psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Tokyo oh Tokyo

 

IMG_20170525_171231

Sejujurnya setelah resmi gagal berkunjung ke museum Ghibli, saya rada enggan ke Tokyo. Kebayang ramai dan riwehnya kota itu. Apalagi dengan bawaan dan dua anak-anak, pasti kebayang repotnya.

Tapi ya sudahlah. Pengin tahu juga rasanya tinggal di kota metropolis yang terkenal dengan penduduknya yang gila kerja. Apartemen yang kami sewa terletak lumayan di pusat kota, di daerah Nishi Nippori, sekitar 3 stop stasiun dari pusat. Kamar kami terletak di gedung yang ramping di pojok sebuah jalan. Dari jendela, kami bisa melihat lalu lalang kereta api.

IMG_20170525_181916

Hari-hari terakhir kami di Jepang kami nikmati di Tokyo. Panas dan padat itulah kesan yang saya dapat dari Tokyo. Tanah begitu berharga disini, sehingga kalau bisa taman bermain untuk anak-anak dibuat sekecil mungkin dan parkir di pinggir jalan pun dibuat 2 tingkat. Kami sekeluarga tidak begitu banyak berinteraksi dengan banyak orang lokal disini. Mereka sibuk dan jalannya cepat. Salah satu kesempatan berinteraksi dengan mereka adalah pergi ke restoran lokal. Di sana, kami melihat Jepang yang hidup dan ramai dengan para pelayan berteriak menyebutkan menu-menu yang kami tidak tahu artinya. Lucu juga sih rasanya menjadi satu-satunya orang asing yang ada di ruangan tersebut.

Sebelnya mengantri di restoran di Jepang, mereka mendahulukan orang yang datang sendirian karena lebih mudah mendapatkan satu kursi kosong ketimpang 4 kursi kosong. Sehingga banyak tuh satu meja makan diisi oleh beberapa orang asing yang tidak kenal sama sekali tapi nampaknya mereka tidak peduli. Yang penting makan…Saran saya jika sedang lapar, kalau ada satu kursi yang kosong langsung saja diambil, meski anda membawa rombongan.

Hari pertama

Mendung di Tokyo dan sedikit hujan. Aaah..padahal dari kemarin udara sudah mulai cerah. Tapi tak mengapa, ini adalah saat yang tepat untuk menggunakan payung transparan khas Jepang doong.

IMG_20170526_100157

Hari pertama kami pergi ke Miraikan Museum Tokyo. Seperti sudah saya sebutkan di post sebelumnya, kami memutuskan untuk tidak pergi ke Disneyland, Kittyland atau Museum Doraemon karena selain mahal, yang sepertinya bakal menikmati kunjungan itu tentu bapak ibunya. Anak saya yang besar belum kenal siapa itu Doraemon atau Harry Potter (idaman si Ibu kalau bisa pergi ke Disneyland Tokyo) Beda dengan museum Ghibli, sebagai anak penggemar Hayao Miyazaki, Senyum Pagi sudah hapal hampir semua karakter studio Ghibli.

IMG_20170526_163227

Tapi beneran deh, Miraikan ini keren banget selain murah yah (teteup). Jika pengin tahu perkembangan teknologi Jepang disini tempatnya. Tempatnya pun seru. Anak-anak pasti senang disana. Ada robot yang bisa diajak interaksi dan dipegang-pegang, banyak permainan-permainan interaktif juga.

Ada sesi tutorial juga sebenarnya, tapi sayangnya juga ada dalam bahasa Jepang. Meski Pagi dengan pedenya pun ikutan juga. Kami sangat menikmati kunjungan disana. Inilah untungnya punya suami yang geek. hehehehe.

Setelah dari Miraikan, kami ingin mampir ke Akihabara, pusat elektronik dengan lampu-lampu neon yang kece buat background foto. Iya tujuan kami kesana bukan mencari barang elektronik, tapi hanya mampir buat foto kok hehehe. Kami ke Akihabara untuk mencari toko buku bekas Book Off yang salah satu cabang terbesarnya ada disana. Seperti diduga saya langsung menggila, tapi koleksinya gak sebagus di Seta ternyata. Untungnya saya dapat dua novel Kazuo Ishiguro dengan harga super miring.

Hari kedua

Kami pergi ke Tokyo National Museum. Niatnya pengin belajar tentang sejarah Jepang dan pernak-pernik kebudayaannya. Dari patung, alat-alat perhiasan, alat masuk, senjata, baju sampai konde. Setelah itu kami pergi ke acara nonton virtual reality proses restorasi salah satu kastil disana. Aah ternyata salah duga, ternyata hanya semacam penjelasan. Jadinya ayahnya dan pagi sukses tertidur. Mungkin sebaiknya tanya dulu yah sebelum masuk.

Setelah itu kami lanjutkan jalan-jalan ke taman Ueno. Jadi disinilah tempat macam rupa museum, salah satunya Tokyo National Museum. Kelik merayu  untuk mampir ke National Museum of Western Art cuma untuk foto di depan gedungnya yang konon kabarnya dirancang oleh arsitektuk kenamaan Le Corbusier.  Tapi kami hanya benar-benar mejeng di depannya aja. Lagian kalau Western Art kayaknya mendingan ke Eropa aja sekaliaan ( amiiiin). Di depan tamannya, kami sempat bertemu si Pemikir (the thinker) karya Rodin.

IMG_20170527_131959

Setelah itu kami bingung mau kemana. Penginnya sih ke taman bermain. Tapi bingung yang mana. Tapi akhirnya kami pergi ke arah Roppongi, salah satu kawasan mewah di Jepang, mungkin seperti Menteng atau Pondok Indahnya. Di Roppongi ini katanya ada taman bermain yang disebut Robot Park. Kami memutuskan kesana karena tamannya gratis dan dari browsing-browsing mainanya lucu-lucu. Tapi setibanya disana, saya lumayan kecewa, karena tempatnya kecil sekali. Beda banget dengan yang Australia yang satu kawasan playground bisa lebih luas dari lapangan bola. Tapi yah sudah yaa..sudah jauh-jauh ke Roppongi. Yang menarik mungkin dandanan bapak ibunya yang mengantar yang dandy dan lengkap dengan make up mereka. Padahal cuma ngantar anak main yah…

IMG_20170527_164827

Hari ketiga

Sehari sebelum pulang kami memutuskan mampir ke flea market paling akbar di Tokyo, Tokyo flea market. Camberwell flea market di Melbourne yang saya sangat cintai pun tak ada bandingannya. Barangnya mulai dari yang remeh temeh sampai yang barang-barang merek mahal ada disana. Tas Prada, Gucci lengkap dengan box dan kantongnya dijual juga disana. Bagi penggemar flea market, Tokyo adalah surga dimana para pembeli bisa nawar juga.

IMG_20170528_110745

Tujuan berikutnya kami ingin menuju ke Shibuya Crossing karena jujur saya pengin ngerasain nyebrang di perempatan (atau perlimaan yah) tersibuk di dunia. Norak yah. Tapi sebelum kesana, kami mampir ke daerah Harajuku melihat orang dandan dengan kostum unik lalu lalang.  Kami lewat Takashita Street..yang yak ampuuun penuh, padat, sesak. Dan saya tidak pernah melihat manusia sebanyak itu.

Setelah itu kami mampir ke Meiji shrine di daerah dekat sana. Lumayan meredakan sih suasana di kuil tersebut. Jalan menuju kesana penuh dengan pohon-pohon. Kami beruntung karena sesampai disana kami bisa melihat satu pesta pernikahan meskipun hari sudah sore.

IMG_20170528_170132

Dari sana kami langsung menuju Shibuya dan akhirnya kesampaian juga nyebrang di Shibuya crossing. Yak ampun…ribet banget karena gak biasa jadi sempat panik karena takut lampu merah sudah berganti hijau. Norak bangeeeet tapi menyenangkan. Bahagia itu gak perlu mahal ternyata.

Malamnya kami menutup perjalanan dengan makan malam di restoran paling enak di Nishi Nippori. Aah bakal kangen ramen nya niih. Jepang merupakan satu-satunya tempat di luar negeri yang membuat saya tidak kangen masakan Indonesia.

Japan, we will be back!

 

 

Advertisements

No Responses to “Tokyo oh Tokyo”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: