapi saya kaget karena tidak begitu terawat yah. Dan tidak senyaman, playground yang saya temui di Australia. Dan ternyata memang susah mencari playground yang okay di Jepang, kalaupun ada dan bagus, itu harus bayar.

IMG_20170516_085939

IMG_20170516_092908

IMG_20170516_092345

IMG_20170516_093351

 

Setelah puas, kami pun kembali ke rumah dan siap melanjutkan perjalanan berikutnya.

Kyoto

Pertama kali kami menggunakan JR Pass. Cukup membingungkan. Setelah tanya sana sini akhirnya kami tahu untuk shinkansen, kami tetap harus antri untuk mendapatkan tiket, meskipun tidak harus bayar. Sedangkan untuk kereta metro, kami hanya perlu menunjukkan JR Pass kami ke petugas yang jaga.

IMG_20170516_102848.jpg

Bingung di stasiun kereta 

Untuk perjalanan pertama kami, saya membeli bento yang bisa kami makan dalam kereta karena perjalanan lumayan lama sekitar 4 jam untuk sampai Kyoto. Bentuknya cantik dan rasanya lumayan okay.

Naik kereta api cepat, saya sih merasa biasa saja. Namun Kelik bilang rasanya beda merujuk pada pemandangan dari jendela yang bergerak lebih cepat.  Saya sih mengangguk-angguk saja. Habis didalamnya, saya merasa enggak ada yang beda yah.

IMG_20170516_122609_HDR

IMG_20170516_131517_HDR

JR Pass kami hanya dua, karena Pagi masih gratis. Tapi jadinya empet-empetan juga yah karena Pagi sudah besar. Jadi kami berusaha mencari kursi yang tidak ditempati sehingga bisa tetap leluasa. Kondekturnya bilang kami boleh bebas duduk tapi jika ada pemilik kursi datang, kami harus pindah. Ya okay lah demi penghematan.

IMG_20170516_152456_HDR

Sesampainya di Kyoto kami harus melanjutkan kereta lagi ke Seta, tujuan akhir kami. Jaraknya lima stasiun dari Kyoto. Seta adalah kota tempat teman kuliah Kelik, mbak Sinta dan keluarganya tinggal. Sebenarnya cara paling hemat jalan-jalan yah numpang rumah teman, tentunya jika temannya tidak berkeberatan. Mbak Sinta dan suaminya, mas Bayu baik hati mau menjadi tuan rumah kami selama 8 hari. Rencananya selama tinggal disana, kami akan jalan-jalan ke Kyoto dan Osaka. Ini kenapa JR Pass adalah pilihan paling murah bagi kami karena paling efektif digunakan bagi mereka yang travelling antar kota setiap hari.

Tapi sebagai tamu yang baik, kami pun membawakan segala macam oleh-oleh buat mbak Sinta dan keluarga. Mulai dari Gudeg, rendang dan banyak lainnya. Kami tahu rasanya tinggal lama di luar negeri dan rasa kangen dengan masakan dalam negeri karena pernah juga mengalaminya. Jadi senang banget jika ada teman yang menginap membawakan oleh-oleh segala rupa yang tidak bisa didapati di perantauan. Untungnya imigrasi Jepang tidak begitu ribet, kami bisa langsung melenggang dengan bawaan kami keluar airport. Upeti semacam ini menurut saya sih penting, meski mereka tidak meminta tapi kita sebagai tamu yang merepotkan sebaiknya tahu diri lah 🙂

IMG_20170516_171543_HDR

Untuk postingan berikutnya, saya akan menceritakan tempat-tempat yang kami kunjungi di Osaka dan Kyoto.

 

 

 

Advertisements

No Responses to “Sampai di Narita lalu ke Kyoto”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: